Arsip Tag: surabaya

Berawal dari Squishy, Membuka Bisnis Clothing Line

Lama tidak menulis di blog pribadi (nyaris satu bulan!), sekitar seminggu yang lalu saya mendapatkan undangan dari Blogger Crony untuk menghadiri private event peluncuran clothing line untuk wanita dewasa dan anak-anak. Berhubung acaranya dilaksanakan pada akhir pekan, dan kebetulan saya lagi kangen banget ikutan acara-acara yang terkait liputan serta nge-blog, maka saya memenuhi undangan tersebut.

Peluncuran Marcha and Aunty Clothing Line di Artotel Thamrin, Jakarta, 11 Maret 2017. (foto: dokpri)

Yang menarik, clothing line yang diberi nama brand Marcha and Aunty bukan dikerjakan oleh orang dewasa saja, melainkan juga seorang anak perempuan berusia 10 tahun yang cantik dan kreatif. Dan, saya baru tahu, hobinya Marcha, anak perempuan ini, kurang lebih nggak jauh-jauh sama saya, yaitu bermain squishy! (Kalau saya lagi senang-senangya bermain slime, he he he…). Buat yang belum tahu apa itu squishy dan slime, keduanya merupakan jenis mainan yang sedang hip saat ini di kalangan anak-anak, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

Baca lebih lanjut

Jembatan Suramadu, Madura dan Karapan Sapi

Baru satu tahun dua bulan saya tinggal di Surabaya ketika tulisan ini dibuat. Selama itu pula, baru dua kali saya melewati jembatan Suramadu.

Jembatan Suramadu: daya tarik wisata Surabaya-Madura (foto: Wikipedia)

Jembatan Suramadu: daya tarik wisata Surabaya-Madura (foto: Wikipedia)

Pertama, sekitar bulan Mei yang lalu ketika kantor saya meminta untuk mengunjungi sebuah kampus universitas negeri terbaik yang ada di pulau Madura. Perjalanan hanya memakan waktu kurang dari satu jam dengan kendaraan kantor. Akhirnya, kesampaian juga rasa penasaran saya untuk melewati jembatan yang katanya mirip jembatan di San Francisco itu. Bangunan yang menghubungkan bagian timur pulau Jawa dengan Madura sepanjang 5438 meter ini seharusnya menjadi daya tarik orang-orang yang berkunjung ke Surabaya. Apalagi, katanya sejak dipimpin walikota ibu Risma, jembatan ini tidak lagi menjadi angker atau pun ditakuti oleh para penduduk yang nglaju dari Madura ke Surabaya, karena bukan lagi menjadi ‘daerah strategis’ bagi para perampok dan penyamun untuk melakukan tindak kriminal bagi siapa pun yang melintasinya.

Baca lebih lanjut

Si Kembang Tahu dari Surabaya

Ada yang menyebutnya tahuwa. Keluarga paklik–panggilan bahasa Jawa, artinya paman–memakai kata “tawa” untuk menamai hidangan tersebut, atau setidaknya yang saya dengar begitu. Saya pikir apa paklik saya ngguyon (karena beliau memang hobi bercanda), tapi ternyata namanya ya memang tawa.

Awal mulanya, ketika saya masih menjalani pemulihan pasca operasi pengangkatan kista di Surabaya, bulik–artinya tante atau bibi–rajin membelikan saya penganan ini untuk hidangan sarapan di pagi hari. Pedagang penjual tawa-nya juga rajin setiap hari lewat di depan rumah sambil berteriak, “Tawa! Tawa!” dengan suara derit gerobaknya. Lalu paklik saya bilang,”Itu ada tawa, itu.” Tadinya saya nggak mudeng, tawa apa maksudnya? Pagi-pagi koq sudah tertawa…

Baca lebih lanjut