Koperasi untuk Generasi Milenial

Kata koperasi mungkin sudah menjadi kata yang asing bagi generasi milenial, sebutan untuk generasi muda saat ini.

Pemahaman saya mengenai koperasi yang didapat dari buku-buku pelajaran sekolah masa kecil. (foto: sumberpengetahuan.com)

Padahal, sewaktu saya masih kecil, koperasi masih jadi kebanggaan orang Indonesia, loh. Setidaknya, di buku-buku pelajaran SD sampai SMA, pasti selalu ada pembahasan tentang koperasi sebagai alat peningkatan kesejahteraan yang paling cocok untuk masyarakat Indonesia berkat sistem kekeluargaan dan gotong-royongnya. Selain itu, almarhumah ibu saya dulu termasuk yang aktif menjadi anggota koperasi, baik itu koperasi guru, maupun koperasi di kota kelahirannya, Pekalongan.

Kapitalisme versus Koperasi

Sewaktu Bapak Adi Sasono masih hidup (almarhum adalah Menteri Koperasi zaman Kabinet Reformasi Pembangunan), kegiatan perkoperasian di Indonesia sedang dalam zaman keemasannya, karena beliau begitu menggalakkan prinsip ekonomi kerakyatan, sesuai dengan semangat koperasi itu sendiri.  Kebijakan beliau ini sempat membuat ketar-ketir kalangan pebisnis mapan karena lebih mendukung sistem kapitalisme, yaitu meraup keuntungan sebesar-besarnya. Oleh karena itu ia sempat dijuluki oleh media asing, terutama di negara-negara yang menerapkan prinsip kapitalisme, sebagai “The Most Dangerous Man in Asia”.

almarhum Bapak Adi Sasono, yang pernah dijuluki manusia paling berbahaya di Asia, karena kebijakan ekonomi kerakyatan yang diusungnya dianggap mengancam kaum kapitalisme. (foto: netralitas.com)

Namun, kini kelihatannya kapitalisme justru semakin meroket di bumi pertiwi, dan koperasi semakin tertinggal. Secara kasat mata atau dilihat dari kaca mata orang awam, kita lihat saja semakin banyaknya perusahaan, toko, dan kegiatan bisnis bersaing dengan ketat. Kalau tidak bisa bertahan karena dagangannya nggak laku, ya gulung tikar.

Saya pun sempat iseng mengobrol dengan seorang teman di suatu kesempatan tentang koperasi:

“Ah, koperasi sekarang mah sudah enggak laku,” kata teman saya.

“… Dulu sih aku pernah jadi anggota koperasi di kantor lama, tapi sebentar aja,” jawab saya. “Pas aku pindah keluar kota, ya udah enggak lagi. Padahal bagus sih, sistemnya nggak kayak Bank, bisa minjem dan ngebalikin tanpa bunga besar.”

“Kasihan Bung Hatta,” timpal teman saya lagi.

“Ya sih, sekarang koperasi udah asing buat anak-anak muda,” lanjut saya.

 

Pemberdayaan Koperasi untuk Anak Muda

generasi milenial tidak lagi menganggap koperasi sebagai suatu kegiatan yang keren. (foto: trivia.id)

Sebenarnya, koperasi belum sepenuhnya mati. Setidaknya, di beberapa kampus masih bisa kita temukan Kopma (singkatan dari Koperasi Mahasiswa) tempat para mahasiswa bisa berbelanja, mulai dari kebutuhan kuliah seperti buku, alat tulis, hingga keperluan sehari-hari seperti makanan, peralatan mandi. Bahkan ada juga Kopma yang menjual baju, sepatu hingga tas. Meskipun sayangnya ada juga Kopma-Kopma yang harus bersaing dengan toko ritel atau mini market di dalam lingkungan kampus itu sendiri.

Padahal, koperasi itu membantu sekali buat anak-anak muda yang baru lulus kuliah. Kalau kata Pak Prakoso Budi Prasetyo, Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi (disingkat Kemenkop) dan UKM, “Koperasi merupakan pusat pengembangan kewirausahaan dalam upaya mencetak wirausaha yang tangguh, andal, mandiri dan berdaya saing global.” Ini disebabkan pengembangan sikap berwirausaha merupakan bagian dari nilai-nilai, prinsip dan jati diri koperasi. Jadi, daripada susah-susah mencari pekerjaan sebagai pegawai kantoran dan menjadi bawahan orang lain, lebih baik belajar berwirausaha melalui koperasi.

Nah, berhubung anak muda generasi sekarang-istilahnya generasi milenial-gandrung sekali pada gadget, maka sebaiknya koperasi ditingkatkan juga mutunya melalui peran teknologi. Presiden Joko Widodo dalam pidato sambutannya di Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-69 setahun yang lalu juga mengatakan, “Perkembangan teknologi yang begitu cepat merupakan tantangan bersama bagi gerakan koperasi di era milenium. Oleh sebab itu, kita perlu beradaptasi dan mereformasi koperasi kita.”

 Penerapan Fintech untuk Koperasi

Kemenkop dan UKM juga mendorong penerapan teknologi digital-finansial (fintech) di dalam tubuh koperasi, sehingga memudahkan para anggotanya untuk bertransaksi. Pemanfaatan teknologi fintech ini akan memberikan beberapa keuntungan tersendiri loh buat koperasi, seperti:

  1. pemerolehan pendapatan melalui transaksi anggotanya untuk membayar biaya keperluan bulanan seperti pulsa telepon, PAM, listrik.

  2. pembayaran simpanan pokok dan wajib menjadi lebih praktis, terutama bagi anggota koperasi yang berdomisili di luar pulau Jawa.

  3. para pelaku usaha UKM dapat mengelola bisnisnya dari rumah melalui toko online atau bekerja sama dengan situs e-commerce

Kospin Jasa dari Pekalongan juga sudah menggunakan mobile apps untuk melayani anggotanya. (sumber: website Kospin Jasa)

Sementara itu, bisnis start-up yang rata-rata digeluti anak muda bermunculan dengan pesat seperti jamur. Jika bisa dikelola dengan baik menggunakan azas kebersamaan dan prinsip ekonomi kerakyatan a la koperasi, maka bisnis ini nantinya bisa jadi akan menjadi suatu perusahaan yang established, atau istilah lainnya, mapan secara struktural maupun finansial. Penerapan fintech terhadap koperasi juga bisa dilakukan dengan membuat mobile application di ponsel pintar, seperti yang telah dilakukan Kospin Jasa, Koperasi Simpan Pinjam dari Pekalongan.

Yang penting sih, kalau buat generasi milenial, koperasi juga bisa dijadikan tempat kongkow-kongkow anak muda alias tempat nongkrong yang asyik dan nyaman. Istilahnya cozy dan cool. Nongkrong untuk tujuan baik, tentunya, misalkan untuk mendiskusikan strategi pengembangan koperasi, untuk mengecek pengelolaan UKM online, atau sekadar ngupi-ngupi santai dengan produk kopi dan minuman lainnya hasil koperasi. Oleh sebab itu akan lebih menarik jika di koperasi sebagai tempat kongkow ini ada akses wifi-nya. Wah, imej koperasi di kalangan anak muda pastinya akan berubah menjadi sesuatu yang trendy dan kekinian banget 😉. ***

Iklan

3 thoughts on “Koperasi untuk Generasi Milenial

  1. Mas Yunus

    Koperasi kehadirannya sangat dicinta sekaligus dikritik, semoga dengan diperkenalkannya Fintech di tubuh koperasi, mampu memnuhi kebutuhan generasi milleneal. Artikel bermanfaat!

    Balas
  2. Ping balik: Koperasi dalam Genggaman Teknologi Seluler Melalui SOBATKU | "Rumah Corat-Coret" Punya Dina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s