Keluarga Ichsan Mashuri dalam Kenangan

keluarga Ichsan Mashuri (ki-ka; Mami, Mbah Kakung, Mbah Putri)

keluarga Ichsan Mashuri (ki-ka; Mami, Mbah Kakung, Mbah Putri)

Saya hendak bercerita tentang keluarga dari pihak ibu, sebelum semuanya hilang dari ingatan. Karena ibu adalah anak tunggal di keluarganya, dan kini semuanya telah tiada. Dulu, Mbah Putri, Mami (panggilan saya untuk ibu saya), suka bergantian bercerita. Mbah Putri bercerita tentang Mbah Kakung, meskipun sedikit. Mami lebih banyak bercerita tentang Mbah Kakung, lalu Mbah Putri. Kini giliran saya menceritakannya dalam bentuk tertulis. Ini adalah sekelumit kisah keluarga kecil mereka yang masih lekat di ingatan saya.

Tentang Mbah Kakung

Mbah Putri, dua sepupu Mami yang masih kecil, Mami, Mbah Kakung menjaga toko batik milik sendiri

Mbah Putri, dua sepupu Mami yang masih kecil, Mami, Mbah Kakung menjaga toko batik milik sendiri

Ichsan Mashuri adalah nama kakek saya dari pihak ibu. Saya belum pernah melihatnya seumur hidup saya kecuali dalam foto-foto kenangan, karena beliau meninggal dunia ketika saya baru berusia satu tahun. Saya ‘memanggilnya’ Mbah Kakung, seperti saya memanggil nenek dari pihak ibu dengan sebutan Mbah Putri. Ibu sering bercerita tentang Mbah Kakung kepada saya. Mungkin itu cara agar saya tahu saya punya seorang kakek yang hebat, yang dibanggakan, dan yang sangat menyayangi saya.

Mbah Kakung berasal dari keluarga berada dan terpandang di sebuah kota kecil di Jawa Tengah bernama Pekalongan. Pekalongan itu sering disebut sebagai kota santri. Ada pula yang menyebutnya kota batik. Dua-duanya memang benar. Penduduk yang tinggal di pusat kota Pekalongan rata-rata bermatapencaharian sebagai saudagar batik. Kota santri, karena seperti kebanyakan kota-kota di pesisir utara Pulau Jawa pada umumnya didatangi oleh para pedagang dari Arab, Gujarat (India) yang beragama Islam. Tentunya, penyebaran agama Islam lebih cepat masuk di kota-kota pesisir tersebut, termasuk Pekalongan. Termasuk keluarga Mbah Kakung.

toko batik Mahameru menjadi kebanggaan Mbah Kakung, yang kini tinggal kenangan

toko batik Mahameru menjadi kebanggaan Mbah Kakung, yang kini tinggal kenangan

Ibu berkata, “Setiap pergi ke sekolah, hanya Mbah Kakung sendiri yang pakai sepatu. Sepatunya disemir liciin sekali.” Pada zaman itu, anak-anak yang bersekolah banyak yang tidak beralas kaki. “Rumah bapak ibunya Mbah Kakung besar, seperti rumah Belanda.” Tetapi, sayangnya saya tidak pernah mengunjungi rumah kakek nenek buyut saya itu. Saya lupa, entah sudah dijual, atau sudah dijadikan gudang.

Sosok Mbah Kakung yang saya kenal dari foto-foto album lama, adalah seorang pria berperawakan jangkung, agak kurus, dengan wajah setengah Arab. (Tapi, saya sendiri tidak ada wajah Arabnya, tuh, ha ha..).  Wajah Mbah Kakung yang agak Arab malah diturunkan ke kakak laki-laki saya melalui hidung mancung dan kulit putihnya. Tetapi, saya dan ketiga kakak saya memang semuanya bertubuh jangkung dan nggak pernah bisa gemuk, alias kurus, he he he.

Kata ibu saya, Mbah Kakung adalah orang yang sangaaaat sangaaaat rapiiih. Baik itu penampilannya, hingga segala barang-barang miliknya selalu dirawat dengan sangaaat telaten. Mungkin istilahnya zaman sekarang, sangat terobsesi dengan kerapihan. Ibu saya bilang, saya mewariskan sifat rapih itu dari beliau. Bedanya, saya agak cuek sama penampilan, he he… (maklum tinggal di Jakarta gitu loh ya, naik bus dan angkot ke mana-mana ;p).  Mbah Kakung bisa merasa sangat sebal kalau ada orang yang berani-berani menyentuh atau meminjam barang-barang miliknya, lalu dikembalikan dalam keadaan lecek, kumal, lusuh. Bahkan, Mbah Putri saja suka dimarahi kalau barang-barang miliknya berantakan, hi hi hi.  Setiap pagi sebelum menjaga toko batik, Mbah Kakung selalu menyetrika kemejanya hingga licin. Lalu, beliau menyisir dan membubuhkan minyak pada rambutnya. Setelah itu, kedua sepatunya dari bahan kulit (kata ibu, sepatu kulitnya termasuk sepatu mahal pada zaman itu) akan disemir sampai mengkilat. Serius, benar-benar mengkilat, kinclong!

Mbah Kakung sangat menyukai kerapihan. Toko batik miliknya yang dikelolanya sendiri sangat rapi dengan dekorasi yang juga ditatanya sendiri.

Mbah Kakung sangat menyukai kerapihan. Toko batik miliknya yang dikelolanya sendiri sangat rapi dengan dekorasi yang juga ditatanya sendiri.

Mbah Kakung juga pencinta seni. Beliau mempunyai kegemaran mendengarkan musik klasik dari piringan hitam. Koleksi piringan hitamnya selalu rajin dibersihkan dari debu dengan kain lap. Mbah Putri dilarang untuk menyentuh piringan hitamnya itu meskipun niatnya baik untuk membersihkan, karena pasti akan dikomentari Mbah Kakung, kurang bersih, ha ha ha.. Sifat kedua ini pula yang diturunkan kepada saya, seperti kata ibu. Saya juga sangat mengagumi karya-karya seni, seperti lukisan dan musik, terutama yang beraliran klasik. (Tapi koq kalau jiwa dagangnya tidak menurun ke saya ya ;p).

Mbah Kakung meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan bus di jalan raya, dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Pekalongan, pada tahun 1982. Kata ibu, pagi-pagi sebelum Mbah Kakung berangkat, saya dan kakak laki-laki saya, digendongnya bergantian dan agak lama. Ibu berkata dalam bahasa Jawa, yang kira-kira artinya begini, “Sudah tho, Pak, jangan lama-lama digendongnya nanti keenakan.”

Tentang Mbah Putri

Mbah Putri berasal dari kalangan keluarga biasa-biasa saja, tidak terlalu kaya, tetapi juga tidak melarat. Mbah Putri mempunyai saudara kandung banyaaak sekali, tapi sayangnya banyak yang meninggal di usia muda, bahkan ada yang masih bayi karena sakit. Ibu saya pun waktu kecil katanya suka sakit-sakitan, maka seperti kebiasaan orang zaman dahulu pada umumnya, namanya pun diganti agar penyakit-penyakitnya hilang. Saya lupa apa ya nama aslinya ibu saya.. nanti deh kalau sudah ingat saya tulis di sini. Pastinya sih lebih nJawani dan rada-rada ndeso daripada namanya yang sekarang: Nany. Keren, ‘kan? 😉 Kalau nama Mbah Putri, Azizah.

Mbah Putri Azizah, gemar memasak dan menjahit

Mbah Putri Azizah, gemar memasak dan menjahit

Mbah Putri punya hobi memasak dan menjahit. Beliau sangat sangaaat berbakat di kedua bidang itu. Saya masih ingat, sewaktu kecil, Mbah Putri sering sekali main ke Jakarta. Kalau sudah di Jakarta, Mbah Putri suka membuatkan berbagai macam penganan khas Jawa untuk cucu-cucunya, seperti Kue Apem, Martabak, lalu.. apa lagi ya, mungkin Corobikang juga pernah. Tapi, yang paling saya ingat ya Kue Apem dan Martabak itu, karena bahan-bahannya sangat gampang didapat. Ya dari sisa-sisa bahan yang ada di kulkas saja, seperti telur, daging, daun bawang.  Membuatnya juga mudah. Tapi, mungkin karena dibuatnya dengan cinta, rasanya koq enak-enak semua ya :).

Oya, Mbah Putri sering sekali main ke Jakarta, itu karena Mbah Putri orangnya ‘tukang jalan’, sama seperti saya ;p. Mbah Putri nggak bisa diam di rumah, setiap hari pasti adaaa saja yang dikerjakannya. Selain menjahit atau memasak, beliau aktif pergi ke Ma’had (nama sekolah Islam terkenal di Pekalongan) untuk ikut organisasi, atau pengajian. Lalu, beliau suka sekali plesir-plesir ke luar kota, seperti Jogja, Semarang, bahkan.. di usia yang lanjut, beliau pernah nekad pergi ke Dieng! Padahal waktu itu Mbah Putri sudah punya penyakit jantung. Saya masih ingat ibu saya yang rada mengomel di telepon dalam bahasa Jawa (yang lagi-lagi saya artikan karena takut salah ;p), “Bu, Bu, koq nekat sih pergi ke Dieng! Perginya sama siapa, ngapain aja di sana!” Tapi Mbah Putri malah terkekeh-kekeh di telepon.

Mbah Putri sangat berbakat dalam menjahit, meskipun tidak mengenyam pendidikan menjahit secara formal. Ya, beliau pernah sih sekolah Kartini hingga selesai, tetapi kata ibu keterampilan menjahit Mbah Putri memang alami. Setiap kali melihat ada baju dengan disain yang unik atau cantik, baju itu lalu dibelinya, lalu dibuka semua jahitannya, untuk dibuatkan pola. Maka itu, baju-baju yang dikenakan ibu saya semasa remaja selalu modis, karena sebagian besar hasil jahitan Mbah Putri sendiri.

Mbah Putri meninggal dunia pada tahun 2007 karena penyakit jantung yang dideritanya sejak saya masih duduk di kelas 4 SD.

*

Mami bersama teman-teman satu kos di Bandung yang juga masih saudara

Mami bersama teman-teman satu kos di Bandung yang juga masih saudara (hayo yang mana ibu saya? ;D)

Kini, ibu juga telah tiada. Ibu berpulang pada tanggal 20 Agustus 2013 yang lalu karena penyakit stroke yang dideritanya sejak tahun 2006. Menurut dugaan sepupu saya yang spesialis THT, kemungkinan ibu meninggal diakibatkan silent aspiration, yaitu lemahnya katup antara laring dengan faring yang menyebabkan cairan dari saluran pencernaan masuk ke paru-paru. Yang jelas, ibu meninggal dalam tidur. Kami semua tidak tahu persis jam berapa beliau dipanggil oleh Allah SWT, karena pada pukul 4 pagi, ibu tidak bangun seperti biasanya. Ayah saya yang hendak tahajud berniat membangunkan ibu untuk menanyakan apakah ibu mau pipis atau mau minum susu, seperti biasanya setiap fajar menjelang. Tetapi, ibu tidak bangun. Ibu tidur untuk selamanya dengan tenang.

Kini, keluarga kecil Ichsan Mashuri telah berkumpul semuanya di alam sana. Semoga mereka berbahagia karena akhirnya dapat bertemu lagi dan bersama-sama. Selamat jalan, Mbah Kakung, Mbah Putri, Mami…

 

Iklan

One thought on “Keluarga Ichsan Mashuri dalam Kenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s