Lebaran Bersama Keluarga Baru

Lebaran saya tahun ini agak berbeda dengan lebaran tahun-tahun kemarin. Meskipun tidak ada sesuatu yang wah, namun saya mendapat banyak hikmah yang bisa dipetik pada lebaran tahun 2016 yang baru saja berlalu.

Ayah merayakan lebaran Idul Fitri 137 H/2016 M bersama seluruh keluarga, dan keluarga baru :). (foto: dok.pribadi)

Ayah merayakan lebaran Idul Fitri 137 H/2016 M bersama seluruh keluarga, termasuk keluarga dari pihak ibu :). (foto: dok.pribadi)

Sejak ditinggal ibu pada tahun 2013 (ibu saya meninggal dunia tepat seminggu sesudah Idul Fitri tahun tersebut), otomatis tinggal ayah saja yang menjadi orangtua saya. Selama dua tahun ayah sempat hidup sendiri–maksudnya tanpa pasangan–lalu menikah lagi pada awal tahun 2015. Ya, ayah menikah lagi, sesuatu yang bagaimana pun harus saya terima. Saya menyadari, dan memahami perkataan banyak orang bahwa laki-laki tidak bisa hidup sendiri terutama setelah ia mempunyai pasangan setia selama bertahun-tahun.

Proses bagaimana bisa sampai menikah kembali tidak akan saya ceritakan di sini, melainkan bagaimana saya berusaha menerima kehadiran keluarga baru di rumah. Kan, mau tidak mau dong, kalau seseorang membawa pasangan baru, pasti keluarganya akan diikutkan juga, tho, apalagi jika pasangan itu sebelumnya sudah pernah berkeluarga dan mempunyai keturunan. Hal ini memang tidak mudah, apalagi jika kenangan akan sifat dan perilaku ibu kandung yang masih melekat dalam ingatan berbeda seratus persen dengan tingkah laku keluarga baru. Bukan berarti jelek, hanya saja berbeda. Yang penting bagi saya, keluarga baru ini mau merawat ayah saya yang memang sudah tidak muda lagi. Ayah sih alhamdulillah tidak pernah menderita sakit serius, namun karena sifat keras kepalanya yang tidak bisa ditaklukkan oleh siapa pun, sering ia sulit sekali dinasihati untuk menjaga kesehatannya. Misalkan, berhenti merokok dan mengatur pola makannya, karena ayah mempunyai ‘bakat’ diabetes.

Hingga suatu hari saya mendapat kabar bahwa ayah saya masuk rumah sakit terkena stroke ringan. Saya sempat syok, dan menangis karena lagi-lagi saya teringat almarhumah ibu yang dulu juga pernah dirawat karena penyakit yang sama, yang menjadi penyebab beliau meninggal dunia enam tahun kemudian. Tetapi, begitu saya membesuk ayah di rumah sakit dan melihatnya justru tertawa-tawa (mungkin takut dimarahi anaknya, ha ha..) kesedihan saya pun sirna. Ayah memang mempunyai karakter yang berkebalikan dengan almarhumah ibu, tidak pernah murung, dan senang becanda. Di sana, ayah ditemani ibu baru yang ikut menunggui ayah sejak pagi mengantri dokter hingga mendapatkan kamar rumah sakit. Ibu tiri menjelaskan kejadiannya hingga ayah bisa terkena stroke. Singkatnya, kadar gula ayah mendadak turun drastis akibat aktivitas fisik yang menghabiskan banyak energi, sementara ayah waktu itu sedang berpuasa. Apalagi kalau bukan berkebun, termasuk memanjat dan menebang pohon, salah satu hobinya sejak muda. Untungnya, stroke ringan yang diderita ayah menyerang kaki kirinya saja, sedangkan anggota tubuh yang lain masih bebas bergerak dan bicaranya pun masih lancar.

Sholat Ied bareng keluarga setelah dua tahun tidak melakukan sholat Ied bersama. (dalam foto kakak ipar dan ponakan perempuan). Foto: dok.pribadi

Sholat Ied bareng keluarga setelah dua tahun tidak melakukan sholat Ied bersama. (dalam foto bersama kakak ipar dan ponakan perempuan). Foto: dok.pribadi

Berhubung saya masih ngantor dan ngindekos, saya tidak bisa menemani ayah setiap hari. Sehingga, ibu tiri dan kakak kandung saya yang masih tinggal serumah yang bergantian menjaga dan menunggui ayah hingga akhirnya ayah saya dinyatakan boleh pulang oleh dokter. Alhamdulillah, artinya ayah masih bisa ikut merayakan lebaran Idul Fitri bersama kami semua. Dua hari menjelang lebaran, dua kakak saya yang sudah berkeluarga dan tinggal di kota yang berlainan satu persatu pun datang membawa keluarga mereka. Kakak perempuan beserta suaminya, dan kakak laki-laki bersama dengan istri dan ketiga anaknya.

Yang baru saya sadari, sejak ayah menikah lagi tahun 2015, kami belum pernah melakukan foto bersama satu keluarga bersama keluarga baru. Selain itu, bila pada lebaran Idul Fitri dua tahun sebelumnya saya tidak pernah bisa ikut sholat Ied bareng karena datang bulan, maka lebaran Idul Fitri tahun 2016 ini saya pun sholat Ied bersama-sama keluarga di mesjid dekat rumah, meskipun sayangnya kami tidak dalam satu shaf. Dan, kehadiran ponakan perempuan yang kali ini juga diajak ikut ke mesjid, karena usianya sudah lumayan bisa diajak (maksudnya nggak rewel, kecuali ketika ia meminta dibelikan balon :D) menambah lengkap suasana ceria lebaran kami.

We love you, Dad, sehat selalu yaa… 🙂 .

Hari-Hijaber-Nasional-2016

Yuk, ikuti acara Hijabers National Day tanggal 7-8 Agustus 2016, bertempat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Acara ini akan dimeriahkan Ustadz Maulana, Alyssa Subandono, Dude Herlino, bazar, dan aneka lomba seru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s