Resolusi 2018 : Asa dan Harapan Dalam ‘Papan Mimpi’

Memang sudah cukup lama saya tidak menulis. Banyak hal yang terjadi selama masa-masa absen saya dari dunia per-blogging-an. Justru karena banyak hal yang terjadi itu, saya tidak tahu bagaimana menguraikannya ke dalam sebuah tulisan yang mudah dicerna, karena banyak hal yang ingin diceritakan, namun tidak bisa semuanya saya ungkapkan. Ada hal-hal yang menurut saya masih rahasia untuk dibuka ke publik. Tapi, daripada hati saya gelisah terus karena tidak saya tuangkan, mungkin lebih baik saya bercerita sekarang.

Kehidupan pasca ayah sakit: berubah drastis…

foto kenangan bersama ayah saya sewaktu beliau masih sehat. (foto: dokpri)

Sejak ayah sakit, seperti yang pernah saya sampaikan di tulisan-tulisan saya sebelumnya, aktivitas nge-blog saya memang menjadi lumayan berkurang. Saya lebih fokus ke hal-hal yang memang mendatangkan uang, karena terus terang saya membutuhkannya untuk menopang hidup selama saya mengurus ayah. Kebutuhan hidup memang menjadi terasa agak lebih besar dan saya harus mengesampingkan pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu, seperti menonton bioskop, hang out bareng teman-teman, belanja. Kalau pun belanja, ya saya belanja untuk beli sembako dan obat-obatan. Bukan lagi untuk beli baju, sepatu, kosmetik. Bahkan sabun, pasta gigi pun kalau bisa dipakai untuk bersama-sama, agar lebih bisa dihemat untuk membeli kebutuhan lainnya. Walaupun pada sebulan dua bulan pertama kebutuhan finansial masih ditopang oleh kakak saya yang memang berpenghasilan tetap, tapi saya tidak bisa bergantung terus-menerus sama dia, bukan. Apalagi, saya juga masih punya hutang-hutang. Biasalah, dosa-dosa kehidupan hedon di masa lalu :D. Dosa-dosa waktu masih mengantor, sementara sejak ayah sakit saya sudah tidak ngantor dan kebetulan memang belum ngantor lagi sejak terakhir resign bulan Mei 2017 yang lalu.

Ayah saya (tengah, pakai peci) diapit kakak adik dan ponakan-ponakannya. Saya yang mana hayo? (foto: dokpri)

Mau tidak mau, saya cari peluang-peluang menerjemahkan dan mengajar privat lagi dengan lebih intens, meskipun itu akhirnya saya harus memulai dari awal. Dulu, saya memang sempat punya pekerjaan sampingan sebagai penerjemah freelance, selain ngantor. Tetapi, tidak intens, dan lebih sering saya tolak akibat pekerjaan kantor yang menumpuk. Dulu banget sebelum ngantor, sewaktu baru lulus kuliah, saya malahan memulai karir sebagai penerjemah dan penulis freelance. Namun, seiring saya mendapatkan beasiswa ke Eropa, lalu kembali ke Indonesia, saya menjadi orang kantoran. Jejak saya sebagai freelancer hanya tinggal sisa-sisa, berupa kenalan-kenalan lama, yang belum tentu masih ingat atau mau bekerjasama dengan saya lagi. Karena, bisa jadi ia sudah tidak bekerja di agensi anu, atau di penerbit itu. Maka proses kembali meniti perjalanan sebagai freelancer pun tidak mulus. Tawaran-tawaran tidak selalu ada. Sampai saya nyaris melupakan satu hal.

 

Dreamboard: Kumpulan Mimpi Saya

Apakah itu? Saya pernah mengirim lamaran ke sebuah kementerian untuk sebuah posisi atau pekerjaan di perwakilan RI di luar negeri. Kalau tidak salah sekitar awal tahun 2017. Lamaran itu sudah nyaris saya lupakan, terlebih lagi sejak ayah sakit, jujur saya sudah tidak punya harapan apa-apa lagi bagi kehidupan saya sendiri. Apalagi, ayah sakit ini bukan hanya sekadar sakit. Tapi, ada drama-drama di sekitarnya yang membuat hati saya berkecamuk antara sedih, marah, kesal, dan ingin melindungi ayah saya sekuat tenaga. Drama-drama itulah yang tidak bisa saya ceritakan hingga kini atas berbagai pertimbangan. Intinya, sebagai putri kandungnya, saya memiliki naluri ingin melindungi ayah saya.

Dreamboard yang pernah saya buat pada tahun 2017 kemarin, menjadi resolusi saya untuk tahun 2018. (foto: dokpri)

Hingga suatu hari di bulan Agustus, kementerian tersebut mengirim saya sebuah surel yang berisi undangan untuk mengikuti tes tertulis. Hati saya langsung campur aduk: antara kaget, tidak percaya, senang, tapi juga bingung, resah. Jika saya menjawab e-mail ini dan mengikuti tes, bagaimana ayah saya? Bagaimana nanti jika saya lulus, bagaimana nasib ayah saya ke depannya? Belum-belum saya sudah kuatir memikirkan segalanya, padahal ikut tes saja belum :D. Andaikan panggilan ini dikirimkan jauh sebelum ayah sakit, saya tidak akan berpikir dua kali. Akan tetapi, ketika saya beritahukan hal ini pada ayah, justru ayah menyemangati saya. Katanya, saya harus ikut. Maka, saya pun mengikuti tes tersebut, hingga akhirnya saya lolos ke tahap akhir. Alhamdulillah

berfoto bareng teman-teman calon pegawai setempat untuk perwakilan RI di luar negeri, pada hari terakhir diklat bagian pertama, awal Desember 2017 lalu. (foto: dokpri)

Saya pun kembali melihat dreamboard yang pernah saya buat beberapa waktu lalu. Pada dream board tersebut, saya lihat gambar-gambar yang saya pasang. Saya menyebutnya ‘papan impian’ atau resolusi saya untuk tahun 2018 mendatang. Saya bercita-cita suatu hari akan bekerja di luar negeri, di sebuah institusi atau badan internasional yang bergengsi sekelas PBB. Dari pekerjaan itu, saya akan sering ditugaskan entah ke Paris, entah ke London. Lalu, saya tinggal di sebuah kota yang tidak terlalu metropolitan, dan bisa menyusuri taman-taman kota yang luas setiap hari sepulang kantor. Mimpi saya lainnya jika cita-cita utama saya terpenuhi, adalah menikah dengan pria yang memahami keadaan keluarga saya, serta mempunyai piano digital baru yang dentingan dan kualitasnya sekelas pianoforte (loh? Tapi memang benar saya kepengen punya piano lagi buat melepas stress, he he he…).

Mengapa saya punya mimpi besar ingin bekerja di institusi atau badan internasional di luar negeri?

Sejak kecil, saya memang seorang gadis pemimpi yang senang bermimpi melakukan hal-hal besar. Dengan melakukan hal-hal besar, saya merasakan ikut serta dalam memberikan peran lebih baik untuk dunia. Mungkin ini juga disebabkan saya hobi menonton film-film sejarah dan petualangan sejak kecil ;p. Saya tahu, ini kedengarannya muluk-muluk. Apalagi saya seorang pemalu yang introvert. Tapi, justru ketika saya berusaha mengenyahkan mimpi saya belakangan ini, ayah saya yang sedang sakit malah bertanya, “Kamu mau hidup gini-gini aja? Kamu mau di sini-sini aja?” Dan, saya hanya ingin melihat senyum bangga itu kembali hinggap di wajah ayah saya selama beliau masih hidup…

Film The Interpreter (2005) yang dibintangi Nicole Kidman merupakan salah satu film yang paling saya sukai hingga kini. Dalam film itu, Kidman bekerja menjadi seorang juru bahasa di PBB, dan ternyata  ia punya alasan mengapa ingin bekerja di sana. Baginya, menyelesaikan konflik melalui misi perdamaian lebih penting ketimbang perang. Dengan menjadi interpreter, ia merasa  menjadi penyambung lidah antara para pemimpin negaranya dengan tokoh-tokoh penting dunia dan PBB. Yah, siapa tahu dengan bekerja di perwakilan RI di luar negeri, suatu hari saya bisa membawa Indonesia ke forum PBB ;p, walaupun mungkin hanya menginjakkan kaki di markas kebanggaan dan menjadi pendengar sidang. Adakah yang bisa memahami mimpi saya ini?

Ada orang yang bilang, jika mimpi besarmu tercapai, maka mimpi-mimpi kecilmu akan mengikuti. Istilahnya, MESTAKUNG, atau semesta mendukung. Tapi, benar juga bila ada orang yang bilang, semakin besar mimpimu, maka semakin dahsyat pula angin yang ingin merobohkan pohon mimpimu. Seperti yang saya ceritakan selanjutnya.

My Pray & My Consolation

Namun, hingga saat saya menulis ini memang impian tersebut belum sepenuhnya terlaksana. Masih ada tahapan-tahapan yang harus terus saya perjuangkan. Seperti pengurusan dokumen-dokumen, dan mengumpulkan modal untuk berangkat. Maklum, saya tidak lagi bekerja kantoran. Selain itu, meskipun akan bekerja di luar negeri, tetap saja ada beberapa hal yang tidak gratis. Belum lagi rintangan dan halangan dari orang-orang terdekat, meskipun ayah sendiri sudah merestuinya. Hal ini jujur memang membuat saya stres hingga dua kali terserang flu dalam rentang waktu yang tidak jauh, karena saya masih terus merawat ayah di samping tetap bekerja freelance menerjemahkan, juga mengajar privat ke rumah siswa yang jaraknya lumayan dari rumah kami. Badan saya jadi ‘ambruk’…

berjibaku antara menerjemahkan, menyiapkan dokumen-dokumen keberangkatan, dan mengikuti diklat, sempat membuat badan saya ambruk. Untungnya sih saya selalu siap sedia multivitamin Theragran-M. (foto: dokpri)

Hingga saya menuliskan artikel ini, alhamdulillah badan saya sudah lumayan segar, walaupun terkadang hidung masih mampet. Saya total absen dari kegiatan menerjemahkan yang membuat saya terpaksa begadang, di samping masih terus mengajar, selama beberapa hari berturut-turut (menulis blog saja sudah tidak sempat :p). Walaupun begitu, saya tetap tidak absen dari kegiatan menemani ayah saya pergi ke tempat fisioterapi atau ke klinik akupunktur, dan membantu memapah ayah saya belajar jalan saat saya di rumah, serta kegiatan rumah tangga lainnya. Selain minum obat flu, saya juga biasa minum multivitamin Theragran-M yang memang sangat bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Kalau sakit jangan kelamaan deh, soalnya kalau enggak gitu kapan kita bisa mengejar mimpi-mimpi kita… ya nggak?

Yah, every effort has its own price, but the prize can be twice bigger. (Itu kata-kata mutiara yang saya ciptakan sendiri :D). Perjuangan saya belum berakhir sampai di sini. Saya masih belum terbayang akan seperti apa perjalanan hidup saya di tahun 2018 nanti. Saya hanya bisa berdo’a, jika Allah memang mengizinkan, maka ridhoilah dan lancarkanlah perjuangan saya dalam mewujudkan dreamboard saya ini, dan lindungilah ayah saya selalu dari segala macam bentuk kejahatan. Wow, sepertinya ini menjadi satu dari segelintir tulisan saya yang lumayan panjang di blog, he he heI welcome the year 2018 with optimism and new spirit! ***

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M

Iklan

43 thoughts on “Resolusi 2018 : Asa dan Harapan Dalam ‘Papan Mimpi’

  1. Nadia K. Putri

    Keren banget mbak, saya terharu :”) Jadi inget dengan pekerjaan interpreter, tepatnya bahasa Mandarin yang sebenernya ada di depan mata saya sendiri. Tetap semangat menempuh mimpi ke PBB mbak, saya dukung banget sebagai perwakilan dari Indonesia. Keep it up!

    Balas
  2. Erin

    2016 saya pernah buat papan impian mba. Dan atas kuasa Tuhan, impian itu memiliki jalan. Semoga mimpi-mimpi kita selanjutnya tercapai ya mba.

    Balas
  3. dgoreinnamah

    Makasih mba sudah menulis ini
    Waktu saya mendapatkan pekerjaan di salah satu badan pemerintah pun papa saya masuk rumah sakit dan 21 jari kemudian papa meninggal. Padahal dia yg setia temenin saya menjalani test kemanapun waktu itu.

    Semoga papanya cepet sehat dan mba bisa jadi perwakilan PBB untuk indonesia

    Balas
  4. Lidha

    Jadi terenyuh pas baca “adakah yang bisa memahami impian saya ini”
    Mbak.. saya juga introvert, untuk bisa mengatasi malu aja butuh tahunan. Apalagi mengharapkan sesuatu yang besar. I feel you intinya.
    Nggak apa2 kok kita nuliskan impian besar, dan semoga impian kecil2 yang menyertainya bisa terwujud juga.

    Balas
  5. niee

    wah, semoga tercapain impiannya ya mbak. Aku dulu juga pangen banget sekolah-bekerja bahkan hidup di luar negeri. Tapi impian itu udah gak terlalu aku perdulikan lagi semenjak menikah dan punya anak.

    Dan sekarang semangat buat nyekolahin anak setinggi-tingginya biar dia (kalau mau) dapat sekolah dan bekerja di LN.

    Balas
  6. Iyoey

    Bon courage ka dina!!!
    Inshaallah dilancarkan semua urusan & rencana2 baik nya..
    Tout commence par un rêve 😉
    Bisous!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.