Film My Generation, Remaja Milenial Membangkang Orangtua?

Akhir-akhir ini, lini masa media sosial diramaikan dengan akan dirilisnya film terbaru garapan Upi yang menceritakan kisah kehidupan remaja generasi milenial alias ‘kids zaman now’. Upi yang dikenal dengan film-film komedi dan drama remaja metropolitan seperti 30 Hari Mencari Cinta (2004), Radit dan Jani (2008), Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006) tergelitik untuk mengangkat kehidupan remaja zaman sekarang yang melek medsos setelah melakukan riset selama dua tahun di berbagai komentar yang dilontarkan oleh anak-anak remaja di media sosial termasuk You Tube.

sebuah kutipan dialog dari salah satu tokoh di film My Generation. Betulkah film ini mengajarkan untuk membangkang terhadap orangtua? (foto : dokumentasi IFI Sinema)

Menurut Upi, anak-anak remaja masa kini cenderung bersikap lebih terbuka dan jujur di media sosial ketimbang jika ditanya langsung, dan komentar-komentar mereka terhadap status atau postingan medsos terus terang membuat Upi kaget. “Gila banget,” katanya seperti dilansir oleh sebuah situs berita online. Rata-rata anak remaja ini mengomentari kehidupan seputar sekolah, orangtua, dan guru.

Baca lebih lanjut

Iklan

Laptop 2in1 Sang Jendela Dunia

laptop yang bisa multitasking menurut saya: bisa berfungsi sebagai PC untuk mengerjakan job-job terjemahan, ngeblog, bisa sebagai tablet untuk browsing & streaming film. (foto: pexels)

Sebenarnya sudah beberapa kali saya membahas tentang manfaatnya punya laptop yang bisa multitasking. Tapi… ya nggak apa-apa deh saya tulis lagi, siapa tahu kali ini menang, he he he (ngarep dot com :p). Lagipula mumpung lagi lowong dan belum ada orderan terjemahan lagi, ya sudah deh saya kembali nge-blog.

Apa sih maksudnya multitasking laptop? Yang saya inginkan dari sebuah laptop yang bisa multitasking itu ya nggak hanya bisa untuk mengetik sebagai sumber mata pencaharian utama saya (ya, sejak ayah sakit saya sekarang full time menerjemahkan, dan kalau sedang sepi orderan saya kembali ikut lomba-lomba menulis blog :D). Itu artinya, untuk menerjemahkan dan menulis blog kan pasti saya butuh nge-draft dulu di Microsoft Word, ‘kan. Makanya laptop yang saya punya harus ada software Microsoft Office yang komplit. Selain Word, setidaknya juga ada Excel berhubung ada juga klien yang memberikan order terjemahan dalam format dokumen .xsl, ada juga yang dalam format Power Point.

Baca lebih lanjut

Diskon Gede di Promo Oktober Blibli Histeria Bikin Mulut Ternganga

Belanja online buat sebagian besar kaum cewek (termasuk saya) menjadi hal yang menyenangkan. Sering kali saya mengunjungi situs-situs e-commerce dan tidak terasa satu jam sendiri saya bisa galau menentukan produk mana yang akan dibeli. Hampir sama seperti kalau sedang shopping di mal aja, atau sekadar window shopping, bisa sampai 4 jam saya betah berada di dalam mal meskipun hanya melihat-lihat.

Belanja online alias online shopping suka bikin menyita waktu juga layaknya shopping di mal. (foto: pexels)

Bedanya, kalau window shopping di situs-situs e-commerce bukan kaki yang lelah, tapi mata (dan pikiran, he he…). Karena setidaknya satu jam saya bisa menatapi berbagai barang yang dijual di situs tersebut, selain itu saya harus berusaha tidak kalap agar dapat memprioritaskan barang-barang kebutuhan terlebih dahulu dengan bujet terbatas.

Baca lebih lanjut

Perawatan Kulit Sehat dengan Pure Line Hijab Fresh

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang krim tubuh yang berfungsi melindungi kesehatan kulit seluruh keluarga. Produk krim pelembap tubuh yang diimpor dari Australia  memang lumayan berkhasiat, namun mungkin harganya agak tidak sesuai dengan ukuran kantong orang Indonesia.

Nah, kalau krim atau body lotion yang satu ini jauh lebih terjangkau, karena produk asli buatan dalam negeri. Dikeluarkan oleh PT Unilever, varian baru produk perawatan tubuh yang dikhususkan bagi wanita berhijab ini baru diluncurkan secara eksklusif di situs e-commerce terbesar di Indonesia, Blibli.com.

Baca lebih lanjut

Tren Ruang Kerja a la Generasi Milenial di Coworking Space

Beberapa waktu yang lalu saya pernah membahas tentang semangat kewirausahaan sosial, atau istilah kerennya social entrepreneurship, yang sedang menggeliat di kalangan anak-anak muda zaman sekarang. Yang menarik, kegiatan social entrepreneurship ini dibangun dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi digital melalui media sosial, tanpa melupakan tanggung jawab moral kepada masyarakat, sekaligus sebagai usaha untuk merintis bisnis yang sering disebut dengan istilah start up.

Bisnis start up mulai bermunculan tatkala masyarakat semakin aktif menggunakan internet dan media sosial. Bisnis ini berciri khas memanfaatkan kecanggihan teknologi internet namun biasanya belum punya ruang kantor tetap. (foto diambil dari website EV Hive)

Bisnis start up mulai bermunculan seiring dengan kemajuan teknologi informasi, terutama internet, dan khususnya sejak adanya media sosial seperti facebook, instagram dan twitter. Fenomena ini memunculkan berbagai profesi baru yang tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh generasi sebelum milenial (yaitu mereka yang lahir sebelum tahun 1980-an) seperti blogger, influencer, buzzer.

Baca lebih lanjut

Memilih Piano Second di Prelo: Piano Bekas Berkualitas

suatu hari pingin punya piano lagi agar bisa bermain dengan sebebas-bebasnya… piano second dari Prelo juga enggak apa-apa. (foto: dokpri)

Beberapa waktu yang lalu saya pernah membuat postingan tentang piano. Dari dulu sampai sekarang saya masih tetap suka mendengar suara dentingan piano, bahkan kalau dikasih lagi saya akan memainkannya. Dulu sekali saya memang sempat punya piano, seperti yang saya ceritakan di tulisan itu, lalu saya jual setelah lama saya tinggal studi ke luar negeri. Daripada semakin keropos dimakan rayap, lebih baik dijual saja tho?

Boleh dong sampai sekarang saya mengkhayal dan bermimpi suatu saat saya akan punya piano lagi :D. Lumayan ‘kan, apalagi kalau bisa mendapatkan piano bekas namun dengan kualitas seperti baru dengan harga yang terjangkau. Supaya tidak dimakan rayap lagi dan perawatannya lebih mudah, saya pilih piano second yang digital saja. Bedanya dengan piano biasa (biasa disebut pianoforte), piano digital baru bisa dimainkan saat dicolokkan ke listrik. Jadi, pastinya ia akan dilengkapi dengan kabel listrik dan adaptor. Tapi kualitas suaranya tetap setajam pianoforte dan tuts-nya (bagian putih-putih serta hitam pada piano yang ditekan dengan jari) tetap dari kayu.

Baca lebih lanjut

Tetap Terkoneksi dengan Dunia Luar Berkat Smartphone dan Laptop

Sejak merawat ayah yang jatuh sakit pada hari lebaran Idul Fitri lalu, otomatis saya memang jadi jarang keluar rumah kecuali jika memang perlu saja. Misalkan pergi ke pasar, ke minimarket, atau mengantarkan ayah saya kontrol ke dokter.

Meskipun saya jarang keluar rumah sejak ayah sakit, saya tetap bisa mengetahui apa yang terjadi di luar sana berkat kemudahan era digital. (foto ilustrasi: pexels.com)

Namun bukan berarti akses saya terhadap informasi berita di luar sana juga terbatas. Terlebih lagi di zaman serba digital sekarang ini, yang penting bagi saya adalah mempunyai alat untuk bisa mendapatkan informasi tersebut. Selain media konvensional seperti televisi dan radio (yang jarang sekali saya putar kecuali pada saat menemani ayah saya menonton televisi atau mendengarkan radio sambil membantunya makan siang atau makan malam), bagi saya mempunyai media lainnya yang praktis dan bisa mengakses informasi tersebut dalam genggaman juga penting. Yang saya maksud adalah smartphone dan laptop.

Baca lebih lanjut