Jembatan Suramadu, Madura dan Karapan Sapi

Baru satu tahun dua bulan saya tinggal di Surabaya ketika tulisan ini dibuat. Selama itu pula, baru dua kali saya melewati jembatan Suramadu.

Jembatan Suramadu: daya tarik wisata Surabaya-Madura (foto: Wikipedia)

Jembatan Suramadu: daya tarik wisata Surabaya-Madura (foto: Wikipedia)

Pertama, sekitar bulan Mei yang lalu ketika kantor saya meminta untuk mengunjungi sebuah kampus universitas negeri terbaik yang ada di pulau Madura. Perjalanan hanya memakan waktu kurang dari satu jam dengan kendaraan kantor. Akhirnya, kesampaian juga rasa penasaran saya untuk melewati jembatan yang katanya mirip jembatan di San Francisco itu. Bangunan yang menghubungkan bagian timur pulau Jawa dengan Madura sepanjang 5438 meter ini seharusnya menjadi daya tarik orang-orang yang berkunjung ke Surabaya. Apalagi, katanya sejak dipimpin walikota ibu Risma, jembatan ini tidak lagi menjadi angker atau pun ditakuti oleh para penduduk yang nglaju dari Madura ke Surabaya, karena bukan lagi menjadi ‘daerah strategis’ bagi para perampok dan penyamun untuk melakukan tindak kriminal bagi siapa pun yang melintasinya.

Ketika melintasi jembatan tersebut, saya mengharapkan ada sesuatu hal menarik yang bisa saya lihat layaknya melintasi jembatan San Francisco di Amerika Serikat, atau jembatan sungai Seine di Paris: entah itu kapal-kapal nelayan yang hendak menyeberang, perahu wisata yang mengangkut para turis, taksi air, atau bahkan kalau bisa kapal pesiar yang singgah sementara di Madura sebelum berlanjut ke Bali. Atau, paling tidak, nun jauh di seberang jembatan saya mengharapkan melihat sebuah bangunan yang mencolok, tidak harus gedung bertingkat, tetapi cukup sebuah konstruksi yang membuat tatapan kita dapat terpana melihatnya. Entah itu museum, menara, mesjid, kuil, atau apa pun yang mempunyai nilai budaya dan daya tarik wisata.

Namun setibanya di Bangkalan, yang saya lihat sebatas deretan kios-kios cinderamata yang menjual pernak-pernik khas Madura. Dan setelah itu, sepi. Ya, hanya itu perbedaan yang saya rasakan ketimbang ketika berada di atas daratan Surabaya: jalanan di Madura terasa sangat lengang, sepi, tenang, hamparan sawah dan pemandangan pesisir pantai, serta anak-anak sekolah yang dengan senangnya mengendarai sepeda tanpa takut keramaian lalu lintas seperti di kota tetangganya. Begitu menyenangkannya jika kehidupan sehari-hari saya di perkotaan pun sedemikian.

Jika memang Madura ingin menjaga ketentraman dan ketenangannya, sungguh saya tidak menentangnya. Banyak juga kota atau pedesaan di Bali yang suasananya serupa: Ubud, Bedugul, Kintamani… Ketentraman dan ketenangan ini sesungguhnya bisa juga menjadi pilihan tujuan wisata baru selain kota-kota tujuan yang sudah mainstream seperti di Bali. Jika dibangun resort, atau tempat penginapan berupa pondokan bagi para turis dengan fasilitas lainnya seperti tambahan pilihan rumah makan bebek goreng, atau rumah makan lainnya yang memperkenalkan kuliner khas Madura, pasti akan lebih banyak lagi wisatawan yang datang. Kalau memang Madura ingin menjaga suasana relijiusitasnya, tidak perlu dibangun kafe atau bar pun tidak masalah. Namun perkenalkan wisata reliji yang dikemas menjadi suatu paket wisata yang menarik, karena saya rasa belum banyak yang tahu makam para Kyai atau Syekh yang menyebarkan agama Islam di pulau ini.

Dan pastinya, belum juga banyak orang Indonesia maupun wisatawan mancanegara yang kenal dengan tradisi Karapan Sapi. Meskipun katanya sebelum melakukan perlombaan ini, sapi-sapi yang diikutkan harus melalui semacam ritual yang menyakitkan, sehingga kegiatan ini sempat dibekukan; namun apabila penduduk dan pemerintah sama-sama dapat berlaku bijak dalam menyikapinya sehingga tidak ada lagi penyiksaan terhadap sapi-sapi, dan perlombaan yang sudah menjadi tradisi turun-temurun ini tetap berjalan.

Lomba Blog Jembatan Suramadu

Lomba Blog Jembatan Suramadu

Apabila dibuat sebuah paket sehari wisata komplit: ziarah ke makam-makam Kyai penyebar agama Islam, menonton Karapan Sapi dan icip-icip kuliner khas Madura plus menikmati gemerlap malam di Jembatan Suramadu, lalu paket ini ditawarkan oleh hotel-hotel berbintang atau agen-agen perjalanan di Surabaya, Jakarta, dan Bali bagi para turis yang singgah di Jawa Timur sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali, maka Surabaya-Madura akan semakin terdengar gaungnya. Termasuk Jembatan Suramadu, tentunya.

Saya masih ingat, kali kedua saya melintasi Jembatan Suramadu adalah untuk menemani tiga orang rombongan komikus Prancis yang singgah di Surabaya untuk memberi pelatihan bagi para mahasiswa di kantor kami. Salah seorang dari mereka mencetus ide, “Yuk kita lihat jembatan Suramadu!”

Saat itu, sore hari sekitar jam 6, pertengahan bulan September, ketika malam sudah merapat, namun berkat pencahayaan lampu-lampu yang terpancar dari Suramadu, jembatan tersebut jadi terlihat indah. Kami membuka kaca jendela mobil lebar-lebar untuk menikmati semilir angin laut yang masuk sambil bernyanyi-nyanyi. Namun, setibanya di Bangkalan, mereka mendadak bingung. “Loh, sudah, segini aja?”

Saya pun menjawab sambil meringis, “Iya, segini aja. Selebihnya kios-kios cinderamata, terus… gelap.”

Untung mereka tidak mudah mengeluh. Lalu dengan riang gembira kami pun melintasi kembali Jembatan Suramadu untuk mencapai Surabaya lagi. * * *

 

Iklan

One thought on “Jembatan Suramadu, Madura dan Karapan Sapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s