Arsip Kategori: Pendidikan

Social Media, Anda Gunakan Untuk Apa?

Hari gini, siapa yang nggak kenal dengan dunia social media, atau socmed dalam berbagai platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan banyak lagi? Meskipun masih ada sebagian dari kita yang sama sekali tidak punya akun di salah satu dari banyaknya social media platform yang bertebaran di dunia maya, setidaknya mereka tahu apa socmed itu.

Sarah Sechan memutuskan menutup akun Instagram-nya demi menjaga privacy. (foto sumber: akun IG Sarah Sechan)

Misalkan saja salah satu selebriti Tanah Air Reza Rahadian yang katanya nggak punya akun medsos (bahasa Indonesia untuk social media), tapi dia pasti tahu apa itu Facebook, Twitter dan Instagram. Kebalikannya, Sarah Sechan, presenter ngetop yang dulunya sempat aktif di Instagram, kini memutuskan untuk menutup kedua akun socmed-nya tersebut dengan alasan ingin menjalani dan menikmati setiap momen dalam hidupnya tanpa gangguan dunia luar.

Baca lebih lanjut

Iklan

Rasis.. Nggak Rasis… Rasis.. Nggak Rasis…

Pikiran dan dugaan ini muncul semakin kuat tatkala tadi sore, sehabis ujian (alhamdulillaah lulus ), sepulang dari ujian, saya jalan-jalan bareng Maria, teman satu program EM (Erasmus Mundus) dan satu mata kuliah plus satu kelas bareng saya, yang asal Kolombia. Sembari menuju ke halte bus, kami sempet ngobrolin tentang dosen yang ngetes ujian kami. Mata kuliah yang diujiankan secara lisan itu judulnya “Storia dell’Europa Moderna” ato Sejarah Eropa Moderen, yang sebenernya gak modern2 amat sih, wong yang dikatakan modern dalam konteks ini adalah sejarah Eropa mulai akhir abad ke-15 (berarti taon 1400-an) sampe awal abad ke-17 (sekitar 1600-an). Yang ngajar, Valerio Marchetti, orang Italia yang ngaku-nya keturunan Yahudi, dan gosip orang-orang dia berdarah Polandia ato daerah Eropa Timur sana. Kami menyebutnya Marchetti (di sini kami biasa menyebut-nyebut dosen dengan nama belakangnya, bahkan kalau kami nggak suka sama si dosen muncul julukan-julukan khusus, hehehhh). Selain ngajar mata kuliah ini, beliau juga mengajar Storia dell’Ebraismo ato Sejarah bangsa Yahudi, Storia dello Shoah ato Sejarah Peristiwa Shoah (sejauh yang saya pahami, shoah itu adalah lembaran hitam dalam sejarah bangsa Yahudi saat Perang Dunia II karena Hitler ingin membumihanguskan mereka semua).

Baca lebih lanjut

Berani Bermimpi Besar & Wujudkan Mimpimu

tanda tangan Merry Riana dengan tagline “Wujudkan Mimpimu!”

Itulah tagline yang ditulis oleh Merry Riana dan suaminya, Alva Tjenderasa, di buku yang mereka berdua tanda tangani untuk saya sewaktu peluncuran buku Mimpi Sejuta Dolar di Kinokuniya Book Store, Plaza Senayan, tanggal 27 Oktober 2011 yang lalu. Acara yang dipadati lebih dari 100 peserta ini–kebetulan saya termasuk salah satu yang beruntung mendapatkan undangan gratis melalui kuis twitter–merupakan, bisa dibilang, merupakan salah satu momen paling menyenangkan dalam hidup saya. Wong ketemu sama the no.1 woman motivator di seluruh Asia koq, gimana nggak hepi-hepi gonjreng kan gue . Saya seperti mendapat suntikan semangat untuk tidak pernah menyerah dengan mimpi-mimpi saya, meskipun saya mesti menundanya dahulu sampai beberapa waktu lamanya.

Baca lebih lanjut

Kelas OFII: Kelas Istri-Istri Bersuamikan Bule Prancis

DILF merupakan metode yang digunakan untuk mengajar kelas OFII

Masih tentang mengajar, pengalaman saya mengajarkan bahasa Prancis ke wanita-wanita Indonesia yang bersuamikan orang Prancis pun nggak kalah serunya. Seru benar-benar dalam artian menyenangkan, bikin gemes, kadang bikin sebal, dan yang terpenting, tidak terlupakan. Mengajar mereka seperti memberi arti baru tentang hidup bagi saya. Bahwa kehidupan itu tidak mesti datar-datar saja. Kehidupan itu seperti sebuah mutiara di dasar lautan yang mendapatkannya harus dengan usaha pantang menyerah ke laut terdalam meskipun banyak hiu menghadang (loh koq jadi puisi berima? ).

Yah.. jika kalian pernah tinggal di luar negeri dan bertemu komunitas orang Indonesia di luar negeri, mungkin teman-teman akan memahami berbagai tipe orang Indonesia, terutama kaum hawa yang bersuamikan bule di sana. Pada awalnya, jujur saja, sebelum saya menyentuh komunitas itu, saya terlanjur termakan omongan orang tentang stereotipe cewek-cewek yang menikahi pria asing: ………………. (titik-titik, teruskan sendiri). Saya sampai nggak tahu mau mendeskripsikannya seperti apa, karena saya begitu ingin menghormati mereka. Satu hal yang pasti: mereka, kaum hawa Indonesia yang bersuamikan bule ini, tidak seperti yang digambarkan dalam stereotipe orang kita mengenai mereka. Tidak selalu. Dan tidak sama sekali. Kalaupun ada salah satu dari stereotipe itu yang benar, saya hanya bisa bilang: mereka beruntung, dan saya iri. Ya, iri, karena saya tidak bisa dan tidak berani seperti mereka. Mungkin orang-orang yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang mereka dan semakin memperkuat stereotipe itu, juga karena mereka iri. Tapi, mungkin mereka tidak mau mengakuinya.

Baca lebih lanjut