Arsip Tag: italia

“Bergaul” dengan Yahudi

pintu gerbang menuju dalam kamp Auschwitz dgn semboyan Nazi yg terkenal Arbeit Macht Frei atau Working makes you free (Oswiecim, Poland, 2009)

Ketertarikan saya sama Yahudi sudah lama banget sebenarnya… bahkan mungkin sejak saya menginjakkan kaki di tanah Palestina zaman tahun 1992 lalu. Tapi berhubung waktu itu saya masih ABG, yang saya inget adalah tampang-tampang orang-orang Yahudi yang guanteng-guanteng dan chuantik-chuantik, hehe.. walaupun emang sih, harus saya akui, mereka angkuh nian menghadapi kita-kita rombongan umroh ini yang mengantri untuk diperiksa di pos perbatasan. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang nggak pake senyum sedikit pun. Waktu itu pas lagi masa-masa damainya antara Israel dan Palestina, walaupun di mana-mana di sepanjang daratan Palestina yang saya lalui memang sudah tampak beberapa petak tanah yang dipasangi bendera bintang David. Oya, bahkan bokap mengomentari salah satu petugas yang memeriksa paspor kami di dalam bus saat memasuki perbatasan dari Yordania, gantengnya seperti Mac Gyver :p. Kalau si Mac Gyver ini dia malah tebar senyum ke mana-mana…

Baca lebih lanjut

Rasis.. Nggak Rasis… Rasis.. Nggak Rasis…

Pikiran dan dugaan ini muncul semakin kuat tatkala tadi sore, sehabis ujian (alhamdulillaah lulus ), sepulang dari ujian, saya jalan-jalan bareng Maria, teman satu program EM (Erasmus Mundus) dan satu mata kuliah plus satu kelas bareng saya, yang asal Kolombia. Sembari menuju ke halte bus, kami sempet ngobrolin tentang dosen yang ngetes ujian kami. Mata kuliah yang diujiankan secara lisan itu judulnya “Storia dell’Europa Moderna” ato Sejarah Eropa Moderen, yang sebenernya gak modern2 amat sih, wong yang dikatakan modern dalam konteks ini adalah sejarah Eropa mulai akhir abad ke-15 (berarti taon 1400-an) sampe awal abad ke-17 (sekitar 1600-an). Yang ngajar, Valerio Marchetti, orang Italia yang ngaku-nya keturunan Yahudi, dan gosip orang-orang dia berdarah Polandia ato daerah Eropa Timur sana. Kami menyebutnya Marchetti (di sini kami biasa menyebut-nyebut dosen dengan nama belakangnya, bahkan kalau kami nggak suka sama si dosen muncul julukan-julukan khusus, hehehhh). Selain ngajar mata kuliah ini, beliau juga mengajar Storia dell’Ebraismo ato Sejarah bangsa Yahudi, Storia dello Shoah ato Sejarah Peristiwa Shoah (sejauh yang saya pahami, shoah itu adalah lembaran hitam dalam sejarah bangsa Yahudi saat Perang Dunia II karena Hitler ingin membumihanguskan mereka semua).

Baca lebih lanjut

Dari Pembenci Hingga Penyuka Kopi

Nggak tau gimana, dari dulu, sejak kecil, saya nggak pernah suka yang namanya minum kopi. Rasanya yang pahit, walaupun dicampur gula bersendok-sendok pun, buat saya teteup… paiiiit! Makanya selain kopi, jenis makanan dan minuman yang pahit-pahit lainnya, seperti jamu, pare, emping, nggak pernah bisa saya telan, apalagi sampai habis. Ditambah lagi, pas tahu bahwa kopi mengandung kafein yang nggak baik untuk kesehatan, bikin gigi kuning, bikin jantung berdetak seratus kali lebih kencang dari kecepatan normal, bikin saya makin ogah menyentuh kopi. Apalagi, sobat karib ayah saya merupakan pencandu berat kopi kental hitam yang setiap kali menyeruputnya diiringi menghisap rokok kretek, yang membuatnya selalu terbatuk-batuk. Setiap kali pergi bareng ayah saya dan saya semobil dengan mereka, itu kendaraan rasanya pengap bukan main dengan berbagai aroma yang tidak “memikat yang menempel pada baju. Selain itu, saya masih ingat dengan jelas pengalaman teman-teman sekos sewaktu masih kuliah di Bogor dulu, yang setiap kali menjelang ujian begadang sampai pagi ditemani segelas besar kopi… setelah itu mereka bakal curhat dan berkeluh-kesah ke saya, yang ngantuk tapi nggak bisa bobok lah, yang badan rasanya lelah banget tapi nggak bisa istirahat, de-el-el, diiringi wanti-wanti dari mereka agar jangan meniru tingkah-polah mereka karena saya tetap nggak bisa terpengaruh dengan cara begadang mereka, hehehe . Yah, pernah sih sesekali saya minum cappuccino a la Indonesia di kantin kampus atau ngemut permen Kopiko sewaktu masih ABG, tapi itu ‘kan rasa kopinya nyaris “nggak keliatan”, malah lebih kerasa banget susunya ketimbang kopi dan rasanya pun muaniss…
Baca lebih lanjut

Gono-Gini Asuransi Kesehatan

Ngomong-ngomong tentang asuransi kesehatan di Indonesia memang bikin antara senang dan sebal. Yah setidaknya untuk orang bego seperti saya yang tidak mau repot membaca tulisan-tulisan dalam polis yang kadang (atau sering?) sengaja (atau tidak sengaja?) membuat orang sebego saya mikir dulu berjuta-juta kali untuk memahami maksudnya.

Mohon maaf kalau tulisan ini dibuat seolah-olah yang menulisnya sedang dalam keadaaan kesal. Sebenarnya enggak kesal sih, cuma saya jadi mendapat pelajaran harga dari sistem pelayanan kesehatan dan unsur-unsur pendukungnya–salah satunya asuransi–di Indonesia (ngeles ceritanya ).

Baca lebih lanjut

Kenangan Keluarga Filipina

Sudah lama sekali saya nggak nulis, dan mumpung lagi agak lowong.. Gara-garanya nonton penampilan Christian Bautista di ajang IMB (Indonesia Mencari Bakat) di Youtube, kenangan saya pun kembali melayang ke pertengahan tahun 2009 yang lalu di Bologna, Italia.

Saya mengenal pasangan suami-istri filipino ini sudah nyaris setahun, tepatnya mulai September 2008, sejak awal saya menempati apartemen baru di Bologna. Mereka bekerja sebagai office boy (atau petugas cleaning service) untuk apartemen yang saya tempati di distrik Borgo Panigale. Pertama kali saya mengenal suaminya yang pada suatu pagi tiba-tiba mengetuk pintu kamar saya. Sepintas wajahnya kelihatan agak sangar tapi dengan takut-takut ia menanyakan apabila kamar saya sudah bisa dibersihkan. Suaminya memang lebih pendiam. Sebut saja panggilannya Noel. Saya amati, pekerjaannya sangat cekatan sekali namun tetap bersih dan rapi. Tidak seperti saya yang sekali saja pernah mencoba menawarkan jasa membersihkan kamar mandi dan dapur rumah orang Yahudi yang lumayan besar di Strasbourg, sudah lumayan ngos-ngosan  (yang ini ceritanya ada tersendiri deh!). Bahkan Noel menawarkan untuk sekalian mencuci piring-piring makan yang belum saya bereskan. Katanya, “lascia, lasciami..” (biar, biar saya aja).

Baca lebih lanjut