Mami Sayang, Cepatlah Sembuh

Mami waktu muda

Mami sering membuatku sebal dengan omelan-omelannya. Mami sering membuatku gemas karena selalu memikirkan hal-hal sepele. Padahal mami tidak sesehat dulu. Mami harus lebih sering bersantai. Mami tidak usah ngoyo. Aku sudah sering mengatakan hal itu pada mami berkali-kali. Segala sesuatu ada masanya. Akan tiba waktunya kalau Tuhan memang sudah menentukan. Tetapi, lagi-lagi mami selalu berpikir. Selalu cemas. Aku kesal sama mami. Aku harus berkata apa lagi untuk menenangkan beliau.

*

Aku sebal sama mami. Setiap seminggu bisa lebih dari tiga kali mami mengirimiku SMS. Setiap seminggu pasti mami selalu meneleponku. Dan hampir selalu dengan isak tangisnya. Seolah-olah mami kuatir kalau aku telah melupakannya. Padahal, aku tidak pernah melupakan mami. Aku hanya punya kehidupanku sendiri yang perlu diurus. Ada tugas-tugas kuliah dan literatur-literatur yang mesti kubaca. Dan kehidupan di Eropa sini sungguhlah individualis. Sungguh ketat. Aku harus bersaing dengan teman-teman lainnya, mau tidak mau. Sedikit saja lemah dan cengeng, aku jatuh. Dan aku tidak bisa menceritakan itu semua pada mami. Pastinya nanti mami akan tambah kuatir. Aku hanya perlu do’a dan kepercayaan dari mami.

*

Aku sudah di Jakarta. Belum genap seminggu kepulanganku dari Eropa, aku sudah mendapatkan pekerjaan kantoran pertamaku. Aku harap ini membuat mami senang, karena sebelum aku ke Eropa, aku tidak berminat dengan yang namanya kerja kantoran. Dan mami tampaknya kuatir. Mungkin itu juga yang membuat beliau mengizinkanku ke Eropa, walau dengan berat hati. Supaya aku nantinya tidak lagi jadi ‘kutu loncat’ dengan aktifitasku sebagai freelancer. Namun, ternyata, meskipun aku sudah mendapatkan pekerjaan tetap, mami masih saja kuatir. Setiap sore menjelang jam pulang kantor, mami selalu mengirimiku SMS, menanyakan mau pulang jam berapa, naik apa. Kalau aku pulang larut karena lembur, mami mengirimiku SMS, menanyakan posisiku di mana. Padahal, aku tidak pernah clubbing, meskipun ingin. Badanku sudah capai setiap kali selesai kerja. Kalau pun hang out, itu sekadar sightseeing ke mal, dan sesekali shopping. Aku tidak berubah jadi anak nakal, kok, kalau mami mengiraku begitu. Aku hanya sedikit berubah. Dan perubahanku bukan hal yang buruk. Aku hanya ingin mami percaya.

Selang delapan bulan setelahnya, aku mendapatkan pekerjaan baru lagi di institusi yang lebih bergengsi. Aku ingin membuat mami lebih senang lagi dengan pekerjaanku yang baru. Tidak ada lagi yang namanya lembur tidak jelas, karena kerja malam pun aku mendapatkan bayaran. Tetapi, tidak lama setelah aku bekerja di situ, mami masih saja suka cemas. Kenapa aku lebih sering bekerja di malam hari, bahkan pada saat akhir pekan. Bahkan ketika aku memutuskan untuk ngekos supaya aku tidak kecapaian pulang-pergi kantor-rumah yang jaraknya jauh, mami semakin cemas. Setiap seminggu pasti lebih satu kali mami mengirimiku SMS. Menanyakan kabarku. Memastikan keadaanku baik-baik saja. Memastikan aku sudah sampai di kos ketika sudah di atas jam sembilan malam. Memastikan aku sudah kembali ke kos ketika hujan turun sangat deras, meskipun jarak kos dengan kantor hanya dua puluh langkah kaki, dengan langkah kakiku yang panjang. Aku bingung harus berbuat apa lagi untuk menyenangkan hati beliau. Berkali-kali aku bilang dalam hati, “Aku baik-baik saja, Mi. Tidak usah kuatir.” Karena aku ingin mami percaya, bahwa aku memang baik-baik saja. Dan tidak ada yang perlu dikuatirkan. Karena justru itu aku yang lebih kuatir dengan kesehatan mami, apabila segala hal yang sepele dipikirkan. Maka, percayalah sama Dina, Mi. Aku baik-baik saja.

*

Mami masuk rumah sakit. Kabar telepon yang kudapat dari kakakku siang itu, selepas jam mengajar pagi. Aku hendak menyantap makan siangku. Jantungku langsung berdebar hebat. Kakiku bergetar dan terasa lemas. Aku tidak lagi konsen dengan makan siangku. Aku tidak lagi fokus dengan materi yang akan kuajarkan untuk nanti siang. Aku segera meminta pamit. Aku bergegas mengemas barang-barangku seperlunya dari kosan. Pikiranku terus beradu dengan dadaku yang bergemuruh. Aku mengatur nafasku untuk tetap tenang, dan tidak berpikiran macam-macam. Namun, di sela-sela keriuhan emosi itu, hatiku bertanya-tanya, ‘Tuhan, apakah memang sudah waktunya?’ Membayangkan itu, air mataku menggenang, meski kutahan. “Ya Allah.. ya Allah.. aku ikhlaskan ya Allah…”, batinku berkali-kali. Berperang melawan egoku.

*

Aku melihat mami terkulai di ranjang rumah sakit. Selang-selang yang memasuki hidungnya, mulutnya, dan menancap di lengannya. Rambutnya yang hitam bercampur putih, kusut. Wajah cantiknya yang kubayangkan di foto-foto masa mudanya, kini tersisa guratan lelah. ‘Mami, mami, ini saya, Mi,’ teriakku dalam hati.

Papi pun bercerita mengenai kejadiannya. Singkat kata, mami kena serangan stroke untuk yang kedua kalinya. Aku masih mengingat peristiwa sehari sebelumnya. Beliau sekali lagi curhat tentang apa yang menjadi beban di hatinya. Betapa mami begitu memikirkan anak-anaknya. Padahal, waktu itu aku sudah bilang untuk yang kesekian kali, “Sudah nggak usah dipikir lagi, Mi. Ingat kesehatan Mami.” Aku kira, setelah itu beliau berhenti memikirkannya. Namun, ternyata tidak. Hingga 12 jam sebelum kejadian itu, mami mengirimiku SMS. Dan masih menanyaiku apakah aku sudah pulang ke kosan. Memintaku untuk menjaga diri dan selalu berdo’a. Aku hanya menjawab ‘ya’, agar beliau tidak berpikiran macam-macam lagi. Tetapi, kini mami terbujur lemah di hadapanku. Di hadapan anak-anaknya yang sudah berkumpul. Aku mengelus-elus lengan mami. Tangan itu semakin keriput. Tangan yang dulu begitu mulus dan cantik. Aku mencium pipi mami. Pipi yang putih merona itu, yang dulu menjadi idaman pria-pria di kampusnya. Pipi itu kini dingin. Ada bercak totol-totol coklat karena termakan usia. Mami, mami, betapa usia seseorang itu tidak ada yang tahu. Betapa kejayaan seseorang itu hanya bersifat sementara. Bayanganku tentang mami yang powerful, namun anggun dan lembut, berganti dengan sosok terbaring tidak berdaya di hadapanku.

*

Hari kelima di ruang perawatan ICU. Mami tersenyum sumringah melihat kedatanganku. Mata bulatnya itu berbinar. Meskipun masih harus terbaring di rumah sakit dengan belitan selang-selang, air mukanya begitu gembira dengan kehadiranku. Aku sudah berusaha untuk tidak menangis. Namun akhirnya aku menangis juga. Terlebih lagi, ketika beliau meminta maaf padaku. “Maafin mami, mami banyak dosa ya.”

“…Saya juga minta maaf ya, Mi,” jawabku singkat, karena tidak mampu berkata-kata lagi. Kurebahkan kepalaku di atas tempat tidur, di samping lengannya. Mami pun membelai-belai kepalaku. Biasanya, aku selalu menghindar ketika beliau ingin membelaiku. Namun, kali ini, aku membiarkannya. Kunikmati belaiannya. Terbayang masa-masa kecilku dahulu, kepalaku selalu dibelai-belai setiap kali mau tidur. Dengan kondisi tubuhnya yang ringkih itu, salah satu tangannya yang masih bisa bergerak normal menepuk-nepuk leherku, mengelus-elus rambutku. Aku tidak ingin melupakan belaian itu. Yang dengan belaian itu, aku merasa terlindungi. Mami, cepatlah sembuh. Aku ingin selalu di sampingmu, dan akan selalu. ***

Tulisan ini dibuat di blog Multiply tanggal 17 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s