Antara Nge-Blogging dan Ngantor…

Postingan kali ini saya ingin bercerita mengenai pilihan saya untuk tetap bekerja kantoran sambil ngeblog. Tapi, sebelumnya saya juga hendak menjelaskan bahwa saya ngeblog itu sebenarnya sudah lama banget. Kalau teman-teman baca di halaman muka blog saya, tepatnya pada nama blog saya “Blog Pindahan dari Multiply dan Tulisan-Tulisan Terbaru Dina“, jelas bahwa saya ngeblog itu sudah sejak zaman Multiply masih ada, sekitar tahun 2008-2010. Waktu itu saya menjadikan blog murni untuk tempat curhat, tempat menuangkan pikiran-pikiran saya, karena kemampuan saya memang di bidang menulis. Sampai-sampai saya pernah bikin quote, “My writing is my power. Those who don’t read it don’t know me at all.” (tulisan saya merupakan kekuatan saya. Mereka yang tidak membaca tulisan saya berarti tidak kenal saya). Karena, jujur, saya bukan tipe orang yang mudah terbuka dengan orang lain, apalagi kalau belum kenal. Jadi, kalau mau kenal saya, ya baca tulisan-tulisan saya aja dulu, he he he…

Platform blog online jaman tahun 2008-2010 yang pernah saya manfaatkan untuk curhat dan menuangkan pemikiran-pemikiran saya. (foto diambil dari wikipedia.org)

Platform blog online jaman tahun 2008-2010 yang pernah saya manfaatkan untuk curhat dan menuangkan pemikiran-pemikiran saya. (foto diambil dari wikipedia.org)

Kemudian, sayangnya blog Multiply kemudian tergusur karena semakin banyaknya orang yang memanfaatkan platform blog online untuk jualan. Multiply pun sempat berubah menjadi platform e-commerce bagi toko-toko online untuk menjual dagangannya, tapi pada akhirnya Multiply pun raib ditelan jaman karena semakin banyaknya pilihan platform lainnya bagi toko-toko online tersebut untuk berjualan di internet dan dunia maya. Sayang saya pun nggak pernah men-screenshot blog Multiply saya itu (berhubung waktu itu saya masih lumayan gaptek… emangnya sekarang udah enggak gaptek? Ha ha ha…), jadi saya nggak punya record atau catatan kenangan mengenai blog Multiply saya itu. Meskipun begitu teman-teman bisa melihat beberapa postingan lama saya yang saya parkir di blog ini, tepatnya postingan-postingan tahun 2012.

Kemudian, zaman terus berganti. Saya juga sebenarnya sudah lama juga bergabung dengan platform online blog community di Kompasiana sejak tahun 2011, namun dasar memang saya saja yang tidak melihat potensi ngeblog ini ke depannya. Apalagi, pada masa itu orang yang ngeblog tidak terlalu ‘dilihat’ oleh orang-orang konvensional di lingkungan saya (tuh kan paling gampang menyalahkan orang lain, ha ha..). Kegiatan ngeblog dianggap kegiatan hiburan semata yang tidak menghasilkan apa-apa. Saya juga orang yang mudah patah semangat sih, jadi yah… saya kembali ke dunia konvensional yang dianggap lebih nyata, yaitu berkarir di dunia profesional dan mempunyai pekerjaan yang bisa ‘dilihat’ orang-orang: pergi ke kantor atau pergi mengajar ke tempat kursus.

Saya juga anggota komunitas blog Kompasiana sejak tahun 2011. (foto capture: Kompasiana.com)

Saya juga anggota komunitas blog Kompasiana sejak tahun 2011. (foto capture: Kompasiana.com)

Kebetulan sekali sejak tahun 2013 saya juga mulai merasakan seluk-beluk bekerja sebagai orang kantoran. (Sebelumnya saya lama sekali berkecimpung di dunia freelance sebagai penerjemah, penulis artikel dan tulisan fiksi di majalah, pengajar privat). Dan, saya mulai merasakan manfaat dan nikmatnya bekerja kantoran, walaupun pasti ada dukanya juga. Misalkan mendapat asuransi kesehatan, perjalanan dinas sekaligus menikmati fasilitas-fasilitas yang didapatkan seperti menginap di hotel. Huhu, norak sekali saya ya :p. Dukanya ya.. banyak yang iri dengan fasilitas yang saya dapatkan itu. Padahal saya bekerja sudah kayak romusha, alias kerja rodi tapi dibayar minim, huehe.. Yang iri mungkin tidak melihat bahwa sepulang dari kantor, saya menghabiskan waktu sendirian di kost, tidak punya suami, pacar, anak.. keluarga jauh (waktu itu saya masih bekerja di Surabaya). Kan loneliness itu seperti the worst enemy which can kill you slowly. Tidak ada komunitas pula. Mau ngemol? Ya ngemol aja sambil window shopping, tapi nggak bisa belanja-belanji, ke ke ke… wong pendapatan nggak seberapa.

bekerja profesional telah membantu saya memperluas jejaring dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Dalam foto ini, saya bersama dengan profesor-profesor dari FK UNAIR, ITS dan pembicara tamu dari Prancis. (foto: dokpri)

bekerja profesional telah membantu saya memperluas jejaring dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Dalam foto ini, saya bersama dengan profesor-profesor dari FK UNAIR, ITS dan pembicara tamu dari Prancis. (foto: dokpri)

Karena suatu hal, saya memutuskan kembali ke Jakarta. Kebetulan juga memang ada pembukaan posisi baru di ibukota. Waktu itu tahun 2015. Ternyata komunitas-komunitas di Jakarta tidak seperti masa dua tahun yang lalu, apalagi komunitas blogger. Kegiatan yang dulu saya anggap sebagai sampingan dan tidak pernah saya aktifkan, sekarang sudah bergerak semakin maju dengan berbagai aktivitas kopdar bermanfaat terkait pengembangan diri, bahkan didukung oleh banyak brand terkemuka. Saya menyesal tidak mengaktifkan blog saya selama dua tahun, posting hanya sesekali, sehingga ketika di Jakarta dan mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas-komunitas blog, saya mulai dari awal lagi.

Apalagi ketika saya memutuskan untuk keluar dari kantor tempat saya mengabdi selama lima tahun. Sebenarnya, saat itu saya sedang senang-senangnya meniti karir. Saya sudah merasakan banyak manfaat dari bekerja kantoran, tidak hanya mendapatkan fasilitas, melainkan juga jejaring yang luas (kalau gaji sih, jangan ditanya ya :p, beli rumah kayaknya nunggu seratus tahun lagi *hiperbol). Namun berhubung alasan internal, saya akhirnya mengundurkan diri dari kantor tersebut. Dan, saya berpikir bahwa kalau saya tetap berada di tempat ini terus, saya mungkin akan kesulitan untuk mengepakkan sayap lebih luas ke ranah-ranah lainnya yang belum saya sentuh. Ketika saya keluar dari kantor, saya memang tidak punya pegangan lain untuk melanjutkan karir, alias belum punya tawaran pekerjaan baru di lain tempat. Dengan perkiraan, bahwa toh saya akan segera mendapat kerjaan lagi, pikir saya dengan sombong kala itu.

Saya kembali ke Jakarta tahun 2015, dan melihat Jakarta yang sudah banyak berubah. Di samping perubahan fisik, Jakarta juga semakin dinamis dengan berbagai kegiatan kopdar para blogger. (foto: dokpri)

Saya kembali ke Jakarta tahun 2015, dan melihat Jakarta yang sudah banyak berubah. Di samping perubahan pembangunan fisik, Jakarta juga semakin dinamis dengan berbagai kegiatan kopdar para blogger. (foto: dokpri)

Ternyata saya keliru. Selama lima bulan saya menganggur tanpa sama sekali ada satu panggilan pun. Yah, ada sih, satu dua panggilan wawancara, tapi di awal-awal saja. Saya pun melihat kegiatan nge-blogging sebagai cara saya untuk bertahan hidup. Saya menyadari kemampuan saya di menulis, jadi saya manfaatkan secara maksimal dan sebaik mungkin selama saya menganggur, dengan menghasilkan tulisan-tulisan terbaik di blog saya ini (meskipun menurut saya belum yang paling baik, sih. Maklum saya ini orangnya rada perfeksionis, he he..). Apalagi, di dunia tulis-menulis, saya bisa berekspresi tanpa ada kekangan, tanpa ada yang mengatur boleh tidak boleh. Meskipun mungkin banyak orang yang memanfaatkan kegiatan ngeblog untuk berbagai tujuan lain (yah saya juga sih, seperti yang saya bilang, kalau saya untuk bertahan hidup), tapi saya percaya dengan kemampuan saya di bidang tulis-menulis, pasti akan membuka jalan untuk peluang-peluang lainnya.

selama menganggur 5 bulan, saya aktif mengembangkan kembali minat saya di bidang tulis-menulis, termasuk ikut berbagai acara komunitas blogger. Salah satu di antaranya, kegiatan yang diadakan bersama para penulis blog di Kompasiana seperti di foto ini. (foto: dokpri)

selama menganggur 5 bulan, saya aktif mengembangkan kembali minat saya di bidang tulis-menulis, termasuk ikut berbagai acara komunitas blogger. Salah satu di antaranya, kegiatan yang diadakan bersama para penulis blog di Kompasiana seperti di foto ini. (foto: dokpri)

Sampai ketika saya mendapat tawaran pekerjaan kantoran lagi di penghujung tahun 2016, walaupun pekerjaan itu hanya sementara dan sistem penggajiannya daily-basis. Saya langsung ambil saja peluang itu, apalagi bidang pekerjaan serta lingkungannya seratus persen berbeda dengan kerjaan kantor saya sebelumnya. Kendati pun jadinya saya jarang ngeblog lagi, saya merasa perlu untuk kembali bekerja profesional alias ngantor. Mengapa? Karena dengan meniti karir profesional, saya jadi punya lebih banyak wawasan, keahlian, jejaring di luar komunitas blog. Artinya, saya akan mendapat lebih banyak bahan dan inspirasi untuk menulis di blog saya. Menulis blog menurut saya bukan hanya dari dan untuk para blogger saja, melainkan untuk orang-orang awam di luar sana yang membutuhkan informasi mengenai apapun di internet. Dan mereka pasti akan mencari alternatif informasi selain situs-situs berita mainstream, yaitu dengan membaca tulisan-tulisan di blog orang.

Alhamdulillah selama aktif ngeblog dan bermedsos ria, saya jadi bisa foto bareng Pak Menteri Bapenas ;p , Soemantri Brojonegoro (foto: dokpri)

Alhamdulillah selama aktif ngeblog dan bermedsos ria, saya jadi bisa foto bareng Pak Menteri Bapenas ;p , Soemantri Brojonegoro (foto: dokpri)

Tapi, pengalaman nge-blog selama lima bulan sambil menganggur dan mencari pekerjaan baru pun menjadi nilai tambah bagi saya. Saya jadi tahu lebih banyak mengenai seluk-beluk nge-blogging: bagaimana menaikkan traffic tanpa melakukan trik curangΒ yang jadinya tidak profesional, bagaimana mendapat tambahan follower tanpa terkesan spamming. Bahwa nge-blogging itu harus dari hati. Ya, sebenarnya ngeblog itu kurang lebih sama aja sih kayak bekerja di dunia profesional. Buat saya, bekerja di dunia profesional mengajarkan saya bagaimana caranya bersikap profesional di dunia blogging. Menulis di blog buat saya juga merupakan suatu wadah untuk menuangkan isi hati dan pikiran, sarana pelepasan stress, tempat berbagi informasi, wadah untuk mengembangkan bakat saya yang tersisa, yang masih bisa diasah. (Yah soalnya kalau mau ngembangin bakat nge-dance atau main piano kayaknya usianya sudah lewat, ha ha ha..).

berkat mengikuti acara-acara bagi para blogger, saya juga bisa berfoto bareng disainer Barli Asmara. (lupakan jidat yang mengkilap, ha ha ha..). Foto: dokpri

berkat mengikuti acara-acara bagi para blogger, saya juga bisa berfoto bareng disainer Barli Asmara. (lupakan jidat yang mengkilap, ha ha ha..). Foto: dokpri

Jadi, kalau Anda sendiri, apa alasan AndaΒ nge-blog? ***

Iklan

9 thoughts on “Antara Nge-Blogging dan Ngantor…

  1. Gara

    Saya suka menulis… makanya suka juga dengan blogging. Paling dasar alasan saya blogging ya itu Mbak, hehe. Terus senang baca dan ingin berbagi informasi. Menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas yang memberi pengertian serta pemahaman kepada semua orang. Supaya ada jejaknya saya hidup di dunia ini, tidak sambil lalu saja tanpa meninggalkan karya, haha. Mengisi waktu juga dengan kegiatan yang bermanfaat, hehe.
    Cuma kalau kerjaan kantor, kudu tetap. Di situlah tantangannya, bagaimana membagi waktu. Kalau semua bisa terhandel, rasanya bahagia sekali.

    Balas
  2. dinamars Penulis Tulisan

    waduh, sepertinya kita satu suara, Mas Gara πŸ™‚ iya saya juga ingin hidup meninggalkan karya di samping aktualisasi diri dengan bekerja kantoran ;).

    Balas
  3. Nur Irawan

    tujuan ngeblog sih awalnya pengen membuat prasasti untuk bisa di baca anak cucu kelak, pasti menyenangkan kalau blog kita suatu saat di baca oleh cucu kita.. πŸ˜€
    tapi lambat laun, yang awalnya iseng, sekarang lebih termotivasi aja untuk terus berkarya, sepertinya udah jadi sebuah hoby baru yang sangat disayangkan kalau di tinggalkan

    Balas
  4. balqis57

    Bukannya multiply thn 2003/2004 yak?
    Di recordku aku aktif multiply thn 2005 😊
    Pengangguran2 Indonesia keren2 yach aktifitasnya? πŸ˜‚ Kalah keren en kalah produktif org kantoran…wkwkwk…
    Btw nggak ada batas usia utk ngembangin bakat, apalagi piano….jd inget guru2 pianoku zaman aku kecil, yg bagus justru yg udh ubanan semua – yg umurnya udh diatas 60an πŸ˜‚
    Trus aku jg merasa “tertipu” waktu kelas 6 SD udh dibilang ketuaan utk latihan balet klasik, sementara skrg lht org2 umur 20-50an bodynya lentur ngalahin anak2…tuh klau lg pas Namaste. Ibu2 en bpk2 bodynya pd kayak karet….melintir2 kayak balerina …hihihi

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s