Badminton, Olahraga Merakyat Yang Memudar Pamornya?

Konon ini raket Taufik Hidayat punya, loh!

Konon ini raket punya Taufik Hidayat, loh!

Masih terkenang zaman saya masih kecil dulu, olahraga badminton, atau dulu kami menyebutnya bulutangkis, merupakan olahraga yang digemari saya dan keluarga. Setiap hari Minggu pagi, di jalanan beraspal depan rumah, ayah saya pasti mengajak anak-anaknya berolahraga. Dan dibandingkan lari, berenang, atau naik sepeda, saya lebih memilih main bulutangkis, karena saya ini orangnya pemalu. Kalau lari atau naik sepeda ‘kan harus mengelilingi kompleks, harus bertegur sapa dengan siapa pun yang ditemui kalau nggak mau dibilang sombong. Buat saya yang kala itu sangat pemalu, melakukan tata krama seperti itu adalah hal yang merepotkan, he he.. Maka, kalau ditawari beberapa jenis olahraga, yang langsung saya sambar adalah bulutangkis. Saya langsung sambar juga koleksi raket yang tersimpan di atas lemari baju kakak saya, sekaligus tabung panjang berisi shuttlecock. Dulu, koleksi raket yang kami miliki lumayan awet dan tahan lama, mulai dari raket tidak bermerk sampai dengan raket bermerk terkenal.

Ternyata, bermain bulutangkis tidak hanya kami yang menggemari, tetapi tetangga-tetangga yang rumahnya bersebelah-sebelahan dengan kami, ikut nimbrung bermain bersama. Jadi, ini ‘kan ajang perkenalan dan temu sapa dengan tetangga yang lebih efektif daripada sekadar basa-basi, he he he.. Atau, sesekali kami yang bergabung bermain bersama mereka. Bahkan, pada sore hari sepulang sekolah, saya terkadang memperhatikan mbak-mbak PRT juga ikutan main bulutangkis, loh! Hebat, ‘kan, daripada nongkrong nggak jelas di depan rumah majikan sambil bergosip majikan-majikan tetangga, huehehe…

Tidak hanya di ibukota, permainan bulutangkis pun sering saya temui sewaktu dulu saya masih rutin mudik ke Jawa bersama keluarga. Di halaman pendopo rumah khas Jawa Tengah milik eyang, saya bersama cucu-cucu eyang lainnya meramaikan Lebaran dengan bermain bulutangkis. Juga di petak-petak lapangan lainnya yang saya temui selama perjalanan mudik dengan mobil. Bisa dikatakan, olahraga bulutangkis adalah olahraga yang merakyat, mau di kota, mau di desa, semuanya tidak merasa jengah untuk bermain. Semuanya senang, semuanya bergembira. Dan, euforia akan bulutangkis tidak berhenti sampai di situ.

Taufik Hidayat memenangkan Djarum Indonesia Open hingga 6 kali! (foto sumber sport.news.viva.co.id)

Taufik Hidayat memenangkan Djarum Indonesia Open hingga 6 kali! (foto sumber sport.news.viva.co.id)

Zaman keemasan Susi Susanti dan Alan Budikusuma, zaman penuh mendebarkan pasangan Ricky Subagdja dan Rexy Mainacky, hingga zaman yang lebih banyak unsur hiburan alias gosip daripada prestasi sewaktu Taufik Hidayat masih ‘meledak-ledak’ darah mudanya, hihihi..  (Maaf, Taufik, sekarang kamu hebat koq, bahkan terus menorehkan prestasi di usia yang sudah tak lagi muda dibanding pemain-pemain yang lebih muda 🙂 ). Namun toh, semua pemain itu menjadi pemain favorit yang selalu dikenang rakyat Indonesia. Saya masih ingat, setiap pemirsa di seluruh Indonesia pasti sudah siap mantengin layar televisi, rela memindahkan saluran ke pertandingan badminton daripada menonton infotainment atau berita politik yang nggak jelas, sementara camilan dan geplakan nyamuk sudah disiapkan, dan obat nyamuk bakar sudah dinyalakan.  Bahkan, saya masih ingat betul, adik dari mendiang kakek saya, menjadi almarhum gara-gara saking deg-degannya menunggu detik-detik kemenangan pasangan Ricky dan Rexy di Olimpiade Atlanta tahun 1996. Ini serius!

Kaus Badminton Kebanggaan untuk Atlet Indonesia!

Kaus Badminton Kebanggaan untuk Atlet Indonesia!

Dulu, pemain bulutangkis—atau sekarang lebih sering kita sebut badminton—minim fasilitas daripada sekarang. Tetapi, daya juang para pemain badminton ini begitu hebat! Meskipun minim fasilitas, minim sponsor, minim biaya tunjangan, hal itu malah memperkuat mental mereka untuk menjadi pemain yang tahan banting—terbanting di lapangan berkali-kali, maupun terbanting dalam hal finansial—demi kecintaan mereka mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia. Meskipun dalam catatan sejarah, Indonesia masih mengukir gelar lebih banyak daripada Cina (Indonesia 74 gelar, Cina 34 gelar), bukan berarti kita bisa santai-santai sejenak dahulu, ‘kan, menunggu Cina membalap prestasi kita? Apalagi Djarum, produk asli Indonesia, mendukung penuh dengan memberikan total hadiah sebesar 650.000 USD bagi siapa pun yang berhasil memenangkan kejuaraan Djarum Indonesia Open Super Series tahun ini! Sungguh sayang jika hadiah sebesar itu tidak dimenangkan oleh atlet dari negeri kita sendiri. Perhelatan akbar tahunan ini bahkan mendapat pujian dari Federasi Badminton Dunia (World Badminton  Federation)sebagai pertandingan terbaik dibandingkan turnamen-turnamen sejenis di beberapa negara karena berhasil menggabungkan unsur kompetisi dengan hiburan. Berkat pujian itu, level pertandingan ini ditingkatkan menjadi superseries premier. Hebat, ‘kan? Sayang, kalau hiburannya sudah bagus-bagus (penonton Indonesia selalu dianggap paling meriah dan heboh dalam memberikan dukungan kepada para atlet), tetapi atlet Indonesia tidak ada satu pun yang menang?

Dukung badminton sebagai kebanggan bangsa!

Saya ingin masa itu berulang kembali, saat channel-channel televisi dipindahkan ke saluran pertandingan badminton, orang-orang bersiap-siap duduk manis di depan layar televisi di dalam rumah, di pos kamling, di rumah pak RT, demi memberi dukungan bagi para atlet Indonesia yang mereka cintai. Tetapi tidak perlu sampai ada yang almarhum ya, he he he.. Ayo bangkitlah pemain-pemain muda, jangan sampai kemewahan fasilitas memanjakan kalian. Saya, sebagai salah satu dari ribuan rakyat Indonesia, melalui Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2013, akan  menagih janji prestasi dari kalian, ya! Viva Indonesia! ***

Sumber Bacaan:

1. Wow, Indonesia Open Lebih Baik dari All England

2. Djarum Indonesia Open 2013 menurut World Badminton Federation

3. Sejarah Djarum Indonesia Open

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s