Arsip Bulanan: November 2012

Anger to Myself

Mungkin memang perlu trigger atau stimulan dulu ya supaya kata-kata yang sudah tertimbun di hati dan di kepala ini bisa di-muntahkan ke tulisan. Dan si trigger atau stimulan ini dalam wujud yg tidak enak: makanan rumah sakit yang aneh rasanya, serta cairan phospho-soda yang harus saya minum untuk persiapan pra-operasi besar. wueeek… padahal saya tadinya sehat & enak makan seratus persen!! Tapi 2 jam setelah menginjakkan kaki di rumah sakit, meskipun fasilitas dan kenyamanan yang diberikan sangat luar biasa nyamannya bak hotel berbintang, mendadak koq saya jadi seperti orang sakit beneran dengan asupan makanan dan cairan yang ‘mematikan’ itu. Huuuh…  nggak boleh jajan dunkin dan berbagai jenis roti bakery

should anger end in hospital?

di lantai bawah rumah sakit pula, huiks, huiks…

Iklan

“Bergaul” dengan Yahudi

pintu gerbang menuju dalam kamp Auschwitz dgn semboyan Nazi yg terkenal Arbeit Macht Frei atau Working makes you free (Oswiecim, Poland, 2009)

Ketertarikan saya sama Yahudi sudah lama banget sebenarnya… bahkan mungkin sejak saya menginjakkan kaki di tanah Palestina zaman tahun 1992 lalu. Tapi berhubung waktu itu saya masih ABG, yang saya inget adalah tampang-tampang orang-orang Yahudi yang guanteng-guanteng dan chuantik-chuantik, hehe.. walaupun emang sih, harus saya akui, mereka angkuh nian menghadapi kita-kita rombongan umroh ini yang mengantri untuk diperiksa di pos perbatasan. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang nggak pake senyum sedikit pun. Waktu itu pas lagi masa-masa damainya antara Israel dan Palestina, walaupun di mana-mana di sepanjang daratan Palestina yang saya lalui memang sudah tampak beberapa petak tanah yang dipasangi bendera bintang David. Oya, bahkan bokap mengomentari salah satu petugas yang memeriksa paspor kami di dalam bus saat memasuki perbatasan dari Yordania, gantengnya seperti Mac Gyver :p. Kalau si Mac Gyver ini dia malah tebar senyum ke mana-mana…

Baca lebih lanjut

Rasis.. Nggak Rasis… Rasis.. Nggak Rasis…

Pikiran dan dugaan ini muncul semakin kuat tatkala tadi sore, sehabis ujian (alhamdulillaah lulus ), sepulang dari ujian, saya jalan-jalan bareng Maria, teman satu program EM (Erasmus Mundus) dan satu mata kuliah plus satu kelas bareng saya, yang asal Kolombia. Sembari menuju ke halte bus, kami sempet ngobrolin tentang dosen yang ngetes ujian kami. Mata kuliah yang diujiankan secara lisan itu judulnya “Storia dell’Europa Moderna” ato Sejarah Eropa Moderen, yang sebenernya gak modern2 amat sih, wong yang dikatakan modern dalam konteks ini adalah sejarah Eropa mulai akhir abad ke-15 (berarti taon 1400-an) sampe awal abad ke-17 (sekitar 1600-an). Yang ngajar, Valerio Marchetti, orang Italia yang ngaku-nya keturunan Yahudi, dan gosip orang-orang dia berdarah Polandia ato daerah Eropa Timur sana. Kami menyebutnya Marchetti (di sini kami biasa menyebut-nyebut dosen dengan nama belakangnya, bahkan kalau kami nggak suka sama si dosen muncul julukan-julukan khusus, hehehhh). Selain ngajar mata kuliah ini, beliau juga mengajar Storia dell’Ebraismo ato Sejarah bangsa Yahudi, Storia dello Shoah ato Sejarah Peristiwa Shoah (sejauh yang saya pahami, shoah itu adalah lembaran hitam dalam sejarah bangsa Yahudi saat Perang Dunia II karena Hitler ingin membumihanguskan mereka semua).

Baca lebih lanjut

Puisi Ariel: “Saya Lebih Baik Diam”

Jika saya bercerita sekarang,
Maka itu hanya akan membuat sebagian orang memaklumi saya,
Dan sebagian lagi akan tetap menyalahkan saya,
Tetapi itu juga akan membuat mereka memaklumi dunia yang seharusnya tidak dimaklumi,
Dan tidak ada yang dapat menjamin apakah semua dapat memetik hal yang baik dari kemakluman itu,
Atau hanya akan mengikuti keburukannya
Maka lebih baik saya diam.

Baca lebih lanjut

Berani Bermimpi Besar & Wujudkan Mimpimu

tanda tangan Merry Riana dengan tagline “Wujudkan Mimpimu!”

Itulah tagline yang ditulis oleh Merry Riana dan suaminya, Alva Tjenderasa, di buku yang mereka berdua tanda tangani untuk saya sewaktu peluncuran buku Mimpi Sejuta Dolar di Kinokuniya Book Store, Plaza Senayan, tanggal 27 Oktober 2011 yang lalu. Acara yang dipadati lebih dari 100 peserta ini–kebetulan saya termasuk salah satu yang beruntung mendapatkan undangan gratis melalui kuis twitter–merupakan, bisa dibilang, merupakan salah satu momen paling menyenangkan dalam hidup saya. Wong ketemu sama the no.1 woman motivator di seluruh Asia koq, gimana nggak hepi-hepi gonjreng kan gue . Saya seperti mendapat suntikan semangat untuk tidak pernah menyerah dengan mimpi-mimpi saya, meskipun saya mesti menundanya dahulu sampai beberapa waktu lamanya.

Baca lebih lanjut

Dari Pembenci Hingga Penyuka Kopi

Nggak tau gimana, dari dulu, sejak kecil, saya nggak pernah suka yang namanya minum kopi. Rasanya yang pahit, walaupun dicampur gula bersendok-sendok pun, buat saya teteup… paiiiit! Makanya selain kopi, jenis makanan dan minuman yang pahit-pahit lainnya, seperti jamu, pare, emping, nggak pernah bisa saya telan, apalagi sampai habis. Ditambah lagi, pas tahu bahwa kopi mengandung kafein yang nggak baik untuk kesehatan, bikin gigi kuning, bikin jantung berdetak seratus kali lebih kencang dari kecepatan normal, bikin saya makin ogah menyentuh kopi. Apalagi, sobat karib ayah saya merupakan pencandu berat kopi kental hitam yang setiap kali menyeruputnya diiringi menghisap rokok kretek, yang membuatnya selalu terbatuk-batuk. Setiap kali pergi bareng ayah saya dan saya semobil dengan mereka, itu kendaraan rasanya pengap bukan main dengan berbagai aroma yang tidak “memikat yang menempel pada baju. Selain itu, saya masih ingat dengan jelas pengalaman teman-teman sekos sewaktu masih kuliah di Bogor dulu, yang setiap kali menjelang ujian begadang sampai pagi ditemani segelas besar kopi… setelah itu mereka bakal curhat dan berkeluh-kesah ke saya, yang ngantuk tapi nggak bisa bobok lah, yang badan rasanya lelah banget tapi nggak bisa istirahat, de-el-el, diiringi wanti-wanti dari mereka agar jangan meniru tingkah-polah mereka karena saya tetap nggak bisa terpengaruh dengan cara begadang mereka, hehehe . Yah, pernah sih sesekali saya minum cappuccino a la Indonesia di kantin kampus atau ngemut permen Kopiko sewaktu masih ABG, tapi itu ‘kan rasa kopinya nyaris “nggak keliatan”, malah lebih kerasa banget susunya ketimbang kopi dan rasanya pun muaniss…
Baca lebih lanjut

Gono-Gini Asuransi Kesehatan

Ngomong-ngomong tentang asuransi kesehatan di Indonesia memang bikin antara senang dan sebal. Yah setidaknya untuk orang bego seperti saya yang tidak mau repot membaca tulisan-tulisan dalam polis yang kadang (atau sering?) sengaja (atau tidak sengaja?) membuat orang sebego saya mikir dulu berjuta-juta kali untuk memahami maksudnya.

Mohon maaf kalau tulisan ini dibuat seolah-olah yang menulisnya sedang dalam keadaaan kesal. Sebenarnya enggak kesal sih, cuma saya jadi mendapat pelajaran harga dari sistem pelayanan kesehatan dan unsur-unsur pendukungnya–salah satunya asuransi–di Indonesia (ngeles ceritanya ).

Baca lebih lanjut