Cerita Duka Saat Lebaran

Lebaran tahun ini lagi-lagi saya harus menghadapi sebuah kejadian yang tidak saya duga. Saya kira, lebaran tahun lalu akan menjadi lebaran terakhir kami dalam keadaan berduka. Tepatnya, seminggu sebelum lebaran Idul Fitri, ayah saya masuk rumah sakit mengalami hipoglikemia dan akibatnya menderita stroke ringan. Sehingga, kami pun merayakan lebaran Idul Fitri tahun lalu, yaitu tahun 2016, tanpa gegap gempita layaknya keluarga yang merayakan lebaran : bersilaturrahmi ke sanak saudara dan menyantap penganan khas lebaran a la Indonesia seperti opor ayam dan sambal goreng.

 

Untuk itu, dengan lebih berhati-hati saya memperhatikan pola hidup dan pola makan ayah saya. Saya tidak ingin kejadian lebaran tahun lalu kembali berulang, hanya gara-gara ayah terlalu lupa diri bahwa dirinya sedang berpuasa namun melakukan aktivitas fisik yang cukup berat, seperti memanjat dan menggergaji pohon. Sementara usia ayah saya sudah tidak muda lagi. Aktivitas berkebun yang amat disukainya dan menjadi hobi sejak belia. Selain itu ayah saya masih bandel, gemar menyantap makanan yang manis-manis dan berkadar kolesterol tinggi.

Maka pada bulan Ramadhan tahun ini, saya benar-benar mewanti-wanti ayah saya untuk tidak terlalu banyak melakukan aktivitas fisik. Saya tidak bisa melarangnya 100%, karena kegiatan berkebun sudah menjadi hobinya. Tapi, setidaknya ayah tidak boleh lagi memanjat pohon dan makan santapan berlemak berlebihan. Alhamdulillah, bulan puasa Ramadhan pun dilalui ayah saya dengan sempurna, tanpa ada bolong-bolong. Ayah tetap sehat walafiat hingga hari terakhir puasa dan saya pun merasa lega.

Menunggui ayahanda tercinta selama diopname di rumah sakit pada hari-hari lebaran. Meskipun tidak merasakan lengangnya ibukota dan tidak sempat mencicipi opor ayam & sambal goreng, yang penting bagi saya adalah selalu berada di sisi ayah saya selagi beliau terbaring sakit. (foto: dokpri)

Namun, justru musibah itu terjadi pada lebaran hari pertama. Ayah kembali terserang stroke, kali ini lebih serius ketimbang stroke pertamanya. Padahal pagi dan siang harinya ayah saya masih sempat shalat Ied, bersilaturrahmi bersama orang-orang masjid dekat rumah, bahkan menjenguk kakaknya (saya memanggilnya pakde) yang juga sedang jatuh sakit. Ayah saya sampai dibawa ke IGD dan dipasangi berbagai alat-alat seperti selang infus, selang oksigen, selang sonde untuk makan, dan kateter. Ayah tidak bisa bicara, dan anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan.

Keadaan ini seperti déjà vu. Dulu, dua tahun sebelum kepergian almarhumah ibu pada tahun 2013, ibu saya juga terserang stroke yang kedua kalinya yang mengharuskannya masuk ruang ICU. Meskipun sudah melihat dan mengalami kejadian serupa, tetap saja saya syok dan sedih. Mengapa hal semacam ini terulang kembali, dan kali ini menyerang ayah saya? Padahal yang saya tahu, karakter ayah saya berbeda 180 derajat dengan almarhumah ibu. Ayah gemar berolahraga, tidak terlalu memikirkan segala sesuatunya (bahkan cenderung cuek), dan menjalani hidup dengan woles kalau menggunakan istilah bahasa anak sekarang. Apa yang dipikirkan ayah saya jauh di lubuk hatinya hingga menjadi sakit seperti ini ? saya bertanya-tanya dengan sedih. Yang jelas, memang ada sesuatu hal di dalam keluarga yang saat ini tidak bisa saya beberkan dan sudah lama mengganggu suasana hati kami semua, anak-anaknya.

ayah saya sepulang dari rumah sakit, sedang belajar dilatih duduk dengan berpegangan pada bibir dipan oleh fisioterapis. Tidak kelihatan seperti orang sakit, ‘kan? 🙂 (foto: dokpri)

Masa-masa lebaran pun saya lewati di rumah sakit menunggui ayah saya setiap saat, bahkan bermalam pun saya juga di rumah sakit. Saya tidak ingin kehilangan momen-momen penting lagi bersama ayah saya, yang dulu sering saya lewatkan begitu saja. Memang jadinya saya tidak merasakan bagaimana lengangnya Jakarta selama lebaran, tidak mencicipi opor ayam dan sambal goreng. Tidak merasakan suasana tempat-tempat wisata di Jakarta sepanjang libur lebaran atau mal-mal di Jakarta yang padat pengunjung karena sale dan promo diskon. Tapi, saya rasa itu semua sekarang tidak ada artinya dibandingkan menemani ayah saya setiap detiknya, menyingkirkan semua ego dan keinginan pribadi demi mendampingi ayah semampunya.  Duh, maafkan saya ya, Papi…

Kini, ayah saya sudah pulang dari rumah sakit. Namun justru tantangan terbesar adalah merawat ayah di rumah dalam kondisi yang lebih terbatas ketimbang saat merawat ibu. Maksudnya, dulu ketika ibu sakit ‘kan masih ada ayah yang sehat dan berpenghasilan. Tapi sekarang ibu sudah tidak ada, dan ayah saya tidak lagi bisa beraktivitas seperti dulu. Jika dianalogikan, merawat ayah yang sedang stroke seperti sedang merawat bayi laki-laki (meskipun saya belum pernah punya anak) tapi ini bayinya besar dan sudah lansia, he he.. . Belum lagi harus menghadapi drama-drama keluarga yang tidak bisa saya ceritakan di sini.

Mungkin di balik semua peristiwa ini, ada hadiah besar dari Allah yang hendak dilimpahkan kepada kami semua, sehingga kami harus melewati ujian ini terlebih dahulu. Do’akan kami kuat dan tabah menghadapinya, aamiin… ***

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway 1 Tahun Dunia Gairah

Iklan

8 thoughts on “Cerita Duka Saat Lebaran

  1. Pritahw

    Insyaallah ada sesuatu yang memang Allah siapkan mbak untuk mbak Dina dan keluarga. Semoga selalu diberikan yg terbaik tas kesehatan dan kondisi keluarga ya mbak 🙂 Makasih msh sempet ikutan GA blog ku mbak, gudlak ya^^

    Balas
  2. Ping balik: Kisah Ayah Pasca Opname Rumah Sakit: Pola Makan Sehat & Pisang Sunpride Setiap Hari | "Rumah Corat-Coret" Punya Dina

  3. Ping balik: Tetap Terkoneksi dengan Dunia Luar Berkat Smartphone dan Laptop | "Rumah Corat-Coret" Punya Dina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s