Mimpi Punya Properti

Mimpi punya properti? Boleh-boleh saja. Saya pun sejak lama berkeinginan mempunyai properti, tempat saya bisa menghabiskan sebagian besar hidup saya bersama keluarga yang saya cintai, tempat saya dapat melakukan pekerjaan yang saya sukai tanpa harus pergi ke kantor dengan pakaian rapi, sekaligus tempat saya untuk berinvestasi hingga hari tua.

Kontes Mimpi Properti

Ikutan Event Blog Kontes “Mimpi Properti” yuk!

Bila ingin mempunyai penghasilan tanpa batas, tepatnya mencapai kebebasan finansial, terutama di usia muda (katakanlah 30 tahun), seseorang tidak bisa menggantungkan hidupnya dari penghasilan kantoran seumur hidupnya. Seperti yang pernah dikatakan Alva, suami Merry Riana, seorang milyarder muda yang mencapai kebebasan finansial sebelum usia 30 tahun, dalam buku berjudul Langkah Sejuta Suluh: “Setahuku, nggak ada orang yang berhasil kaya raya di bawah usia tiga puluh tahun kalau dia hanya bekerja di perusahaan. Yang memiliki kebebasan finansial di usia muda adalah mereka yang memiliki bisnis sendiri.” Maka, untuk mencapai cita-cita itu, memiliki investasi di bidang properti adalah pilihan tepat.

Jujur saja, sebenarnya sekitar tiga tahun yang lalu, saya pernah mencoba berinvestasi untuk sebuah properti yang terletak di pinggiran Jakarta. Namun sayangnya, saya tidak melakukan perencanaan dengan tepat.  Saya mencicil sebuah kavling apartemen berharga murah, dengan cicilan yang sebenarnya juga murah. Tetapi bagi saya yang saat itu berpenghasilan tidak tetap, sering kali menjadi tidak murah. Waktu itu saya memutuskannya dengan terburu-buru, dan penghasilan saya waktu itu juga tidak menentu, maka hanguslah sudah semua uang yang sudah saya gelontorkan untuk mendapatkan hunian impian itu. Pada saat itu pula salah satu anggota keluarga saya ada yang sakit, begitu pula saya sempat terserang penyakit cukup berat sehingga mengharuskan saya untuk  dioperasi. Selain itu, sebagai pekerja lepas waktu, saya tidak punya asuransi. Jadi, semua dana yang ada habis untuk membiayai penyembuhan kami. Padahal, niat saya, hunian itu bila sudah jadi akan saya sewakan untuk mahasiswa yang banyak bermukim di kawasan tersebut.

Properti Impian saya: bagian dalam serba minimalis! (foto sumber: tourisme-montreal.org)

Properti Impian saya: bagian dalam serba minimalis! (foto sumber: tourisme-montreal.org)

Saya tidak terlalu percaya apabila ada yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan properti impian tidak perlu mengeluarkan dana sepeser pun. Iya kalau kita punya orangtua konglomerat,  atau ada sanak saudara yang berbaik hati meminjamkan uang milyaran. Meskipun kalau memang mendapat durian runtuh, ada orang yang berbaik hati memberikan dana satu trilyun misalnya, sebuah strategi yang baik tetap harus disusun. Tapi, andaikan kita tidak punya orangtua konglomerat, tidak punya sanak saudara yang mau meminjamkan satu milyar, bahkan tidak mendapat durian runtuh, mimpi mencapai kebebasan finansial melalui berbisnis properti tetap tidak boleh dilupakan. Paling tidak, buat saya yang sudah pernah mengalami kerugian puluhan juta, hingga saat ini saya tetap bermimpi suatu hari saya punya beberapa buah properti. Yah, satu di Indonesia, satu di Amerika, dan satu di Eropa. Kedengarannya bulshit banget ya, tapi siapa tahu? Rejeki orang hanya Tuhan yang mengatur.

Strategi sederhana saya saat ini yang mulai bangkit kembali dari kejatuhan, baik itu kejatuhan finansial dan kesehatan adalah:

1. Selalu bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang

Saya bisa tidur nyenyak, bangun pagi di dalam kamar yang berventilasi sehat, memiliki pekerjaan tetap dan asuransi kesehatan, bisa makan tiga kali sehari, punya beberapa stel baju kerja dan baju rumahan, bisa bernafas lega tanpa bantuan tabung oksigen… semua hal-hal kecil yang mungkin terkadang luput dari ingatan, saya usahakan untuk selalu ingat betapa beruntungnya hidup saya. Saya syukuri setiap waktu.

2. Melakukan perencanaan yang tepat

Penghasilan yang saya dapatkan, sebagiannya saya sisihkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan dan transportasi, dan sisanya untuk kebutuhan darurat.  Sisanya lagi, minimal sepuluh persen, harus saya tabung.

3. Menahan diri untuk tidak rakus

Misalnya jika ada sale di sebuah mal, saya kembali mengingatkan diri, “baju-baju yang saya miliki sudah lebih dari cukup. Saya tidak akan membeli yang baru kecuali kalau memang salah satu baju yang saya punya sudah terlihat usang, tidak layak pakai.” Begitu pula dengan kosmetik, peralatan kecantikan, atau parfum. Kalau memang belum habis, dan sudah punya satu, tidak usah beli lebih dari satu.  Sekali beli, saya membelinya yang memang punya kualitas baik.  Dulu saya sudah pernah merasakan hidup mewah, dan manusia tidak akan pernah merasa puas walaupun hidup semewah apa pun.

Properti impian saya: dari luar terlihat klasik! (foto sumber: mapetiteagence.com)

Properti impian saya: dari luar terlihat klasik! (foto sumber: mapetiteagence.com)

4.  Menikmati me time

Me time bagi saya adalah membaca buku dan majalah, serta menulis.  Saya senang menulis artikel traveling, cerpen, blog, dan mengirimkannya ke media massa. Ini juga merupakan salah satu bentuk investasi. Bagi saya, menulis memberikan saya kepuasan batin, karena berbagai rasa yang saya pendam di hati, menjadi plong setelah saya tuangkan ke dalam tulisan.

5. Bersedekah

Dalam sebuah hadits, Rasulullah mengatakan bahwa bersedekah dapat menolak bala, dan dengan bersedekah maka akan dibukakan rejeki dari arah yang tidak kita sangka.  Mau percaya mau tidak, meskipun misalnya penghasilan kita pas-pasan, kalau ada pengamen lewat kita kasih dua ribu perak saja, bisa jadi besoknya tiba-tiba ada yang menawarkan naskah terjemahan, lah. Eh, ini pengalaman saya ya, berhubung saya punya keahlian menerjemahkan.

Strategi lain yang tidak kalah pentingnya adalah menjalin tali silaturrahmi, serta yakin bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Ketiga strategi terakhir ini membuat tulisan saya jadi seperti ceramah agama ya? Ha ha.. Tapi percaya tidak percaya, dengan menerapkan semua strategi yang saya sebutkan ini, alhamdulillah hidup saya jauh lebih baik daripada masa tiga tahun yang lalu. Dan saya percaya, suatu hari mimpi saya mendapatkan properti, dapat saya raih kembali. * * *

 

Daftar Pustaka:

Ng, Clara, Merry Riana. Langkah Sejuta Suluh. PT Gramedia Pustaka Utama, 2014.

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba menulis blog “Mimpi Properti“. Ikutan yuk di sini: Kontes Mimpi Properti.

Iklan

2 thoughts on “Mimpi Punya Properti

  1. Iwan Yuliyanto

    Saya setuju dengan program aksinya, mbak Dina. Gak papa dibilang ceramah agama, karena saya yakin adanya kekuatan invisible hand 🙂

    Memang butuh perencanaan yg matang, dan didalamnya harus meliputi back up finansial untuk emergency case.

    Untuk poin 2, selama dalam koridor persistence dan fokus, nanti akan nampak dengan sendirinya yaitu peluang atau kesempatan yang gak disangka-sangka untuk makin melebarkan pintu rezeki, dan itu berkah. Itulah invisible hand bekerja.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s