Cormoran Strike Kembali Men-‘Strike’ dalam Career of Evil

Jika pembaca mengenal siapa Cormoran Strike, maka judul heboh yang saya buat ini bukan tanpa alasan.  Pada hari Minggu siang tanggal 2 April 2016 yang lalu di Gramedia Central Park, para pembaca setia serial detektif karangan Robert Gailbraith dengan rela berjejal dalam antrian yang mengular, termasuk saya, di sepanjang etalase toko. Bukan demi bertemu Cormoran, karena ia memang sebatas tokoh khalayan.  Melainkan karena pada hari itu diluncurkan edisi ke-3 serial detektif asal Inggris masa kini yang diciptakan oleh seorang penulis Inggris juga, yang menjadi tenar sejak mengarang cerita Harry Potter.

Memang benar, Robert Gailbraith sebenarnya adalah Joanne Kathleen Rowling, yang dalam penulisan serial Cormoran Strike menyamar sebagai penulis laki-laki. Alasannya sih kalau saya baca di berbagai website karena ia melepaskan diri dari identitas yang melekat padanya sebagai penulis Harry Potter.

Merchandise dari Gramedia: T-Shirt The Silkworm & buku Career of Evil. Terima kasih, Gramedia :) (foto: dok.pribadi)

Merchandise dari Gramedia: T-Shirt The Silkworm & buku Career of Evil. Terima kasih, Gramedia 🙂 (foto: dok.pribadi)

Sebenarnya saya termasuk yang terlambat membaca serial ini. Selain waktu pertama kali novel ini muncul, yaitu sekitar tahun 2013, saya baru pindah kerja ke Surabaya dan langsung dihujani banyak kerjaan, saya juga sudah lama tidak membaca novel tebal. Maksudna sih, takut gitu nggak bisa selesai bacanya :D. Pengalaman saya membaca buku-buku cerita yang tebal-tebal pada tahun-tahun terakhir nggak pernah bisa tamat, he he…

Namun, Rowling memang berbeda. Saya masih ingat pertama kali membaca Harry Potter (HP) dan Batu Bertuah, saya langsung menghabiskannya dalam waktu sehari, karena imajinasi saya yang langsung ikut melayang bersama dengan deskripsi benda, tempat, tokoh yang diciptakan Rowling dengan sangat detail dan jeli. Selain itu keahlian Rowling adalah mengemas sebuah cerita naratif yang berkembang menjadi suspens, sehingga membuat orang semakin penasaran hingga akhir. Begitu pula yang saya dapatkan ketika membaca The Cuckoo’s Calling-diterjemahkan menjadi Dekut Burung Kukukyang baru saya baca pada pertengahan tahun 2015. Saya tidak menyangka akan sanggup menghabiskan bacaan setebal 500-an halaman dalam waktu sekitar dua minggu.  (Yah maap agak lama juga sih, tapi tahun-tahun terakhir saya nggak pernah tamat loh kalau baca buku yang tebalnya lebih dari 100-an halaman :D).

Selain itu, layaknya serial detektif di televisi, yang membuat saya penasaran sejak edisi pertama adalah hubungan unik antara sang detektif dengan asistennya, Robin Ellacott, yang diungkap sedikit demi sedikit, dan secara perlahan. Walaupun begitu kelihatannya Rowling tidak ingin terburu-buru mengejar rating demi memuaskan pembaca seperti penonton serial detektif Amerika di televisi. Mbak Siska Yuanita, sang penerjemahnya pun hanya bisa mengungkapkan bahwa tokoh Cormoran dan Robin adalah benang merah di semua cerita serial ini, yang akan lebih banyak lagi dikupas di edisi selanjutnya. Sampai kapan? “Pokoknya sampai dia (Rowling) puas,” tutur mba Siska yang juga ikutan penasaran.

Mba Siska Yuanita (kiri), sang penerjemah serial detektif The Cormoran Strike dalam acara peluncuran buku ketiga berjudul "Career of Evil" (foto: dok.pribadi)

Mba Siska Yuanita (kiri), sang penerjemah serial detektif The Cormoran Strike dalam acara peluncuran buku ketiga berjudul “Career of Evil” (foto: dok.pribadi)

Namun, kalau Anda masih penasaran dengan isi cerita dari edisi ketiga yang berjudul Career of Evil ini, salah seorang penggemar serial Cormoran Strike menceritakan bahwa pada edisi ini dunia Cormoran dibuat ‘berantakan’, dengan beberapa bahas yang diangkat dari sudut pandang sang pembunuh. Pembunuhnya bahkan sempat bertemu dan berbicara dengan Robin atau Cormoran pada kesempatan terpisah tanpa mereka sadari.

Dari acara peluncuran buku Career of Evil ini, saya akhirnya mengetahui bahwa ada komunitas pembaca serial Cormoran Strike yang diberi nama Cormoran Strike ID dan akun twitternya @cormoranid. Sang dedengkot, mas Hari (atau Hadi) turut hadir mengenakan kostum lorek-lorek militer dan topi bundar setengah lingkaran a la Sherlock Holmes. Bedanya ia tidak menyulut pipa tembakau di bibir, ha ha…

Oya, buat teman-teman yang tidak terbiasa membaca cerita penuh ketegangan a la film-film thriller, sebaiknya siap sport jantung mengikuti serial yang satu ini, apalagi mulai edisi kedua yang bercerita tentang seorang penulis yang dibunuh secara sadis. Kecuali kalau sudah pernah membaca HP mulai edisi keempat dan seterusnya, maka setting Inggris yang kelam, dan makhluk-makhluk rekaan Rowling yang syeram-syeram sih seharusnya tidak lagi asing bagi teman-teman :). Saya nggak tahu edisi ketiga ini akan lebih mengerikan seperti apa lagi yah…

Mari saya habiskan dulu membaca edisi keduanya The Silkworm atau Ulat Sutera ;). ***

Iklan

One thought on “Cormoran Strike Kembali Men-‘Strike’ dalam Career of Evil

  1. Ping balik: Cormoran Strike Kembali dalam Career of Evil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s