Arsip Kategori: Jalan-Jalan

Icip-Icip Kuliner Kompasiana di Thai Alley Pacific Place

Penggila kuliner termasuk saya berkesempatan diundang oleh komunitas Kompasianer Penggila Kuliner, disingkat KPK, untuk icip-icip masakan Thailand di Thai Alley, Pacific Place, Jakarta, pada hari Sabtu 5 Maret yang lalu. Acara yang dimulai jam 11 siang ini dipandu oleh mba Ambar Arum sebagai manajer marketing restoran Thai Alley.

Kumpul-Kumpul Kompasiana Penggila Kuliner di Thai Alley Pacific Place, Sabtu 5 Maret 2016 (foto: Rahab Ganendra).

Kumpul-Kumpul Kompasiana Penggila Kuliner di Thai Alley Pacific Place, Sabtu 5 Maret 2016 (foto: Rahab Ganendra).

Sebenarnya saya sudah beberapa kali mengikuti acara Kompasiana baik yang di Jakarta maupun di Surabaya, namun kalau acara KPK baru kali ini, nih, dan ternyata seru juga. Dulu zaman sebelum pindah ke Surabaya tahun 2013, biasanya acara kuliner yang saya ikuti yaitu acara icip-icip yang diselenggarakan OpenRice atau YukMakan. Kini ternyata sejak saya kembali ke Jakarta, komunitas penggila, atau penggiat, atau apa pun itu namanya yang berkaitan dengan kuliner, semakin ramai dan banyak saja. Salah satunya ya KPK ini. Sewaktu saya bertemu dengan para KPK hari Sabtu kemarin itu, beberapa di antaranya wajahnya saya kenali pernah ikut acara-acara serupa di zaman saya masih belum pindah ke Surabaya, dan sekarang bertemu lagi deh :).

Baca lebih lanjut

Iklan

Roaming di Luar Negeri Pakai My Telkomsel

Saya sudah menjadi pelanggan kartu Halo Telkomsel sejak sekitar tahun 2006. Awalnya, saya dulu menggunakan kartu prabayar Simpati, namun berhubung pada pertengahan tahun 2006 waktu itu saya hendak berangkat ke luar negeri, dan akan sangat merepotkan bagi saya apabila mendadak pulsa habis–saya juga tidak biasa meminta dibelikan pulsa oleh orang lain–maka saya putuskan bermigrasi ke kartu pascabayar agar tidak perlu khawatir kehabisan pulsa dan pembayaran dilakukan di akhir bulan.

 

Kemudahan menjadi Pelanggan Halo

Roaming ke luar negeri tidak perlu kuatir lagi karena sudah ada paket dari MyTelkomsel

Roaming ke luar negeri tidak perlu kuatir lagi karena sudah ada paket dari MyTelkomsel

Banyak kemudahan yang saya dapatkan sejak menjadi pelanggan kartu Halo, terutama ketika saya sedang berada di luar negeri. Paling tidak, sebelum akhirnya saya membeli  SIM Card lokal di negara setempat, pada satu atau dua hari pertama saya tidak perlu kehilangan komunikasi–istilah kerennya lost contact–dengan keluarga di Indonesia maupun dengan teman-teman baru di negara baru menggunakan nomor Indonesia saya.

Apalagi, sejak smartphone berbasis Android maupun RIM untuk Blackberry mulai masuk ke Indonesia dengan berbagai aplikasi yang semakin memudahkan para penggunanya. Dengan mengandalkan paket internet khusus untuk smartphone, saya sebagai salah satu pemakai ponsel pintar ini dapat memanfaatkan layanan maksimal sekaligus untuk internetan, mengakses media sosial semacam Facebook dan Twitter, whatsapp-an selain tentunya untuk ber-SMS ria selama berada di luar negeri. Jadi, meskipun jarak memisahkan (cieh!), saya tidak ketinggalan update informasi tentang apa yang terjadi di negeri sendiri, tentang gosip apa yang sedang hangat di tanah air, bahkan kabar teman-teman dan keluarga di Indonesia.

Baca lebih lanjut

“Bergaul” dengan Yahudi

pintu gerbang menuju dalam kamp Auschwitz dgn semboyan Nazi yg terkenal Arbeit Macht Frei atau Working makes you free (Oswiecim, Poland, 2009)

Ketertarikan saya sama Yahudi sudah lama banget sebenarnya… bahkan mungkin sejak saya menginjakkan kaki di tanah Palestina zaman tahun 1992 lalu. Tapi berhubung waktu itu saya masih ABG, yang saya inget adalah tampang-tampang orang-orang Yahudi yang guanteng-guanteng dan chuantik-chuantik, hehe.. walaupun emang sih, harus saya akui, mereka angkuh nian menghadapi kita-kita rombongan umroh ini yang mengantri untuk diperiksa di pos perbatasan. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang nggak pake senyum sedikit pun. Waktu itu pas lagi masa-masa damainya antara Israel dan Palestina, walaupun di mana-mana di sepanjang daratan Palestina yang saya lalui memang sudah tampak beberapa petak tanah yang dipasangi bendera bintang David. Oya, bahkan bokap mengomentari salah satu petugas yang memeriksa paspor kami di dalam bus saat memasuki perbatasan dari Yordania, gantengnya seperti Mac Gyver :p. Kalau si Mac Gyver ini dia malah tebar senyum ke mana-mana…

Baca lebih lanjut

Dari Pembenci Hingga Penyuka Kopi

Nggak tau gimana, dari dulu, sejak kecil, saya nggak pernah suka yang namanya minum kopi. Rasanya yang pahit, walaupun dicampur gula bersendok-sendok pun, buat saya teteup… paiiiit! Makanya selain kopi, jenis makanan dan minuman yang pahit-pahit lainnya, seperti jamu, pare, emping, nggak pernah bisa saya telan, apalagi sampai habis. Ditambah lagi, pas tahu bahwa kopi mengandung kafein yang nggak baik untuk kesehatan, bikin gigi kuning, bikin jantung berdetak seratus kali lebih kencang dari kecepatan normal, bikin saya makin ogah menyentuh kopi. Apalagi, sobat karib ayah saya merupakan pencandu berat kopi kental hitam yang setiap kali menyeruputnya diiringi menghisap rokok kretek, yang membuatnya selalu terbatuk-batuk. Setiap kali pergi bareng ayah saya dan saya semobil dengan mereka, itu kendaraan rasanya pengap bukan main dengan berbagai aroma yang tidak “memikat yang menempel pada baju. Selain itu, saya masih ingat dengan jelas pengalaman teman-teman sekos sewaktu masih kuliah di Bogor dulu, yang setiap kali menjelang ujian begadang sampai pagi ditemani segelas besar kopi… setelah itu mereka bakal curhat dan berkeluh-kesah ke saya, yang ngantuk tapi nggak bisa bobok lah, yang badan rasanya lelah banget tapi nggak bisa istirahat, de-el-el, diiringi wanti-wanti dari mereka agar jangan meniru tingkah-polah mereka karena saya tetap nggak bisa terpengaruh dengan cara begadang mereka, hehehe . Yah, pernah sih sesekali saya minum cappuccino a la Indonesia di kantin kampus atau ngemut permen Kopiko sewaktu masih ABG, tapi itu ‘kan rasa kopinya nyaris “nggak keliatan”, malah lebih kerasa banget susunya ketimbang kopi dan rasanya pun muaniss…
Baca lebih lanjut

Bir Yang Nggak Bikin Mabuk

Selama ini, bir yang ada dalam bayangan Anda pastinya mengandung alkohol dan bersifat memabukkan. Dengan kata lain, minuman tersebut akan membuat Anda kehilangan kewarasan untuk sementara.  Tetapi, bir-bir yang ini dijamin akan membuat Anda sehat, bahkan dianjurkan untuk diminum! Apalagi, pada saat musim hujan begini…

Baca lebih lanjut

Si Kembang Tahu dari Surabaya

Ada yang menyebutnya tahuwa. Keluarga paklik–panggilan bahasa Jawa, artinya paman–memakai kata “tawa” untuk menamai hidangan tersebut, atau setidaknya yang saya dengar begitu. Saya pikir apa paklik saya ngguyon (karena beliau memang hobi bercanda), tapi ternyata namanya ya memang tawa.

Awal mulanya, ketika saya masih menjalani pemulihan pasca operasi pengangkatan kista di Surabaya, bulik–artinya tante atau bibi–rajin membelikan saya penganan ini untuk hidangan sarapan di pagi hari. Pedagang penjual tawa-nya juga rajin setiap hari lewat di depan rumah sambil berteriak, “Tawa! Tawa!” dengan suara derit gerobaknya. Lalu paklik saya bilang,”Itu ada tawa, itu.” Tadinya saya nggak mudeng, tawa apa maksudnya? Pagi-pagi koq sudah tertawa…

Baca lebih lanjut

Kenangan Keluarga Filipina

Sudah lama sekali saya nggak nulis, dan mumpung lagi agak lowong.. Gara-garanya nonton penampilan Christian Bautista di ajang IMB (Indonesia Mencari Bakat) di Youtube, kenangan saya pun kembali melayang ke pertengahan tahun 2009 yang lalu di Bologna, Italia.

Saya mengenal pasangan suami-istri filipino ini sudah nyaris setahun, tepatnya mulai September 2008, sejak awal saya menempati apartemen baru di Bologna. Mereka bekerja sebagai office boy (atau petugas cleaning service) untuk apartemen yang saya tempati di distrik Borgo Panigale. Pertama kali saya mengenal suaminya yang pada suatu pagi tiba-tiba mengetuk pintu kamar saya. Sepintas wajahnya kelihatan agak sangar tapi dengan takut-takut ia menanyakan apabila kamar saya sudah bisa dibersihkan. Suaminya memang lebih pendiam. Sebut saja panggilannya Noel. Saya amati, pekerjaannya sangat cekatan sekali namun tetap bersih dan rapi. Tidak seperti saya yang sekali saja pernah mencoba menawarkan jasa membersihkan kamar mandi dan dapur rumah orang Yahudi yang lumayan besar di Strasbourg, sudah lumayan ngos-ngosan  (yang ini ceritanya ada tersendiri deh!). Bahkan Noel menawarkan untuk sekalian mencuci piring-piring makan yang belum saya bereskan. Katanya, “lascia, lasciami..” (biar, biar saya aja).

Baca lebih lanjut