Arsip Kategori: Renungan

Teror (Lagi) di Kota Paris

Lagi-lagi, serangan aksi teror kembali melanda kota Paris pada Kamis malam 21 April kemarin. Kali ini, tempat penyerangan itu terjadi di kawasan elit Champs-Elysées, yang terkenal juga dengan kawasan butik-butik kelas dunia seperti Hermès, Louis Vuitton, Sephora, dan banyak lagi. Namun, tragedi itu justru saya ketahui dari status facebook seorang mahasiswi Indonesia kenalan saya yang sedang menempuh studi di kota tersebut.

Aksi penembakan di ruang publik di kawasan elit Champs Elysees kembali terjadi di kota Paris, 21 April 2017. (foto sumber: france24.com)

Kebetulan teman saya ini dengan seorang mahasiswi Indonesia lainnya sedang melintas di kawasan tersebut setelah sebelumnya berfoto-foto di depan monumen Arc de Triomphe sekitar jam 8 malam. Champs-Elysées yang saat itu sedang dipadati turis tiba-tiba dikejutkan dengan suara tembakan lima kali, yang awalnya dikira suara mercon. Teman saya pun refleks berlari mencari tempat persembunyian ke restoran terdekat, masih dengan diiringi suara tembakan di sekelilingnya. Alhamdulillah keduanya berhasil pulang dengan selamat ke apartemen masing-masing, meskipun trauma yang dirasakannya tentu akan membekas di ingatan.

Baca lebih lanjut

Hobi Berkebun Ayah

ayah saya hobi banget berkebun, termasuk memanjat pohon dan memotong batangnya seperti di foto. Sampai-sampai ia suka lupa waktu dan lupa umur. (foto: dokpri)

Di usia senjanya, ayah senang sekali berkebun. Hobi berkebun yang dilakoninya sejak muda ini tidak pernah alpa dari kesehariannya yang memang tidak bisa diam, meskipun baru sembuh dari sakit satu atau dua hari sesudahnya. Hobi berkebun ayah saya tidak tanggung-tanggung: memanjat pohon nangka atau pohon rambutan yang memang lumayan tinggi batangnya. Gara-gara memanjat itu pula ayah saya sempat masuk rumah sakit. Bukan karena terjatuh, tetapi karena ia sedang berpuasa dan kehabisan kadar glukosa berhubung terlalu banyak energi yang dikeluarkannya, padahal sudah jelas ayah sendiri tahu bahwa dirinya penderita diabetes.

Namun, yah… namanya juga penyuka kegiatan berkebun. Meski dilarang-larang tetap saja bandel utak-atik sana-sini tanaman-tanaman yang dirawatnya, walaupun ‘kadar memanjat’-nya sudah berkurang. Mau pohon mangga, pohon jambu, pohon nangka, pasti semua pohon berbatang tinggi yang ada di pekarangan rumah sudah pernah dipanjatnya. Tidak hanya memanjat pohon, ayah saya yang kelihatannya cuek beybeh ini ternyata juga suka menanam bunga, loh.

Baca lebih lanjut

Blogger Day 2017: Akankah Dunia Sosmed Bertahan?

Sebelumnya, saya mengenal Writers in Residence sebagai sebuah wadah bagi para penulis  yang sedang membutuhkan inspirasi dengan cara sharing ilmu dengan sesama penulis lainnya selama beberapa hari atau bulan, dan para penulis tersebut menginap di suatu tempat (bisa hotel atau vila) jauh dari hiruk-pikuk kota. Tujuannya supaya sang penulis bisa mendapatkan ilham baru untuk menulis dalam suasana yang kondusif, serta networking pastinya.

Acara Blogger Day 2017 dihadiri oleh 96 orang blogger dari seluruh Indonesia, berlangsung tanggal 18-19 Maret 2017 di Kampung Wisata Rumah Joglo, Bogor, Jawa Barat. (foto: dokpri)

Kini, kegiatan semacam itu juga dilakoni oleh para blogger, dan yang saya maksudkan di sini adalah blogger-blogger dari seluruh Indonesia dalam sebuah rangkaian acara yang sarat ilmu, disebut Blogger Day. Acara yang digelar dalam rangka menyambut ulang tahun komunitas Blogger Crony yang kedua ini mengumpulkan 96 orang blogger dari berbagai komunitas. Mulai dari Kompasiana, Asinan Blogger, Kumpulan Emak Blogger (atau disingkat KEB), Blogger Perempuan, sampai dengan anggota-anggota Blogger Crony sendiri.

Baca lebih lanjut

Antara Nge-Blogging dan Ngantor…

Postingan kali ini saya ingin bercerita mengenai pilihan saya untuk tetap bekerja kantoran sambil ngeblog. Tapi, sebelumnya saya juga hendak menjelaskan bahwa saya ngeblog itu sebenarnya sudah lama banget. Kalau teman-teman baca di halaman muka blog saya, tepatnya pada nama blog saya “Blog Pindahan dari Multiply dan Tulisan-Tulisan Terbaru Dina“, jelas bahwa saya ngeblog itu sudah sejak zaman Multiply masih ada, sekitar tahun 2008-2010. Waktu itu saya menjadikan blog murni untuk tempat curhat, tempat menuangkan pikiran-pikiran saya, karena kemampuan saya memang di bidang menulis. Sampai-sampai saya pernah bikin quote, “My writing is my power. Those who don’t read it don’t know me at all.” (tulisan saya merupakan kekuatan saya. Mereka yang tidak membaca tulisan saya berarti tidak kenal saya). Karena, jujur, saya bukan tipe orang yang mudah terbuka dengan orang lain, apalagi kalau belum kenal. Jadi, kalau mau kenal saya, ya baca tulisan-tulisan saya aja dulu, he he he…

Platform blog online jaman tahun 2008-2010 yang pernah saya manfaatkan untuk curhat dan menuangkan pemikiran-pemikiran saya. (foto diambil dari wikipedia.org)

Platform blog online jaman tahun 2008-2010 yang pernah saya manfaatkan untuk curhat dan menuangkan pemikiran-pemikiran saya. (foto diambil dari wikipedia.org)

Kemudian, sayangnya blog Multiply kemudian tergusur karena semakin banyaknya orang yang memanfaatkan platform blog online untuk jualan. Multiply pun sempat berubah menjadi platform e-commerce bagi toko-toko online untuk menjual dagangannya, tapi pada akhirnya Multiply pun raib ditelan jaman karena semakin banyaknya pilihan platform lainnya bagi toko-toko online tersebut untuk berjualan di internet dan dunia maya. Sayang saya pun nggak pernah men-screenshot blog Multiply saya itu (berhubung waktu itu saya masih lumayan gaptek… emangnya sekarang udah enggak gaptek? Ha ha ha…), jadi saya nggak punya record atau catatan kenangan mengenai blog Multiply saya itu. Meskipun begitu teman-teman bisa melihat beberapa postingan lama saya yang saya parkir di blog ini, tepatnya postingan-postingan tahun 2012.

Baca lebih lanjut

Menjadi Cantik dan Tampan di Masa Kini

Zaman sekarang, berbagai sarana untuk membuat seseorang menjadi lebih cantik atau tampan memang lebih mudah. Selain dengan cara konvensional seperti pergi ke salon, orang-orang pun mulai memikirkan untuk mempermak bagian wajah yang dirasakan kurang sreg, atau memperbaiki bagian tubuh yang dianggap tidak sempurna, ke klinik-klinik kecantikan. Sebut saja biduanita Titi DJ yang pernah dikabari melakukan operasi tummy tuck agar perutnya kelihatan lebih ramping setelah melahirkan anak kembar, atau penyanyi jazz Andien yang memancungkan sedikit hidungnya dan sekarang tampak lebih cantik (meskipun dulu juga sudah cantik sih 😉 ).

Menjadi cantik atau tampan di masa sekarang ini semakin mudah dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan mulai dari salon kecantikan hingga klinik estetika yang ditangani dokter-dokter spesialis. (foto sumber: pinterest.com)

Menjadi cantik atau tampan di masa sekarang ini semakin mudah dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan mulai dari salon kecantikan hingga klinik estetika yang ditangani dokter-dokter spesialis. (foto sumber: pinterest.com)

Semakin menjamurnya klinik-klinik kecantikan di Jakarta membuat para calon klien harus lebih selektif dalam memilih klinik yang sesuai kebutuhan. Soalnya jika sembarangan memilih, bukan cantik yang didapatkan, tapi… malah berabe! Meskipun saya bukan tipe orang yang repot-repot memanjakan diri melalui tangan-tangan spesialis dokter ahli estetika, tetapi kalau pun disuruh harus memilih, saya pastinya akan memilih klinik kecantikan yang memang resmi dan ditangani oleh dokter-dokter yang jelas kualifikasinya. Apalagi kulit saya ini termasuk yang lumayan reaktif kalau nyoba-nyoba produk ini itu, dan pengalaman pernah dioperasi endometriosis yang menyebabkan saya harus merelakan satu ovarium saya, membuat hormon saya tidak stabil. Makanya saya tidak berani mengklaim diri menjadi beauty blogger, dan lebih suka membahas hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan saja. Yah, muka dan tubuh cuma satu gitu loh, nggak ada gantinya :p.

Baca lebih lanjut

Kampanye 1 T-Shirt untuk 1 Pohon Delia von Rueti

Look around and try to see where you can plant a tree,” kata Ibu Delia von Rueti dalam acara jumpa pers bersama para blogger dan awak media dalam peluncuran kampanye 1 T-Shirt untuk 1 Pohon bertajuk “Love & O2“. T-shirt yang didisain oleh perancang perhiasan asli Indonesia dari Pematang Siantar dan bermukim di Swis ini menampilkan gambar-gambar yang menyejukkan sekaligus menggugah. Salah satu gambar artistik yang menyimpan makna tersurat adalah dua batang pohon yang berdiri bersisian, pohon sebelah kiri nampak gemuk batangnya dan besar, sementara pohon yang di sebelah kanan berbatang kerdil dan kurus. Ibu Delia berandai-andai ketika mendisain gambar tersebut, akankah suatu hari nanti pohon yang di sebelah kanan bisa tumbuh sehat dan bahagia seperti batang pohon di sebelah kirinya?

Ibu Delia von Rueti diapit Titi DJ dan Teuku Zacky dalam acara kampanye 1 T-Shirt for 1 Tree di Grand Hyatt Jakarta, 23 November 2016. (foto: dokpri)

Ibu Delia von Rueti diapit Titi DJ dan Teuku Zacky dalam acara kampanye 1 T-Shirt for 1 Tree di Grand Hyatt Jakarta, 23 November 2016. (foto: dokpri)

Baca lebih lanjut

Mengenal Pahlawan Indonesia Melalui Drama Musikal

Sudah lama sekali saya tidak menonton pertunjukan teater panggung yang berkelas, lengkap dengan suguhan lagu dan tari-tarian, serta untaian kisah yang bermuatan hikmah tanpa kesan menggurui. Dahaga saya akan sebuah pertunjukan ciamik namun edukatif baru terpuaskan tatkala saya diberikan kesempatan untuk menyaksikan sebuah drama musikal yang digelar secara premier pada Jum’at siang tanggal 18 November 2016 lalu di Gedung Teater Utama Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Drama Musikal Khatulistiwa diperankan antara lain oleh Rio Dewanto, Kelly Tandiono, Sita Nursanti dan Teuku Rifnu Wikana. (poster diambil dari website musikalkhatulistiwa.com)

Drama Musikal Khatulistiwa diperankan antara lain oleh Rio Dewanto, Kelly Tandiono, Sita Nursanti dan Teuku Rifnu Wikana. (poster diambil dari website musikalkhatulistiwa.com)

Pertunjukan gerak dan lagu yang dibalut kisah cerita kepahlawanan para pejuang Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda dan Jepang bertajuk Drama Musikal Khatulistiwa: Jejak Langkah Negeriku. Dari judulnya saja, sudah terbayang pertunjukan ini akan dikemas secara heroik dengan lagu-lagu yang menggugah serta adegan demi adegan yang membangkitkan rasa nasionalisme. Dituturkan melalui seorang ayah yang menemani anak-anaknya melakukan perjalanan camping ke pegunungan, drama pertunjukan berdurasi sekitar 2,5 jam ini juga menampilkan beberapa aktor dan aktris yang wajahnya sudah sering berseliweran di media nasional. Sebut saja ada Kelly Tandiono yang berperan sebagai pelatih Pramuka, Sita Nursanti RSD sebagai Ibu Dewi Sartika, Teuku Rifnu Wikana menjadi HOS Cokroaminoto. Selain itu, ada sekitar 100 orang pemain muda yang merupakan mahasiswa/i dari beberapa universitas di Jakarta.

Baca lebih lanjut