Kisah Seorang Supir Taksi

Sebelum lupa, saya ingin bercerita mengenai kisah seorang supir taksi.
Supir taksi yang mengantarkan saya dari bandara ke rumah paklik saya di Surabaya tadi pagi.
Alkisah, kakak perempuan sang supir taksi ternyata terkena kista juga seperti saya.
Lebih besar kistanya, dengan berat (katanya) 20 (kilogram atau liter).
Dan ia musti menopang berat kistanya itu selama 12 tahun!
Sungguh waktu yang sangaaaat lama menurut saya.
Kalau kata almarhum pelawak Asmuni, “Ini hil yang mustahal!” (pelesetan dari “Hal yang mustahil”)


Saya pikir, “ah mosok sih? tidak mungkin!”
Tapi tidak mungkin sang supir taksi bisa lancar bercerita demikian kepada saya kalau ia bohong.
Katanya kakak perempuannya itu terpaksa menahan kista di perutnya selama 12 tahun,
karena berbagai komplikasi yang dideritanya: ginjal, jantung…
Sudah dibawa hingga ke 6 dokter spesialis, katanya, untuk mengecek kondisi kesehatannya.
Yah, lumayan masuk akal juga memang,
Mengingat saya dulu menjelang dioperasi juga diperiksa jantungnya, kadar gula darahnya, thoraks-nya, dan berbagai pemeriksaan lainnya melalui laboratorium.

Jadi, kalau kakaknya sang supir taksi itu menderita berbagai macam komplikasi sehingga harus menunggu sekian lama agar kistanya bisa diangkat, yaa agak-agak logis juga.
(Tapi saya tetap nggak habis pikir mengapa sampai menunggu 12 tahun? Apa kistanya nggak keburu meletus?)
Kata sang supir taksi, kistanya ukurannya tetap sama sebesar bola (sambil memeragakan dengan tangannya, asumsi saya kalau nggak bola basket ya bola voli mungkin).
Yah, however, syukurlah kalau tidak semakin membesar.
Pastinya, seperti yang diceritakannya, ia jadi terlihat seperti ibu-ibu hamil 9 bulan.
Ke mana-mana menopang perutnya yang demikian besar.
Untuk mengepel saja susah.
Lalu, saya bertanya lagi, “Memangnya orang-orang nggak nanyain, Pak? Nggak ngirain lagi hamil?”
“Ya orang-orang sudah tau sih kalau kakak saya itu punya kista.”
Mungkin yang dimaksudnya dengan orang-orang di sini adalah keluarganya,
dan karyawan-karyawan si kakak perempuannya.
Karena di antara celotehannya itu, sang supir taksi juga bertanya secara retoris kepada saya, “Kenapa kakak saya bisa kena kista, Mbak…”
Yang sempat saya jawab dengan gurauan (tapi benar adanya ), “Stres, Pak.”
Lalu sang supir taksi pun melanjutkan.
Ndak stress, tapi ya itu Mbak. Kakak saya itu dulunya punya perusahaan dan karyawannya banyak. Setelah terkena musibah krisis dan bangkrut, kakak saya jadi kepikiran bagaimana menyelamatkan karyawan-karyawannya.”
“Ya itu, Pak, mikir terus jadi stres,” timpal saya.
Sang supir taksi pun tertawa.
Sang kakak yang akhirnya jadi dioperasi membuat saya penasaran tentang biayanya. Ya karena seperti yang saya alami, operasi pengangkatan kista yang sudah demikian besar ukurannya, biayanya juga tentu besar.

“Wah itu pasti banyak itu, Pak, biayanya,” kata saya dengan nada menyelidiki. Maksudnya, yang saya ajak bicara hanyalah supir taksi. Dan kakak perempuannya bangkrut. Bagaimana ia akan membiayainya? Apalagi semenjak saya banyak mengalami kejadian dibohongi orang (mungkin karena memang benar kata orang saya terlalu baik), saya jadi nyaris selalu bersikap waspada terhadap orang-orang yang tidak saya kenal. Apalagi saya masih belum terlalu percaya dengan penekanan pada 12 tahun dan 20 kilo-nya itu. Tapi toh saya tetap mengikuti ritme ceritanya.

Di sisi lain, pikiran saya yang lain berkata, “Tenang, ini Surabaya. Ini bukan Jakarta. Apalagi sesama orang Jawa.” Sesaat pikiran saya yang lain lagi ikut menimpali, sambil terngiang di kepala saya nasihat seorang teman. “Preman-preman di Jawa itu masih jauh lebih baik. Dekati mereka dengan baik, mereka juga akan baik sama kita.” Dan sedetik pikiran lainnya pun menambahkan, “Hati-hati. Hati-hati.” Wis dech, pokoke saya antara berdo’a, waspada, tapi keep cool & relax .

Kemudian sang supir taksi melanjutkan. “Tahu, Mbak, habis berapa biaya operasi kakak saya itu? 150 juta Mbak, 150 juta,” ujarnya sambil mengacung-acungkan telunjuknya membentuk angka satu.

Jreg!

“Itu baru operasinya, Mbak, belum biaya berobatnya masa sebelum operasi yang 12 tahun itu. Dua ratus juta lebih, Mbak.”

Sang supir kembali menyerocos sambil memutar kemudi, “Uang itu udah nggak ada harganya, Mbak. Sudah habis-habisan. Pokoknya kalau sudah yang namanya urusan kesehatan, Mbak, sudah nggak ada artinya. Memang kalau dipikir-pikir, ya ndak mungkin tho, dari mana bisa dapat segitu? Tapi koq ya ada aja Mbak.”

Saya diam. Tercenung.

“Dari yang beratnya 60 kilo, jadi cuma tinggal 40 kilo. Badannya kurus kayak Mbak.”

Saya balik bertanya, “Terus sekarang bagaimana, Pak? Masih hidup? Selamat?”

“Oh iya masih, masih udah bersih sekarang. Sekarang dia sudah sehat. Sekarang dia di rumah. Untung ada suami, ada anak. Anaknya yang pertama sudah besar,” jawabnya sumringah.

Dengan cepat saya berusaha mencerna kata-katanya. Sampai sekarang. Entah ia bohong atau tidak–setelah mengklarifikasi kepada sepupu saya apa mungkin ada kista beratnya bisa sampai 20 kilo atau 20 liter, dan sepupu saya bilang bahwa ayahnya (atau paklik saya, red) pernah mengoperasi pasien yang kistanya jauuuh lebih besar dari saya (ia memeragakan dengan kedua tangannya seperti sedang memegang bola yang luar biasa besar)–sang supir taksi itu mau tidak mau benar adanya. Tentang uang. Tentang rejeki. Kata-kata itu terngiang-ngiang kembali.

“Uang itu udah nggak ada harganya, Mbak. Sudah habis-habisan. Pokoknya kalau sudah yang namanya urusan kesehatan, Mbak, sudah nggak ada artinya. Memang kalau dipikir-pikir, ya ndak mungkin tho, dari mana bisa dapat segitu? Tapi kok ya ada aja Mbak.”

Saya pun membuka kembali SMS dari teman guru CCF saya, sewaktu saya mengeluhkan padanya tentang kocek yang semakin menipis karena dipakai untuk membeli tiket pesawat demi kontrol kesehatan.

Disyukuri aja mb, justru disaat kekurangan, Tangan Tuhan bkrj bwt kt heran, “Kok bs ckp y?” hehe … * * *

Tulisan ini dibuat di blog Multiply tanggal 15 Juli 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s