Arsip Tag: jalan-jalan

Jembatan Suramadu, Madura dan Karapan Sapi

Baru satu tahun dua bulan saya tinggal di Surabaya ketika tulisan ini dibuat. Selama itu pula, baru dua kali saya melewati jembatan Suramadu.

Jembatan Suramadu: daya tarik wisata Surabaya-Madura (foto: Wikipedia)

Jembatan Suramadu: daya tarik wisata Surabaya-Madura (foto: Wikipedia)

Pertama, sekitar bulan Mei yang lalu ketika kantor saya meminta untuk mengunjungi sebuah kampus universitas negeri terbaik yang ada di pulau Madura. Perjalanan hanya memakan waktu kurang dari satu jam dengan kendaraan kantor. Akhirnya, kesampaian juga rasa penasaran saya untuk melewati jembatan yang katanya mirip jembatan di San Francisco itu. Bangunan yang menghubungkan bagian timur pulau Jawa dengan Madura sepanjang 5438 meter ini seharusnya menjadi daya tarik orang-orang yang berkunjung ke Surabaya. Apalagi, katanya sejak dipimpin walikota ibu Risma, jembatan ini tidak lagi menjadi angker atau pun ditakuti oleh para penduduk yang nglaju dari Madura ke Surabaya, karena bukan lagi menjadi ‘daerah strategis’ bagi para perampok dan penyamun untuk melakukan tindak kriminal bagi siapa pun yang melintasinya.

Baca lebih lanjut

Dari Pembenci Hingga Penyuka Kopi

Nggak tau gimana, dari dulu, sejak kecil, saya nggak pernah suka yang namanya minum kopi. Rasanya yang pahit, walaupun dicampur gula bersendok-sendok pun, buat saya teteup… paiiiit! Makanya selain kopi, jenis makanan dan minuman yang pahit-pahit lainnya, seperti jamu, pare, emping, nggak pernah bisa saya telan, apalagi sampai habis. Ditambah lagi, pas tahu bahwa kopi mengandung kafein yang nggak baik untuk kesehatan, bikin gigi kuning, bikin jantung berdetak seratus kali lebih kencang dari kecepatan normal, bikin saya makin ogah menyentuh kopi. Apalagi, sobat karib ayah saya merupakan pencandu berat kopi kental hitam yang setiap kali menyeruputnya diiringi menghisap rokok kretek, yang membuatnya selalu terbatuk-batuk. Setiap kali pergi bareng ayah saya dan saya semobil dengan mereka, itu kendaraan rasanya pengap bukan main dengan berbagai aroma yang tidak “memikat yang menempel pada baju. Selain itu, saya masih ingat dengan jelas pengalaman teman-teman sekos sewaktu masih kuliah di Bogor dulu, yang setiap kali menjelang ujian begadang sampai pagi ditemani segelas besar kopi… setelah itu mereka bakal curhat dan berkeluh-kesah ke saya, yang ngantuk tapi nggak bisa bobok lah, yang badan rasanya lelah banget tapi nggak bisa istirahat, de-el-el, diiringi wanti-wanti dari mereka agar jangan meniru tingkah-polah mereka karena saya tetap nggak bisa terpengaruh dengan cara begadang mereka, hehehe . Yah, pernah sih sesekali saya minum cappuccino a la Indonesia di kantin kampus atau ngemut permen Kopiko sewaktu masih ABG, tapi itu ‘kan rasa kopinya nyaris “nggak keliatan”, malah lebih kerasa banget susunya ketimbang kopi dan rasanya pun muaniss…
Baca lebih lanjut

Rejeki di Hari Ibu (1)

Kalau dibilang merawat ibu yang sedang sakit itu pasti berkah, mungkin memang benar. Yah, however, Hari Ibu tahun ini mungkin akan menjadi momen yang paling spesial buat ibu saya, yang biasa saya panggil Mami. Mami yang baru saja sebulan yang lalu terserang stroke untuk yang kedua kalinya (bisa dibaca tulisan saya di sini: Mami Sayang Cepatlah Sembuh), membuat saya dan keluarga di rumah, terutama saya, mau tidak mau harus mengalah untuk segala keinginan, mimpi dan cita-cita yang bersifat pribadi, demi kesembuhan mami saya.

Baca lebih lanjut