Kenangan Keluarga Filipina

Sudah lama sekali saya nggak nulis, dan mumpung lagi agak lowong.. Gara-garanya nonton penampilan Christian Bautista di ajang IMB (Indonesia Mencari Bakat) di Youtube, kenangan saya pun kembali melayang ke pertengahan tahun 2009 yang lalu di Bologna, Italia.

Saya mengenal pasangan suami-istri filipino ini sudah nyaris setahun, tepatnya mulai September 2008, sejak awal saya menempati apartemen baru di Bologna. Mereka bekerja sebagai office boy (atau petugas cleaning service) untuk apartemen yang saya tempati di distrik Borgo Panigale. Pertama kali saya mengenal suaminya yang pada suatu pagi tiba-tiba mengetuk pintu kamar saya. Sepintas wajahnya kelihatan agak sangar tapi dengan takut-takut ia menanyakan apabila kamar saya sudah bisa dibersihkan. Suaminya memang lebih pendiam. Sebut saja panggilannya Noel. Saya amati, pekerjaannya sangat cekatan sekali namun tetap bersih dan rapi. Tidak seperti saya yang sekali saja pernah mencoba menawarkan jasa membersihkan kamar mandi dan dapur rumah orang Yahudi yang lumayan besar di Strasbourg, sudah lumayan ngos-ngosanΒ  (yang ini ceritanya ada tersendiri deh!). Bahkan Noel menawarkan untuk sekalian mencuci piring-piring makan yang belum saya bereskan. Katanya, “lascia, lasciami..” (biar, biar saya aja).

Entah bagaimana, akhirnya saya bisa mengenal istrinya juga yang jauh lebih sumringah dan cerewet. Ternyata mereka berdua sama-sama bekerja di apartemen yang diberi nama Residence Terzo Millennio. Dia justru yang bercerita pada saya, bahwa suaminya pernah memasuki salah satu kamar di apartemen ini, yang ternyata penghuninya berwajah Asia, seperti Filipino juga. Katanya, “suami saya bertanya-tanya, dia orang Filipina atau bukan ya.. soalnya kok wajahnya sama kayak kita. Ah mungkin orang dari negara asia lainnya kali.” Oya, kalau nggak salah si Noel ini lalu memang bertanya asal saya dari mana.

Ternyata, tidak hanya mereka berdua yang bekerja di apartemen itu. Pernah beberapa kali saya berpapasan juga dengan rekan kerjanya yang lain yang sesama orang Filipina. Kami pernah saling sapa ketika mereka baru akan pulang sore harinya, dan saya baru saja selesai kuliah dan pulang dari kampus.

Oya, istrinya bernama Josie. Ia pernah bertanya pada saya, apa yang saya lakukan di negara yang jauh ini, apakah saya sendirian atau ada keluarga. Lalu sewaktu saya menyebutkan bahwa saya ke Italia dengan beasiswa, dia langsung memuji-muji sembari matanya bersinar takjub. Wah, persis deh jadi kebayang ibu-ibu Indonesia kalau diceritakan hal yang sama .

Karena lumayan seringnya kami bertemu, dia beberapa kali menawarkan saya dan salah satu teman Indonesia saya untuk bertandang ke rumahnya dan makan malam bersama. Di lain kesempatan ia juga pernah cerita bahwa ia punya kenalan para pekerja Indonesia sewaktu dia masih bekerja di Hongkong.

Tawaran itu akhirnya saya sambut pada pertengahan tahun 2009 ketika saya harus balik lagi ke Bologna untuk mengikuti ujian susulan. Tahun itu sebenarnya saya sudah memulai perkuliahan di Strasbourg, Prancis, namun karena ada uijan yang belum saya tuntaskan di Italia, maka saya pun harus kembali lagi. Dan, kebetulan sekali saat itu tidak ada teman-teman maupun warga Indonesia yang bisa menampung saya, sehingga dalam kebingungan itu, saya pun teringat akan tawaran Josie dan meneleponnya. Alhamdulillah, dari seberang dia menjawab dengan suara yang terdengar begitu ramah, “Come, Dina, come, no problem you can stay with us!”

Akhirnya, malam-malam di awal bulan September waktu itu, ‘berbekal’ rasa lelah setelah menempuh sekitar delapan jam perjalanan dari Strasbourg menembus Basel dengan kereta, dilanjutkan ke Zurich dan berujung di Milan sebelum akhirnya nyambung dengan Eurostar ke Bologna, saya pun tiba di flat mungilnya yang ternyata tidak jauh dari Terzo Millennio. Layaknya ibu-ibu lainnya, dengan penuh perhatian nyonya Josie menanyakan pada saya apabila saya sudah makan atau belum, dan dia menawarkan untuk memanaskan makan malam yang masih tersisa untuk saya. Bahkan dia sempat berceloteh, “Anak saya daritadi tanya ke saya, kapan Dina datang? when will she come, Mom? quando arriva, Dina?” Keluarga kecil ini memang punya satu anak laki-laki yang sudah masuk bangku sekolah SD.

Lalu, ‘perkenalan’ saya dengan keseharian warga perantauan Filipina pun dimulai. Bahkan, malam-malam ketika saya baru datang pun, saya sudah diberitahu hal-hal yang berkaitan dengan rumah selama saya tinggal bersama mereka. Misalnya, seperti kunci, ia bahkan mempercayakan saya untuk menitipkan salah satu kunci rumah, agar sama-sama tidak saling merepotkan. “Nanti kalau kamu pergi, kamu bawa kunci rumah saya yang satu lagi saja, jadi nanti kalau kamu mau pulang sebentar siangnya, kamu bisa mampir sebentar makan siang di sini. Itu ada pasta (spaghetti), ada sugo di pomodoro (saus tomat untuk pasta). Kamu ambil saja di lemari di belakang sini (sambil menunjuk lemarinya). Kalau mau sarapan ini ada roti di keranjang (sambil menunjuk ke keranjang berisi roti), ada corn flake. Terserah, pokoknya kamu serve yourself ya,” jelasnya sambil nggak pernah berhenti tersenyum sumringah.

Flat itu memang kecil dengan satu ruang makan plus dapur, dua kamar tidur, dan satu kamar mandi. Tapi kehangatan di dalamnya membuat saya seperti berada di keluarga sendiri, bahkan mungkin lebih hangat. Pernah di suatu siang saya sempatkan mampir sebentar di apartemen, eh tahu-tahu ternyata pak Noel lagi istirahat juga. Sampai dia memanggil-manggil dari ruang makan, “Dina, eat!” Waktu itu dia lagi duduk di ruang makan sambil matanya terpaku menonton siaran berita berbahasa Italia di televisi. Lalu ketika saya masuk ke ruang makan, dia langsung tunjuk sini, tunjuk situ (maksudnya lauk dan sebagainya ). “Mangi, mangi (bahasa Italia yang artinya makan)! you can eat this, you can take that. Eat what you want.” Kali karena dia melihat saya kurus sekali jadi dikira kurang makan ya, hehehe… Pak Noel ini berangkat pagi-pagi sekali jam lima di tempat lain (bukan di residence millennio) hingga tengah hari, lalu sekitar jam dua siang dia berangkat lagi untuk melakukan pekerjaan yang seperti biasanya di ‘bekas’ residence saya itu hingga jam tujuh sore. Saya perhatikan, ternyata makanan Filipino tidak jauh beda dengan masakan Indonesia.

Apalagi ketika malam minggu kami makan bersama di apartemen, selayaknya keluarga-keluarga di Italia, suka ada hidangan spesial. Namun kali ini hidangan spesialnya adalah masakan khas Filipina. Ternyata mereka juga punya makanan berkuah seperti ayam kari atau gulai (saya sendiri kini sudah agak samar-samar mengingatnya), bahkan mereka juga punya kecap dan sambal sendiri ! Saya masih ingat gimana si Pak Noel mendesis-desis sendiri karena kepedesan. Mereka juga sama-sama makan nasi seperti kita. Namun tentunya, ditambah pengalaman hidup lebih dari lima tahun di Italia, unsur-unsur masakan Italia seperti insalata (salad) dan pasta (spaghetti) juga ada pastinya.

Di sela-sela makan siang atau makan malam, ibu Josie sering mengisahkan pengalamannya bekerja, termasuk ketika ia masih berstatus tenaga kerja asing di Hongkong, di mana ia banyak bergaul dengan TKI-TKI kita. Ibu Josie termasuk pekerja yang beruntung karena selalu mendapatkan majikan yang baik dan murah hati, selain itu juga karena ibu Josie selalu bekerja dengan jujur dan disiplin. Dia pernah beberapa kali bilang ke saya, “You know Dina, I have to be honest and discipline with them, so that they’re happy and trust us. It is important! When they trust us, they can hire us for many years!” Memang betul, juga. Seperti yang baru saja saya ceritakan mengenai pekerjaan Pak Noel yang harus bangun pagi-pagi dan pulang malam paling lambat jam tujuh, begitu pula dengan ibu Josie. Namun, hebatnya, mereka bisa sama-sama saling berbagi. Misalnya ada jam-jam Pak Noel sibuk sekali, sehingga ibu Josie yang gantian lebih sering di rumah. Dan sebaliknya. Pertalian mereka dengan warga pekerja Filipina lainnya juga erat sekali. Saya amati, ternyata daerah sekitar apartemen itu banyak dihuni warga Filipina. Bahkan ketika acara makan malam di hari Sabtu pun, mereka juga mengundang anak tetangga yang juga sama-sama orang Filipina. Lalu di sela-sela acara makan, ada tamu yang datang berkunjung sebentar, yang ternyata adalah pekerja yang pernah saya temui di apartemen saya terdahulu.

Kenangan tinggal selama lima hari bersama mereka adalah kenangan yang takkan bisa saya lupakan untuk waktu yang lama. Selama lima hari itu, saya merasa seolah-olah sudah mengenal mereka begitu lama. Kami pernah nonton bareng DVD Harry Potter di kamar mereka bersama anak laki-lakinya sambil makan cemilan Pringles, sementara ibu Josie sibuk membenah-benahi isi lemari bajunya karena sebagian mau disumbangkan ke warga Filipina yang baru datang (ibu Josie ini memang sering dilimpahi barang-barang yang masih bagus oleh majikan Italiano-nya). Di lain kesempatan, sembari saya berkutat dengan laptop saya, pak Noel sibuk merapikan pot-pot kecil di balkon dan sementara ibu Josie menyetel lagu-lagu Regine Velasquez dan Lea Salonga dari dapur, yang ditirukan oleh pak Noel. Pernah juga si ibu Josie bilang ke anaknya, “Mario, kamu mesti practice bahasa Inggris kamu sama Dina. You know, Dina, English is important. Di sini kami mulai agak melupakan bahasa Inggris karena selalu bekerja di lingkungan yang menggunakan bahasa Italia.” Saya juga masih ingat ketika mereka berdua sama-sama baru pulang dari kerjaan mereka di residence millennio di suatu sore, saya melihat pak Noel yang menjinjing kantong belanjaan di kedua tangannya, sementara ibu Josie menenteng helm (rupanya mereka berdua pulang naik motor!), sementara anak mereka, Mario, sedang riang bermain dengan tetangga-tetangga filipino-nya.

Sewaktu akhirnya saya harus kembali ke Strasbourg, ibu Josie dan pak Noel mengantar saya hingga depan pintu seraya berterima kasih (seharusnya sayalah yang berterima kasih pada mereka), dan mereka berkata, “good luck! in bocca al lupo!”

Keluarga kecil yang sederhana tapi begitu hangat. Keramah-tamahan khas Asia yang saya dapatkan di negeri yang jauh di Eropa, keramahan dari negara tetangga yang begitu dekat dengan negeri kita namun tidak pernah terlalu kita gubris keberadaannya, kecuali sang ikon fenomenal Christian Bautista…* * *

 

Tulisan ini dibuat di blog Multiply tanggal 7 September 2010

Iklan

2 thoughts on “Kenangan Keluarga Filipina

  1. bram

    Baca ceritanya, teringat juga kenangan sy bbrp tahun yg lalu, ikut numpang sana/i. Jd mau nangis klo ingat.
    Tak sadar, msh banyak yg hatinya tulus walaupun secara materi mereka tdk berlebihan.
    Cerita mbak Dina sangat menyentuh hati.
    Keluarga sy di Malang. Kalo sy dinas di Jabar.
    Salam…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s