Sate 10 Juta

Sate 10 ribu, berobatnya 10 juta! (foto sumber : wikipedia)

Sate 10 ribu, berobatnya 10 juta! (foto sumber : wikipedia)

Sakit diare kedengarannya biasa. Tapi, bagaimana kalau sakit diare menyebabkan Anda harus dirawat inap di rumah sakit, plus tidak bisa menikmati gurihnya opor ayam, rendang dan ketupat di Hari Raya Lebaran?

            Sudah lama nggak jadi anak kos, dan sudah lama tidak mencicipi hidangan kaki lima di pinggir jalan. Apalagi, tinggal di Eropa cukup lama membuat perut saya tidak bisa lagi menyantap sembarang makanan. Namun, ketika kesempatan itu datang, terutama pada bulan puasa ketika jajanan justru bertebaran lebih banyak daripada biasanya, saya seperti orang kalap. Lagipula, waktu itu saya berpikir, sudah tiga tahun juga saya tinggal di Indonesia, mosok perut masih mau dimanja?

            Pertama-tama, saya tergiur jajan bakso dan batagor kaki lima di tepian Plaza Indonesia, selepas berbuka. So far so good. Tidak ada reaksi pada perut saya. Beberapa hari berikutnya, saya kembali tergoda untuk jajan gorengan di dekat kosan saya di daerah Kuningan, plus minuman dingin dari warung sebelah. Hebatnya, saya juga tidak makan nasi. Menyantap lima buah gorengan bertepung tebal saja rasanya sudah kenyang. Syukur, perut saya sepertinya mau bersahabat. Saya bisa menjalankan aktifitas seperti biasa keesokan harinya. Lalu, sorenya, saya ingin mencoba jajanan yang lain. Berhubung kantong juga sudah menipis, saya pun memilih jajanan yang murah meriah, tapi mengenyangkan. Jadilah saya membeli sop buah sebagai hidangan yang manis-manis, dan… 10 tusuk sate ayam yang harganya hanya 10 ribu rupiah! Lengkap pakai lontong tiga bungkus pula! Wah, wah, jajanan kaki lima berasa hidangan surga!

            Namun, pagi-pagi buta menjelang sahur, tiba-tiba badan saya terasa seperti orang masuk angin. Ketika duduk di kloset, tahu-tahu saya ingin BAB. Lalu, baru saja hendak menyendok santapan sahur, aroma masakan Cina dari katering langganan saya yang biasanya terasa begitu lezat, kali ini menyeruak hingga ke lambung, menimbulkan rasa mual hebat. Cepat-cepat saya masukkan kembali makanan itu ke bungkus plastik, saya ikat kuat-kuat agar aromanya tidak keluar dan tidak membuat saya muntah. Lalu, segera saya serobot sisa pisang goreng kemarin sore, walaupun dengan sangat lambat. Bahkan, setengahnya saja masih bersisa. Saya langsung berpikir, “Ada apa ini? Mosok saya jadi nggak puasa? Tapi, eneg banget rasanya…” . Dan, subuh-subuh, saya kembali BAB.

            Saya pikir, ini diare biasa. Namun, seharian diare saya tidak kunjung berhenti. Bahkan, saya nekat pergi ke Lippo Karawaci untuk mengambil hadiah. Karena saya tidak jadi puasa, saya pikir ya sekalian saja, daripada harus menunggu sehabis Lebaran. ‘Kan, bisa makan di jalan. Tapi ya itu, sepanjang perjalanan hingga balik ke kos, diare saya tidak kunjung reda. Saya pikir apa saya masuk angin, sampai-sampai saya minta dikerokin sama bibi penunggu kos supaya sembuh. Eh, malam harinya saya malah meriang dan tidak bisa tidur, disusul diare yang entah keberapa kalinya di pagi hari. Jadilah, tubuh saya lemas sekali, yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk ke rumah sakit. Padahal seharusnya pagi itu jadwal saya mengajar.

            Karena pagi-pagi dokter umum belum ada, saya langsung dibawa ke UGD. Melihat wajah saya yang sangat pucat, dokter UGD pun memutuskan memberi saya infus di tangan. Selang dua jam kemudian, dari hasil tes darah, dokter menyatakan saya harus dirawat inap karena kadar Kalium saya yang turun drastis. Padahal, hari itu sudah H-5 menjelang Lebaran! Oh, noartinya apakah saya akan ber-Lebaran di rumah sakit? Pikir saya sedih. Parahnya lagi, selain diare yang masih berlanjut, kadar trombosit saya menurun, meskipun dalam batas normal. Teman, kolega, keluarga yang mengetahui kabar saya dirawat inap, langsung pada berkomentar:

            “Sate ayam 10 ribu? Ayam apa itu, ayam mati?”

            “Kalau daging murmer harus hati-hati, plus dipanggang. Itu jadi pelajaran mahal, tuh!”

“Loe mikir nggak, sih, jaman sekarang beli sate 10 tusuk cuma 10 ribu! Lah, tusuk satenya aja satu batang seribu!”

“Gara-gara 10 ribu, berobatnya 10 juta, hahaha…” 

            Untungnya, pada hari ketiga opname, diare saya berhenti. Sehingga hari keempat, saya boleh keluar dari rumah sakit. Artinya, saya bisa ber-Lebaran di rumah. Persis H-1 saya pulang ke rumah orangtua tercinta. Namun, dokter dan perawat mewanti-wanti saya untuk tidak menyantap makanan bersantan dulu selama beristirahat di rumah. Artinya, no opor, no sambal goreng, no lodeh, oh.. oh..

        Tapi, namanya juga pasien bandel, selama orang-orang rumah melaksanakan ibadah sholat Ied, saya yang ditinggal di rumah mengendap-endap menyantap setengah porsi ketupat lengkap beserta ‘hidangan wajib Lebaran’ lainnya, he he he… Alhasil, pagi itu saya kembali diare, meskipun tidak separah di rumah sakit, sih. Habisnya gimana, biasanya saya menganggap opor dan ketupat sudah terlalu biasa untuk Lebaran, tapi kali ini hidangan itu terasa menjadi begitu spesial buat saya, yang kalau belum dimakan, rasanya belum klop Lebarannya. ***

Iklan

8 thoughts on “Sate 10 Juta

  1. Anna

    Aku malah bosen sama masakan lebaran,Din.Pas bukber udah dicekokin makanan2 Indonesia yg berat2,apalagi 10 Ramadhan terakhir udh berniat mau memaksimalkan konsumsi makanan organic aja.Makanya sepulang shalat Ied eike malah masak Mie Organic-nya IPB trus hari ke-2 lebaran dinner masakan Korea di MKG sm Mba Yuli 😀

    Balas
  2. Ping balik: Dengue dan Herpes: Awalnya Hanya Gara-Gara Menganggap Sepele! | "Rumah Corat-Coret" Punya Dina

  3. Ping balik: Pasca Rawat Inap dan Operasi, Lalu Apa? | "Rumah Corat-Coret" Punya Dina

  4. deborahmonalisa

    Waktu saya kerja kantoran saya juga sering tuh mbak makan seadanya aja dan makan sembarangan di pedagang kaki lima tanpa lihat2 dulu makanannya bersih/sehat atau ngak, alhasil saya sering diare dan maag kambuh. Setelah ga kerja kantoran dan lebih banyak makan makanan rumah, malah jarang maag dan diare..tapi memang makanan pedagang kaki lima selalu menggoda apalagi harganya murah..hehehhe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s