Pantai Coro, Keindahan Tersembunyi di Tulungagung

Tulungagung? Apa yang menarik untuk dilihat? Begitu pertanyaan yang terlintas di benak saya ketika seorang teman mengajak ke sana. Berkat memenangkan sebuah voucher berupa menginap gratis di hotel di kota tersebut, teman saya ini mengajak saya dan dua orang kolega untuk berwisata akhir pekan.

 

Pantai Coro dan Misteri Penguasa Laut Selatan

Pantai Coro dengan pasir putih dari atas bukit. (foto: dok.pri)

Pantai Coro dengan pasir putih dari atas bukit. (foto: dok.pri)

Konon, dulu pantai ini banyak kecoa sehingga dinamakan coro yang artinya kecoa dalam bahasa Jawa. Namun siapa sangka, pantai ini sangat bersih dan air lautnya begitu jernih. Bahkan pasir di pantai berwarna putih dan di mana-mana bertebaran ubur-ubur berwarna biru transparan, menandakan pantai ini belum tercemar. Saya sempat tersengat salah satu ubur-ubur yang bentuknya sangat menipu itu, karena saya pikir benda-benda yang terserak di pantai berwarna kebiruan transparan itu adalah plastik.

Pantai Coro terletak di sebelah selatan kota Tulungagung, tepatnya di desa Gerbo, kecamatan Besuki. Untuk mencapainya, Anda harus menempuh perjalanan melalui jalur Pantai Wisata Popoh, yang berjarak 30 kilometer dari pusat kota. Setelah sampai di kawasan pantai, Anda diarahkan terlebih dahulu ke sebuah Padepokan Retjo Sewu.

Kamar sesembahan untuk Ratu Laut Selatan. (foto: dok.pri)

Kamar sesembahan untuk Ratu Laut Selatan. (foto: dok.pri)

Saya juga tidak tahu mengapa tidak ada jalan lain selain melewati padepokan tersebut. Namun, inilah yang menarik sebab ternyata di padepokan ini terdapat sebuah kamar khusus yang dipersembahkan kepada Ratu Pantai Selatan atau dikenal dengan nama Nyi Roro Kidul.

Padepokan ini bukanlah tempat untuk berguru silat seperti yang terlintas dalam bayangan saya. Ia merupakan kompleks yang terdiri dari sebuah rumah, bentuknya seperti rumah pendopo, dan sebuah pekarangan memanjang dijaga oleh seribu arca. Dinamai Retjo Sewu demi mengenang sang pemiliknya, mendiang Soemiran yang pernah memproduksi rokok Retjo Pentung yang terkenal pada tahun 1970-an. Sementara kamar khusus untuk Nyi Roro Kidul terletak paling depan di samping kiri rumah pendopo. Sementara Sewu dihubungkan dengan seribu arca yang mengelilingi pekarangan tersebut. Seluruh arca ini memiliki bentuk yang sama, yaitu sosok dewa bertubuh pendek, bongsor, posisi jongkok dan memanggul pentungan gadha di bahu kanannya. Rupanya, sosok dewa bernama Dwarapala ini juga merupakan sosok yang terdapat dalam logo rokok Retjo Pentung, yang konon pada zaman Majapahit berfungsi sebagai penjaga gerbang masuk ke tempat suci.

Ada yang mengatakan mendiang Soemiran terinspirasi dari kisah Roro Jongrang yang mendirikan 1000 arca. Apa pun motifnya, beliau dikenal sebagai tokoh yang bijak di mata masyarakat dan sangat mendukung upaya pelestarian lingkungan, sehingga tidak ada yang berani mengusik hutan di kawasan pantainya. Karena ingin menjadi bagian yang tidak terpisahkan, maka ketika beliau meninggal abu jenazahnya ditaburkan ke laut di pantai selatan.

Pesanggrahan Retjo Sewu. (foto: dok.pri)

Pesanggrahan Retjo Sewu. (foto: dok.pri)

Sesudah melewati padepokan Retjo Sewu, kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi hutan, dengan kontur menanjak dan menurun sepanjang 1 kilometer. Perjalanannya memakan waktu sekitar 30 sampai dengan 45 menit, mungkin bisa lebih lama, karena setiap beberapa meter terdapat warung yang menjajakan minuman dan makanan praktis seperti mie instan, snack, bahkan sandal jepit. Kebetulan sekali karena pada waktu itu saya lupa membawa sandal untuk bermain-main di pantai yang putih bersih ini. Pantainya sendiri terletak agak menjorok, seolah-olah tersembunyi di bawah bukit dan dilindungi vegetasi yang lebat.

Setelah melewati tanjakan dan turunan yang cukup melelahkan, rasanya terbayar lunas ketika saya mendengar debur ombak yang menghempas ke pantai dan memecah di pinggiran batu karang. Airnya yang jernih dan transparan membuat batu-batu karang yang terendam air laut terlihat jelas.

Tebing Banyu Mulok

Pantai Coro berpasir putih. (foto: dok.pri)

Pantai Coro berpasir putih. (foto: dok.pri)

Kami melewatkan waktu cukup lama di pantai ini, sekitar dua jam, karena sedikit sekali pengunjung sehingga seolah pantai Coro adalah milik kami sendiri. Setelah puas bermain, kami melanjutkan perjalanan menuju Tebing Banyu Mulok.

Berbeda dengan perjalanan ke arah Pantai Coro, rute yang kami tempuh untuk sampai di Tebing Banyu Mulok hanya memakan waktu kurang dari 15 menit. Meskipun jalan setapaknya tidak sepanjang jalanan menuju Pantai Coro, namun disarankan untuk tetap berhati-hati karena konturnya yang naik turun. Perbedaan lainnya adalah pemandangan sekeliling berupa padang rumput yang luas,

Tebing Banyu Mulok berada di desa Besole, kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung. Destinasi ini ada di sebelah timur sisi Pantai Indah Popoh, tepatnya di sisi timur bukit Pantai Coro. Yang menarik dari tempat ini adalah pemandangan laut lepasnya yang sepintas menyerupai Halong Bay, karena terlihat gugusan serupa pulau atau batu karang di kejauhan. Lautnya juga terlihat sangat tenang, namun di ketinggian tebing terdengar debur ombak yang memecah ke arah tebing.

Ombak yang menghepas ke tengah bolongan karang Pantai Coro. (foto: dok.pri)

Ombak yang menghepas ke tengah bolongan karang Pantai Coro. (foto: dok.pri)

Nama Banyu Mulok sendiri diambil dari peristiwa alam yang katanya sangat jarang didapati di pantai-pantai di Indonesia. Banyu berarti air, sedangkan kata Mulok adalah kata kerja yang berarti terbang. Jika digabungakan mendefinisikan air yang terbang karena peristiwa air laut yang menabrak tebing yang menyebabkan tekanan air laut naik.

Panorama yang menakjubkan di kawasan ini adalah ketika ombak menerjang karang dan menyebabkan air naik ke permukaan. Cipratan air yang terjadi membentuk suatu proses pembiasan cahaya dan spektrum yang akhirnya membentuk pelangi. Proses terjadinya pelangi ini tidaklah lama, hanya dalam hitungan detik, karena air yang dibiaskan cahaya matahari akan segera pergi tertiup angin yang kencang.

Putihnya pasir Pantai Coro dan medusa yang bertebaran. (foto: dok.pri)

Putihnya pasir Pantai Coro dan medusa yang bertebaran. (foto: dok.pri)

Ketika sore menjelang, yaitu sekitar jam tiga, kami memutuskan kembali ke parkiran mobil. Tidak ada jalan pintas lainnya sehingga kami harus menempuh kembali jalan yang telah dilalui ketika berangkat.

Ayam Lodho Khas Tulungagung

Kuliner yang spesial dari kota ini adalah ayam lodho. Sebelum kembali ke hotel, kami menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah restoran lokal yang terletak di pinggir jalan raya arah pusat kota.

Jika dilihat sepintas, tampilan masakannya mirip dengan gulai atau opor ayam yang berkuah santan kuning. Namun yang membedakannya adalah rasanya yang pedas karena dicampur dengan cabai rawit dan pada saat pengolahan bumbunya dicampur dengan cabai keriting. Teksturnya juga terlihat gosong karena sebelum dimasak dengan santan, ayam dibakar atau dipanggang terlebih dahulu. Aroma rempah-rempahnya juga terasa lebih kuat karena pemakaian jahe dan kencur. Cara menyantap ayam lodho ini, selain dimakan dengan nasi putih, ada tambahan urap sayur berupa parutan kelapa yang telah dibumbui, timun mentah yang masih segar, daun singkong dan tauge.

Ayam Lodho khas Tulungagung. (foto: dok.pri)

Ayam Lodho khas Tulungagung. (foto: dok.pri)

Berikut adalah beberapa tempat rujukan yang menawarkan ayam lodho :

  • Ayam bakar lodho Bu Kasnan,  Jayeng Kusuma No.22, Kedungwaru, East Java, Indonesia
  • Ayam lodho kampung Bu Mamik, desa Plosokandang Barat SPBU
  • Ayam lodho Pak Yusuf, di Jl. Raya Propinsi Desa Kedunglurah, Trenggalek
  • Ayam lodho Sukoanyar, di Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakel, dekat Balai Desa Sukoanyar
  • Warung lodho P.H.LANI, di Bandung-Tulungagung, sebelah selatan masjid Jami’ Bandung.

Selesai makan, perjalanan kami berakhir pada pukul setengah sembilan malam. Kami kembali ke hotel dengan rasa lelah namun senang dan puas karena berakhir pekan di tempat yang jauh dari kebisingan kota membuat energi kami terisi kembali.

Bagaimana mencapai Tulungagung?

Stasiun Tulungagung. (foto: dok.pri)

Stasiun Tulungagung. (foto: dok.pri)

Dari Surabaya, Anda bisa naik kereta kelas ekonomi AC yang berangkat dari stasiun Wonokromo dengan tujuan Blitar. Kami ambil kereta Dhoho Penataran yang berangkat sebelum Subuh pada jam 4, dan tiba di Tulungagung pagi sekitar jam 9. Sementara untuk kembali ke Surabaya, ada kereta kelas yang sama dengan jadwal pemberangkatan dari Tulungagung pada jam 2 siang, dan tiba di Surabaya sekitar jam 7 malam. Harga tiket kereta sangat murah, yaitu Rp 15.000,00 untuk sekali jalan.

Alternatif lainnya, Anda bisa naik bus atau mobil pribadi. Jika naik bus, Anda berangkat dari Terminal Bungurasih dengan bus Harapan Jaya. Waktu yang ditempuh bisa lebih lama ketimbang kereta, yaitu antara 7 hingga 10 jam. Anda bisa juga menyewa mobil sejak dari Surabaya dengan tarif mulai dari Rp 500.000,00 untuk 24 jam, ada yang sudah termasuk honor supir, namun belum termasuk bensin, atau keduanya.

Saat itu, kami menyewa mobil pada saat tiba di Tulungagung saja dengan tarif Rp 400.000,00 untuk 12 jam. Tarif ini sudah termasuk supir dan bensin.

Di Tulungagung menginap di mana?

Hotel Crown Victoria di Tulungagung. (foto: dok.pri)

Hotel Crown Victoria di Tulungagung. (foto: dok.pri)

Mengingat luasnya hanya 1056 km2 dan jumlah penduduk di angka 1 juta jiwa, sebenarnya Anda tidak perlu menginap untuk menjelajahi kota ini. Namun, selain karena mendapat voucher hotel, transportasi untuk pulang pergi dalam satu hari tidak selalu ada. Kecuali jika Anda mau menyewa mobil dari Surabaya hal ini bisa dilakukan.

Hotel tempat kami menginap bernama Crown Victoria yang terletak di pusat kota Tulungagung, berjarak 5 menit dari stasiun. Keunikan dari hotel ini adalah satu-satunya hotel termegah di Tulungagung dengan standar bintang 4. Dibangun pada tahun 2012, hotel ini terkesan mewah karena dominasi batu pualam sebagai dekor dan dilengkapi fasilitas fitness, spa serta jacuzzi. Crown Victoria Hotel terdiri dari 97 kamar kelas Superior hingga Presidential Suite dengan tarif terendah Rp 695.000,00, Anda mendapatkan fasilitas air mineral, coffee & tea maker, TV kabel saluran lokal dan internasional, wifi. ***

TIP

  • Untuk memasuki kawasan pantai wisata Popoh, pengunjung diminta membayar tarif masuk Rp 3000,00 per orang. Bila Anda membawa kendaraan maka ada tarifnya juga yaitu Rp 1000,00 untuk motor; Rp 2000,00 untuk mobil dan Rp 2500,00 untuk bus.
Beristirahat sejenak di warung dalam perjalanan menuju Pantai Coro. (foto: dok.pri)

Beristirahat sejenak di warung dalam perjalanan menuju Pantai Coro. (foto: dok.pri)

  • Anda yang belum terbiasa hiking mesti berhati-hati karena rute yang ditempuh, meskipun tidak securam Ijen atau Dieng misalnya, tetap melelahkan. Oleh karena itu membekali diri dengan sepatu hiking seperti boot dan air mineral sangat disarankan.
  • Jika Anda ingin mandi, disediakan bilik-bilik sederhana terbuat dari papan seng oleh para penjaja warung. Namun Anda mesti membawa perlengkapan mandi sendiri, seperti sabun, handuk, karena tidak dijual di warung. Tarif menggunakan bilik adalah Rp 2000,00 per orang.
  • Berbeda dengan hiking di luar negeri, masih banyak gunung dan pantai di Indonesia yang belum banyak dikunjungi wisatawan jarang dilengkapi dengan papan penunjuk. Minimnya petunjuk jalan, terutama arah pulang dari Banyu Mulok kembali ke Retjo Sewu, memang agak membuat Anda tersesat. Lucunya lagi, saya menemukan papan bertuliskan “Rumah Sakit Jauh, Dilarang Kecelakaan”. Jadi, saya sarankan Anda selalu berada dalam kelompok.
Lereng bukit marmer di Tulungagung. (foto: dok.pri)

Lereng bukit marmer di Tulungagung. (foto: dok.pri)

  • Tulungagung juga dikenal sebagai kota penghasil marmer. Di sini pula terdapat industri onyx yang kualitasnya nyaris serupa dengan marmer. Sayang pabriknya tidak bisa dikunjungi oleh masyarakat umum, namun jika Anda sempat, Anda dapat mengunjungi beberapa toko kerajinan marmer yang tersebar di sekitar daerah pabrik.
Iklan

4 thoughts on “Pantai Coro, Keindahan Tersembunyi di Tulungagung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s