Inspirasi Baru dari Inspirato Liputan6

Untuk pertama kalinya saya mengikuti acara tivi yang disiarkan secara live di situs web stasiun televisi tersebut, yaitu tepatnya acara Liputan 6 SCTV bertajuk “Inspirato“.  Program ini merupakan acara rutin yang digelar SCTV bagi para kawula muda, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa.

Para pembicara acara Inspirato LIputan 6 SCTV tanggal 23 Agustus 2016.

Para pembicara acara Inspirato LIputan 6 SCTV tanggal 23 Agustus 2016.

Acara Inspirato yang saya ikuti pada hari Selasa 23 Agustus yang lalu menghadirkan empat orang tokoh yang berbicara secara bergantian selama sekitar lima belas menit dan menjawab pertanyaan dari para hadirin selama lima belas menit juga. Empat orang tokoh tersebut adalah Menteri Riset dan Teknologi serta Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir, pengusaha Indonesia yang masuk daftar 40 orang terkaya di dunia versi majalah Forbes dan mengelola perusahaan tambang Adaro Energy Tbk Bapak Boy Thohir, Butet Manurung yang dikenal mengajar anak-anak di pedalaman melalui Sokola Rimba, serta Didiet Maulana yang berhasil mengangkat kain tenun ikat ke mancanegara.

Dalam acara yang berlangsung mulai dari jam 13.30 hingga 16.00, keempat pembicara mengemukakan suka-duka serta perjuangan ‘jatuh-bangun’ mereka menjalani karier masing-masing. Namun yang saya tangkap dari berbagai kisah kehidupan mereka itu adalah rasa kecintaan yang besar terhadap apa yang mereka tekuni sehingga kini membuahkan hasil.

Pengusaha Indonesia yang masuk daftar 40 orang terkaya versi Forbes Magazine, Boy Garibaldi Thohir. (foto sumber: dok.SCTV liputan6.com)

Pengusaha Indonesia yang masuk daftar 40 orang terkaya versi Forbes Magazine, Boy Garibaldi Thohir. (foto sumber: dok.SCTV liputan6.com)

Seperti halnya Bapak Boy Thohir yang, meskipun lahir dari keluarga pengusaha, tetap saja ia menjalani kebangkrutan berkali-kali, kerugian besar miliaran rupiah, namun toh akhirnya bisa bangkit dan berkarya untuk Indonesia melalui perusahaan tambang yang dibelinya dari pihak asing.

Didiet Maulana dan disain tenun ikat eksklusif untuk tas high end brand TUMI. (foto sumber: dok.sctv liputan6.com)

Didiet Maulana dan disain tenun ikat eksklusif untuk tas high end brand TUMI. (foto sumber: dok.sctv liputan6.com)

Begitu pula dengan Didiet Maulana yang tidak ingin mengikuti arus. Pada masa sekitar awal tahun 2000-an masyarakat Indonesia dihebohkan dengan hak paten batik yang diklaim Malaysia. Namun, ketimbang ikut ribut-ribut, Didiet lebih berfokus pada keinginannya untuk mempopulerkan kain tenun ikat yang pada waktu itu dianggap kuno dan tidak menjual. Berkat keuletan, kesabaran dan relasinya yang baik dengan kawan-kawan selebriti, kini Didiet berhasil membawa kain tenun ikat ke level internasional. Salah satu prestasinya adalah brand tas premium TUMI yang memintanya untuk merancang disain tas dengan tenun ikat, dan Didiet mengkombinasikannya dengan warna-warna bendera Indonesia.

Butet Manurung bercerita tentang pengalamannya yang seru, mendebarkan, mengharukan selama mengajar anak-anak di pedalaman. (foto sumber: dok.sctv liputan6.com)

Butet Manurung bercerita tentang pengalamannya yang seru, mendebarkan, mengharukan selama mengajar anak-anak di pedalaman. (foto sumber: dok.sctv liputan6.com)

Tetapi, kisah yang paling menantang bagi saya adalah kisahnya Butet Manurung. Meskipun lulusan S2 di Australia, ia rela ‘belusukan’ ke pedalaman Nusantara seperti di Jambi atau Papua, menyentuh masyarakat-masyarakat adat yang masih belum terjamah modernitas, hidup seperti Tarzan demi mengajarkan dan mendidik anak-anak di sana. Ia berkali-kali mendapat ancaman dibunuh bahkan pernah dikejar beruang, namun itu tidak memadamkan usahanya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak pedalaman. Yang menarik, justru anak-anak pedalaman ini lebih kritis dalam menerima pelajaran dibandingkan anak-anak seusia mereka di kota besar, karena mereka selalu bertanya apa gunanya mempelajari ilmu-ilmu yang diberikan, seperti matematika, ilmu membaca, untuk kehidupan sehari-hari di dalam hutan.

Menristek Dikti Mohammad Nasir juga menjadi salah satu pembicara dalam Inspirato Liputan 6 tanggal 23 Agustus. (foto sumber: liputan6.com Herman Zakaria)

Menristek Dikti Mohammad Nasir juga menjadi salah satu pembicara dalam Inspirato Liputan 6 tanggal 23 Agustus. (foto sumber: liputan6.com Herman Zakaria)

Oya, kalau Pak Mohammad Nasir yang berbicara di awal program lebih mengangkat inovasi-inovasi yang dilakukan oleh para pemuda Indonesia dalam IPTEK. Misalkan teknologi pengendalian virus dengue yang ditularkan nyamuk Aedes Agepty melalui teknik Wolbachia, yaitu pemandulan telur nyamuk dan telah diujicobakan di laboratorium UGM. Ada juga teknologi pencegahan hidrocephalus, yaitu mengumpulnya cairan di dalam batok kepala (biasanya terjadi pada anak-anak), melalui VP Shunt.

Acara Inspirato ini secara tidak langsung menumbuhkan lagi semangat bagi saya, bahwa orang yang sukses pun pernah jatuh lagi dan gagal lagi lalu belajar dari kegagalannya itu agar mencapai kesuksesan paripurna suatu hari nanti. Semoga ya, aamiin… ***

Iklan

2 thoughts on “Inspirasi Baru dari Inspirato Liputan6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s