Momen Berharga di Rumah Sakit

Kedua anak-ibu itu begitu menikmati waktunya berdua bercengkrama sambil menonton tayangan sinetron komedi di televisi.

Siang tadi, mereka berdua sama-sama menyantap makanan. Anaknya membeli PopMie, ibunya mungkin menyantap makanan rumah sakit. Aromanya sempat saya kira nasi pecel yang katanya khas Surabaya. Pedas pedas gimana gitu…
Tidak terbayang wajah-wajah sendu pada mereka. Yah, setidaknya aura itu tidak terasa di indera ‘keenam’ saya yang lumayan peka akan perasaan-perasaan yang tersembunyi di balik hati seseorang. (Kayaknyaaa… ). Keduanya seolah-olah seperti memasuki kamar sebuah hotel: meletakkan barang-barang, sang ibu dibaringkan di ranjang pasien, sementara sang anak merapikan barang bawaan. Sekat tirai yang membatasi antara saya dengan pasien itu membuat saya hanya dapat mendengarkan gerak-gerik yang mereka lakukan dan dialog-dialog bahasa Jawa yang mereka ucapkan.
Sebelumnya saya diberitahu oleh si anak, yang usianya kira-kira sepantaran dengan saya, bahwa ibunya menderita kanker serviks. Si anak yang berwajah manis seperti artis itu balik bertanya ke saya tentang penyakit yang saya derita. Ternyata dia juga pernah kena serangan yang mirip-mirip seperti saya, yaitu miom di rahim. Tapi masih kecil dan bisa dibasmi dengan obat.
Kanker serviks.
Sewaktu saya didiagnosa oleh dokter di Jakarta tentang kista endometriosis yang saya derita, saya sempat membaca-baca literatur di internet–entah literatur tersebut seratus persen benar atau tidak, karena toh saya mendapatkannya bukan dari jurnal ilmiah–tentang penyakit-penyakit yang hobi menyerang daerah rawan wanita di zaman modern ini. Kanker serviks, miom, kista, endometriosis, hamil anggur, dst, dst…
Saya sempat nyaris salah persepsi, bahwa kista itu harus selalu terletak di daerah rahim, seperti halnya kanker serviks dan miom. Padahal dokter yang mendiagnosa sudah menyebutkan kista saya itu di daerah ovarium. Walaupun ovarium letaknya dekat dengan rahim, ya tetap saja tidak sama. Ovarium itu ya gelembung-gelembung yang menghasilkan sel telur–disebut juga indung telur–yang akan dilepaskan ke rahim pada saat ovulasi. Kalau rahim ya tempat bersemayamnya calon jabang bayi kalau terjadi pembuahan. Yah beginilah yang namanya dokter abal-abal, alias dokter gak jadi .
Kalau pada kasus saya, proses pemecahan folikel alias calon-calon telur itu tidak terjadi dengan sempurna, sehingga terbentuklah balon-balon yang makin lama makin menumpuk, membentuk kamar-kamar. Maka itu disebut kista multilokuler. Kenapa endometriosis? Karena ada kista yang menempel pada dinding rahim.
Bagaimana dengan kanker serviks? Menurut pengetahuan saya yang dangkal, serviks itu leher rahim. Jadi virus-virus penyebab kanker itu menyerang liang rahim tempat jabang bayi keluar ketika ia lahir ke dunia. Entah jadi apa bentuknya, apakah daging, apakah bintil-bintil. Yang jelas sih, kalau dibayangkan ya…menyakitkan. Merasakan benda asing seperti dulcolax, selang infus dan tampon masuk ke anus saya saja bikin saya kejang-kejang dan menjerit-jerit tertahan .
Dan ibu itu baru mengetahuinya tadi pagi. Ketika ia akan melepaskan susuk spiral KB-nya. Usianya 50 tahun. Menjelang menopause. Dan… tidak diduga-duganya, kankernya sudah masuk stadium ketiga! Jadi ia harus diopname untuk mulai menjalani proses pengobatan yang… menurut cerita orang-orang tidak kalah menyakitkan. Kemoterapi.
Saya melihat dengan mata kepala sendiri sahabat ayah saya yang menjalani kemoterapi untuk penyakit kanker parunya. Kini tubuhnya kurus kering. Rambutnya habis tak bersisa. Kata orang, kemoterapi membawa banyak efek samping. Entah itu muntah, alergi gatal-gatal, rambut rontok, dan efek-efek lainnya yang tidak menyenangkan.
Syukur alhamdulillah kista yang menyerang saya, walaupun tidak kalah besarnya dengan bola voli dengan berat 4 kg, ternyata kista jinak. Jadi, alhamdulillaaah saya tidak akan menjalani proses kemo-kemoan…
Proses operasi yang ‘cuma begini’ sajaaa, efek nggak enaknya masih kerasa sampai hari keempat saya diinapkan di rumah sakit pasca operasi. Yang perdarahan lah, yang perut nyeri nggak karuan, yang susah pup, de-el-el. Bagaimana dengan ibu itu nanti ya? Pikir saya.
Tapi ibu dan anak itu sungguh hebat. Saya pikir, karena diagnosa yang mendadak itu, reaksi yang akan muncul adalah tangisan, penyesalan, sesenggukan, cucuran air mata, telepon-telepon saudara, kakak, adik, teman, dan cerita ini-itu, dan berbagai macam bentuk kesedihan lainnya. Sebaliknya, sampai detik ini saya menulis, mereka malah cekikikan sendiri menonton kekonyolan aksi Gading Marten di sebuah sinetron di SCTV. Entahlah, mungkin nanti..? Tapi asumsi saya tidak akan seheboh yang saya kira.
Semoga ibu dan anak itu diberi kesabaran dan ketabahan yang lebih besar dari saya. Dan semoga mereka akan terus mengisi sisa-sisa kebersamaan waktu yang ada dengan canda-gurau dan momen-momen yang menyenangkan. Karena memang sih, indah nggaknya hidup itu tergantung gimana kita menyikapinya, bukan? (eitss.. ini bukan kata-kata bijak dari saya loh, tapi hasil observasi dari pengalaman orang-orang ).
Tulisan ini dibuat di blog Multiply tanggal 4 Juni 2012
Iklan

One thought on “Momen Berharga di Rumah Sakit

  1. Ping balik: Pasca Rawat Inap dan Operasi, Lalu Apa? | "Rumah Corat-Coret" Punya Dina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s