Serunya Writing Clinic Bersama Majalah Femina

Hari Sabtu tanggal 1 Juni 2013 menjadi begitu menyenangkan buat saya, karena saya terpilih menjadi salah satu peserta klinik menulis (writing clinic) yang diselenggarakan majalah wanita yang dibaca oleh mayoritas perempuan Indonesia, yaitu majalah Femina. Di writing clinic ini, saya juga berkesempatan bertemu dengan dua tokoh penulis kenamaan Indonesia, yaitu ibu Leila S. Chudori dan Iwan Setyawan. Kalian semua, terutama yang senang membaca novel, pasti sudah tidak asing lagi dong dengan kedua nama ini :).

Peserta Writing Clinic majalah Femina 2013

Peserta Writing Clinic majalah Femina 2013 bersama tim redaksi Femina dan dua bintang tamu (Leila Chudori & Iwan Setyawan)

Acara yang berlangsung hampir seharian (dari jam 9 pagi hingga jam 2 siang) bertempat di Aula Serbaguna gedung Femina di Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan.  Mayoritas peserta berasal dari kalangan blogger, meskipun ada juga yang sudah pernah menghasilkan sebuah novel. Dan, nyaris semua pesertanya adalah perempuan :). Femina benar-benar menghargai wanita, deh. Selain itu, acara ini juga menghadirkan para pemenang Sayembara Mengarang Cerpen dan Cerber Femina tahun 2012, yang menulis karya-karya yang memuat unsur lokalitas atau daerah, seperti  di Aceh dan di Sanggau, Kalimantan Barat.

Sesi Teori Menulis bersama Ibu Leila Chudori

Writing Clinic diawali dengan pemberian teori menulis yang dipaparkan oleh ibu Leila S. Chudori. Tulisan-tulisan ibu Leila pernah saya baca sewaktu masih kecil ketika ayah saya masih berlangganan majalah Tempo. Ibu Leila memang pernah menjadi wartawan senior di majalah tersebut yang mayoritas didominasi wartawan laki-laki. Lalu, ibu Leila juga menulis sebuah novel berjudul Pulang yang menceritakan kisah seorang narapidana politik yang dituduh terlibat PKI. Proses penulisan novel tersebut memakan waktu enam tahun, dengan kerangka awal disusun pada tahun 2006, dan naskah akhir diselesaikan pada tahun 2012. Hm.. menulis novel yang berkualitas memang membutuhkan kesabaran!

pemenang sayembara cerpen cerber femina 2013 berpose bersama ibu Leila Chudori dan Redaktur Femina

pemenang sayembara cerpen cerber femina 2013 berpose bersama ibu Leila Chudori (tengah) dan Redaktur Femina (kanan)

Ibu Leila yang juga menjadi juri sayembara Cerpen dan Cerber Femina tahun 2012 memberikan sedikit clue pada siapa pun yang ingin agar karya fiksinya dimuat atau menang sayembara Femina. Petunjuk itu antara lain tokohnya sebaiknya seorang wanita aktif yang modern, kisahnya mengangkat harkat wanita, tulisannya menggunakan bahasa yang mudah dicerna, dan isinya menghibur para pembaca yang mayoritas wanita. Ibu Leila pun berbaik hati menjelaskan dengan singkat pada para peserta tentang perbedaan karya sastra dan populer. Pada karya sastra, ditekankan unsur deskripsi untuk menjelaskan sifat, ruangan, benda, sehingga pembaca dapat membayangkannya seperti dalam sebuah film. Sementara itu, karya fiksi populer, disebutkan secara gamblang sifat, benda, dan ruangan.

Gelak Tawa penuh Makna bersama Iwan Setyawan

Sesi kedua diisi oleh Iwan Setyawan, yang menulis semi-otobiografi 9 Summers 10 Autumns dan sudah difilmkan. Karena sudah siang, mas Iwan membawakannya dengan gaya santai dan kocak yang sering mengundang tawa peserta. Maksudnya supaya para peserta tidak mengantuk. Mas Iwan sendiri dulunya tidak suka membaca novel, karena menurutnya kisah-kisah dalam novel dianggap bulshit, ha ha :D. Kemudian, ada salah seorang kawannya di New York yang mengenalkan novel karya J.D. Salinger berjudul “Catcher in the Rye“, dan kisah di novel tersebut seperti menggambarkan kehidupannya saat itu yang merasa gelisah. Tokoh dalam novel itu seolah-olah hendak berkata, “I’m fine, thanks,” padahal sebenarnya dalam diri mereka merasakan kegelisahan yang luar biasa. Lalu, mas Iwan mulai ketagihan membaca novel-novel karya sastrawan kenamaan lainnya seperti Franz Kafka dan Orhan Pamuk. Mas Iwan pun jadi sering menghabiskan waktu luangnya duduk sendirian di kafe sambil baca buku. Bahkan ia mengatakan bahwa itulah arti keren yang sebenarnya, keren yang bukan hanya gaya-gayaan tapi keren yang punya intelektualitas.

Iwan Setyawan menceritakan dengan penuh semangat pengalaman hidupnya, sampai-sampai mba redaksi Femina terpukau :D

Iwan Setyawan menceritakan dengan penuh semangat pengalaman hidupnya, sampai-sampai mba redaksi Femina terpukau 😀

Oya, bagi yang belum tahu siapa itu Iwan Setyawan (kebangetan, deh.. pasti doi akan bilang begitu dengan logat Jawa medhok, ha ha :D), dia adalah anak sopir angkot dari kota Batu, Malang, yang berjuang melepaskan diri dari belenggu kemiskinan dengan terus meraih prestasi sehingga akhirnya menjadi Direktur Internal perusahaan Nielsen Consumer Research yang berbasis di New York, Amerika Serikat.

Sepulangnya dari kota The Big Apple, mas Iwan ingin membuat hidup orang lain lebih berarti dengan melakukan sesuatu yang berarti. Antara lain, dengan menuliskan perjalanan hidupnya menjadi sebuah buku. Dari judulnya, 9 Summers 10 Autumns, artinya ada satu musim yang kurang, yang menyiratkan selalu ada yang kurang dalam hidup kita, dan dengan puitis mas Iwan menjelaskan bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan menutupi lubang-lubang dalam hati kita. Berkat buku tersebut, ada salah seorang alumni UI bernama Mardi yang mengirim e-mail pada mas Iwan, menceritakan bahwa ia juga seorang anak sopir angkot yang kemudian berhasil mendapatkan beasiswa program Master ke San Francisco, Amerika Serikat, karena terinspirasi dari kisah hidupnya. Semoga kisah mas Iwan terus menginspirasi jutaan anak Indonesia lainnya agar terlepas dari jerat kemiskinan dan kebodohan :). ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s