Mengenal Pahlawan Indonesia Melalui Drama Musikal

Sudah lama sekali saya tidak menonton pertunjukan teater panggung yang berkelas, lengkap dengan suguhan lagu dan tari-tarian, serta untaian kisah yang bermuatan hikmah tanpa kesan menggurui. Dahaga saya akan sebuah pertunjukan ciamik namun edukatif baru terpuaskan tatkala saya diberikan kesempatan untuk menyaksikan sebuah drama musikal yang digelar secara premier pada Jum’at siang tanggal 18 November 2016 lalu di Gedung Teater Utama Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Drama Musikal Khatulistiwa diperankan antara lain oleh Rio Dewanto, Kelly Tandiono, Sita Nursanti dan Teuku Rifnu Wikana. (poster diambil dari website musikalkhatulistiwa.com)

Drama Musikal Khatulistiwa diperankan antara lain oleh Rio Dewanto, Kelly Tandiono, Sita Nursanti dan Teuku Rifnu Wikana. (poster diambil dari website musikalkhatulistiwa.com)

Pertunjukan gerak dan lagu yang dibalut kisah cerita kepahlawanan para pejuang Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda dan Jepang bertajuk Drama Musikal Khatulistiwa: Jejak Langkah Negeriku. Dari judulnya saja, sudah terbayang pertunjukan ini akan dikemas secara heroik dengan lagu-lagu yang menggugah serta adegan demi adegan yang membangkitkan rasa nasionalisme. Dituturkan melalui seorang ayah yang menemani anak-anaknya melakukan perjalanan camping ke pegunungan, drama pertunjukan berdurasi sekitar 2,5 jam ini juga menampilkan beberapa aktor dan aktris yang wajahnya sudah sering berseliweran di media nasional. Sebut saja ada Kelly Tandiono yang berperan sebagai pelatih Pramuka, Sita Nursanti RSD sebagai Ibu Dewi Sartika, Teuku Rifnu Wikana menjadi HOS Cokroaminoto. Selain itu, ada sekitar 100 orang pemain muda yang merupakan mahasiswa/i dari beberapa universitas di Jakarta.

Kisah Pahlawan Nusantara Pra dan Pasca Abad ke-20 

Cerita dibuka dengan kisah asal-muasal Jalan Cadas Pangeran yang pernah beberapa kali saya lalui setiap menempuh perjalanan dari Bandung ke Cirebon dengan naik mobil sewaktu masih kecil bersama keluarga. Ternyata, Jalan Cadas Pangeran tersebut dibuat dari hasil keringat, cucuran darah dan air mata rakyat Sumedang yang diperbudak oleh Daendels, gubernur jenderal sementara pada masa peralihan kekuasaan dari Prancis ke Belanda. Kemudian terjadi perlawanan oleh Pangeran Kornel yang bernama asli Kusuma Dinata.

Para pahlawan Indonesia sebelum abad ke-20 yang dipentaskan dalam Drama Musikal Khatulistiwa, 19-20 November 2016. (foto: dokpri)

Para pahlawan Indonesia sebelum abad ke-20 yang dipentaskan dalam Drama Musikal Khatulistiwa, 19-20 November 2016. (foto: dokpri)

Dilanjutkan dengan kisah beberapa pahlawan Nusantara lainnya mulai dari Tanah Rencong Cut Nyak Dien, berlanjut ke Sumatera Utara Raja Sisingamangaraja, hingga tanah Makassar yaitu Sultah Hasanuddin, Maluku seperti Martha Christina Tiahahu dan dari Pulau Bali yaitu I Gusti Ketut Jelantik. Yang menarik dari kisah-kisah para pahlawan yang sudah dikenal ini adalah dimunculkannya sosok-sosok pahlawan lainnya yang selama ini tidak terlalu diungkap dalam buku-buku pelajaran sejarah Indonesia. Misalkan saja Cut Gambang, putri dari Cut Nyak Din dan Teuku Umar yang juga turut membantu sang ibunda dalam berperang melawan tentara Belanda setelah ditinggal mati ayahnya. Ada pula Putri Lopian Sinambela, anak perempuan Raja Sisingamangaraja XII yang dikisahkan mati ditembak tentara Belanda saat pasukan sang raja bergerilya di dalam hutan.

Para pahlawan Indonesia yang berperang melawan Belanda melalui kekuatan intelektual di abad ke-20. (foto: dokpri)

Para pahlawan Indonesia yang berperang melawan Belanda melalui kekuatan intelektual di abad ke-20. (foto: dokpri)

Kisah bergulir ke zaman perjuangan para pahlawan Indonesia di awal abad ke-20 yang dikenal sebagai Perang Intelektual. Pada masa ini bermunculan tokoh-tokoh pemikir Indonesia yang menentang penjajahan Belanda melalui buah pikir mereka dalam bentuk tulisan. Di antara tokoh-tokoh ini ada HOS Cokroaminoto pendiri Partai Sarikat Islam yang menjadi guru Soekarno, Kartosuwiryo dan Semaoen. Lalu ada juga tokoh pendiri sekolah pertama di  Yogyakarta bagi semua kalangan tanpa membedakan kasta, yaitu Suwardi Suryaningrat yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Tidak ketinggalan pula dikisahkan Ibu Dewi Sartika yang mendirikan sekolah pertama bagi para perempuan di daerah Bandung, Jawa Barat.

Karya dari Anak Bangsa untuk Bangsa Indonesia

Ibu Tiara Josodirjo selaku Produser Eksekutif dari Josodirjo Foundation mengungkapkan dalam acara jumpa pers pasca pementasan, bahwa pertunjukan drama musikal ini dibuat sebagai tribute atau penghargaan dari anak bangsa bagi para pejuang. Di samping itu, wanita yang juga pernah memproduseri cerita dongeng Bawang Merah Bawang Putih ke panggung teater ingin generasi muda mengenal lebih baik para pahlawannya, sehingga mereka terpacu untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia.

Replika kapal perang VOC dan mesin tik naskah proklamasi juga ditampilkan loh selama berlangsungnya pembukaan acara Drama Musikal Khatulistiwa! (foto: dok.pri)

Replika kapal perang VOC dan mesin tik naskah proklamasi juga ditampilkan loh selama berlangsungnya pembukaan acara Drama Musikal Khatulistiwa! (foto: dok.pri)

Selaku sutradara drama musikal ini adalah Adjie N.A., yang bertutur bahwa tantangan terbesar yang dihadapi para pelaku industri seni kreatif adalah bagaimana meningkatkan kepedulian kita terhadap kelestarian nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Ia berharap melalui suguhan Drama Musikal Khatulistiwa ini para penonton tidak hanya merasa terhibur tapi juga dapat menarik hikmah dari kisah-kisah para pahlawan yang ditampilkan tanpa terkesan menggurui.

Para pemain Drama Musikal Khatulistiwa di akhir pementasan melambaikan tangan kepada para penonton. (foto: dokpri)

Para pemain Drama Musikal Khatulistiwa di akhir pementasan melambaikan tangan kepada para penonton. Drama musikal ini melibatkan sekitar 100 pemain muda dari berbagai teater kampus di Jakarta. (foto: dokpri)

Pada acara jumpa pers hadir juga Presiden Direktur CIMB Niaga Bapak Tigor Siahaan, pendiri Komunitas Historia Indonesia Bapak Asep Khambali yang turut membantu penulisan naskah, beberapa pemain utama Drama Musikal Khatulistiwa seperti Sita Nursanti dan Rifnu Wikana. Bapak Tigor sendiri mengakui bahwa ia merasa terharu setelah menyaksikan pementasan perdana Drama Musikal Khatulistiwa.

para pemain, produser dan sutradara Drama Musikal Khatulistiwa dalam acara jumpa pers 18 November 2016 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. (foto: dokpri)

para pemain, produser dan sutradara Drama Musikal Khatulistiwa dalam acara jumpa pers 18 November 2016 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. (foto: dokpri)

Pembuatan drama musikal ini juga didukung oleh CIMB Niaga dan PT Sunlife Financial Indonesia sebagai perusahaan keuangan terkemuka di Indonesia yang peduli dengan pengembangan sejarah dan kebudayaan Indonesia khususnya di kalangan generasi muda. Keduanya berkomitmen untuk mendukung berbagai upaya yang dilakukan anak muda demi kemajuan bangsa. Setelah pertunjukan, dua perusahaan yang saling berkongsi ini juga akan memproduksi dan menyebarluaskan 5000 video rekaman drama musikal ke sekolah-sekolah di pelosok nusantara, bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Yah, harapan saya sering-sering saja diadakan acara drama musikal yang mendidik seperti ini dengan target penonton yang lebih luas menjangkau masyarakat dan dikemas melalui suguhan artistik yang menarik serta menghibur ;). Maju terus, bangsaku! ***

Iklan

27 thoughts on “Mengenal Pahlawan Indonesia Melalui Drama Musikal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s