Arsip Tag: turki

Teror (Lagi) di Kota Paris

Lagi-lagi, serangan aksi teror kembali melanda kota Paris pada Kamis malam 21 April kemarin. Kali ini, tempat penyerangan itu terjadi di kawasan elit Champs-Elysées, yang terkenal juga dengan kawasan butik-butik kelas dunia seperti Hermès, Louis Vuitton, Sephora, dan banyak lagi. Namun, tragedi itu justru saya ketahui dari status facebook seorang mahasiswi Indonesia kenalan saya yang sedang menempuh studi di kota tersebut.

Aksi penembakan di ruang publik di kawasan elit Champs Elysees kembali terjadi di kota Paris, 21 April 2017. (foto sumber: france24.com)

Kebetulan teman saya ini dengan seorang mahasiswi Indonesia lainnya sedang melintas di kawasan tersebut setelah sebelumnya berfoto-foto di depan monumen Arc de Triomphe sekitar jam 8 malam. Champs-Elysées yang saat itu sedang dipadati turis tiba-tiba dikejutkan dengan suara tembakan lima kali, yang awalnya dikira suara mercon. Teman saya pun refleks berlari mencari tempat persembunyian ke restoran terdekat, masih dengan diiringi suara tembakan di sekelilingnya. Alhamdulillah keduanya berhasil pulang dengan selamat ke apartemen masing-masing, meskipun trauma yang dirasakannya tentu akan membekas di ingatan.

Baca lebih lanjut

Dari Pembenci Hingga Penyuka Kopi

Nggak tau gimana, dari dulu, sejak kecil, saya nggak pernah suka yang namanya minum kopi. Rasanya yang pahit, walaupun dicampur gula bersendok-sendok pun, buat saya teteup… paiiiit! Makanya selain kopi, jenis makanan dan minuman yang pahit-pahit lainnya, seperti jamu, pare, emping, nggak pernah bisa saya telan, apalagi sampai habis. Ditambah lagi, pas tahu bahwa kopi mengandung kafein yang nggak baik untuk kesehatan, bikin gigi kuning, bikin jantung berdetak seratus kali lebih kencang dari kecepatan normal, bikin saya makin ogah menyentuh kopi. Apalagi, sobat karib ayah saya merupakan pencandu berat kopi kental hitam yang setiap kali menyeruputnya diiringi menghisap rokok kretek, yang membuatnya selalu terbatuk-batuk. Setiap kali pergi bareng ayah saya dan saya semobil dengan mereka, itu kendaraan rasanya pengap bukan main dengan berbagai aroma yang tidak “memikat yang menempel pada baju. Selain itu, saya masih ingat dengan jelas pengalaman teman-teman sekos sewaktu masih kuliah di Bogor dulu, yang setiap kali menjelang ujian begadang sampai pagi ditemani segelas besar kopi… setelah itu mereka bakal curhat dan berkeluh-kesah ke saya, yang ngantuk tapi nggak bisa bobok lah, yang badan rasanya lelah banget tapi nggak bisa istirahat, de-el-el, diiringi wanti-wanti dari mereka agar jangan meniru tingkah-polah mereka karena saya tetap nggak bisa terpengaruh dengan cara begadang mereka, hehehe . Yah, pernah sih sesekali saya minum cappuccino a la Indonesia di kantin kampus atau ngemut permen Kopiko sewaktu masih ABG, tapi itu ‘kan rasa kopinya nyaris “nggak keliatan”, malah lebih kerasa banget susunya ketimbang kopi dan rasanya pun muaniss…
Baca lebih lanjut

Gono-Gini Asuransi Kesehatan

Ngomong-ngomong tentang asuransi kesehatan di Indonesia memang bikin antara senang dan sebal. Yah setidaknya untuk orang bego seperti saya yang tidak mau repot membaca tulisan-tulisan dalam polis yang kadang (atau sering?) sengaja (atau tidak sengaja?) membuat orang sebego saya mikir dulu berjuta-juta kali untuk memahami maksudnya.

Mohon maaf kalau tulisan ini dibuat seolah-olah yang menulisnya sedang dalam keadaaan kesal. Sebenarnya enggak kesal sih, cuma saya jadi mendapat pelajaran harga dari sistem pelayanan kesehatan dan unsur-unsur pendukungnya–salah satunya asuransi–di Indonesia (ngeles ceritanya ).

Baca lebih lanjut

Sekilas Kenangan akan Teman Palestina

Habis nonton The Boy In The Striped Pyjamas, kok saya malah pingin menulis kisah kenangan tentang seorang teman Palestina yang saya kenal di Turki ya… Sebenarnya saya nggak begitu lama mengenalnya, karena kami baru saja bertemu pada masa-masa akhir saya di Turki, sekitar akhir Agustus-awal September tahun 2006 gitu, deh.

Muka si Adnan mirip-mirip Jason Priestley, tapi dengan rambut dan mata lebih gelap.. (ganteng khan? :D)

Namanya agak-agak susah, saya mengira dulu namanya adalah Adnan, tapi yang benar… kalau nggak salah Annan, Annen atau apa gitu. Tapi ya sudah saya sebut saja Adnan di sini, karena di telinga saya lebih familiar. Dia cowok Palestina berusia sekitar akhir belasan tahun, masih muda memang. Mau menginjak usia dua puluh. Awalnya saya kira dia tipe cowok-cowok Arab sok cuek-sombing-kelewat pede-seperti orang-orang Arab yang saya tahu pada umumnya. Tapi setelah agak lama kenal, dia cowok yang baik. Udah gitu, nilai plusnya ganteng pula, hehe :p. Rambut ikal cokelat gelap dan alis mata tebal, bibirnya merah (uhuyy… walaupun sayangnya dia ini hobi merokok), dan hobi juga pakai baju warna merah atau pink, yang membuatnya kelihatan tambah ganteng malah, nggak norak ato dangdut.
Baca lebih lanjut