Jadi Wanita Tangguh Berkat Women Self Defense Class

"Ciaat...!" peserta Women Self Defense Class beraksi melakukan tendangan

“Ciaat…!” peserta Women Self Defense Class beraksi melakukan tendangan

Mempelajari ilmu bela diri dasar sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan seperti dalam film Karate Kid. Paling tidak, itulah yang saya alami ketika mendapatkan pembekalan kemampuan self-defense (pertahanan diri) selama setengah hari di kafe Coffee Breath, Kemang, Jakarta. Ilmu self-defense ini merupakan kombinasi teknik-teknik dasar kemampuan membela diri bagi wanita dari serangan apabila menghadapi ancaman bahaya di tempat-tempat umum maupun di lokasi yang sepi, karena tindak kekerasan terhadap wanita bisa terjadi di mana saja, loh. Ancaman bahaya yang dimaksud seperti kecopetan, penjambretan, penodongan, bahkan tindakan pelecehan sekali pun. Karena, sayangnya, wanita masih sering diidentikkan sebagai makhluk lemah.  Padahal, semua yang terdapat pada tubuh wanita, bisa dijadikan senjata pertahanan diri, seperti kuku tangan, kaki, kepalan tangan, bahkan jepit rambut, tas, payung.

Teh Irma memberikan pembekalan psikis (ki-ka: Meuthia Esfand, Merry Magdalena, Irma Rahayu)

Teh Irma memberikan pembekalan psikis (ki-ka: Meuthia Esfand, Merry Magdalena, Irma Rahayu)

Dua jam pertama, pembekalan secara psikis diberikan oleh Teteh Irma Rahayu, yang berprofesi sebagai soul-healer. Teh Irma memberikan wejangan mengenai pengaruh energi baik dan buruk terhadap lingkungan dan kehidupan kita sehari-hari. Maksudnya, nih, jangan mentang-mentang sudah belajar ilmu dasar persilatan lantas menjadi belagu dan sok jaguan, lalu ingin pamer. Setiap kali melihat gelagat yang tidak beres, langsung main tinju. Jangan pula ilmu dasar pertahanan diri yang sudah dipelajari dijadikan sebagai sarana untuk pembalasan dendam, karena itu berarti mengundang energi buruk untuk selalu menghampiri kita. Teh Irma memberikan contoh ada dua orang yang belajar ilmu bela diri. Yang satunya tidak pernah diganggu, namun yang satunya diganggu melulu. Yang diganggu ini lalu melapor ke Teh Irma, “Tuh, kan, Teteh, ilmu gue kepake.” Padahal, niat orang tersebut dari awal sudah tidak benar, yaitu ingin mempraktikkan ilmunya, ingin menghajar siapa pun yang tampak kurang ajar, ingin membuktikan ketangguhannya.

Oleh karena itu, Teh Irma mengajak para peserta untuk meluruskan niat mempelajari ilmu self-defense ini semata untuk membekali diri dengan metode soul-healing a la Teh Irma. Metode ini digunakan untuk mengeluarkan energi-energi negatif yang tertahan dalam tubuh kita dengan cara yang benar, seperti menangis, berteriak, lalu berdo’a bersama. Pokoknya mantap, deh.

Tiga jam berikutnya masuklah ke sesi inti, yaitu berlatih berbagai teknik self-defense yang mudah dan praktis, dipandu oleh Muthia Esfand, aktifis Women Self Defense yang memiliki keahlian bela diri a la Indonesia. Apalagi kalau bukan pencak silat. Ah, ternyata ada Iko Uwais versi wanita yang terpendam selama ini :). Dilihat dari tubuhnya sih, kecil dan pendek, tetapi perawakannya memang jauh lebih kekar daripada saya yang kutilang darat (kurus-tinggi-langsing-dada-rata), ha ha. Di dalam sesi inti ini juga diberitahukan beberapa titik lemah pada manusia yang bisa dijadikan sasaran tangkisan dari kita sebagai korban. Melihat beberapa aksi menangkis dan menyerang, saya jadi teringat pada film-film laga Hollywood maupun Hong Kong yang pernah saya tonton. Ternyata titik-titik lemah itu memang benar ada, karena saya sering melihat di setiap adegan perkelahian yang diserang pasti di seputar wilayah tersebut.

Buku panduan "Women Self Defense" yang ditulis oleh Muthia Esfand, instruktur Women Self Defense Class

Buku panduan “Women Self Defense” yang ditulis oleh Muthia Esfand, instruktur Women Self Defense Class

Selain berlatih berpasangan, setiap peserta juga diminta melakukan serangan pada benda empuk menyerupai bantal yang dibawa Muthia (namun lebih kokoh), untuk mengetahui kekuatan pukulan dan tendangan kita. Huah, ternyata melakukan pukulan dan tendangan yang menghasilkan bunyi ‘buk’ itu perlu  mengerahkan segenap tenaga dari dalam tubuh kita juga. Bagus juga buat saya yang mudah sekali kehabisan tenaga :p. Apalagi tendangan dengan menggunakan dengkul lebih sulit daripada kaki atau tangan apabila tidak terbiasa, karena bunyi ‘buk’ yang dihasilkan biasanya lebih lemah.

Sesi terakhir, Muthia yang juga menerbitkan buku pedoman  “Women Self Defense” ini menyarankan agar kita terus berlatih sendiri di rumah, karena kalau hanya sekali belajar maka akan cepat lupa. Latihan self-defense ini juga bermanfaat untuk melatih otot-otot kita agar tidak lemas, sehingga bagus dan praktis digunakan sebagai alternatif berolahraga. Well, jadi wanita tangguh, kuat dan sehat zaman sekarang memang perlu, jadi… merdekalah dari rasa takut! ***

Terima kasih untuk teh Irma dan mba Merry yang sudah mengenalkan saya pada dunia soul-healing dan women self defense 🙂

Iklan

One thought on “Jadi Wanita Tangguh Berkat Women Self Defense Class

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s