Turki dan Potensi Busana Muslim Indonesia ke Gerbang Dunia

Beberapa tahun terakhir, saya amati perhelatan panggung mode Indonesia semakin marak. Selain ada Jakarta Fashion Week, kini busana muslim asal Indonesia juga tidak mau ketinggalan unjuk gigi ke kancah panggung dunia dalam sebuah pagelaran bertajuk Muslim Fashion Festival, atau disingkat Muffest.

Muslim Fashion Festival (atau muffest) merupakan ajang tahunan pagelaran busana muslim tahunan yang digelar di Indonesia. Tahun 2017 merupakan kali kedua Muffest diadakan (foto: dokpri)

Disebut panggung fashion show dunia, karena acara Muffest yang digelar pada 6 hingga 9 April 2017 kemarin juga turut mengundang serta menghadirkan rancangan para disainer asal Turki, plus diskusi dengan pengamat mode asal Turki . Ketika mengetahui dari Blogger Crony bahwa akan ada gelar fashion sekaligus bincang-bincang dengan pengamat mode dari Turki, saya dengan serta-merta mendaftarkan diri untuk ikut hadir dalam acara tersebut.

Turki, Produsen Garmen Terbesar di Dunia

 Bukan apa-apa, tetapi Turki memang selalu mendapat tempat spesial di hati saya sejak lama. Sejak menjejakkan kaki di negeri itu pada tahun 2006 silam dalam rangka summer course scholarship selama dua bulan, keramahan penduduk dan kedekatan historis serta budaya Turki dengan Indonesia membuat saya langsung jatuh hati dan cepat berbaur dengan masyarakat serta kultur mereka, betapa pun inginnya Turki dianggap Eropa.

kawasan elit Tunali Hilmi, Ankara, yang berisi butik-butik kelas High End. (foto: dokpri, 2006)

Seperti halnya di Eropa, biasanya di penghujung musim panas, toko-toko mulai marak menawarkan diskon gede-gedean, termasuk di Turki. Saya masih ingat menemani seorang kawan asal Georgia yang memborong baju-baju di butik-butik high end maupun toko-toko kelas menengah di sepanjang kawasan Tunali Hilmi dan di distrik Kizilay, Ankara. Saya pun jadi ketularan membeli clutch bag Mango warna merah menyala yang harganya… 5 YTL saja, sodara-sodara! 5 YTL jika dihitung dengan kurs pada tahun 2006 (1 YTL = Rp 6000,-) sama dengan Rp 30.000,-. Nggak percaya? Harga barang-barang di Turki, terutama untuk baju-baju dan yang berkaitan dengan fashion, memang murah meriah, cuy!

Miss Jinjing Belanja Sampai Mati di Turkey yang ditulis Amelia Masniari juga mengungkapkan bahwa Turki merupakan negara penghasil garmen dan tekstil terbaik di dunia. (foto: dokpri)

Kenapa begitu? Banyak orang yang belum tahu Turki merupakan penghasil katun terbesar dan terbaik nomor satu di dunia. Amelia Masniari yang dikenal dengan julukan Miss Jinjing juga pernah mengemukakan dalam bukunya Miss Jinjing Belanja Sampai Mati di Turkey bahwa negeri yang membelah selat Bosphorus ini merupakan penghasil garmen dan tekstil berkualitas nomor satu di dunia. Banyak fashion brand kelas dunia seperti Zara, Mango, Max Mara, memproduksi barang-barang mereka di Turki. Negeri yang pernah dikuasai kekaisaran Utsmaniyah ini juga produsen nomor satu untuk barang-barang fesyen yang terbuat dari kulit, termasuk leather jacket.

Made In Turkey Effect

Oleh karena itu, pada acara seminar bertajuk Think Fashion Istanbul yang digelar pada hari Minggu 9 April 2017 kemarin, Turki menawarkan diri untuk menjadi mitra dagang Indonesia dalam ekspor busana muslim ke dunia internasional, terutama ke benua Eropa. Terlebih lagi, Turki sudah menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan Indonesia selama bertahun-tahun. Saya sendiri masih ingat ketika saya tinggal di sana, betapa turis Indonesia selalu diistimewakan dan dianggap “kardesimiz” oleh penduduk Turki, yang artinya saudara. Turki juga merupakan penyumbang terbesar ketika gempa tsunami menimpa Nanggroe Aceh Darussalam.

Pak Herry Sudradjat (konjen RI di Istanbul, paling kiri), Franka Soeria (pengamat modest fashion asal Indonesia), Ozlem Sahin (Think Fashion), Ahmet Erdem (buying director Modanisa.com). (foto: dokpri)

Selain itu, di Turki juga rutin digelar Istanbul Modest Fashion Week, yang pernah diikuti oleh disainer busana muslim Indonesia seperti Hanni Hananto dan Anniesa Hasibuan (istilah modest fashion adalah kata lain untuk menyebut moslem wear atau busana muslim). Sehingga, menurut Bapak Herry Sudradjat, Konsul Jenderal RI untuk Istanbul, diplomasi ekonomi Indonesia perlu terus ditingkatkan sebagai salah satu prioritas kerjasama Indonesia di luar negeri.

Busana atau produk fashion yang ada cap “Made in Turkey” telah dipercaya memberikan kualitas terbaik dengan harga terjangkau. (foto: dokpri)

Ahmet Erdem, buying director Modanisa.com, sebuah situs belanja (online shopping) produk busana muslim yang terkenal di Turki, juga memastikan bahwa produk fesyen yang diberi  cap “Made In Turkey” telah menciptakan sebuah efek dahsyat. Cap ini yang meyakinkan para pembeli dari seluruh dunia akan kualitas garmen Turki yang terbaik dengan harga terjangkau. Ya, makanya seperti yang saya ceritakan di atas musim sale di Turki pasti butik-butik selalu ramai dan ludess… nggak hanya di Eropa.

Potensi Busana Muslim Indonesia dan Kelemahannya

 Lalu, bagaimana dengan busana muslim buatan Indonesia? Franka Soeria, pengamat busana muslim asal Indonesia yang sudah melanglang ke lima benua untuk mengamati perkembangan busana muslim di dunia mengatakan, bahwa Indonesia sebenarnya tidak kalah dibandingkan negara-negara penghasil modest fashion lainnya. Menurut Franka, ada empat kota di dunia yang menjadi kiblat busana muslim dengan kekhasannya masing-masing, yaitu Dubai di Uni Emirat Arab, Kuala Lumpur di Malaysia, Istanbul di Turki, dan Jakarta di Indonesia.

Modanisa.com, online shop busana muslim terlengkap dan terkenal di Turki. (foto: dokpri)

Di Dubai, busana muslim lebih cenderung digunakan untuk acara prestisius yang berkonsep mewah dan luks, maka di Kuala Lumpur cenderung untuk tampilan resmi dalam aktivitas bisnis. Sementara, di Istanbul terkenal dengan industri manufaktur raksasa dan surganya grosir busana muslim, maka Indonesia lebih dikenal dengan inovasi hijab, kreativitas yang tidak pernah surut, serta pasar dalam negeri yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri (self-sufficient).

Franka Soeria membeberkan beberapa kelemahan industri busana muslim Indonesia yang semestinya perlu diperbaiki agar dapat bersaing dengan negara industri busana muslim lainnya. (foto: dokpri)

Kelemahannya, Indonesia belum mampu memenuhi permintaan akan barang berjumlah banyak dalam waktu yang cepat dan tidak melakukan branding secara efektif. Selain itu faktor geografis yang terdiri dari pulau-pulau menyebabkan ongkos kirim ke luar negeri memang menjadi agak lebih mahal. Ini juga pernah saya alami ketika hendak mengirim barang pesanan dari luar negeri (dulu saya pernah berjualan boneka berbusana muslim), atau ketika dulu jaman kuliah almarhumah ibu ingin mengirimkan saya beberapa baju dari Indonesia (meskipun sudah saya bilang tidak usah, mahal di ongkos :D). Mending kalau sampai dengan selamat, lebih sering tertahan di bea cukai sih karena harus bayar pajak, malah ada yang kembali lagi sebelum sampai ke tangan saya.

Sistem Kerjasama The Connect: Jakarta-Istanbul

Sistem kerjasama The Connect: Jakarta-Istanbul, memadukan kreativitas Indonesia dengan kualitas garmen Turki untuk menciptakan sebuah brand global. (sumber data: makalah Franka Soeria dalam Think Fashion Istanbul, 9 April 2017)

 Maka itu, Turki dan Indonesia berinisiatif menciptakan sebuah sistem yang disebut “The Connect: Jakarta – Istanbul” yang diwujudkan dalam empat lengkah: Learn the Know-How ->  Action -> Promotion -> Result : Global Brand. Jadi, menurut penuturan Ozlem Sahin dari Think Fashion, Turki dan Indonesia bersama-sama mempelajari cara atau pola kerjasama yang ingin dibuat, lalu pelajari pasar yang dituju dan gabungkan antara kreativitasnya orang Indonesia dengan kualitas bahan-bahan terbaik dari Turki, buat promosi yang bagus dan berkelas menggunakan bahasa dagang internasional melalui berbagai kanal media, maka nantinya akan tercipta sebuah merk yang mengglobal. Apalagi, potensi pasar busana muslim ini nilainya ditaksir mencapai 484 milyar Dolar Amerika, dengan Turki dan Indonesia menempati peringkat kedua teratas sebagai pasar terbesar modest fashion.

Turki dan Indonesia menempati ranking teratas sebagai pasar busana muslim terbesar dunia. (sumber data: makalah Franka Soeria dalam seminar Think Fashion Istanbul, 9 April 2017, Jakarta)

Acara seminar ditutup dengan peragaan busana karya para disainer dan rumah mode Turki yang bergabung di Modanisa.com. Style yang ditampilkan pun bermacam-macam, mulai dari busana bercorak khas tradisional Turki dengan bagian bawah yang melebar ketika sang peragawati berputar bak penari sufi, lalu ada busana untuk bekerja, ada gaya a la Middle East, dan ada pula kostum untuk berolahraga. Para disainer dan rumah mode tersebut antara lain Mustafa Dikmen, Argite, Il Mio Respiro, Onder Ozkan, Luvice, Miss Mira & Misenma, Benin, Bagiza. Cok begendim! (I like it so much!). ***

Iklan

3 thoughts on “Turki dan Potensi Busana Muslim Indonesia ke Gerbang Dunia

  1. Ping balik: Teror (Lagi) di Kota Paris | "Rumah Corat-Coret" Punya Dina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s