Dari Pembenci Hingga Penyuka Kopi

Nggak tau gimana, dari dulu, sejak kecil, saya nggak pernah suka yang namanya minum kopi. Rasanya yang pahit, walaupun dicampur gula bersendok-sendok pun, buat saya teteup… paiiiit! Makanya selain kopi, jenis makanan dan minuman yang pahit-pahit lainnya, seperti jamu, pare, emping, nggak pernah bisa saya telan, apalagi sampai habis. Ditambah lagi, pas tahu bahwa kopi mengandung kafein yang nggak baik untuk kesehatan, bikin gigi kuning, bikin jantung berdetak seratus kali lebih kencang dari kecepatan normal, bikin saya makin ogah menyentuh kopi. Apalagi, sobat karib ayah saya merupakan pencandu berat kopi kental hitam yang setiap kali menyeruputnya diiringi menghisap rokok kretek, yang membuatnya selalu terbatuk-batuk. Setiap kali pergi bareng ayah saya dan saya semobil dengan mereka, itu kendaraan rasanya pengap bukan main dengan berbagai aroma yang tidak “memikat yang menempel pada baju. Selain itu, saya masih ingat dengan jelas pengalaman teman-teman sekos sewaktu masih kuliah di Bogor dulu, yang setiap kali menjelang ujian begadang sampai pagi ditemani segelas besar kopi… setelah itu mereka bakal curhat dan berkeluh-kesah ke saya, yang ngantuk tapi nggak bisa bobok lah, yang badan rasanya lelah banget tapi nggak bisa istirahat, de-el-el, diiringi wanti-wanti dari mereka agar jangan meniru tingkah-polah mereka karena saya tetap nggak bisa terpengaruh dengan cara begadang mereka, hehehe . Yah, pernah sih sesekali saya minum cappuccino a la Indonesia di kantin kampus atau ngemut permen Kopiko sewaktu masih ABG, tapi itu ‘kan rasa kopinya nyaris “nggak keliatan”, malah lebih kerasa banget susunya ketimbang kopi dan rasanya pun muaniss…

Hingga saya dua kali “mendarat” dan bermukim di negeri para penikmat kopi (apalagi kalau bukan Italia), negeri asal-muasalnya kata atau istilah cappuccino, espresso, frappé, macchiato; selera saya sama kopi masih nol, masih sama seperti dulu. Walaupun saya sesekali suka ikut nongkrong bareng teman-teman Italia di café untuk sekedar mengobrol berjam-jam sambil minum satu hingga dua cangkir kecil kopi (khas kebiasaan orang Italia), saya lebih cenderung jadi pendengar setia sambil minum sebotol acqua minerale–air putih–atau pas musim dingin secangkir besar coklat hangat . Pernah sih, awalnya, sekedar untuk menghargai teman Italia saya yang mengundang saya dan beberapa orang teman lainnya untuk mampir ke apartemennya, saya berusaha meminum kopi yang disuguhkannya. Tapi, begitu melihat saya menaruh banyak sekali gula ke cangkir kopi saya, lalu menyeruputnya cepat-cepat hingga habis, teman Italia saya langsung melotot bercampur heran. Dia mengibaskan tangannya ke arah saya, “Mammamia, jangan cepat-cepat minumnya, seperti menenggak obat saja!” Setelah itu dia bilang pada saya untuk tidak usah memaksakan diri, kalau memang tidak suka dan tidak bisa minum, bilang saja terus terang. Jadi, pada kongkow-kongkow berikutnya, setiap kali kami bertandang ke café, Alessia, nama teman Italia saya itu, sudah paham betul bahwa saya pasti tidak akan memesan kopi.

Lain halnya dengan Gorana, teman saya asal Serbia, yang orangnya super kritis dan selalu banyak tanya. Saking herannya kenapa saya ogah minum kopi, dia sampai-sampai memberi saran pada saya tentang tips belajar menyukai kopi. Apalagi setelah dia tahu bahwa saya punya penyakit darah rendah, yang bikin saya gampang ngantuk serta mudah capek, dia bersikeras pada saya agar harus suka kopi (apalagi saya nggak minum wine maupun bir), jadi menurutnya, dari mana lagi saya bisa menyembuhkan darah rendah saya kalau nggak minum kopi? Dia bahkan bercerita tentang tantenya yang juga pernah punya penyakit darah rendah lalu membiasakan diri minum kopi sehingga sekarang penyakitnya itu hampir nggak pernah kambuh. Suatu hari, tahu-tahu dia datang ke kamar saya, dan “menghadiahi” saya setoples kecil bubuk kopi, supaya saya mempraktekkan tips belajar minum kopi a la dia itu : taburkan 1-2 sendok kecil kopi ke dalam cangkir, campur dengan 2-3 sendok gula, larutkan dengan air panas, lalu minum sedikit demi sedikit. Tetapi… ya tetapi.. hadiah bubuk kopi darinya, setelah percobaan pertama untuk tips belajar minum kopi, sampai kepindahan saya ke apartemen lain enam bulan berikutnya, nggak pernah saya sentuh lagi, hehehehe…

Sampai akhirnya, saya pindah ke apartemen lain, dan berkenalan dengan seorang cowok Turki, yang juga tinggal satu atap dengan saya. Setelah beberapa hari saja kami langsung cepat akrab, apalagi saya pernah tinggal di Turki dan lumayan tahu kultur mereka; sebaliknya orang Turki sangat senang apabila ada orang asing yang mengenal dan suka dengan kebudayaan mereka, terlebih tahu bahasanya. Suatu hari di akhir minggu (weekend), dia mengajak saya jalan-jalan ke gunung, atau lebih tepatnya trekking. Dan untuk itu, kami harus berangkat pagi-pagi jam setengah tujuh, yang buat saya, terlalu pagi banget! apalagi saya sudah terbiasa dengan pola hidup a la Italia, terutama di musim liburan: tidur larut, bangun siang, sedikit sarapan. So, jadilah pagi-pagi itu dia, yang pola hidupnya juga kurang lebih sama dengan saya (terutama untuk tidur larut dan bangun siang), mendidihkan bubuk kopi yang di bawahnya diisi beberapa cc air dingin, dengan menggunakan alat pembuat kopi khas Italia, disebut caffétiera. Tahu-tahu, ketika saya mampir ke dapur, dia menawarkan pada saya apakah saya juga mau dibikinkan kopi. Dan, nggak tau kenapa, sambil berpikir cepat: kopi bikin kamu kuat menahan kantuk, kopi bagus untuk penyakit darah rendah, kopi nggak bakal bikin kamu cepat lemas apalagi kamu mau trekking seharian, tiba-tiba saya pun menjawab, “sebenarnya saya nggak suka kopi, tapi.. ya saya harus minum!” Dia hanya terkekeh sebentar mendengar jawaban saya itu, tetapi nggak lama setelah itu, dia sudah menyodorkan secangkir kecil kopi ke hadapan saya.

Saat itu, sekelebat “perang dingin” berkecamuk di dada saya. Weekk.. ini kopi item banget, kopi khas italia, pasti pahit banget, tapi gue harus minum, harus minum. So, dengan gerak tangkas, saya segera menyambar sekantung gula di dalam lemari, membubuhkan sekitar 2-3 sendok ke dalam cangkir, lalu membawa gelas kopi itu ke dalam kamar dan meminumnya di sana, hehehe. Maksud saya supaya nggak kentara sama temen Turki saya itu gimana ekspresi wajah saya saat mereguknya . Dan.. berhasil! saya mereguknya sampai habis!
Kemudian, dalam perjalanan menuju gunung yang kami maksud, Appenine atau Appenino dalam bahasa Italia, kami berhenti sebentar di kedai kopi untuk sarapan dan.. lagi-lagi minum kopi. Merasa masih agak ngantuk, saya pun kembali memesan secangkir kopi, tapi kali ini cappuccino a la Italia. Walaupun cappuccino, tapi yang namanya a la Italia tetep bedalah sama cappuccino-nya Indonesia (atau Amerika, mungkin?): sedikit susu dan banyak kopi, jadi rasa pahitnya masih ada. Walaupun begitu, tetap saya minum sampai habis.. dan hasilnya, awal-awal pendakian, jantung saya berdebar-debar keras!! Butiran keringat pun bermunculan sedikit di wajah. Untungnya hanya sebentar, karena setelah itu sepertinya kondisi tubuh saya mulai menyesuaikan diri dengan keadaan.

Sejak saat itu, hingga kini, saya sudah nggak menolak lagi kalau ditawarkan minum kopi. Saya sempat minum café normale yang dibikinkan oleh suami dari pasangan keluarga Indo-Italia di Castelfranco ketika saya menginap di rumah mereka, atau café lungo di kedai kopi di Venezia, atau kopi serupa di rumah-rumah keluarga Indo-Italia lainnya. Bahkan saat ini di Jerman, saya tinggal bersama keluarga Turki kenalan saya, untuk mencegah kantuk di siang hari, saya mau-mau aja disuguhkan kopi a la Turki maupun kopi instan nescafé. Tetapi, sesuai peraturan , saya tetap membatasi diri minum kopi maksimal dua gelas perhari. Apalagi saya masih ingat betul dengan peristiwa jantung deg-degan yang saya alami sewaktu trekking, hehehe… **

 

Tulisan ini saya buat di blog Multiply tanggal 24 Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s