“Bergaul” dengan Yahudi

pintu gerbang menuju dalam kamp Auschwitz dgn semboyan Nazi yg terkenal Arbeit Macht Frei atau Working makes you free (Oswiecim, Poland, 2009)

Ketertarikan saya sama Yahudi sudah lama banget sebenarnya… bahkan mungkin sejak saya menginjakkan kaki di tanah Palestina zaman tahun 1992 lalu. Tapi berhubung waktu itu saya masih ABG, yang saya inget adalah tampang-tampang orang-orang Yahudi yang guanteng-guanteng dan chuantik-chuantik, hehe.. walaupun emang sih, harus saya akui, mereka angkuh nian menghadapi kita-kita rombongan umroh ini yang mengantri untuk diperiksa di pos perbatasan. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang nggak pake senyum sedikit pun. Waktu itu pas lagi masa-masa damainya antara Israel dan Palestina, walaupun di mana-mana di sepanjang daratan Palestina yang saya lalui memang sudah tampak beberapa petak tanah yang dipasangi bendera bintang David. Oya, bahkan bokap mengomentari salah satu petugas yang memeriksa paspor kami di dalam bus saat memasuki perbatasan dari Yordania, gantengnya seperti Mac Gyver :p. Kalau si Mac Gyver ini dia malah tebar senyum ke mana-mana…

Terus, berhubung minat dan kuliah saya ini berbau-bau Eropa, yang mau nggak mau membahas juga tentang PD 2 (perang dunia kedua) dan kekejaman Nazi terhadap orang Yahudi, jadinya makanan saya adalah film-film dan buku-buku yang membahas tentang itu. Salah satu film yang masih lumayan membekas di benak saya adalah filmnya Anne Frank buatan Inggris (saya lupa judul persisnya, tapi salah satu pemainnya yang jadi bokapnya Anne itu yang pernah maen di film Ben Hurr). Tapi sejujurnya sih, saya ini memang tipe orang yang agak-agak “out of standard” dan melawan arus. Kalau sebagian besar orang membenci atau tidak suka sesuatu hal, justru hal itu bikin saya jadi penasaran dan bertanya-tanya, kenapa benci, kenapa nggak suka, de-el-el.

Yahudi dan Michael

Well, cerita pun berlanjut. Kebetulan, salah seorang teman sesama program saya, Erasmus Mundus CLE (Cultures Littéraires Européennes – Budaya Sastra Eropa), adalah orang Amrik keturunan Yahudi. Namanya Michael Benjamin Brown. Orangnya, saya akui, ganteng, dengan kulit putih yang ‘gak biasa’ (klo kulit putih orang bule kan biasanya suka sprooten ato ada bintik-bintiknya), rambut gelap menjurus ke hitam, mata cokelat gelap, dan… harus saya akui yang bikin saya sirik, puinterrrnya bukan main. Tapi, plus sombong juga. Taunya Yahudi dari mana ya… oiya, dalam salah satu mata kuliah kami, Sejarah Eropa Modern, pengajarnya juga ternyata sama-sama keturunan Yahudi. Bedanya dia orang Italia masih keturunan Polandia (kalo ndak salah sih dia bilang pernah tinggal di Polandia lama), terus pas antara sesama Yahudi saling tahu & saling kenal asal-muasalnya, entah gimana sesama mereka seperti langsung ada sense of… sense of apa ya? 😀 pokoke keliatan ngeklik dan sama-sama cocok gitu, ya dari nyengir-nyengirnya kalau lagi ngebahas ato nyinggung-nyinggung tentang Yahudi… oya kayaknya si dosen juga pernah nanya ding sama si Michael ini kalo dia Amerika keturunan mana. Soale si dosen yang juga sama-sama super pinter ini pernah ngebahas tentang asal-muasal orang Amerika yang nggak jelas :D, karena semuanya adalah imigran pelarian dari Eropa, hehe…

Si Michael ini termasuk orang bule super pede yang pernah saya lihat. Entah bisa dibilang sombong ato karakter orang pede emang begitu, tapi dari gaya dan isi omongannya memang keliatan dia rada-rada sombing sih. Soalnya nih, ada juga teman Amrik lainnya dalam program saya, Robert atau Bobby panggilannya, yang karakternya fine-fine aja tuh, bahkan berkebalikan dari Michael, plus agak-agak flamboyan karena gayanya udah itali banget :D: rokok, bir dan kopi everytime. Tapi kalau Bobby anaknya kocak yang bikin dia banyak disukai orang, bahkan dosen ketua program juga seneng sama guyonannya. Oya, balik ke Michael, maksud saya super pede, misalnya dalam beberapa kali kesempatan waktu saya dan teman-teman sesama program lagi pada ngumpul-ngumpul, ngebahas tentang bahan ujian. Michael nyeplos, “Saya sudah baca semua buku yang ada di silabus.Menurut saya nggak ada yang menarik, membosankan, bla bla..” padahal saat itu masa ujian masih jauh dan sebagian dari kita belum mulai buka buku, hehe. Ya bisa karena stress, atau bingung, masih adaptasi sama sistem di sini, dan berbagai alasan lainnya. Oya, juga karena buku termasuk barang mahal, jadi ada beberapa teman yang masih menimbang-nimbang mau beli atau fotokopi aja. Terus, setelah Michael pergi, temen Italia saya yang kritis, Alessia, menggerumbel, “Apa perlunya sih bilang saya sudah baca semua bukunya? gak usah ngomong gitu juga sebagian dari kita pasti sudah ada yang baca bukunya. Tapi kan gak usah sesumbar gitu.” Di kesempatan lain, saat teman Serbia saya yang juga kritis, Gorana namanya (baca deh tulisan saya “Suka Duka Pake Jilbab di Negeri Orang”), pengen minjem salah satu buku Michael buat difotokopi rame-rame buat kita semua (mengingat di sini ada beberapa dosen yang “hobi” mewajibkan kita untuk membeli buku karangannya sebagai bahan ujian padahal selain rada susah ngedapetinnya, harganya juga jauh lebih mahal kalau beli daripada difotokopi melihat ketebalan bukunya yang gak seberapa). Terus apa jawab si Michael? dia sok-sok memasang wajah enggan, sambil mencibir, “Hhm.. saya nggak mau buku saya dipinjem-pinjem buat difotokopi.” Si Gorana mbales jawab sambil senyum, “Kenapa? kamu keberatan yah kalau bukumu difotokopi? takut rusak ato gimana?” Michael jawab lagi, “Hmm.. bukan.. bukan itu.. ini kan soal hak cipta, hak penulisnya, bla bla..” Kayaknya saya yang penulis aja nggak sampe segitunya deh :D. Kalau si Bobby sih, reaksinya dia diem aja, entah suka ato nggak suka. Ha, kali dia nulis buku juga ya di Amrik? who knows…

Cerita lainnya, masih berhubungan dengan Michael, adalah sewaktu kami sedang mengikuti kuliah bahasa-penerjemahan Prancis yang dosennya asal Belgia, Sheeren. Di kelas, kami tengah membahas tentang perkawinan beda agama alias mariage mixte yang memang mulai menjadi suatu hal yang lumrah dan umum kita temui di daratan Eropa ini, terutama tentunya di Prancis. Nggak lama sesudah menyaksikan film semi-dokumenter tentang pasangan Sophie dan… (lupa namanya :p, pokoknya cowoknya muslim Maroko) yang ditentang sama keluarga si cowok, Sheeren menyuruh kami bikin kelompok pasangan beda etnis, beda negara, bahkan kalau bisa beda agama untuk praktik jeu de role (dialog). Entah kenapa tiba-tiba saja terbersit ide di kepala saya untuk berpasangan dengan si Michael, hehe. Langsung lah saya mengacungkan jari sambil menyahut, “Saya mau berpasangan sama Michael!” XD. si Michael sih kagak komentar apa-apa, kayaknya nrimo-nrimo aje. Sementara beberapa anak agak kaget plus senyum-senyum pas ngeliat saya berani unjuk diri gitu, soale biasanya saya yang paling pendiem di kelas :p. Karena sebagian besar dari kami sudah tahu Michael itu Ebreo (alias Yahudi), so si dosen setuju2 aja. Sebenernya sih saya lebih ke penasaran gimana sih nantinya reaksi si yahudi terhadap topik ini (maksute reaksi Michael sebagai salah satu “oknumnya”, hehe). Apalagi kan topik perang Palestina-Israel juga masih anget, tuh. Sayangnya, perbincangan antarkami (maksudnya antar saya dengan Michael) jadi agak alot, padahal, ditambah rasa penasaran saya sekaligus harapan moga2 aja ada setitik kedamaian di situ, paling gak pura-puranya kita menemukan jalan keluar dari topik sederhana tapi kompleks ini, hehe. Yang dimaksud alot tuh, misalnya, pas saya mengusulkan, “Michael, kalau anak-anak kita masih kecil, kita sekolahkan di école publique aja yang laique, nanti seiring mereka dewasa biar mereka mutusin mo ikut mana, bapak ato ibunya. sementara pendidikan agama biar kita atur, misalnya, minggu ini ikut bokapnya ke sinagog, minggu depan ikut ibunya ke masjid, kan nanti seiring berjalannya waktu mereka bisa menilai dan menimbang-nimbang sendiri tuh…” wuehuehue… kayak cerita anak-anak pasangan artis beda agama di Indo aje :p. Michael sontak menjawab, “No, nggak bisa. Nggak bisa semudah itu. Dari kecil saya maunya mereka harus ikut bapaknya…nggak bisa dengan gampang mengatur-atur kayak gitu, bla bla…” Eeh.. terus mosok ya, sebelum kita didaulat untuk mengemukakan hasil diskusi kita, si Michael nambahin, “Dina, we can be very good friends. But we will never be a good couple..”. Laah, kok jadi disalahartikan gini ya sama dia? dia lanjut lagi, “Kamu tau kan pacar saya sendiri saja beda agama. Dia Argentina dan Kristen, sedangkan dalam agama saya susah tuh untuk menikah dengan orang yang bukan Yahudi, walopun saya bukan Yahudi taat. Saya juga tau hubungan saya dengan dia mungkin gak akan berlanjut lama. walau gimana pun, saya tetep menjalaninya sampe sekarang..” Ehem.. “I know, Michael, jadi kalau kamu tahu gak akan berjalan lama, trus nanti kamu bakalan gimana dong?” Dia cuma nyengir sambil jawab, “Vedremmo (we’ll see),” hehe. Lope, lope! Di lain hari, Gorana berkomentar bahwa apa yang saya lakukan itu sempat jadi perbincangan heboh di antara anak-anak. Oyaa..? sampe anak-anak mengira yang enggak-enggak. So, akhirnya, pada suatu kesempatan di acara makan malam di apartemen Maria, saya berusaha meluruskan cerita kenapa saya tertarik berpasangan sama Michael dalam diskusi itu. Tapi saat acara makan-makan itu Michael nggak ada. Saya ngomong aja terus terang, bahwa perkawinan beda agama, bahkan salah satunya Islam-Yahudi, merupakan polemik hangat di negara saya karena banyak yang nentang, soalnya yang nikah itu, si ceweknya itu bahkan anak kandung tokoh pemuka agama Islam terkenal (masih inget kan kasus anaknya Nurcholis Madjid yang nikah dengan bule Amrik keturunan Yahudi?). Tapi sekarang sayangnya kita nggak pernah mendengar kabar mereka lagi.

Insomma (however), emang bener sih, syukurnya until today Michael tetep temen baik saya :).  Bahkan sewaktu kami dalam perjalanan ke gedung kuliah lain, saat itu lagi hujan, Michael bersikap gentleman dengan memayungi saya dan selalu mempersilahkan saya jalan duluan sementara dia di belakang, hehe. Terus pada acara seminar, sewaktu si dosen pembicara seminar bagi-bagiin fotokopian, dan si Michael mengoper fotokopian itu ke saya dulu sebelum dia, si dosen mpe berkomentar, “Che gentile!” (Baik banget), hehehe. Saya tetep berusaha damai sama dia (piiiss!!) dalam segala kesempatan. Apalagi anaknya gampang “meledak” kalo disulut gitu. Pernah tuh dia mpe bertengkar mulut sama salah satu dosen muda di kampus, gara2 si dosen merasa diremehkan. Apalagi temperamen orang Itali yang demen ngomong, wah klo berantem udah deh.. mpe jam kuliah berakhir pun si dosen masih nyerocos kalo Michael itu gak sopan lah, gak respect lah, de-el-el, padahal si Michael sendiri udah ngacir dari tadi. Oya, tentang si dosen muda bernama Alessandro ini, ada ceritanya sendiri, entar deh kapan-kapan ya ;).

Kamp pembantaian Yahudi di Auschwitz

Selain dengan Michael, pergaulan saya dengan Yahudi di lain kesempatan adalah sewaktu saya melakukan tur kecil-kecilan ke perkampungan Yahudi di Bologna (foto-fotonya ada tuh di Album MP). Ternyata di Bologna juga ada Museum Yahudi, yang khusus memperlihatkan benda-benda, papan sejarah, dan literatur Yahudi. Namun, satu hal yang membuat saya paling berkesan mengenai Yahudi dan masih membuat saya merinding saat terngiang mengingatnya adalah ketika saya melakukan perjalanan ke kamp pengasingan (atau lebih tepatnya pembasmian) Yahudi di Auschwitz, Polandia. Saya juga baru tahu ternyata kamp Auschwitz itu letaknya di Polandia, dan ternyata juga merupakan kamp pembantaian Yahudi terbesar dibanding kamp-kamp lainnya yang tersebar di Jerman dan negara lainnya. Ternyata pula, Polandia itu dulu jajahan utamanya Jerman sewaktu PD2, bahkan kalau saya baca di papan-papan keterangan dalam museumnya, tertulis bahwa bangsa Jerman (ato lebih tepatnya si Hitler) memang sengaja ingin membumihanguskan penduduk Polandia dari muka bumi, termasuk di dalamnya para Yahudi. Tauk tuh, saya heran kenapa pula orang-orang Jerman sarap ini pada benci orang-orang Polandia, padahal sama-sama pirang dan berkulit putih juga. Dan ternyata (lagi), komunitas Yahudi di Polandia itu sudah ada sejak lama ratusan tahun lamanya, dan memang banyak jumlahnya di sana. Selain itu, komunitas Yahudi terbanyak lainnya pada masa itu setelah Polandia terdapat di Hongaria. Makanya banyak penghuni kamp Auschwitz ini rata-rata kalau nggak dari Polandia, ya Hongaria, dan Rumania.

Karena sudah sering dicekokin film-film bertema kamp pembantaian ini, apa yang teringat di kepala saya dari film The Pianist dan filmnya Anne Frank, seolah-olah berwujud menjadi nyata di situ. Kamp ini benar-benar jauh dari mana-mana, bahkan dari kota terdekatnya saja, Oswecim (atau dalam bahasa Jermannya, Auschwitz, perlu ditempuh pake bus lagi). Makanya teriakan-teriakan, jeritan dan suara tembakan serta penyiksaan gitu gak terdengar ya sampe ke permukiman penduduk. Kesan lain yang saya tangkap di kamp itu adalah gersang, senyap, muram.. waah.. jadi horror lagi nih saya sambil ngetik, hehe. Kamp ini benar-benar luas, dengan berbagai barak dan bangunan yang berderet rapi serta pagar berduri. Di setiap barak dan bangunan di dalamnya tersimpan berbagai barang sitaan dari para pengungsi, papan-papan display, sama keterangan dalam bahasa Jerman, Inggris, atau Polandia. Wueekk… saya sendiri saja nggak sanggup menjelajahi seluruh isi barak dan bangunannya, soale ada beberapa bangunan yang isinya mendeskripsikan penyiksaan tahanan dalam kamp, bikin saya mual. Di antaranya, bangunan yang menggambarkan percobaan para dokter dan ilmuwan Jerman dengan MANUSIA sebagai alat ujinya! Bayangkan, para wanita dan anak-anak “diperas” sampai sedemikian rupa–kulit tinggal tulang, rambut dicukur cepak kayak penyakitan–agar mereka, para ilmuwan ini, dapat menciptakan spesies human guinea impian. Selain itu, ada pula kamar gas yang… “membakar” para tahanan hidup-hidup. Mereka pura-puranya digiring ke dalam kamar itu dengan alasan akan dimandikan supaya bersih, tapi ternyata… tinggallah kulit yang terkelupas, gigi serta sisa-sisa organ tubuh lainnya yang masih ada. Hal lain yang bikin saya ngeri, gunungan rambut wanita serta anak-anak yang ditumpuk hingga jumlahnya mencapai ribuan ton, dan masih dipajang hingga sekarang, sebagian dijadikan bahan baku untuk dipintal dijadikan benang dan kain. Huff… Saya jadi kagum sama teman Polandia saya sendiri, Maria dan Monika, yang tetap sanggup bertahan menyusuri kamp bahkan hingga bangunan terakhir. Padahal mereka sempat hidup di jaman susah juga waktu awal-awal tahun 80an, waktu mereka masih kecil dan mengantri carta igienica (tisu untuk bersih-bersih habis buang air). Pada tahun-tahun itu Polandia memang masih “dikepung” dengan sistem pemerintahan komunis di mana rakyatnya hidup sangat miskin.

Well… saya jadi teringat dengan pidatonya Ahmadinejad baru-baru ini di forum Uni Eropa yang sangat menyakitkan bagi bangsa Yahudi. Apapun alasannya, apapun anggapan sebagian orang bahwa kamp itu hasil rekayasa, atau sudah direncanakan agar orang-orang jadi bersimpati dengan kaum Yahudi, atau apalah… Entah rekayasa ataupun sungguhan, melihat dengan mata kepala sendiri bekas penderitaan mereka di kamp tersebut, dan puluhan ribu korban yang mati, ribuan anak-anak.. (saya jadi terngiang lagi nih dengan pakaian-pakaian bayi korban pembantaian yang dipajang dalam display salah satu bangunan), saya rasa nggak pantas bagi siapapun untuk menghina bangsa manapun. Kebencian sepantasnya jangan dibalas pula dengan kebencian. Memang masing-masing peristiwa nggak ada yang bisa membandingi, entah itu pembantaian dan perampasan hak di Palestina, ataupun pembantaian di kamp Auscwhitz, tidak ada seorang pun dan apapun yang mau ditandingi. Moga-moga kita bisa belajar dari semua itu, masih ada waktu… ***

 

Tulisan ini saya buat di blog Multiply tanggal 1 Juni 2009

Iklan

4 thoughts on ““Bergaul” dengan Yahudi

  1. Ginz

    Nice share kak
    gw jg sukak bgt bca2 artikel ttg yahudi, selalu menarik
    kagum dgn ketajaman brfikir, pola hidup&menguasai dunia kini, kdang juga sdikit dongkol dan marah krena ulah dan kelicikannya
    yg jadi pertanyaan gimana cara bedain bule yahudi sma bule non yahudi kdang ini bkin gw susah tidur
    klo ktanya dgn idungnya, tpi idung nya si mark zuckerberg sma idungnya benjamin netanyahu gk sama tuh ngoahaha
    owh iya skedar nmbahin ni spekulasi sndri sih, si hitler itu punya asisten yahudi nah asistennya inilah yg mmpengaruhi hitler untuk genosida, tjuan genosida itu mnurut gw biar yahudi diaspora trutama jerman dan skitarnya biar takut dan mau migrasi ke israel soalnya yg diaspora susah disuruh balik ke israel nah si asisten hitler mkir and bkin strategi gmna cranya yahudi2 diaspora mau balik migrasi ke israel dbikinlah genosida ini
    hmm perang timteng trus akan trus dan trus brlnjut smpe 12 suku ngumpul dan tanah yg dijanjikan terpenuhi

    Balas
  2. Ping balik: Wisata ke Mausoleum dan Makam Yahudi di Jakarta, Bukti Kebhinekaan Indonesia – Travel & Kuliner Dina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s