Arsip Tag: keluarga

Resolusi 2018 : Asa dan Harapan Dalam β€˜Papan Mimpi’

Memang sudah cukup lama saya tidak menulis. Banyak hal yang terjadi selama masa-masa absen saya dari dunia per-blogging-an. Justru karena banyak hal yang terjadi itu, saya tidak tahu bagaimana menguraikannya ke dalam sebuah tulisan yang mudah dicerna, karena banyak hal yang ingin diceritakan, namun tidak bisa semuanya saya ungkapkan. Ada hal-hal yang menurut saya masih rahasia untuk dibuka ke publik. Tapi, daripada hati saya gelisah terus karena tidak saya tuangkan, mungkin lebih baik saya bercerita sekarang.

Baca lebih lanjut

Iklan

Mami Sayang, Cepatlah Sembuh

Mami waktu muda

Mami sering membuatku sebal dengan omelan-omelannya. Mami sering membuatku gemas karena selalu memikirkan hal-hal sepele. Padahal mami tidak sesehat dulu. Mami harus lebih sering bersantai. Mami tidak usah ngoyo. Aku sudah sering mengatakan hal itu pada mami berkali-kali. Segala sesuatu ada masanya. Akan tiba waktunya kalau Tuhan memang sudah menentukan. Tetapi, lagi-lagi mami selalu berpikir. Selalu cemas. Aku kesal sama mami. Aku harus berkata apa lagi untuk menenangkan beliau.
Baca lebih lanjut

Rejeki di Hari Ibu (1)

Kalau dibilang merawat ibu yang sedang sakit itu pasti berkah, mungkin memang benar. Yah, however, Hari Ibu tahun ini mungkin akan menjadi momen yang paling spesial buat ibu saya, yang biasa saya panggil Mami. Mami yang baru saja sebulan yang lalu terserang stroke untuk yang kedua kalinya (bisa dibaca tulisan saya di sini: Mami Sayang Cepatlah Sembuh), membuat saya dan keluarga di rumah, terutama saya, mau tidak mau harus mengalah untuk segala keinginan, mimpi dan cita-cita yang bersifat pribadi, demi kesembuhan mami saya.

Baca lebih lanjut

Momen Berharga di Rumah Sakit

Kedua anak-ibu itu begitu menikmati waktunya berdua bercengkrama sambil menonton tayangan sinetron komedi di televisi.

Siang tadi, mereka berdua sama-sama menyantap makanan. Anaknya membeli PopMie, ibunya mungkin menyantap makanan rumah sakit. Aromanya sempat saya kira nasi pecel yang katanya khas Surabaya. Pedas pedas gimana gitu…
Tidak terbayang wajah-wajah sendu pada mereka. Yah, setidaknya aura itu tidak terasa di indera ‘keenam’ saya yang lumayan peka akan perasaan-perasaan yang tersembunyi di balik hati seseorang. (Kayaknyaaa…Β ).Β Keduanya seolah-olah seperti memasuki kamar sebuah hotel: meletakkan barang-barang, sang ibu dibaringkan di ranjang pasien, sementara sang anak merapikan barang bawaan. Sekat tirai yang membatasi antara saya dengan pasien itu membuat saya hanya dapat mendengarkan gerak-gerik yang mereka lakukan dan dialog-dialog bahasa Jawa yang mereka ucapkan.