Balet dan Pertunjukan Seni Tari Kelas Dunia

saking pengennya punya sepatu balet, saya pun sampai bela-belain beli pointe shoes sewaktu masih kuliah di Italia. (foto: dokpri)

saking pengennya punya sepatu balet, saya pun sampai bela-belain beli pointe shoes sewaktu masih kuliah di Italia. (foto: dokpri)

Sudah sekitar sepuluh tahun saya tidak menonton pertunjukan balet. Terakhir kali saya menyaksikan pementasan balet saat masih kuliah di Italia, dan balet yang saya tonton saat itu Romeo & Juliet. Saya sudah lupa dari negara mana yang mementaskannya, tapi yang saya ingat tarian yang diramu dalam sebuah love story berakhir tragis itu sangat indah dan tidak cengeng.

Saking kepengennya kembali nari balet, saya pun bela-belain membeli pointe shoes di Verona, ha ha..padahal seumur-umur belajar balet saya baru sampai pada tahapan memakai ballet shoes. Bedanya dengan pointe shoes, kalau ballet shoes biasanya dipakai untuk balerina pemula. Sementara pointe shoes dipakai oleh balerina yang sudah lumayan mahir (kalau tidak salah tahun ke-4) atau yang sudah bisa menguasai dengan baik teknik-teknik dasar menari. Pointe shoes berciri khas ujung sepatu yang keras karena dilapisi kayu, dan kalau belum terbiasa memakainya (apalagi sudah lama nggak menari), ya sakiiitt…..

Ya, saya memang pernah belajar tari balet meskipun waktu itu usia saya sudah dibilang agak telat (sekitar 10 tahun), dan saya belajar hanya sebentar. Ya namanya anak kecil senangnya nyoba-nyoba ini itu. Tetapi sebenarnya jauh di lubuk hati saya tetap ingin menari. Namun berhubung saya ini orangnya nggak pedean, kalo diledek atau ditakut-takuti ini itu langsung down, maka saya waktu itu memutuskan untuk berhenti saja ketimbang malu. Tapi ya jadinya saya baru merasakan ruginya saat sudah dewasa.

Maka saya pun hanya bisa menikmati berbagai jenis tarian sebagai pengamat. Termasuk salah satunya yang paling saya sukai, tari balet. Didukung pula sewaktu zaman saya SD-SMP ada komik serial Jepang dengan tokoh Mari-Chan yang seorang balerina. Ya sudah deh saya tahu tentang Swan Lake, Coppelia, The Nutcracker itu ya dari komik Mari Chan, hi hi…

Hayo, siapa yang suka baca komik balet asal Jepang Happy Mari Chan? (foto sumber: pinterest.com)

Hayo, siapa yang suka baca komik balet asal Jepang Happy Mari Chan? (foto sumber: pinterest.com)

Hingga akhirnya saya berkesempatan mengenyam pendidikan di Prancis dan Italia, pusatnya segala bentuk seni yang beraliran klasik. Di kedua negara ini, dan negara-negara barat pada umumnya, menguasai tari balet bagi anak perempuan dianggap sebuah keharusan sebelum menguasai berbagai jenis tari lainnya. Meskipun sifatnya tidak seperti wajib militer juga sih ;p. Maka pertunjukan-pertunjukan tari balet di sana sangat lazim dan rutin diselenggarakan. Saya pun menikmati saat-saat bisa menonton konser musik klasik, pertunjukan teater, pementasan tari, dan masyarakatnya juga sangat mengapresiasi kreativitas semacam itu.

Sementara di Indonesia pengapresiasian terhadap karya seni, dan penghargaan terhadap para seniman baru digiatkan akhir-akhir ini saja (mungkin sejak jaman reformasi ya?). Itu pun saya amati masih belum dapat dinikmati untuk semua kalangan. Beruntung sekarang ada yang namanya Indonesia Dance Society (IDS) yang dibuat sebagai wadah untuk menampung dan mengembangkan kreativitas para penari Indonesia. Ibu Juliana Tanjo, pendiri IDS, yang juga seorang balerina, sekaligus bergerak di bidang event management pun menggagas berbagai kegiatan. Di antaranya Indonesia Dance Prix Competition yang berhadiah beasiswa summer school ke sekolah-sekolah balet di luar negeri, serta International Ballet Star Gala.

Nah, event yang terakhir namanya saya sebut ini, baru saja digelar tanggal 4 Februari 2017 kemarin di Taman Ismail Marzuki. Ini kesempatan langka banget bisa menyaksikan pertunjukan tari balet berkelas internasional, karena dibawakan oleh para penari balet yang berkiprah di Eropa dan Amerika Serikat. Ada Daniil Simkin asal Rusia yang merupakan putra dari balerina Rusia kenamaan Dimitri Simkin dan menjadi penari utama di American Ballet Theatre. Ada juga Adiarys Almeida, balerina asal Kuba yang merupakan solois Boston Ballet.

Acara talkshow di AtAmerica yang membahas tentang komitmen dan passion untuk menari balet. Ki-ka: Hadi (MC & dancer), Juliana Tanjo (IDS), Adiarys Almeida (international dancer), Gianti Giadi (Gigi Art of Dance). Foto: dokpri

Acara talkshow di AtAmerica yang membahas tentang komitmen dan passion untuk menari balet. Ki-ka: Hadi (MC & dancer), Juliana Tanjo (IDS), Adiarys Almeida (international dancer), Gianti Giadi (Gigi Art of Dance). Foto: dokpri

Saya berterima kasih banget buat Mbak Mira Utami yang telah memberikan hadiah tiket pertunjukan baletnya untuk saya. Saya memang ngebet banget pingin nonton balet sejak diumumkan bahwa akan ada acara bertaraf internasional seperti ini :p. Bahkan saya sempat menghadiri talkshow di AtAmerica pada dua hari sebelum pertunjukan, bertajuk ‘Dance: The Extraordinary Life of Commitment and Passion‘, yang merupakan pra-event dan dihadiri pula oleh sang balerina Adiarys Almeida. Dari penuturannya, saya baru tahu ternyata Kuba juga merupakan negara pencetak balerina ternama dunia. Bahkan pemerintahnya mengirimkan para penari terbaik ke berbagai negara untuk belajar tari balet, lalu mengaplikasikan ilmunya kembali di kampung halaman untuk menciptakan gaya dan metode tari khas negeri itu. Tidak menyangka, negerinya mendiang Fidel Castro yang selalu penuh gejolak masih memperhatikan dunia seni tari. (Selengkapnya baca artikel saya yang ini: Balet: Antara Komitmen dan Passion untuk Menari).

Di pertunjukan International Ballet Star Gala 2017 ini, tampil juga balerina-balerina lainnya dari berbagai bangsa. Dari Korea Selatan ada Jaeyong Ohm dan Hye Min Hwang yang menarikan Giselle Pas de Deux dan Moonlight Pas de Deux. Dari Eropa ada Ulrik Birkkjaer dan Ida Praetorius yang menarikan Flower Festival serta Tschaikovsky Pas de Deux. Lalu ada Lorena Feijoo dari Kuba yang berduet dengan Tiit Helimets dari Estonia untuk Don Quixote serta Night Hawk. Dan tidak ketinggalan Adiarys Almeida yang berduet dengan Daniil Simkin untuk tarian Le Corsair Pas de Deux. Oya, ada juga Igor Kolb dari Belorussia yang berduet dengan Sofia Gumerova untuk Carmen.

Ngeliat pointe shoes tertata begini jadi kepengen nari lagi... (foto: dokpri)

Ngeliat pointe shoes tertata begini jadi kepengen nari lagi… (foto: dokpri)

Tapi yang paling berkesan buat saya adalah balet kontemporer Le Bourgeois yang dibawakan Daniil Simkin, dan Who Am I yang ditarikan Adiarys Almeida. Balet kontemporer kata orang-orang agak lebih sulit karena gaya tariannya bebas sesuai interpretasi dan improvisasi sang penari. Yang jelas sih ketika saya menyaksikan Le Bourgeois, dari musiknya, bahasanya, style menarinya, mengingatkan saya akan tipikal orang Prancis yang banyak gaya (digambarkan membuat lompatan-lompatan drastis dan keblinger a la orang mabuk), senang merokok dan menikmati kehidupan duniawi. Sementara Who Am I menggambarkan seolah-olah sang penari sedang mencari jati diri dengan gerakan serta kostum yang minimalis namun mengejutkan. Sayangnya untuk tarian Swan Lake hanya ditarikan fragmen Dying Swan, padahal saya kepingin banget menyaksikan Odette yang melakukan pirouette sebanyak 32 kali putaran seperti di komik-komik :D.

Bisa menonton pertunjukan balet lagi setelah sekian lama benar-benar membawa kebahagiaan tersendiri buat saya ;). Makasih Mbak Mira Utami untuk tiketnya.... (foto: dokpri)

Bisa menonton pertunjukan balet lagi setelah sekian lama benar-benar membawa kebahagiaan tersendiri buat saya ;). Makasih Mbak Mira Utami untuk tiketnya…. (foto: dokpri)

Yah, intinya saya puas banget deh malam itu bisa menyaksikan pementasan balet lagi setelah sepuluh tahun berlalu tidak pernah menonton pertunjukan berkualitas internasional. Salut untuk Mbak Juliana Tanjo dan Indonesia Dance Society! ***

Iklan

2 thoughts on “Balet dan Pertunjukan Seni Tari Kelas Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s