Arsip Bulanan: Oktober 2016

Keakraban Ibu dan Anak di Me vs Mami

Kalau kamu lagi sebel sama ibu kamu, kalau kamu lagi bete sama omelan dan ceramah ibu kamu yang tiada henti, kalau kamu merasa selalu diawasi sama ibu kamu… ada baiknya kamu nonton film yang satu ini. Tunggu dulu, film yang akan tayang tanggal 20 Oktober 2016 nanti bukanlah film yang mengharu-biru dan sarat dengan petuah-petuah berat. Sebaliknya, Cut Mini dan Irish Bella di sini berhasil menyuguhkan karakter ibu-anak dengan aksi mengocok perut karena tingkah laku di antara keduanya bak antara anjing-kucing. Tiada hari tanpa berantem!

Acara press conference Me vs Mami setelah penayangan perdana film ini pada hari Sabtu, 8 Oktober 2016. (foto: dok.pri)

Acara press conference Me vs Mami bersama kru dan pemain setelah penayangan perdana film ini pada hari Sabtu, 8 Oktober 2016 di Cinema XXI Gandaria City, Jakarta. (foto: dok.pri)

Tapi, di balik acara berantem dan adu mulut nyaris setiap waktu itu menyimpan banyak makna. Bahwa, hubungan ibu dan anak, apalagi ketika si anak beranjak remaja, ya… seperti itu.  Benci tapi sayang, sayang tapi benci. Percekcokan di antara keduanya malahan menimbulkan rasa iri seorang pemuda misterius, dimainkan oleh Dimas Aditya, yang secara kebetulan selalu muncul di hampir setiap adegan dan mengamati perilaku mereka berdua. Pemuda misterius bernama Rio yang tidak pernah mengalami rasanya punya ibu, karena ditinggal mati sejak kecil.

Baca lebih lanjut

Pasca Rawat Inap dan Operasi, Lalu Apa?

Saya saat dirawat di rumah sakit akibat dengue, ditemani sepupu. (foto: dokumen Mba Nita)

Saya saat dirawat di rumah sakit akibat dengue, ditemani sepupu. (foto: dokumen Mba Nita, April 2016)

Pengalaman beberapa kali masuk rumah sakit karena harus diopname, mau tidak mau mengharuskan saya mengenali beberapa macam obat-obatan yang pernah diberikan dokter. Yang pasti, masuk rumah sakit itu sangat tidak enak, karena harus diinfus setiap hari, dan badan tidak boleh sering bergerak, alias harus di kasur terus. Baca deh kisah saya saat masuk rumah sakit untuk dioperasi kista endometriosis, juga ada cerita saat saya terkena disentri dan demam berdarah.

Karena minim aktivitas dan tubuh hanya mendapatkan asupan makanan melalui infus serta makanan dari rumah sakit, maka biasanya tubuh saya terasa lemas, terutama saat dokter sudah membolehkan untuk pulang atau rawat jalan. Maksudnya, baru berasa banget lemasnya ketika sudah tidak di rumah sakit lagi, sebab kalau di rumah ‘kan mau tidak mau tubuh kita harus bergerak walaupun sedikit, tho. Misalkan saat ke kamar mandi untuk buang air atau mandi, saat ke ruang keluarga untuk nonton televisi bersama keluarga (soalnya saya tidak punya televisi pribadi di kamar, he he he..) atau saat ke dapur untuk sekadar penasaran dan melongok menu apa yang dimasak hari ini (secara saya tukang makan :D).

Baca lebih lanjut

Pengalaman Perbankan Bersama BCA

Tulisan saya kali ini  akan bercerita tentang pengalaman saya sebagai nasabah Bank Central Asia (BCA). Jujur saja, saya mulai tertarik untuk membuka rekening di BCA sejak memerhatikan kedua orangtua saya sama-sama punya rekening tabungan Tahapan BCA. Sebelumnya saya hanya punya satu rekening tabungan di bank lain, itu juga demi keperluan pembuatan Kartu Mahasiswa (KTM) dan pembayaran uang kuliah. Saat itu kampus saya memang belum ada kerjasama dengan BCA.

Rekening Tahapan dan Paspor BCA

Membuka rekening Tahapan BCA memudahkan saya menerima transferan honor dari penerbit. (foto: dok.pri)

Membuka rekening Tahapan BCA memudahkan saya menerima transferan honor dari penerbit. (foto: dok.pri)

Namun, melihat kedua orangtua saya yang mempunyai rekening Tahapan BCA mendapatkan berbagai kemudahan, antara lain tidak perlu susah-susah mencari ATM karena mesin ATM BCA tersebar di mana-mana, maka saya berpikir untuk membuka tabungan di BCA juga. Sementara, ATM bank tempat saya membuka rekening tabungan merangkap KTM tidak banyak. Jadi, agak kesulitan juga untuk menarik uang di mesin ATM, apalagi saat itu belum ada fungsi atau fitur ATM bersama.

Baca lebih lanjut

Cerita Pengalaman Menabung

konsep menabung diajarkan oleh almarhumah ibu saya sejak kecil. (foto sumber: tribunnews.com)

konsep menabung diajarkan oleh almarhumah ibu saya sejak kecil. (foto sumber: tribunnews.com)

Sejak kecil saya sudah diajarkan oleh almarhumah ibu saya untuk menabung. Berbagai cara dilakukan untuk menabung, mulai dari mengisi celengan dengan sisa uang jajan di sekolah, hingga membuka rekening tabungan yang pada masa itu bisa dilakukan di kantor pos dekat rumah. Supaya saya lebih giat lagi menabung, saya suka membuat celengan dari kaleng-kaleng bekas susu bubuk dengan melubangi tutupnya seukuran koin, lalu menghiasinya dengan kertas kado warna-warni. Kalau menabung di kantor pos biasanya diwakili oleh ibu saya, karena saat itu saya belum cukup umur, he he he… Almarhumah ibu pernah berkata pada saya, “Kalau menabung di tabungan uangnya akan bertambah.” Wow, konsep yang diajarkan ibu membuat saya mulai tertarik pada uang.

Baca lebih lanjut