Arsip Tag: kursus

Sekilas Kenangan akan Teman Palestina

Habis nonton The Boy In The Striped Pyjamas, kok saya malah pingin menulis kisah kenangan tentang seorang teman Palestina yang saya kenal di Turki ya… Sebenarnya saya nggak begitu lama mengenalnya, karena kami baru saja bertemu pada masa-masa akhir saya di Turki, sekitar akhir Agustus-awal September tahun 2006 gitu, deh.

Muka si Adnan mirip-mirip Jason Priestley, tapi dengan rambut dan mata lebih gelap.. (ganteng khan? :D)

Namanya agak-agak susah, saya mengira dulu namanya adalah Adnan, tapi yang benar… kalau nggak salah Annan, Annen atau apa gitu. Tapi ya sudah saya sebut saja Adnan di sini, karena di telinga saya lebih familiar. Dia cowok Palestina berusia sekitar akhir belasan tahun, masih muda memang. Mau menginjak usia dua puluh. Awalnya saya kira dia tipe cowok-cowok Arab sok cuek-sombing-kelewat pede-seperti orang-orang Arab yang saya tahu pada umumnya. Tapi setelah agak lama kenal, dia cowok yang baik. Udah gitu, nilai plusnya ganteng pula, hehe :p. Rambut ikal cokelat gelap dan alis mata tebal, bibirnya merah (uhuyy… walaupun sayangnya dia ini hobi merokok), dan hobi juga pakai baju warna merah atau pink, yang membuatnya kelihatan tambah ganteng malah, nggak norak ato dangdut.
Baca lebih lanjut

Kelas OFII: Kelas Istri-Istri Bersuamikan Bule Prancis

DILF merupakan metode yang digunakan untuk mengajar kelas OFII

Masih tentang mengajar, pengalaman saya mengajarkan bahasa Prancis ke wanita-wanita Indonesia yang bersuamikan orang Prancis pun nggak kalah serunya. Seru benar-benar dalam artian menyenangkan, bikin gemes, kadang bikin sebal, dan yang terpenting, tidak terlupakan. Mengajar mereka seperti memberi arti baru tentang hidup bagi saya. Bahwa kehidupan itu tidak mesti datar-datar saja. Kehidupan itu seperti sebuah mutiara di dasar lautan yang mendapatkannya harus dengan usaha pantang menyerah ke laut terdalam meskipun banyak hiu menghadang (loh koq jadi puisi berima? ).

Yah.. jika kalian pernah tinggal di luar negeri dan bertemu komunitas orang Indonesia di luar negeri, mungkin teman-teman akan memahami berbagai tipe orang Indonesia, terutama kaum hawa yang bersuamikan bule di sana. Pada awalnya, jujur saja, sebelum saya menyentuh komunitas itu, saya terlanjur termakan omongan orang tentang stereotipe cewek-cewek yang menikahi pria asing: ………………. (titik-titik, teruskan sendiri). Saya sampai nggak tahu mau mendeskripsikannya seperti apa, karena saya begitu ingin menghormati mereka. Satu hal yang pasti: mereka, kaum hawa Indonesia yang bersuamikan bule ini, tidak seperti yang digambarkan dalam stereotipe orang kita mengenai mereka. Tidak selalu. Dan tidak sama sekali. Kalaupun ada salah satu dari stereotipe itu yang benar, saya hanya bisa bilang: mereka beruntung, dan saya iri. Ya, iri, karena saya tidak bisa dan tidak berani seperti mereka. Mungkin orang-orang yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang mereka dan semakin memperkuat stereotipe itu, juga karena mereka iri. Tapi, mungkin mereka tidak mau mengakuinya.

Baca lebih lanjut