Cerita Pengalaman Menabung

konsep menabung diajarkan oleh almarhumah ibu saya sejak kecil. (foto sumber: tribunnews.com)

konsep menabung diajarkan oleh almarhumah ibu saya sejak kecil. (foto sumber: tribunnews.com)

Sejak kecil saya sudah diajarkan oleh almarhumah ibu saya untuk menabung. Berbagai cara dilakukan untuk menabung, mulai dari mengisi celengan dengan sisa uang jajan di sekolah, hingga membuka rekening tabungan yang pada masa itu bisa dilakukan di kantor pos dekat rumah. Supaya saya lebih giat lagi menabung, saya suka membuat celengan dari kaleng-kaleng bekas susu bubuk dengan melubangi tutupnya seukuran koin, lalu menghiasinya dengan kertas kado warna-warni. Kalau menabung di kantor pos biasanya diwakili oleh ibu saya, karena saat itu saya belum cukup umur, he he he… Almarhumah ibu pernah berkata pada saya, “Kalau menabung di tabungan uangnya akan bertambah.” Wow, konsep yang diajarkan ibu membuat saya mulai tertarik pada uang.

Cerita Tentang Tabungan

Beranjak dewasa, saya mulai membuka tabungan di bank swasta tepatnya saat mulai kuliah, dan belajar mengelola sendiri uang saya. Selain kuliah, saya juga sesekali nyambi menulis terjemahan yang diterbitkan di media, atau mendapat job terjemahan dari penerbit, yang honornya ditransfer ke rekening pribadi saya tersebut. Lumayan sih jadinya saya tidak pernah minta-minta uang lagi ke orangtua, yah sekadar untuk membeli pulsa, jajan untuk makan siang di kampus, bahkan pernah juga saya pakai untuk membayar uang kuliah semesteran.

saya mulai punya tabungan sendiri sejak kuliah. (foto sumber: kreditgogo.com)

saya mulai punya tabungan sendiri sejak kuliah. (foto sumber: kreditgogo.com)

Selain punya tabungan dalam bentuk rekening rupiah, pernah juga tuh saya membuka tabungan dalam bentuk rekening dolar di bank yang sama. Gaya ya? Padahal jumlah yang diisi juga nggak pernah mencapai 200 USD, he he he… Sebenarnya waktu itu saya mulai tertarik dengan internet marketing dan berharap bisa mendulang dolar, maka saya ingin membuat rekening yang terpisah dari rekening rupiah agar mudah dipantau. Selain itu, rekening dolar yang saya punya tidak ada layanan kartu ATM, jadi saya tidak tergoda untuk mengambilnya setiap saat. Namun saat saya sudah lulus, dan sudah jarang bolak-balik kampus, saya putuskan untuk menutup rekening dolar tersebut, terlebih lagi bunga perbulannya yang saya dapatkan tidak banyak. Saya lupa berapa persisnya, yang jelas angka terakhir yang saya dapatkan sebelum penutupan tidak pernah bergerak di atas dua ratus, ha ha ha…

Cerita Tentang Deposito

Ketika saya sudah bekerja, saya mulai tertarik membuka rekening jenis lainnya yang memberikan bunga lebih besar untuk jangka waktu tertentu dan sifatnya tidak bisa diambil kapan saja seperti pada tabungan biasa. Yang saya maksud adalah rekening deposito. Memang sih almarhumah ibu pernah menjelaskan pada saya bahwa rekening deposito lebih menguntungkan ketimbang tabungan biasa, karena manfaatnya lebih besar. Selain itu rekening deposito akan lebih mendisiplinkan saya dalam mengelola keuangan, karena uang yang disimpan di rekening tersebut tidak bisa ‘diganggu gugat’. Kalau pun terpaksa diambil, maka pemiliknya akan terkena denda. Periode penyimpanannya pun bisa kita pilih, bisa satu bulan saja, mau tiga bulan boleh, enam bulan lebih bagus karena akan lebih besar bunga yang diperoleh, bahkan apalagi jika kita bisa menyimpannya untuk jangka waktu lebih dari satu tahun.

saya juga pernah membuka rekening deposito untuk jangka waktu 6 bulan. (foto sumber: manfaat.co.id)

saya juga pernah membuka rekening deposito untuk jangka waktu 6 bulan. (foto sumber: manfaat.co.id)

Waktu itu saya memutuskan membuka rekening deposito untuk periode enam bulan saja, karena dana yang saya simpan juga tidak banyak. Secara fisik, bentuk rekening deposito berbeda dengan tabungan biasa, karena saya menerima bukti rekening tersebut dalam sebuah kertas bermaterai yang terbungkus amplop plastik. Formulir-formulir yang harus saya isi dan tanda tangani juga lebih banyak daripada formulir untuk membuka rekening tabungan biasa. Begitu masa enam bulan selesai, saya ditawarkan oleh pihak bank apakah mau meneruskan simpanan deposito saya, atau mau dicairkan. Berhubung waktu itu saya sedang membutuhkan dana, maka saya meminta bank untuk mencairkan rekening deposito saya, dan tidak berapa lama dana rekening deposito plus bunga sudah saya terima melalui transfer ke rekening buku tabungan saya. Oya, sebaiknya jika teman-teman ingin membuka rekening deposito, maka bukalah di bank yang sama dengan bank tempat Anda membuka rekening tabungan. Maksudnya supaya pencairannya lebih mudah.

Seingat saya, sebelum saya membuka rekening deposito atas nama pribadi, saya juga pernah memiliki rekening deposito yang dibuat atas nama almarhumah ibu sewaktu usia saya belum mencapai batas minimum. Rekening deposito tersebut dibuat oleh ibu untuk nantinya mendanai biaya pendidikan kuliah saya.

Cerita Tentang Giro

Kalau rekening giro sih saya belum pernah punya, seingat saya hanya ayah saya yang pernah memiliki jenis rekening tersebut untuk perusahaan wiraswasta yang pernah dimilikinya saat beliau masih aktif bekerja. Berkat rekening giro yang dimiliki ayah saya, maka saya sering melihat ayah bertransaksi dengan para klien-nya hanya dengan menggunakan buku cek (jadi maksudnya bukan dalam bentuk uang fisik). Sebelum ayah menandatangani lembar cek di buku ceknya, maka ayah akan membubuhkan materai terlebih dahulu di atas kolom tanda tangan. Katanya agar cek tersebut sifatnya jadi sah dan bisa diuangkan.

Oiya, pernah sih saya punya buku cek tetapi buku cek tersebut hanya saya miliki sewaktu saya masih menjalankan pendidikan S2 di Prancis. Berhubung saya penerima beasiswa dalam jumlah lumayan, maka selain punya rekening tabungan, saya juga diberikan fasilitas buku cek meskipun tidak pernah saya pakai. Habisnya saya juga nggak ngerti bagaimana pengisiannya, ha ha ha… Dan pada tahun 2000 masyarakat Prancis juga sudah mulai terbiasa bertransaksi dengan menggunakan kartu debit. Sementara, di Indonesia, transaksi dengan menggunakan kartu debit pada tahun yang sama masih sangat jarang.

membuka rekening giro biasanya akan mendapatkan buku cek. (foto sumber: id.wikhow.com)

membuka rekening giro biasanya akan mendapatkan buku cek. (foto sumber: id.wikhow.com)

Pernah sih sekali saya mencoba menggunakan cek tersebut untuk membeli sebuah produk dari internet, hanya karena penasaran saja bagaimana cara memakainya. Eh tahu-tahu sekitar seminggu setelahnya, cek saya dikembalikan karena dianggap tidak sah :D. Ya sudah, jadinya saya langsung beli saja pakai kartu debit. Keistimewaannya kartu debit di Prancis adalah kartu jenis ini bisa digunakan untuk transaksi online di internet, selain untuk bertransaksi secara fisik di toko. Jadi tidak punya kartu kredit pun tidak masalah. Yang jadi masalah kalau saldonya tidak mencukupi atau nol, maka kartu debit pun tidak bisa digunakan untuk transaksi online, berbeda dengan kartu kredit ;).

Rekening tabungan yang saya miliki selama kuliah di Prancis bentuknya bukan dalam bentuk buku tabungan, melainkan sebuah kertas print-out yang dikirim secara berkala setiap bulan. Namun, beberapa bulan setelahnya saya memilih untuk mengakses rekening secara online di situs internet bank penyedia layanan tersebut, karena Prancis sangat peduli dengan yang namanya ‘enviroment-friendly’ atau ramah lingkungan.

Nah, dari cerita saya di atas, kira-kira teman-teman punya cerita sendiri yang menarik dan unik tentang pengalaman menabung? Mana yang paling menguntungkan? Silakan share di kolom komentar di bawah yaa… ***

Iklan

2 thoughts on “Cerita Pengalaman Menabung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s