Gono-Gini Asuransi Kesehatan

Ngomong-ngomong tentang asuransi kesehatan di Indonesia memang bikin antara senang dan sebal. Yah setidaknya untuk orang bego seperti saya yang tidak mau repot membaca tulisan-tulisan dalam polis yang kadang (atau sering?) sengaja (atau tidak sengaja?) membuat orang sebego saya mikir dulu berjuta-juta kali untuk memahami maksudnya.

Mohon maaf kalau tulisan ini dibuat seolah-olah yang menulisnya sedang dalam keadaaan kesal. Sebenarnya enggak kesal sih, cuma saya jadi mendapat pelajaran harga dari sistem pelayanan kesehatan dan unsur-unsur pendukungnya–salah satunya asuransi–di Indonesia (ngeles ceritanya ).

Asuransi Kesehatan di Dalam Negeri

Cerita yang pait-paitnya dulu deh, berikutnya nanti yang indah-indah. Karena saya bukan PNS (jangan sampai salah arti dengan PMS loh ya), dan baru-baru ini resign sebagai pekerja kantoran–sisa pekerjaan yang ada pada saya adalah kembali ke status freelance sebagai pengajar, penerjemah, dan.. penulis wannabe gak jadi-jadi, maka satu-satunya yang tersisa dan yang saya harapkan dalam menjalani operasi dan pengobatan saya adalah asuransi kesehatan pribadi yang saya miliki sejak kurang dari 1 tahun yang lalu.

Tapi ternyata eh ternyata, karena memang saya terlalu bego dan polos untuk mengenali jenis-jenis asuransi, singkat cerita asuransi yang saya miliki sejak kurang dari 1 tahun itu tidak bisa saya andalkan untuk membiayai operasi pengangkatan kista saya dan perawatan pemulihan sesudahnya. Alasannya adalah karena masa tunggu asuransi saya yang belum satu tahun, dan parahnya lagi, kista termasuk kategori pengecualian yang tidak dilindungi oleh asuransi saya itu karena dianggap sebagai penyakit pre-existing condition. Kecuali kalau saya membayar preminya lebih mahal. Yah siapa sangka penyakit yang saya dapatkan justru kista, bukan korengan, kudisan atau sipilis (masih ada nggak tuh ya penyakit?).

Lalu bagaimana ceritanya, saya malah memutuskan untuk resign bahkan beberapa hari sebelum menjalani operasi yang otomatis saya tidak punya privilege mendapatkan asuransi dari kantor? Kebetulan sekali, status saya sebelum operasi adalah masih dalam tahap percobaan, dan akan genap 3 bulan atau menjadi karyawan tetap dalam beberapa hari saja. Kebetulan sekali juga, perusahaan tempat saya bekerja–meskipun menganggap dirinya perusahaan multinasional–juga sebegitu cerdik dan liciknya dalam menghadapi kasus saya. Point of excuse pertama adalah, saya sudah menunjukkan tanda-tanda penyakit itu (perut besar seperti orang hamil) sejak hari pertama saya bekerja. Yang artinya, menurut HRD saya ini, termasuk pre-existing condition, dan seperti layaknya asuransi-asuransi pada umumnya, pre-existing condition tidak di-covered  asuransi kantor. (Ada-ada saja ya alasan itu  ).  Saya pun menanyakan hal ini kepada para kolega yang punya pengalaman me-ngantor lebih banyak dari saya. Mereka saya langsung berkomentar, “Kalau memang dari awal Mbak Dina sudah menunjukkan tanda-tanda itu dan kantor ragu, sebaiknya mereka tidak usah mempekerjakan Mbak dong, atau mereka melakukan serangkaian tes dulu sama Mbak.” Ooh, iya ya, seharusnya begitu pikir saya,. Itulah kebegoan saya , jadi saya belajar banyak dari situ. Excuse yang kedua, apabila saya meminta cuti dari perusahaan selama sebulan, perusahaan kemungkinan memberikan kebijakan cuti tidak dibayar (padahal jelas-jelas dalam peraturan perusahaan tertulis sebaliknya). Kalau sudah bermacam-macam alasan yang diberikan, sebaiknya saya resign. Kalau teman-teman kemudian berkata, “Harusnya nggak usah bilang-bilang dulu sudah periksa,” tetapi orang HRD di kantor pastinya akan balik ke excuse pertama.

Mungkin saja kalau saya masih betah di kantor itu, saya akan bertahan. Mungkin saja kalau saya masih bisa menahan penyakitnya, saya akan periksa ulang pada bulan September, yaitu genap satu tahun setelah melewati masa tunggu asuransi pribadi saya, sehingga saya bisa memanfaatkan fasilitasnya. Tetapi bo’, perut yang sudah terlampau besar begini, bak cewek hamil 7 bulan, bahkan setiap kali saya naik kendaraan umum atau jalan di keramaian sudah selalu disangka orang hamil, saya biarkan saja sampai nanti meletus?

Jadi, bismillah, saya mantap melakukan operasi ini. Waktunya saya beristirahat. It’s time for me to resign from the chaotic crowd of outside world.

Still, in between my period of bedrest, tawaran-tawaran asuransi terus berdatangan. Akhir-akhir ini, mereka doyan sekali mengontak by phone atau dikenal dengan istilah telemarketing. Insting saya langsung mengatakan, cukup. Setidaknya, asuransi kesehatan pribadi yang tidak bisa saya pakai manfaatnya untuk saat ini, dengan adanya fitur unitlink, bisa saya pakai di kemudian hari. Satu asuransi pribadi lainnya untuk manfaat kecelakaan. Jadi, sudah cukup.

Asuransi Kesehatan Luar Negeri

Jika mengenang-ngenang asuransi yang dulu saya pergunakan selama masa studi di luar negeri, baik itu asuransi setempat karena beasiswa yang saya dapatkan dari pemerintahnya maupun asuransi swasta lainnya, sekecil apapun nilainya, ternyata besar sekali manfaatnya. Asuransi kesehatan di luar negeri adalah wajib hukumnya, bahkan bagi pelajar asing sekalipun. Di beberapa negara yang pernah saya tinggali, seperti Italia, asuransi kesehatan wajib dimiliki oleh setiap orang tanpa kecuali, meskipun proses pendaftarannya masih sama berbelitnya seperti birokrasi pemerintahan di Indonesia. Itu dulu, zaman tahun 2008. Tidak tahu sekarang. Mungkin Indonesia lebih baik sekarang ini. Setiap orang yang bermukim di Italia baik untuk studi maupun bekerja wajib membeli asuransi dasar seharga–kalau tidak salah–175 Euro yang berlaku untuk setahun. Yang lucunya, asuransi itu harus dibeli awal Januari, supaya kita tidak merugi. Maksudnya, kalau kita datang September, lalu beli asuransi itu, maka awal tahun kita harus memperbaruinya, dan membayar dengan harga yang sama. Nggak tahu sekarang ya. Untungnya waktu itu saya sudah ‘dipersenjatai’ dengan asuransi swasta yang bekerjasama dengan Uni Eropa, institusi yang menghibahi beasiswa Master untuk saya. Jadi saya berobat dengan asuransi swasta itu. Dengan sistem reimburse.

Sama halnya dengan di Prancis, apalagi sistem birokrasi di sana masih lebih baik daripada di Italia, meskipun segelintir teman masih mengeluhkan birokrasi Prancis. Bagi saya yang pernah merasakan berbelitnya birokrasi a la Italia, tentu lebih senang dengan sistem birokrasi di Prancis yang lebih terstruktur. Kalau saja saya mendaratkan kaki saya di Prancis terlebih dahulu, dan bukan di Italia, kemungkinan saya sudah bisa mendapatkan la Carte Vitale, kartu asuransi kesehatan dasar bagi seluruh warga di Prancis, baik lokal maupun asing. Namun karena satu tahun sebelumnya saya lewatkan di Italia, dan jumlah beasiswa yang saya dapatkan luar biasa besarnya, maka la Sécurité Sociale saat itu belum bisa memberikan saya kartu asuransi. Kecuali apabila setahun ke depan saya memutuskan lanjut di Prancis dan kontrak beasiswa saya dengan Uni Eropa sudah habis, saya bisa mengajukan permohonan kembali.  Sehingga, selama saya berobat di Prancis pun saya memanfaatkan asuransi swasta yang diberikan oleh beasiswa saya tersebut. Lagi-lagi dengan sistem reimburse.

Untungnya, asuransi swasta ini bak magical oase di tengah padang pasir. Ia bisa dimanfaatkan untuk pengobatan apaaa saja… Entah bagaimana caranya Uni Eropa bisa memanfaatkan perusahaan asuransi itu untuk memberikan kebebasan bagi para penggunanya dalam berobat, bahkan yang ringan sekalipun seperti batuk, pilek. Asalkan berobat ke dokter, lalu dikasih resepnya, maka semua pengobatan dan biaya resep akan diganti. Kalau cuma beli obat saja, tidak akan diganti.

Asuransi yang paling menyenangkan buat saya adalah sewaktu saya bermukim di Turki selama 2 bulan. Gimana enggak menyenangkan, ternyata asuransi dari pemerintah itu juga meng-cover biaya berobat saya ke dokter gigi di sebuah rumah sakit yang dimiliki Ankara University yang kebanyakan isinya dokter-dokter muda dan ganteng nian . Meskipun ada juga sih prof-prof yang tuek-tuek. Sudah nggak bayar alias nggak pakai sistem reimburse-reimburse-an, bonusnya, gigi saya yang krowak dan menyebabkan gusi saya mlentung dibor oleh dokter gigi muda, yang sepertinya mahasiswa praktek Universitas Ankara, dengan rambut ombak ikal semi gondrong, dan wajah yang rupawan pula seperti Orlando Bloom . (Baca: Sakit di Negeri Orang). Ah, payahnya lagi, saya sok jual mahal pula sama dia, padahal kata teman Turki saya dia tertarik juga sama saya. Sekarang rasain deh akibatnya melajang di usia kepala tiga.

Kesimpulannya: teteup… di Indonesia dilarang sakit, kecuali kamu PNS atau pegawai tetap. Bagaimana dengan nasib para pekerja freelance yang bukan dokter yah? Teman-teman mau berbagi pengalaman? ***

Tulisan ini saya buat di blog Multiply pada tanggal 20 Juni 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s