Arsip Kategori: Renungan

Baju Koko Hadiah Lebaran untuk Ayah

Beberapa waktu yang lalu, saya menulis tentang keinginan saya menghadiahkan peralatan berkebun untuk ayah dengan mengikuti lomba blog elevenia. Tapi, nampaknya saya belum beruntung. Untungnya saya belum bilang apa-apa ke ayah, karena memang rencananya hadiah yang akan saya berikan itu harus berupa kejutan. Ya mosok hadiah pakai bilang-bilang 😉.

Awal Juni kemarin, tepatnya tanggal 6, ayah saya merayakan ulang tahun yang 77 tahun. Sudah manula banget yah, hi hi… tapi secara fisik, ayah saya tampak seperti masih berusia sekitar 50-60 tahunan. Itu juga kata orang-orang, loh. Kebetulan, tanggal 6 Juni bertepatan sekali dengan minggu pertama kami sekeluarga menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Baca lebih lanjut

Koperasi untuk Generasi Milenial

Kata koperasi mungkin sudah menjadi kata yang asing bagi generasi milenial, sebutan untuk generasi muda saat ini.

Pemahaman saya mengenai koperasi yang didapat dari buku-buku pelajaran sekolah masa kecil. (foto: sumberpengetahuan.com)

Padahal, sewaktu saya masih kecil, koperasi masih jadi kebanggaan orang Indonesia, loh. Setidaknya, di buku-buku pelajaran SD sampai SMA, pasti selalu ada pembahasan tentang koperasi sebagai alat peningkatan kesejahteraan yang paling cocok untuk masyarakat Indonesia berkat sistem kekeluargaan dan gotong-royongnya. Selain itu, almarhumah ibu saya dulu termasuk yang aktif menjadi anggota koperasi, baik itu koperasi guru, maupun koperasi di kota kelahirannya, Pekalongan.

Baca lebih lanjut

Dysuria: Anyang-Anyangan yang Bikin Perih Bukan Kepalang

Pernah merasakan nyeri saat buang air kecil? Saya pernah mengalaminya dulu sewaktu terserang demam berdarah.

Rasanya… sudah pasti nggak karuan. Ingin pipis, tapi begitu ke toilet, haduh rasanya mau keluar air kencing saja nyeri banget (maaf). Dokter sempat mendiagnosa bahwa saya terkena infeksi saluran kemih.

pernah merasakan pingin bolak-balik ke toilet? (Photo credit: pexels)

Baca lebih lanjut

Teror (Lagi) di Kota Paris

Lagi-lagi, serangan aksi teror kembali melanda kota Paris pada Kamis malam 21 April kemarin. Kali ini, tempat penyerangan itu terjadi di kawasan elit Champs-Elysées, yang terkenal juga dengan kawasan butik-butik kelas dunia seperti Hermès, Louis Vuitton, Sephora, dan banyak lagi. Namun, tragedi itu justru saya ketahui dari status facebook seorang mahasiswi Indonesia kenalan saya yang sedang menempuh studi di kota tersebut.

Aksi penembakan di ruang publik di kawasan elit Champs Elysees kembali terjadi di kota Paris, 21 April 2017. (foto sumber: france24.com)

Kebetulan teman saya ini dengan seorang mahasiswi Indonesia lainnya sedang melintas di kawasan tersebut setelah sebelumnya berfoto-foto di depan monumen Arc de Triomphe sekitar jam 8 malam. Champs-Elysées yang saat itu sedang dipadati turis tiba-tiba dikejutkan dengan suara tembakan lima kali, yang awalnya dikira suara mercon. Teman saya pun refleks berlari mencari tempat persembunyian ke restoran terdekat, masih dengan diiringi suara tembakan di sekelilingnya. Alhamdulillah keduanya berhasil pulang dengan selamat ke apartemen masing-masing, meskipun trauma yang dirasakannya tentu akan membekas di ingatan.

Baca lebih lanjut

Hobi Berkebun Ayah

ayah saya hobi banget berkebun, termasuk memanjat pohon dan memotong batangnya seperti di foto. Sampai-sampai ia suka lupa waktu dan lupa umur. (foto: dokpri)

Di usia senjanya, ayah senang sekali berkebun. Hobi berkebun yang dilakoninya sejak muda ini tidak pernah alpa dari kesehariannya yang memang tidak bisa diam, meskipun baru sembuh dari sakit satu atau dua hari sesudahnya. Hobi berkebun ayah saya tidak tanggung-tanggung: memanjat pohon nangka atau pohon rambutan yang memang lumayan tinggi batangnya. Gara-gara memanjat itu pula ayah saya sempat masuk rumah sakit. Bukan karena terjatuh, tetapi karena ia sedang berpuasa dan kehabisan kadar glukosa berhubung terlalu banyak energi yang dikeluarkannya, padahal sudah jelas ayah sendiri tahu bahwa dirinya penderita diabetes.

Namun, yah… namanya juga penyuka kegiatan berkebun. Meski dilarang-larang tetap saja bandel utak-atik sana-sini tanaman-tanaman yang dirawatnya, walaupun ‘kadar memanjat’-nya sudah berkurang. Mau pohon mangga, pohon jambu, pohon nangka, pasti semua pohon berbatang tinggi yang ada di pekarangan rumah sudah pernah dipanjatnya. Tidak hanya memanjat pohon, ayah saya yang kelihatannya cuek beybeh ini ternyata juga suka menanam bunga, loh.

Baca lebih lanjut

Blogger Day 2017: Akankah Dunia Sosmed Bertahan?

Sebelumnya, saya mengenal Writers in Residence sebagai sebuah wadah bagi para penulis  yang sedang membutuhkan inspirasi dengan cara sharing ilmu dengan sesama penulis lainnya selama beberapa hari atau bulan, dan para penulis tersebut menginap di suatu tempat (bisa hotel atau vila) jauh dari hiruk-pikuk kota. Tujuannya supaya sang penulis bisa mendapatkan ilham baru untuk menulis dalam suasana yang kondusif, serta networking pastinya.

Acara Blogger Day 2017 dihadiri oleh 96 orang blogger dari seluruh Indonesia, berlangsung tanggal 18-19 Maret 2017 di Kampung Wisata Rumah Joglo, Bogor, Jawa Barat. (foto: dokpri)

Kini, kegiatan semacam itu juga dilakoni oleh para blogger, dan yang saya maksudkan di sini adalah blogger-blogger dari seluruh Indonesia dalam sebuah rangkaian acara yang sarat ilmu, disebut Blogger Day. Acara yang digelar dalam rangka menyambut ulang tahun komunitas Blogger Crony yang kedua ini mengumpulkan 96 orang blogger dari berbagai komunitas. Mulai dari Kompasiana, Asinan Blogger, Kumpulan Emak Blogger (atau disingkat KEB), Blogger Perempuan, sampai dengan anggota-anggota Blogger Crony sendiri.

Baca lebih lanjut

Antara Nge-Blogging dan Ngantor…

Postingan kali ini saya ingin bercerita mengenai pilihan saya untuk tetap bekerja kantoran sambil ngeblog. Tapi, sebelumnya saya juga hendak menjelaskan bahwa saya ngeblog itu sebenarnya sudah lama banget. Kalau teman-teman baca di halaman muka blog saya, tepatnya pada nama blog saya “Blog Pindahan dari Multiply dan Tulisan-Tulisan Terbaru Dina“, jelas bahwa saya ngeblog itu sudah sejak zaman Multiply masih ada, sekitar tahun 2008-2010. Waktu itu saya menjadikan blog murni untuk tempat curhat, tempat menuangkan pikiran-pikiran saya, karena kemampuan saya memang di bidang menulis. Sampai-sampai saya pernah bikin quote, “My writing is my power. Those who don’t read it don’t know me at all.” (tulisan saya merupakan kekuatan saya. Mereka yang tidak membaca tulisan saya berarti tidak kenal saya). Karena, jujur, saya bukan tipe orang yang mudah terbuka dengan orang lain, apalagi kalau belum kenal. Jadi, kalau mau kenal saya, ya baca tulisan-tulisan saya aja dulu, he he he…

Platform blog online jaman tahun 2008-2010 yang pernah saya manfaatkan untuk curhat dan menuangkan pemikiran-pemikiran saya. (foto diambil dari wikipedia.org)

Platform blog online jaman tahun 2008-2010 yang pernah saya manfaatkan untuk curhat dan menuangkan pemikiran-pemikiran saya. (foto diambil dari wikipedia.org)

Kemudian, sayangnya blog Multiply kemudian tergusur karena semakin banyaknya orang yang memanfaatkan platform blog online untuk jualan. Multiply pun sempat berubah menjadi platform e-commerce bagi toko-toko online untuk menjual dagangannya, tapi pada akhirnya Multiply pun raib ditelan jaman karena semakin banyaknya pilihan platform lainnya bagi toko-toko online tersebut untuk berjualan di internet dan dunia maya. Sayang saya pun nggak pernah men-screenshot blog Multiply saya itu (berhubung waktu itu saya masih lumayan gaptek… emangnya sekarang udah enggak gaptek? Ha ha ha…), jadi saya nggak punya record atau catatan kenangan mengenai blog Multiply saya itu. Meskipun begitu teman-teman bisa melihat beberapa postingan lama saya yang saya parkir di blog ini, tepatnya postingan-postingan tahun 2012.

Baca lebih lanjut