Makna Kebhinekaan untuk Indonesia Masa Kini

Semboyan Bhineka Tunggal Ika tercantum pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. (foto sumber: wikipedia.org)

Semboyan Bhineka Tunggal Ika tercantum pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. (foto sumber: wikipedia.org)

Sejak kecil, melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (disebut PMP), kemudian berubah menjadi PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), saya diajarkan mengenai arti dari Bhineka Tunggal Ika: Berbeda-beda tetapi Tetap Satu. Makna dari Berbeda-beda tetapi Tetap Satu yang saya pahami pada saat itu adalah berbeda adat-istiadat, budaya, kebiasaan, juga kepercayaan, karena Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai dengan Merauke. Di setiap suku pasti terdapat kebiasaan dan adat yang unik yang membedakannya dengan suku lain.

Contoh sederhananya, saya yang berasal dari suku Jawa, meskipun lahir dan besar di Jakarta, dididik dengan cara Jawa oleh orangtua saya: kalau berbicara dengan yang lebih tua harus menggunakan tutur bahasa yang halus, cium tangan jika bertemu dan pamitan, berjalan dengan membungkukkan badan jika melewati para sesepuh, dan banyak lagi. Perilaku seperti ini secara buat saya pribadi tidak sadar menimbulkan rasa unggah-ungguh, enggan membantah secara frontal, dan cenderung pemalu. Tatakrama ini pastinya berbeda dengan salah kawan saya yang berasal dari suku Batak atau Manado. Misalnya saja dari cara berbicaranya dengan suara lantang, seolah-olah kesannya sedang membentak padahal tidak, dan to the point mengemukakan suatu pendapat.

Presiden Obama dan istri, Michelle Obama, mengakui keanekaragaman suku, budaya dan agama di Indonesia dalam kunjungannya ke Mesjid Istiqlal, Jakarta 10 November  2010. Dalam foto, kunjungan mereka ditemani almarhum Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal.   (foto sumber: REUTERS/Jason Reed    (INDONESIA)

Presiden Obama dan istri, Michelle Obama, mengakui keanekaragaman suku, budaya dan agama di Indonesia dalam kunjungannya ke Mesjid Istiqlal, Jakarta 10 November 2010. Dalam foto, kunjungan mereka ditemani almarhum Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal. (foto sumber: REUTERS/Jason Reed (INDONESIA)

Pengalaman tinggal di Prancis dan Italia membuktikan bahwa keberagaman seperti ini menurut saya temukan hanya ada di Indonesia. Meskipun jika di Prancis bagian utara penduduknya lebih terkesan dingin dan kaku ketimbang penduduk di Prancis bagian selatan, begitu pula dari nada bicara dan aksen bahasanya, tetapi bahasa daerah mereka sudah punah, kepercayaan mereka hampir sebagian besar seragam yaitu Katolik, makanannya juga tidak pernah lepas dari unsur susu dan keju. Tidak seperti di Indonesia yang bisa membuat penduduknya, seperti saya, kaget dan takjub sendiri ketika menemukan bahwa pengaruh agama Hindu di Bali yang sangat kental dapat kita lihat pada banyaknya pura, atau unsur animisme yang masih kuat sehingga masyarakatnya masih percaya pada dewa-dewa yang dapat kita temukan di Toraja atau Papua, meskipun secara mayoritas penduduk Indonesia memeluk Islam. Atau, ketika saya mencicipi makanan yang serba pedas di sepanjang kawasan Medan-Berastagi, namun semuanya serba manis bahkan hingga ke air minumnya saat saya berada di Solo. Keberagaman seperti ini merupakan kekhasan yang hanya dimiliki Indonesia, dan sering dipuji oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Misalkan saja Presiden Amerika Serikat periode 2009-2016 Barack Obama yang mengagumi semangat spiritualitas dan keberagaman Indonesia, “as a vast and diverse country” saat ia berkunjung ke Indonesia pada tahun 2010.

“Because Indonesia is made up of thousands of islands, and hundreds of languages, and people from scores of regions and ethnic groups, my time here helped me appreciate the common humanity of all people.  And while my stepfather, like most Indonesians, was raised a Muslim, he firmly believed that all religions were worthy of respect.  And in this way  — in this way he reflected the spirit of religious tolerance that is enshrined in Indonesia’s Constitution, and that remains one of this country’s defining and inspiring characteristics.” 

Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, dan masyarakat dari berbagai daerah serta suku bangsa, saya belajar menghargai nilai-nilai kemanusiaan selama saya berada di sini. Dan ayah tiri saya, seperti halnya kebanyakan orang Indonesia, dibesarkan sebagai Muslim, ia meyakini bahwa semua agama patut dihargai. Dengan cara ini ia merefleksikan semangat toleransi keberagamaan yang tercantum dalam UUD Indonesia, yang menjadikan salah satu ciri khas yang menginspirasi bagi negara ini. 

(Pidato Barack Obama pada saat kunjungan ke Universitas Indonesia, tahun 2010. sumber: https://www.whitehouse.gov/the-press-office/2010/11/10/remarks-president-university-indonesia-jakarta-indonesia)

Irina Bokova, Dirjen UNESCO 2009-2017 menghargai keberagaman di Indonesia. (foto sumber: portal.unesco.org)

Irina Bokova, Dirjen UNESCO 2009-2017 menghargai keberagaman di Indonesia. (foto sumber: portal.unesco.org)

Begitu juga Direktur Jenderal UNESCO Irina Borkova 2009-2017 yang pernah mengundang Presiden RI ke-6 Soesilo Bambang Yudhoyono untuk berpidato di Sidang Umum UNESCO di Paris tahun 2011.

I expressed my appreciation to Indonesia, a country with cultural diversity,” begitu kata Irina. (Saya menyatakan rasa penghargaan saya terhadap Indonesia, negara dengan kemajemukan budayanya).

Maka itu, agar tercipta suatu kedamaian, ketentraman, dan kerukunan dalam keberagaman ini, para pimpinan negara merancang dan menyusun berbagai Undang-Undang yang mengatur kehidupan sosial warga negaranya. Karena para pimpinan negara tahu bahwa keberagaman ini dapat membawa kepada dua potensi yang berseberangan: memecah-belah, atau menyatukan? Tentunya, saya, dan pasti teman-teman pembaca juga, tidak ingin Indonesia dipecah-belah lagi, tho? Sampai-sampai Bung Karno, presiden RI pertama kita pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun pun menyadari, bahwa satu-satunya cara agar dapat menguasai kekayaan alam di Indonesia ya dengan cara memecah-belah warganya. Karena para meneer ini melihat bahwa keberagaman yang sangat majemuk di Indonesia berpotensi untuk menimbulkan rasa permusuhan satu suku bangsa dengan yang lainnya, umat beragama dengan umat tidak beragama, bahkan antara saudara sekandung sendiri. Kita lihat saja sejarah yang sudah berlalu seperti pecahnya Kerajaan Mataram menjadi dua kerajaan kecil, yaitu Mangkunegaran di Solo dan Kesultanan Jogja, dengan pihak Solo yaitu Raja Pakubuwono dibantu persenjataannya oleh VOC. Padahal masih sesama suku Jawa, loh, tapi mau-maunya dibodoh-bodohi pihak asing!

Bung Karno menyadari bahwa keberagaman di Indonesia dapat mengarah kepada perpecahan atau sebaliknya, persatuan. (foto sumber: lensaindonesia.com)

Bung Karno menyadari bahwa keberagaman di Indonesia dapat mengarah kepada perpecahan atau sebaliknya, persatuan. (foto sumber: lensaindonesia.com)

Karena itu, menurut saya, jika terjadi suatu perbedaan pendapat dan sudut pandang sebaiknya jangan serta-merta ditanggapi dengan gegabah dan sikap menyerang, apalagi jika itu sesama bangsa sendiri. Demikian pula dalam menanggapi bermunculannya Undang-Undang yang akhir-akhir ini marak menimbulkan pro-kontra, seperti UU Anti Pornoaksi dan Pornografi, UU Antimiras dan Antiminol, serta Undang-Undang mengenai LGBT.  Justru yang sebaiknya perlu dicermati dan dikritisi adalah konsekuensi-konsekuensi dari dibuatnya undang-undang tersebut : apakah UU tersebut lebih banyak membawa kerugian ketimbang manfaat bagi banyak orang? Apakah UU tersebut tetap melindungi hak-hak kaum minoritas? Apakah UU yang dibuat tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Azasi Manusia? Dengan kata lain, apakah para kaum transgender dan LGBT tetap dapat hidup bersosialisasi, bekerja dan berkreasi untuk Indonesia tanpa diganggu dan dilecehkan? Apakah minuman keras yang dilarang beredar akan dapat mengurangi secara efektif kecelakaan lalu lintas di jalan raya akibat pengendara yang mabuk? Apakah antara pihak yang pro dengan pihak yang kontra tetap dapat hidup berdampingan, saling menghargai, dan tidak memaksakan pendapat serta kehendaknya satu sama lain?

Atas dasar kekritisan ini pula maka beberapa kelompok LSM dan forum pemuda menandatangani Deklarasi Aliansi Kebhinekaan pada hari Kamis tanggal 11 Agustus 2016 yang lalu di Joglo Beer, Kemang, Jakarta Selatan. Dihadiri pula oleh Rocky Gerung, dosen filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini menyampaikan bahwa jika agenda politik dan ekonomi sudah dibalut dengan wacana kekuasaan, dikuatirkan hal semacam ini akan mematikan budaya berpikir kritis dan meningkatkan rasa intoleransi antarwarga. Maka kebebasan pun akan hilang, dan warga bisa kembali hidup di bawah ancaman.

Bagi saya, yang terpenting adalah kedewasaan masyarakat Indonesia dalam menyikapi adanya perbedaan serta keberagaman di Indonesia tanpa perlu menghilangkan prinsip hidup masing-masing individu. Seperti kata Soe Hok Gie, aktivis yang hidup pada zaman tahun 1960-an, “Lebih baik diasingkan dan dikucilkan daripada menyerah pada kemunafikan.” Artinya, ketimbang ikut-ikutan arus mayoritas maupun minoritas, lebih keren kalau tetap pede dengan nilai-nilai yang kita yakini. Wong hidup di dunia itu hanya sebentar.

Patung The Thinker yang melambangkan semangat rasionalisme a la Descartes. (foto sumber: dailymail.co.uk)

Patung The Thinker yang melambangkan semangat rasionalisme a la Descartes. (foto sumber: dailymail.co.uk)

Je pense, donc je suis… *)

Le cœur a ses raisons que la raison ne connaît point… **)

*) Saya berpikir maka saya ada, semangat rasionalisme yang dikemukakan Descartes, filsuf Prancis (1596-1650)

**) Hati mempunyai alasannya sendiri yang tidak selalu bisa diterima dengan logika. Blaise Pascal, filsuf Prancis (1623 – 1662).

Iklan

2 thoughts on “Makna Kebhinekaan untuk Indonesia Masa Kini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s