Arsip Kategori: Opini

Menikmati Karya Seni Negeri Sendiri di Galeri Nasional Indonesia

Kenangan berfoto di depan National Gallery of London tahun 2010. Hampir setiap kali saya lewat bangunan ini, saya sempatkan untuk masuk ke dalam museum dan berkontemplasi mengamati lukisan-lukisan di dalamnya. (foto: dokpri)

Memasuki museum atau galeri seni dan menikmati lukisan-lukisan yang dipajang sambil berkontemplasi, merupakan aktivitas yang saya sukai semasa berkuliah di Prancis. Terlebih lagi sewaktu saya berkesempatan mengunjungi ibukota Britania Raya. Jika kebanyakan orang Indonesia mungkin lebih suka ke pusat perbelanjaan seperti Harrod’s atau mencoba berbagai atraksi hiburan, saya justru menyempatkan diri masuk ke National Gallery of London beberapa kali setiap kali melewati bangunan tersebut. Mengapa tidak, museum ini sama sekali tidak memungut biaya bagi pengunjungnya alias gratis! Setidaknya, itu yang saya alami pada sekitar tahun 2010 yang lalu. Jika di kota-kota di Prancis, memasuki museum masih dipungut biaya (hanya hari tertentu saja gratis bagi mahasiswa dalam rentang usia tertentu), termasuk Louvre, maka di galeri yang satu ini, yang letaknya persis satu lokasi dengan Trafalgar Square, saya tidak perlu mengeluarkan kocek.

Baca lebih lanjut

Iklan

Beli Smartphone di Harbolnas Lazada

Foto saya berdua dengan Tara Basro menerima hadiah smartphone android keluaran Prancis, tahun 2015 yang lalu. (foto: dokpri)

Menjelang akhir tahun, Hari Belanja Online Nasional alias Harbolnas datang lagi. Kebetulan sekali, saya perlu banget mengganti smartphone saya yang kapasitasnya terbatas (walaupun usianya baru mau dua tahun). Ya, maklum smartphone yang saya punya ini hadiah doorprize dan dikeluarkan oleh perusahaan asing asal Prancis yang saat itu baru mau berekspansi ke Indonesia.

Meskipun akhirnya saya bisa punya ponsel android baru yang beda dari kebanyakan (pada zaman itu ;p), lama-lama semakin tahun berganti, tampaknya perusahaan tersebut tidak mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan penyedia alat telekomunikasi dari negara-negara raksasa teknologi Asia seperti Korea dan Jepang. Singkatnya, smartphone saya ini toh bisa dibilang ketinggalan zaman dan performanya sudah lapuk dibandingkan smartphone-smartphone keluaran Korea dan Jepang :D.

Baca lebih lanjut

Koperasi dalam Genggaman Teknologi Seluler Melalui SOBATKU

Pesatnya perkembangan teknologi informasi memang membuat berbagai perusahaan berlomba-lomba membuat aplikasi pada ponsel pintar, atau istilah kerennya mobile apps, agar mudah diakses oleh para pelanggannya.

layanan jasa keuangan berpadu dengan kecanggihan teknologi yang disebut financial technology atau fintech.

Terutama, perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan teknologi komputer, seperti perusahaan agen perjalanan untuk menjual tiket dan hotel, perusahaan telekomunikasi untuk menjual pulsa dan fasilitas berlangganan tivi kabel, dan tidak terkecuali perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan dan perbankan. Nah, yang terakhir ini orang-orang menyebutnya dengan perusahaan fintech, singkatan dari financial technology. Jadi, jasa keuangan yang berpadu dengan kecanggihan teknologi.

Baca lebih lanjut

Marissa Mayer, Si Tangan Dingin Google Yang Menguasai Programming

Siapa yang nggak kenal Google? Situs pencari nomor satu di dunia ini pernah digawangi oleh seorang pakar informatika wanita, loh! (foto: pexels)

Berbicara tentang Google, maka ingatan saya langsung melayang ke sebuah nama seorang wanita berambut pirang yang pernah menjadi petinggi perusahaan IT raksasa asal Amerika Serikat. Soalnya jarang-jarang sih seorang wanita bisa berkiprah di dunia yang digeluti kaum pria, apalagi bisa menduduki posisi paling bergengsi sebagai CEO alias Chief Executive Officer. Dia adalah Marissa Mayer (jangan terbalik dengan Marissa Meyer si penulis buku anak-anak ya :D), wanita kelahiran tahun 1975 dari Wisconsin.

Selama 13 tahun bergabung dengan Google sejak tahun 1999, Marissa telah melakukan banyak terobosan yang membuat Google lebih berkembang pesat dan menjadi user friendly seperti yang kita kenal sekarang ini. Mulai dari Google Search, Google Image, Google Maps, Google Books, bahkan Gmail, iGoogle, Google Toolbar, semua itu adalah hasil karya inovatif dari ibu dua putri kembar ini.

Baca lebih lanjut

Film My Generation, Remaja Milenial Membangkang Orangtua?

Akhir-akhir ini, lini masa media sosial diramaikan dengan akan dirilisnya film terbaru garapan Upi yang menceritakan kisah kehidupan remaja generasi milenial alias ‘kids zaman now’. Upi yang dikenal dengan film-film komedi dan drama remaja metropolitan seperti 30 Hari Mencari Cinta (2004), Radit dan Jani (2008), Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006) tergelitik untuk mengangkat kehidupan remaja zaman sekarang yang melek medsos setelah melakukan riset selama dua tahun di berbagai komentar yang dilontarkan oleh anak-anak remaja di media sosial termasuk You Tube.

sebuah kutipan dialog dari salah satu tokoh di film My Generation. Betulkah film ini mengajarkan untuk membangkang terhadap orangtua? (foto : dokumentasi IFI Sinema)

Menurut Upi, anak-anak remaja masa kini cenderung bersikap lebih terbuka dan jujur di media sosial ketimbang jika ditanya langsung, dan komentar-komentar mereka terhadap status atau postingan medsos terus terang membuat Upi kaget. “Gila banget,” katanya seperti dilansir oleh sebuah situs berita online. Rata-rata anak remaja ini mengomentari kehidupan seputar sekolah, orangtua, dan guru.

Baca lebih lanjut

Laptop 2in1 Sang Jendela Dunia

laptop yang bisa multitasking menurut saya: bisa berfungsi sebagai PC untuk mengerjakan job-job terjemahan, ngeblog, bisa sebagai tablet untuk browsing & streaming film. (foto: pexels)

Sebenarnya sudah beberapa kali saya membahas tentang manfaatnya punya laptop yang bisa multitasking. Tapi… ya nggak apa-apa deh saya tulis lagi, siapa tahu kali ini menang, he he he (ngarep dot com :p). Lagipula mumpung lagi lowong dan belum ada orderan terjemahan lagi, ya sudah deh saya kembali nge-blog.

Apa sih maksudnya multitasking laptop? Yang saya inginkan dari sebuah laptop yang bisa multitasking itu ya nggak hanya bisa untuk mengetik sebagai sumber mata pencaharian utama saya (ya, sejak ayah sakit saya sekarang full time menerjemahkan, dan kalau sedang sepi orderan saya kembali ikut lomba-lomba menulis blog :D). Itu artinya, untuk menerjemahkan dan menulis blog kan pasti saya butuh nge-draft dulu di Microsoft Word, ‘kan. Makanya laptop yang saya punya harus ada software Microsoft Office yang komplit. Selain Word, setidaknya juga ada Excel berhubung ada juga klien yang memberikan order terjemahan dalam format dokumen .xsl, ada juga yang dalam format Power Point.

Baca lebih lanjut

Tren Ruang Kerja a la Generasi Milenial di Coworking Space

Beberapa waktu yang lalu saya pernah membahas tentang semangat kewirausahaan sosial, atau istilah kerennya social entrepreneurship, yang sedang menggeliat di kalangan anak-anak muda zaman sekarang. Yang menarik, kegiatan social entrepreneurship ini dibangun dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi digital melalui media sosial, tanpa melupakan tanggung jawab moral kepada masyarakat, sekaligus sebagai usaha untuk merintis bisnis yang sering disebut dengan istilah start up.

Bisnis start up mulai bermunculan tatkala masyarakat semakin aktif menggunakan internet dan media sosial. Bisnis ini berciri khas memanfaatkan kecanggihan teknologi internet namun biasanya belum punya ruang kantor tetap. (foto diambil dari website EV Hive)

Bisnis start up mulai bermunculan seiring dengan kemajuan teknologi informasi, terutama internet, dan khususnya sejak adanya media sosial seperti facebook, instagram dan twitter. Fenomena ini memunculkan berbagai profesi baru yang tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh generasi sebelum milenial (yaitu mereka yang lahir sebelum tahun 1980-an) seperti blogger, influencer, buzzer.

Baca lebih lanjut