Menikmati Karya Seni Negeri Sendiri di Galeri Nasional Indonesia

Kenangan berfoto di depan National Gallery of London tahun 2010. Hampir setiap kali saya lewat bangunan ini, saya sempatkan untuk masuk ke dalam museum dan berkontemplasi mengamati lukisan-lukisan di dalamnya. (foto: dokpri)

Memasuki museum atau galeri seni dan menikmati lukisan-lukisan yang dipajang sambil berkontemplasi, merupakan aktivitas yang saya sukai semasa berkuliah di Prancis. Terlebih lagi sewaktu saya berkesempatan mengunjungi ibukota Britania Raya. Jika kebanyakan orang Indonesia mungkin lebih suka ke pusat perbelanjaan seperti Harrod’s atau mencoba berbagai atraksi hiburan, saya justru menyempatkan diri masuk ke National Gallery of London beberapa kali setiap kali melewati bangunan tersebut. Mengapa tidak, museum ini sama sekali tidak memungut biaya bagi pengunjungnya alias gratis! Setidaknya, itu yang saya alami pada sekitar tahun 2010 yang lalu. Jika di kota-kota di Prancis, memasuki museum masih dipungut biaya (hanya hari tertentu saja gratis bagi mahasiswa dalam rentang usia tertentu), termasuk Louvre, maka di galeri yang satu ini, yang letaknya persis satu lokasi dengan Trafalgar Square, saya tidak perlu mengeluarkan kocek.

Hal itulah yang saya rindukan ketika kembali ke Indonesia. Saya ingin sekali bisa menikmati karya-karya lukisan para maestro Indonesia secara langsung, tidak melalui buku-buku atau gambar di koran saja. Pelukis favorit saya hingga saaat ini adalah Raden Saleh. Yah, ada sih Affandi atau Basuki Abdullah yang namanya akrab di telinga saya sejak saya kecil, namun ketika saya mengetahui bahwa Raden Saleh adalah pelukis Indonesia lintas batas benua yang disegani warga Eropa, maka saya langsung ‘jatuh hati’ dengan beliau.

saya berfoto di depan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro versi Raden Saleh, Galeri Nasional, 2016. (foto: dokpri)

Maka, pada tahun 2016 yang lalu, ketika Galeri Nasional Indonesia di Jakarta menggelar pameran lukisan yang memamerkan berbagai karya Raden Saleh dan pelukis-pelukis besar Indonesia lainnya, saya pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya ingin melihat dari dekat, seperti apa sih lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro yang katanya dibuat dengan versi berbeda dengan versi lukisan Belanda karya Nicholas Pienemaan sehingga terkesan sangat simbolis. Apalagi di museum yang sama beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2012 kalau tidak salah, pernah juga digelar pameran lukisan yang khusus menampilkan karya-karya Raden Saleh dalam rangka merayakan satu abad hari kelahiran beliau. Namun, saat itu saya sedang sakit dan diopname di luar kota, sehingga mimpi untuk bertatap muka dengan karya-karya beliau yang beraliran romantisme tidak kesampaian. Selain itu, pameran tersebut tidak mengenakan tiket masuk, alias gratis!

Di pameran yang bertajuk Pameran Goresan Juang Kemerdekaan itu jugalah saya berkesempatan menikmati lukisan karya Henk Ngantung mantan gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965, bahkan lukisan karya Bung Karno presiden RI yang pertama. Sungguh jarang lukisan-lukisan semacam ini dipamerkan ke khalayak umum, karena biasanya digantung di dinding-dinding Istana Negara dan hanya kalangan elit yang bisa melihatnya.

Salah satu karya seni instalasi yang dipamerkan di museum Galeri Nasional. (foto: dokpri)

Jika sudah berdiri di depan sebuah lukisan, saya bisa tahan berdiri di depan lukisan tersebut hingga tiga bahkan lima menit lamanya. Tidak tahu mengapa sebabnya, tapi saya senang saja melihat goresan-goresan tangan manusia yang merupakan buah pikiran dan imajinasinya melebur di atas sebuah kanvas dengan campuran warna-warni yang memberikan kesan tertentu. Sebabnya, dulu sekali saya pernah punya hobi melukis di atas kanvas. Saya pernah merasakan bagaimana kompleksnya mencampur warna dalam komposisi yang tepat agar terlihat harmonis dan tampak seperti sungguhan. Selain warna, saya juga harus memperkirakan ke arah mana jatuhnya bayangan agar terkesan natural. Dan itu tergantung mood saya juga, sih. Jadi, saat melukis, biasanya saya akan menyetel musik yang alunannya pelan agar perasaan yang didapat saat melukis bisa terwujudkan ke dalam gambar. Namun hobi itu tidak saya tekuni karena menganggap hobi ini adalah hobi yang mahal, dan belum tentu bisa hidup dari melukis. Sayang, ya…

Selain seni lukis, di Galeri Nasional Indonesia ini saya juga pernah melihat pameran instalasi. Saat itu saya pergi bersama seorang teman yang membawa anak-anak asuhnya dari sebuah yayasan. Anak-anak asuh ini sebelumnya adalah anak jalanan yang putus sekolah, namun melalui yayasan ini mereka dibantu agar tetap bisa mengenyam pendidikan. Nah, mengunjungi galeri ini juga merupakan salah satu cara agar anak-anak ini mempunyai rasa dan kemampuan berapresiasi terhadap karya seni. Walaupun kalau menurut saya sih, karya seni instalasi itu agak susah dipahami yah, ha ha…

Berfoto bersama anak-anak dan ibu-ibu asuh di depan Galeri Nasional, Jakarta. (foto: dokpri)

Tapi tidak mengapa, melalui kunjungan ke pameran instalasi ini anak-anak tersebut, termasuk saya juga, dapat belajar bahwa karya instalasi pun bisa dinikmati masyarakat umum. Boleh juga Galeri Nasional kita menggelar pameran semacam itu, karena salah satu fungsi galeri seni memang sebagai ruang pendidikan dan ruang sosial. Ruang pendidikan artinya masyarakat luas semakin mengetahui, lalu semoga bisa memahami dan pada akhirnya mencintai karya seni. Ruang sosial maksudnya galeri menjadi tempat pertemuan masyarakat dari berbagai kalangan, bahkan antara sang pencipta karya dengan pengunjung. Misalkan saat pameran instalasi berlangsung, ada seorang pembuat karya asal Jepang yang ikut hadir dalam pameran tersebut dan menjelaskan karya-karyanya kepada para pengunjung, termasuk anak-anak jalanan yang ikut bersama kami.

Ah, semoga suatu hari dalam waktu dekat ini saya bisa kembali mengunjungi berbagai galeri seni yang ada di ibukota. Berhubung saya tinggal lumayan jauh di pinggiran, kesempatan untuk mampir ke galeri-galeri seni yang kebanyakan berada di pusat kota tidak bisa setiap saat saya lakukan. Terlebih lagi, kalau sudah mengunjungi sebuah galeri seni untuk melihat pameran, apalagi pameran lukisan, satu jam berada di sana bagi saya tidak cukup. Semoga… ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.