Film Terbaru Lola Amaria : « Jingga » Kisah Remaja Penyandang Tuna Netra

Hari Sabtu pagi yang lalu, tepatnya tanggal 20 Februari 2016, saya berkesempatan menyaksikan pemutaran perdana film Jingga di Gandaria City, Jakarta Selatan, atas undangan majalah mingguan wanita, Femina. Lola Amaria, sang sutradara yang juga alumni Wajah Femina angkatan 1997, turut hadir dari sebelum film dimulai hingga akhir film.

Judul: Jingga Sutradara: Lola Amaria Pemain: Hifzane Bob (Jingga), Qausary Hy (Marun), Hany Valery (Nila), Aufa Assegaf (Magenta) Durasi: 102 menit Tanggal rilis di Indonesia: 25 Februari 2016

Judul: Jingga
Sutradara: Lola Amaria
Pemain: Hifzane Bob (Jingga), Qausary Hy (Marun), Hany Valery (Nila), Aufa Assegaf (Magenta)
Durasi: 102 menit
Tanggal rilis di Indonesia: 25 Februari 2016

Film-film Lola dikenal menyuarakan kaum marjinal dalam memperjuangkan hak hidup mereka. Namun, film Lola kali ini, tidak sekadar mengisahkan lika-liku perjuangan hak tersebut, melainkan juga melibatkan dukungan lingkungan sekitar, dalam hal ini keluarga dan sekolah. Adalah film berjudul « Jingga » yang menceritakan perjuangan seorang remaja bernama Surya Jingga, yang divonis buta setelah dihajar oleh teman satu sekolahnya dalam menghadapi kehidupan baru sebagai penyandang tuna netra. Jingga, panggilan bocah remaja SMA tersebut, sebelumnya memang mengalami masalah dengan matanya, yang oleh dokter disebut low-vision, membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas selain gambar-gambar dan warna-warna yang kabur. Namun, ayahnya selalu menyangkal kenyataan tersebut.


Saya kurang lebih bisa memahami dari sisi seorang ayah yang menginginkan anak-anak yang sempurna, seperti halnya ayah-ayah lainnya di dunia ini. Lain halnya dengan ibunya Jingga, yang sudah menyadari kekurangan itu sejak Jingga masih berusia tujuh bulan. Ibunya berulang kali menyampaikan kepada sang ayah bahwa anak laki-lakinya itu berbeda dan perlu mendapat perhatian khusus, namun sang ayah tidak pernah menggubris dan menganggap penyakit low-vision itu bisa sembuh jika Jingga tidak melulu dimanja. Melihat bagian pertama film ini saja sudah membuat saya menangis karena mengingatkan saya pada orangtua sendiri.. yah, tipikal orangtua-orangtua zaman dulu, deh, ayah selalu benar dan menang, sedangkan ibu harus menurut, he he he…

Terima kasih Femina untuk undangan Nobar Film Jingga ;)

Terima kasih Femina untuk undangan Nobar Film Jingga 😉 ((foto: dok.pribadi)

Untungnya, setelah Jingga divonis buta dan sama sekali tidak melihat, bahkan sempat nyaris bunuh diri, barulah di sini kedua orangtuanya memberikan dukungan penuh untuk Jingga. Jingga dipindahkan ke SLB A, dan justru di sanalah Jingga menemukan kebahagiaan : teman-teman sesama penyandang tuna netra yang tulus bersahabat dengan Jingga, bahkan mengajak Jingga membentuk sebuah grup band. Kebetulan, Jingga sangat berminat pada alat musik drum, dan senang memainkannya di sebuah ruangan khusus di rumahnya sejak ia masih bisa melihat. Di sekolah barunya inilah Jingga bersama ketiga orang temannya yang sesama anggota grup band: Nila, Magenta, Marun, melalui lika-liku kisah percintaan dan persahabatan selayaknya anak-anak remaja pada umumnya.

Goodie Bag Nobar Jingga dari Femina (foto: dok.pribadi)

Goodie Bag Nobar Jingga dari Femina

Ulasan lengkap mengenai film Jingga, teman-teman dapat membaca tulisan saya di Menilik Kehidupan Penyandang Tuna Netra Melalui Film Jingga ya. Oya, rencananya film ini akan dirilis di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia mulai tanggal 25 Februari 2016. Jangan sampai ketinggalan menyaksikan film bagus karya anak bangsa ;). ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s