Arsip Kategori: Reportase

Tetap Terkoneksi dengan Dunia Luar Berkat Smartphone dan Laptop

Sejak merawat ayah yang jatuh sakit pada hari lebaran Idul Fitri lalu, otomatis saya memang jadi jarang keluar rumah kecuali jika memang perlu saja. Misalkan pergi ke pasar, ke minimarket, atau mengantarkan ayah saya kontrol ke dokter.

Meskipun saya jarang keluar rumah sejak ayah sakit, saya tetap bisa mengetahui apa yang terjadi di luar sana berkat kemudahan era digital. (foto ilustrasi: pexels.com)

Namun bukan berarti akses saya terhadap informasi berita di luar sana juga terbatas. Terlebih lagi di zaman serba digital sekarang ini, yang penting bagi saya adalah mempunyai alat untuk bisa mendapatkan informasi tersebut. Selain media konvensional seperti televisi dan radio (yang jarang sekali saya putar kecuali pada saat menemani ayah saya menonton televisi atau mendengarkan radio sambil membantunya makan siang atau makan malam), bagi saya mempunyai media lainnya yang praktis dan bisa mengakses informasi tersebut dalam genggaman juga penting. Yang saya maksud adalah smartphone dan laptop.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ramadhan Bersama Lazada: Peluncuran Seagate Hard Disk Drive Portable

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menyinggung sedikit tentang Seagate Hard Disk Drive Portable yang pernah diluncurkan oleh salah satu situs e-commerce terbesar di Indonesia. Nah, pada bulan Ramadhan tahun 2017 ini, atau tahun 1438 Hijriyah, Seagate Hard Disk Drive (HDD) Portable kembali diperkenalkan ke Indonesia, namun melalui situs e-commerce lainnya yaitu Lazada.

Ramadhan bersama Lazada & para blogger yang digelar 8 Juni 2017 di Plaza Agro Jakarta. (foto: dokpri)

Acara pengenalan Seagate HDD Portable yang diselenggarakan oleh Lazada ini juga dibarengi dengan bukber bareng para blogger yang diundang secara khusus dan terbatas 50 orang saja. Selain produk Seagate, sebenarnya ada lagi produk lainnya yang diperkenalkan oleh Lazada dalam acara bukber tanggal 8 Juni 2017 kemarin, namun dalam tulisan ini saya akan membahas lebih dalam mengenai Seagate HDD Portable.

Baca lebih lanjut

Melirik Bisnis MLM Syariah di Indonesia : Kunjungan ke Markas K-Link

Bisnis Multi Level Marketing (atau disebut MLM) di Indonesia bukan lagi barang baru. Pertama kali diperkenalkan di dunia pada sekitar tahun 1920-an (ada juga yang bilang tahun 1930-an), bisnis MLM dianggap inovatif karena menguntungkan banyak pihak.

Tidak hanya produsen yang merasakan keuntungannya, namun juga konsumen dapat menikmati manfaat produk sekaligus manfaat finansial dalam bentuk insentif dan hadiah. Selain itu, bisnis MLM juga menghemat biaya pengeluaran untuk iklan karena yang bergerak mempromosikan produk-produknya secara langsung adalah para distributor dan konsumen itu sendiri.

Ilustrasi bisnis Multi Level Marketing atau MLM.

Bedanya MLM dengan Money Game

Kalau menurut Robert Kiyosaki, penulis buku-buku best seller tentang bisnis, pelaku bisnis MLM merupakan para profesional yang strategis karena sistem pemasaran berjenjang yang dianut. Artinya, pelanggan juga bisa menjadi distributor sekaligus tenaga pemasaran.

Baca lebih lanjut

Workshop Menulis Moola (dan Tetek-Bengek Lainnya…)

Terhitung sudah satu bulan saya tidak meng-update isi blog pribadi saya di sini. Selain waktu itu saya masih bekerja kantoran dan pekerjaan sungguh menumpuk, plus saya juga double job mengerjakan terjemahan, disambung acara keluar kota bertubi-tubi mengikuti acara di Puncak, lanjut ke Indonesia Community Day di Jogja 2017 yang diselenggarakan Kompasiana, dan terakhir ke Bandung pada akhir Mei ini untuk menjadi pembicara sebagai alumni PPI Dunia di kampus Unpad, membuat saya nyaris melupakan blog pribadi saya. Selain itu, saya juga sedang membangun satu blog pribadi lagi dengan tematik traveling serta kuliner di travelkulinerdina.net.

Bersama para peserta workshop Moola.id, mengenal teman-teman baru dan menambah jejaring. (Photo Credit: twitter moola.id)

Walaupun begitu bukannya saya nggak nulis sama sekali. Saya tetap membuat artikel resensi film untuk Kompasiana (berhubung saya admin komunitas film di situ), dan saya juga diberi tugas mengerjakan ‘Tantangan Menulis 30 Hari’ dari workshop yang saya ikuti bersama Mbak Ollie Salsabila dan Teh Ligwina Hananto. Selain itu, mungkin karena saya terlalu idealis—maksudnya kalau nulis di blog pribadi ya gaya penulisan harus sesuai dengan ‘nafas’ idealisme saya, jadinya malah nggak nulis-nulis 😃. But here I am back since I become jobless for once again but still overwhelmed with so many activities until this early Ramadhan. Yah alhamdulillah, deh, jobless bukan berarti saya bengong, tapi malah makin sibuk. Semoga saja juga diikuti dengan rejeki yang membaik, he he… amin.

Baca lebih lanjut

Turki dan Potensi Busana Muslim Indonesia ke Gerbang Dunia

Beberapa tahun terakhir, saya amati perhelatan panggung mode Indonesia semakin marak. Selain ada Jakarta Fashion Week, kini busana muslim asal Indonesia juga tidak mau ketinggalan unjuk gigi ke kancah panggung dunia dalam sebuah pagelaran bertajuk Muslim Fashion Festival, atau disingkat Muffest.

Muslim Fashion Festival (atau muffest) merupakan ajang tahunan pagelaran busana muslim tahunan yang digelar di Indonesia. Tahun 2017 merupakan kali kedua Muffest diadakan (foto: dokpri)

Disebut panggung fashion show dunia, karena acara Muffest yang digelar pada 6 hingga 9 April 2017 kemarin juga turut mengundang serta menghadirkan rancangan para disainer asal Turki, plus diskusi dengan pengamat mode asal Turki . Ketika mengetahui dari Blogger Crony bahwa akan ada gelar fashion sekaligus bincang-bincang dengan pengamat mode dari Turki, saya dengan serta-merta mendaftarkan diri untuk ikut hadir dalam acara tersebut.

Baca lebih lanjut

Balet dan Pertunjukan Seni Tari Kelas Dunia

saking pengennya punya sepatu balet, saya pun sampai bela-belain beli pointe shoes sewaktu masih kuliah di Italia. (foto: dokpri)

saking pengennya punya sepatu balet, saya pun sampai bela-belain beli pointe shoes sewaktu masih kuliah di Italia. (foto: dokpri)

Sudah sekitar sepuluh tahun saya tidak menonton pertunjukan balet. Terakhir kali saya menyaksikan pementasan balet saat masih kuliah di Italia, dan balet yang saya tonton saat itu Romeo & Juliet. Saya sudah lupa dari negara mana yang mementaskannya, tapi yang saya ingat tarian yang diramu dalam sebuah love story berakhir tragis itu sangat indah dan tidak cengeng.

Saking kepengennya kembali nari balet, saya pun bela-belain membeli pointe shoes di Verona, ha ha..padahal seumur-umur belajar balet saya baru sampai pada tahapan memakai ballet shoes. Bedanya dengan pointe shoes, kalau ballet shoes biasanya dipakai untuk balerina pemula. Sementara pointe shoes dipakai oleh balerina yang sudah lumayan mahir (kalau tidak salah tahun ke-4) atau yang sudah bisa menguasai dengan baik teknik-teknik dasar menari. Pointe shoes berciri khas ujung sepatu yang keras karena dilapisi kayu, dan kalau belum terbiasa memakainya (apalagi sudah lama nggak menari), ya sakiiitt….. Baca lebih lanjut

Bikin Konten Video dan Foto a la Heret Frasthio & Jimmy Indra

Sebelumnya saya pernah menulis tentang membuat konten video dan foto sebagai elemen pendukung artikel di blog, karena menjadi blogger zaman sekarang tidak bisa mengandalkan konten tulisan saja. Kebetulan banget, hari Sabtu 14 Januari kemarin ada talkshow menarik tentang membuat konten video dan foto yang menghadirkan Heret Frasthio dan Jimmy Indra. Acara talkshow bertajuk How To Make Great Content on The Go! ini diselenggarakan di D’Labs by SMDV, Menteng, Jakarta.

Acara BlibliFriendsMeetUp menampilkan Heret Frasthio (sutradara & fotografer), Titra Saputra Salim (Seagate), Lani Rahayu (Communication Manager Blibli.com), Jimmy Indra (sutradara & fotografer), Timothy Oroh (MC). Foto: dokpri

Acara BlibliFriendsMeetUp menampilkan Heret Frasthio (sutradara & fotografer), Titra Saputra Salim (Seagate), Lani Rahayu (Communication Manager Blibli.com), Jimmy Indra (sutradara & fotografer), Timothy Oroh (MC). Foto: dokpri

Bagi yang belum tahu siapa Heret Frasthio dan Jimmy Indra (sebelumnya saya juga nggak tahu kalau tidak hadir di acara tersebut :D), keduanya ternyata adalah praktisi dunia advertising yang telah malang melintang selama 10 tahun membuat karya-karya visual. Hasilnya sering kita lihat di televisi, majalah, bahkan papan-papan billboard ibukota.

Baca lebih lanjut