Sekilas Kenangan akan Teman Palestina

Habis nonton The Boy In The Striped Pyjamas, kok saya malah pingin menulis kisah kenangan tentang seorang teman Palestina yang saya kenal di Turki ya… Sebenarnya saya nggak begitu lama mengenalnya, karena kami baru saja bertemu pada masa-masa akhir saya di Turki, sekitar akhir Agustus-awal September tahun 2006 gitu, deh.

Muka si Adnan mirip-mirip Jason Priestley, tapi dengan rambut dan mata lebih gelap.. (ganteng khan? :D)

Namanya agak-agak susah, saya mengira dulu namanya adalah Adnan, tapi yang benar… kalau nggak salah Annan, Annen atau apa gitu. Tapi ya sudah saya sebut saja Adnan di sini, karena di telinga saya lebih familiar. Dia cowok Palestina berusia sekitar akhir belasan tahun, masih muda memang. Mau menginjak usia dua puluh. Awalnya saya kira dia tipe cowok-cowok Arab sok cuek-sombing-kelewat pede-seperti orang-orang Arab yang saya tahu pada umumnya. Tapi setelah agak lama kenal, dia cowok yang baik. Udah gitu, nilai plusnya ganteng pula, hehe :p. Rambut ikal cokelat gelap dan alis mata tebal, bibirnya merah (uhuyy… walaupun sayangnya dia ini hobi merokok), dan hobi juga pakai baju warna merah atau pink, yang membuatnya kelihatan tambah ganteng malah, nggak norak ato dangdut.

Saya kenal dia dari teman cewek saya asal Tunisia, namanya Mouna. Si Mouna ini di asrama memang suka kumpul-kumpul sama temen-temen Arab cowok, tapi bukan di dalam gedung asramanya ya, karena nggak dibolehin sama penjaga. So, mereka suka kumpul-kumpul di taman asrama yang memang sangat luas. Asrama kami di Ankara, Tahsin Bangoglu Yurdu, namanya.

Alkisah, setelah kursus berakhir, saya berencana ingin main-main ke Istanbul. Ternyata Mouna dan teman-teman Arabnya juga merencanakan hal yang sama, dan mengetahui saya ingin pergi ke sana tapi nggak tahu sama siapa pake apa dan bagaimana (mengingat kondisi masyarakat di Turki dan medan perjalanannya tidaklah seperti di Eropa pada umumnya, apalagi buat wanita, orang asing, jalan-jalan sendirian, masih agak-agak riskan; walaupun masih lebih riskan wanita cantik seksi apalagi kalau bule dan rambut pirang yang lebih empuk jadi sasaran mas-mas jahil dan genit), Mouna pun mengajak saya ikut bersama rombongannya. Selain Mouna dan Adnan, ada pula salah seorang teman cowok lagi asal Yordania, saya lupa namanya… hmm.. kita sebut aja Ahmad ya :p. Beda sekali dengan Adnan, si Ahmad ini tinggi jangkung dan agak kurus plus plontos. Tapi sama-sama hobi merokok, hehehe.

Kami pun berangkat pada tengah malam dengan menggunakan bus antarkota (yep, tengah malam!) dari terminal bus Ankara menuju Istanbul, melalui jembatan yang membelah selat Bosphorus. Sepanjang perjalanan selama enam jam ini ketiga orang Arab ini doyan sekali mengobrol, dibandingkan saya yang sudah setengah merem setengah sadar, hehe. Tapi saya juga nggak bisa tidur sama sekali sih karena badan udah agak-agak kaku gitu “ditaroh” di dalam jok bus yang sempit. Walaupun di sini, bedanya kalau kita naik bus antarkota, servis pun tetap dikasih: ada seorang “pramugara” yang membagi-bagikan minuman (bisa milih teh atau kopi) ke masing-masing penumpang, plus camilan cake kecil yang cukup mengenyangkan. Selain itu suka diputar VCD ato DVD film gitu di tivi kecil yang dipasang di langit-langit bus deket jok pak supir.

Sampai di Istanbul, waktu itu masih pagi sekali, sekitar jam 6-7, dan resepsionis asrama Ataturk Yurdu belum dibuka. Jadilah kita menunggu di halaman asrama sambil mengobrol ngalor-ngidul sambil duduk di atas koper.. eh atau batu ya :p, pokoke tuh koper-koper yang kami bawa bak saksi bisu obrolan kami deh (ceileh!). Saya pun iseng (bukan iseng sih, tapi emang penasaran, hehe) bertanya pada Adnan, “Adnan kamu tinggal di Palestina mananya?”

“Nggak, aku nggak tinggal di Palestina,” jawabnya.

“Dia tinggal di Yordania. Makanya dia kenal aku,” sela si Ahmad cowok Jordan ini.

“Ooh..?”

“Dia dari kecil tinggal di Yordania, sama aku,” jawab si Ahmad lagi.

“Sama keluarga kamu juga?”

“Hhm.. ya, tapi masih ada sebagian yang tersisa di Palestina,” jawab Adnan dengan nada agak enggan melanjutkan.

Hmm.. ya, ya.. mungkin buat orang-orang seperti Adnan ditanya hal-hal kayak gitu bakal mengingatkannya kembali akan kenangan yang menyakitkan, menyedihkan. Sambil menulis ini pun saya juga jadi teringat pada teman satu kelas kursus saya di Perugia, dia cewek, asal Bosnia, ketika saya penasaran ingin menanyakannya tentang negaranya. Tapi dia juga seperti enggan bercerita. Yang jelas si cewek ini asal Sarajevo, dan… cantiik sekali, dengan rambut ikal sebahu warna gelap yang dikuncir kuda. Plus ramah pula :). Lucunya, dia hobi banget shopping barang-barang bermerek selama di Perugia.

Saya jadi penasaran banget dan menerka-nerka, apakah dengan hobi merokoknya si Adnan ini, penampilannya yang cuek, bahkan kalau nggak kenal terkesan petantang-petenteng, memakai kalung; atau si cewek Bosnia yang doyan belanja serta modis banget, adalah pelampiasan untuk melupakan kenangan pahit akan perang yang sedang atau pernah melanda negaranya?

Yang jelas, saya masih inget banget, si Adnan ini baiiiik sekali. Ketika kami lapar dan pada berbondong-bondong pergi ke kantin, saya yang kelupaan dengan koper saya buru-buru balik ke halaman untuk mengambilnya, lalu Adnan ikut menemani saya mengambil koper. Sementara temen-temen Arab yang lain cuek aja tuh tetap menuju kantin, hehe. Pokoknya, di saat-saat di mana suasana sedang hectic atau buru-buru, apalagi tenaga orang-orang Arab kan seribu kali lebih kuat ya daripada saya si kecil dari Asia Tenggara ini, hehe… si Adnan dengan sabar membantu saya, atau ikut menemani saya membawakan barang, atau mengintil saya. Saya nggak ditinggal bleng gitu aja deh sendirian di belakang.

Oya, pernah suatu hari pas “rombongan kecil” kami pergi naik tram. Tujuan saya ingin jalan-jalan, tapi tujuan si Mouna dan salah seorang temen cewek lainnya, sama-sama asal Tunisia, yang tinggal di asrama Ataturk-Istanbul, adalah berbelanja. Tentunya, si kedua cowok ini, entah terpaksa atau entah rela ikut menemani mereka juga. Yang jelas belanjanya bukan di Kapali Carsisi yang terkenal di kalangan turis-turis asing itu, karena barang-barang di sana lebih mahal. So, turunlah mereka di sebuah halte pemberhentian tram. Adnan mengira saya juga akan ikut heboh berbelanja, tetapi pas tahu saya nggak ikut turun, dia yang kelihatan agak kaget. “Loh kamu nggak ikut?”

“Nggak, aku mo jalan-jalan aja. Mo lihat Sultanahmet (Mesjid Biru).”

Si Adnan pun lantas menyahut, “Hati-hati ya.” Kali dia heran ngeliat ada cewek berani jalan-jalan sendirian, hehe.. secara temen-temen ceweknya sesama Arab ke mana-mana selalu minta ditemenin. Tapi ya mungkin juga si Adnan lumayan tahu sikon di Istanbul bagaimana, yah.. buktinya saya sempet digangguin om-om kesepian :p.

Adnan sekarang apa kabar ya? Dia dan Ahmad saat itu akan memulai kuliah kedokterannya di Istanbul dengan beasiswa yang diterima dari pemerintah Turki. So, kepindahan mereka ke Istanbul itu memang untuk jangka waktu yang lama. Hhm.. cuek-cuek gitu jadi dokter, tapi bakalan tetep ngerokok nggak ya? hehehe…Semoga kamu jadi dokter yang sukses ya Adnan, amiiin…

 

Foto: tvrage.com

Tulisan ini dibuat di blog Multiply tanggal 27 Juli 2009

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s