Naik Kendaraan Umum di Luar Negeri

Taksi di London: Warna-Warni! (2010)

Kali ini saya nulis yang ringan-ringan aja ya, mo cerita pengalaman naik berbagai jenis kendaraan selama saya di luar negeri. So far, tipe-tipe kendaraan yang pernah saya tumpangi masih yang standar-standar aja sih, belom pernah dapet kesempatan naek gerobak isi aneka hewan macam babi atau kuda, atau kendaraan khas negeri setempat (misalnya seperti tuk-tuk di India). Nggak tau juga sanggup nggak ya sekandang.. eh satu gerobak dengan berbagai “aroma” binatang ini, hehehe. Kendaraan standar nih maksudnya ya pesawat, kereta, trem, metro (subway), taksi, bus, sampai mobil pribadi. Tapi ada berbagai peristiwa di setiap naik kendaraan itu yang masih saya ingat sampai sekarang. Well, ini dia beberapa di antaranya…

Pesawat
Naik pesawat paling lama yang pernah saya alami adalah sewaktu saya dan keluarga (bokap, nyokap, kakak) pergi ke Los Angeles (USA) dari Hongkong. Waktu itu masih tahun 1993, maskapai yang saya gunakan Cathay Pacific. Perjalanan memakan waktu 20 jam! Walhasil, sampe LA pun badan nggreges-greges, kepala nyut-nyutan, hidung mampet, dan akhirnya saya kena demam. Kayaknya itu perjalanan jauh saya yang pertama. Penerbangan paling lama kedua adalah sewaktu saya sekeluarga ke Yordania naik Emirates dari Jakarta tahun 1995. Jadi harap diralat, saya umroh bukan tahun 1992 seperti yang pernah saya tulis di blog sebelumnya, tapi tahun 1995.Β  Saya lupa apa transit dulu di Singapura ato Malaysia ato enggak, tapi pastinya transit dulu juga di Dubai… eh.. apa waktu ke Eropa ya :D? Soalnya saya ke Eropa (tahun 1996) juga pakai Emirates itu. Hhm.. iya ding, kayaknya ke Eropa, soalnya transit dulu (seperti biasa) di Dubai, baru lanjut ke London. Tapi yang ini alhamdulillah saya nggak sakit-sakitan, hehe. Mungkin karena pesawat yang satu ini royal banget ya ngasih makanan :D. Tiap beberapa jam, baru juga selesai makanan besar, eh keluar snack dan atau kue. Trus, nggak lama setelah itu, keluar makan besar lagi. Sampai saya nggak tahu ini sebenarnya makan malam, siang, atau pagi, karena nggak sinkron sama situasi di luar kaca pesawat yang lebih sering gelap daripada terang. Trus, ditambah lagi kita bisa pesen mie dalam cup. Sampe mblenger deh pokoke…

Oiya, pengalaman naik pesawat yang menyebalkan adalah sewaktu saya pergi ke Turki naik Turkish Airlines. Ternyata penumpang-penumpang Turki norak juga ya. Mosok pesawat baru aja mencium daratan dan masih “jalan” nyari-nyari tempat parkiran, eh.. mereka-mereka ini langsung pada nyalain HP, bunyi “tit tit tit tit” pula alias SMS-SMS pada masuk, dan sebagian besar langsung pada berdiri mau ambil bagasi. Rame pokoknya. Sampe-sampe pramugarinya yang cantik mengeluarkan suara menggelegar, “PLEASE! Do not switch on your cellphone now!”. Trus mereka langsung pada diem digertak kayak gitu. Trus, waktu perjalanan pulang dari Istanbul-Singapura, tetep pake maskapai yang sama, di dalam pesawat (lagi-lagi) saya “diganggu” sama om-om kurang bahagia bertampang India yang ngakunya bekerja di Singapura. Awalnya sih saya senang dan menyambut baik sapaannya, apalagi pas dia nebak saya dari Indonesia. Tapi lama-lama kok obrolannya seperti “menghina”, dan keliatannya dia hendak menggoda dan merendahkan saya dari caranya dia menatap saya, karena mengira saya ini PRT atau TKW, sembari dia nyebut-nyebut, “I met a lot of Indonesian workers in Singapore as servants…” Hih, akhirnya gue cuekin itu bapak! Saya bilang dengan ketus, “I am a student!”. Well, selain pengalaman menyebalkan itu, makanannya enak-enak sih…

Tapi, yang paling menyebalkan banget adalah baru-baru ini (sekitar Februari 2009), memanfaatkan promosi tiket murah Ryan Air ke Paris. Sebenarnya saya ogah-ogahan banget ke Paris (halah, gaya bener! :p). Cuma ya sudah demi menemani teman-teman yang belom pernah ke sana dan sekalian menjenguk teman yang belum pernah ketemu muka, saya ikut pergi deh. Promosi tiket murah yang cuma 5 Euro ternyata ujung-ujungnya jadi 25 Euro pp, karena ditambah biaya ini-itu dan pajak. Itu blom apa-apa (iya sih 25 Euro masih murah banget untuk pergi ke Paris daripada naek kereta, hehe). Oya tapi waktu itu bandara cabang Ryan Air belom dibuka di Bologna, jadi kami mesti mampir dulu ke Milan naek kereta yang ongkosnya sekitar 15-an Euro. Trus, sampe di Milan kita mesti naek bus carteran lagi :D, bus khusus yang membawa para calon penumpang Ryan Air ke bandara khusus maskapai murah di Orio Al Serio, karena Ryan Air nggak terbang dari bandara utama. Bus carterannya ya.. mbayar lagi dong! Di Paris pun, sebenernya Ryan Air bukan mendarat bandara Charles de Gaulle, melainkan di sebuah kota kecil dekat Paris yang namanya Beauvais. Untuk mencapai Paris dari Beauvais pun naik bus carteran. Nah… yang tambah bikin sebel sewaktu kami mau pulang dari Paris ke Milan, hanya gara-gara telat boarding 1/2 jam aja, kita udah bener-bener nggak bisa masuk, jadi harus ambil penerbangan lain yang tujuan Itali: kalo nggak Milan ya Roma. Hebatnya politik dagang si mas Ryan ini, pesawat tujuan Milan adanya jam 22 (alias jam sepuluh malam!), padahal kami sudah cabut dari hotel sejak pagi buta dalam keadaan masih setengah sadar, dan ambil metro yang pertama kali tiba, supaya nyampe di bandara Beauvais tepat waktu. Saat itu masih jam 8 pagi, tapi check-in sudah tutup sejak jam 7.30. Trus, karena kami ganti penerbangan, otomatis kami dikenakan charge yang… harganya nggak tanggung-tanggung, 75 Euro per kepala! Wis wis dah… very sweet memories from Paris, hehehehhh… Untungnya (seperti kata orang Jawa walopun ketiban sial masih harus tetap bilang untung :p), masih ada tujuan ke kota lain di Itali, yaitu Roma tadi, yang terbangnya jam 9.30 pagi. Ya sutralah, kami langsung ambil pesawat yang itu aja. Oya, mbayarrnya mesti pake CC pula, alias Kartu Kredit, nggak bisa tunai.Β  Bener-bener nggak mau nerima tunai. Kasian juga waktu ngeliat bapak-bapak di antrian sebelah saya, mohon-mohon membayar pakai tunai, sampai-sampai dia ngeluarin lembaran uang kertas dari dompetnya; saya lihat di dompetnya memang gak ada secuil kartu kredit pun.

Oya, bagi yang tertarik tetep mo nyoba-nyoba naik pake mas Ryan dan sodara-sodaranya (macam wizzair, easyjet, dll), harap diingat mereka nggak ngasih makanan dan minuman gratisan. So, kalo laper ato haus di dalam pesawat dan terpaksa banget harus diisi, ya kalian mesti beli makanan dan minuman yang disediakan. Kecuali germanwings, sewaktu saya terbang dari Frankfurt ke Krakow dan sebaliknya, alhamdulillah tetap dikasih makanan yang lumayan: sandwich isi keju atau ayam, hehehe..

Kereta dan sejenisnya
Maksudnya “dan sejenisnya” di sini tram dan subway (metro) ya, pokoknya yang berfungsinya dengan rel, biar sekalian ceritanya. Kalau naik kereta beneran di luar negeri (alias kereta konvensional dengan rel yang melintasi pedesaan, perbukitan) yang pernah saya alami itu di Italia dan (sedikit) Jerman. Naik subway (metro) di Singapura, Paris, Ankara, Istanbul, Lisbon, dan London. Oya, harap dicatat, teman-teman kalau naik trem, subway, ataupun kereta di Eropa jangan kuatir bakalan tersesat atau kesasar ;). Karena petunjuk yang diberikan jelas sekali, baik berupa papan rute pemberhentian di setiap peron (so catet deh tuh rutenya baik-baik :p!) maupun “halo-halo” alias pengumuman yang digaungkan sama si petugas KA di masing-masing stasiun pemberhentian utama. Kalau kereta murah biasanya suka nggak ada “halo-halo” ini, tapi kita bisa melihat papan plang stasiunnya yang keliatan jelas dari balik jendela gerbong. Tapi, kalaupun kalian sampai kesasar, nggak ada salahnya juga tho, justru jadi lebih cepat hafalnya (karena inget dulu pernah kesasar di tempat ini, misalnya) dan siapa tahu malahan menemukan daerah baru yang ingin dijelajahi? Tenang aja, saya juga tukang kesasar kok, hehe…

Nggak ada yang terlalu berkesan sih.. oya, cuma waktu saya naik kereta malam dari Frankfurt ke Milan aja yang lumayan bikin capek karena selain bawaan yang segambreng (koper, tas ransel dan selimut tebal untuk winter), perjalanan itu adalah lanjutan dari Indonesia-Frankfurt sebelum mencapai tujuan akhir (Bologna, Italia), plus saat itu malam pula yang melintasi perbatasan masing-masing negara. Koper-koper yang gede-gede sebagian kami taruh di ujung gerbong, sebagian lagi di depan pintu kompartemen, karena ternyata memang nggak ada bagasi khusus untuk koper-koper raksasa. Mungkin karena kami ambil kelas yang murah itu. Pokoknya bismillah aja :D. Sementara ransel-ransel kami letakkan di rak di atas kepala kami. Lagi enak-enak tidur dalam kegelapan kompartemen, tau-tau pintu dibuka lebar-lebar sama petugas imigrasi dan lampu dinyalakan. Dan kejadian itu sampai tiga kali, karena kami melewati perbatasan 3 negara: Jerman-Swis-Italia. Nyawa masih setengah, pake ditanya-tanya segala sama si om-om petugas dalam bahasa setempat (maksudnya asal dari mana, dalam rangka apa) sambil memeriksa paspor kami. Sayang saya nggak inget tampang-tampangnya ganteng-ganteng ato tuir-tuir, hehe… Oya kami ambil kereta yang nggak pake couchette (kasur) supaya murah, jadi kebayang ‘kan, badan rasanya udah seperti apa ketekuk-tekuk gitu di atas jok kursi kereta sepanjang perjalanan :p. Yah, untungnya saya dan teman-teman sempat melihat keindahan danau Lugano dari dalam gerbong saat melewati perbatasan Swis-Italia. Saat itu fajar dan langitnya masih menunjukkan semburat biru kelam, lampu-lampu dari rumah-rumah dan hotel-hotel masih dinyalakan. Cantik, deh ;).

Cerita tentang metro, antara lain sewaktu saya dan teman-teman naik metro di Paris. Mungkin karena salah seorang teman saya ini heboh motret-motret pakai blitz di dalam kereta, jadi ada nenek-nenek yang ngeliatin kami dengan tampang super sebal. Ya bisa jadi dia ngerasa keganggu karena dia sendiri lagi baca buku, sementara suasana di dalam metro cahayanya termaram, jadi wajar aja kalau ada kelebat cahaya gitu bikin silau. Metro di Paris, seperti sudah sering diceritakan banyak orang, benar-benar tepat waktu. Jadi kalau jadwalnya misalnya jam 12:13 menit, ya datangnya persis pada menit ke-13 itu. Metro di Ankara dan Lisbon saya kira juga tepat waktu (maaf ndak terlalu ingat :D, tapi pastinya nggak ngaret seperti kendaraan-kendaraan umum di Italia, hehehe).

Yang unik adalah sewaktu saya naik trem di Krakow, Polandia. Beberapa trem model kuno masih dipakai, dan modelnya mengingatkan saya pada beberapa model trem di Milan. Seperti kotak lonjong dari bahan kaleng dan beroda, serta kedua ujungnya menyempit. Bangkunya seperti bangku-bangku di lorong rumah sakit tua dari besi yang dipaku pada bagian kakinya. Tapi, saya nggak nyangka kalau ternyata di Krakow pun, selain trem kuno begitu, juga sudah ada trem modern, bentuknya ya seperti trem-trem masa kini dengan hidung yang menonjol pada bagian depan alias gerbong masinis. (Mo bilang lokomotif tapi nggak ada cerobong asapnya, hehe…).

Tram di Istanbul (2006)

Yang paling indah menurut saya ya naik trem di Istanbul. Pemandangan kanan-kirinya, woow.. nggak habis-habis mengundang decak kagum. Selain bisa melihat rupa-rupa masjid peninggalan jaman kekhalifahan Utsmaniyah yang antik dengan kubahnya yang khas, penumpang juga disuguhi pemandangan alam selat Bosphorus yang membelah kota itu. Bagi saya Istanbul masih jauh lebih cantik daripada Paris ;). (ya walaupun Paris juga tetep cantik sih, hihi…)

Bus

Berbeda dengan naik bus di Italia yang di dalamnya kita terbiasa mendengar percakapan antarsesama penumpang dengan nada suara yang kelas plus terkadang diiringi bahasa tubuh terutama gerakan-gerakan tangan yang mencolok, sebaliknya jangan sampai deh ngomong dengan suara nyaring di dalam bus di Turki kalau nggak mau ditegur apalagi sampai dimarahin sama si supir. Paling nggak itu yang saya alami selama masa dua bulan saya di Ankara sebagai pelajar yang menggunakan bus sebagai transportasi sehari-hari. Jadi, teman Indo saya yang super pede dan seksi ini (yang pernah saya ceritakan di blog sebelumnya), kalau lagi ngomong juga sama-sama superpedenya dengan suara nyaring lantang plus derai tawa yang membahana. Awalnya sih saya nggak begitu mempedulikan, tapi karena temen saya ini ngajak saya ngegosip terus sepanjang perjalanan sambil cekikik nyaring, saya mulai merasakan ketidaknyamanan yang timbul dari raut wajah para penumpang di sekitar saya. Tapi, dasar teman saya ini supercuek juga, dia nggak nyadar-nyadar kalau para penumpang sudah mulai sebel sama kehebohan dia. Sampai akhirnya sang supirlah yang membentak dari balik kursinya, padahal kita duduknya di tengah-tengah bus loh, bukan di belakang si pak supir. Saya nggak ngerti bentakannya karena pakai bahasa Turki, tapi keliatan jelas banget kalau dia dan orang-orang di dalam bus bener-bener nggak nyaman sama keceriwisan teman saya itu. Oya, kejadian itu nggak hanya sekali dengan teman Indo saya. Pernah juga tuh saya naik bus dengan teman-teman cewek Arab (dari Tunisia, maksudnya) sepulang kursus. Mereka ngobrol lumayan keras juga, walaupun nggak separah teman Indo saya. Eh, tetep aja ditegor sama beberapa orang penumpang. Yah, maklum ajalah, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, namanya cewek kalo lagi ngegosip kan suka lupa diri, hehe..

Jadi, kalau mau heboh ngegosip lantang di dalam bus ya di Italia aja kali ya (selain di Indonesia, tentunya :D). Bus-bus di Italia, mulai dari nenek-kakek, orang asli Italia, pelajar, pekerja, imigran, orang mabuk sampai orang gila bisa naik. Apalagi kalau malam, kali sebagian besar isi penumpangnya setengah orang mabuk dan setengah orang gila, hehehe. Tapi sih sejauh ini mereka nggak sampe bikin kekacauan di dalam bus. Pernah tuh, saya dua kali kedapatan orang gila yang sama di dalam bus, karena sepanjang perjalanan di dalam bus, dia melontarkan kata-kata jorok dan selalu sama: “Ti amo, ma non mi ami. Tu sei una stronza! Vaffanculo!” (kalau diterjemahin kira-kira: “Saya cinta kamu, tapi kamu nggak cinta saya. Kamu itu brengsek! F**k you!”. Weleh, gila karena cinta kali yee… Kalau orang mabuk tuh kerasa banget dari aroma nafasnya yang bau alkohol, sampe dua-tiga bangku ke depan pun masih kecium walaupun dia duduk di belakang.

Eh, tapi ada juga kejadian heboh di dalam bus di Italia yang pernah saya alami. Jadi ada sekumpulan remaja Arab di dalam bus, cewek-cewek dan cowok-cowok yang lagi asik ngobrol. Tau-tau, salah seorang cewek berdiri dan memaki-maki seorang kakek-kakek yang udah lumayan uzur dengan kata-kata kasar. Semua kata kebun binatang (eh.. di sini kata-kata makian bukan dengan kosakata binatang, ding :p), pokoknya semua kata-kata kasar yang nggak pantes diucapin ke seorang kakek-kakek, keluar semua. Alasannya sih karena dia mengalami pelecehan seksual dari si kakek itu. Tapi anehnya si cewek ini teruuuus aja bersumpah-serapah, merasa terhina banget, dengan mata melotot dan suara menggelegar, sampai akhirnya bus berhenti di salah satu halte dan semua penumpang akhirnya menyerah turun! Seorang ibu-ibu berkulit hitam yang turun tangan berusaha mendamaikan pun nggak mampu memadamkan amarah si cewek. Sedangkan si kakek, mana kuat lah ya membalas maki-makian si cewek dengan kekuatan yang sama.

Oya, pemandangan naik bus dalam keadaan penuh sesak sampai para penumpangnya berhimpitan seperti dendeng pun bisa ditemukan di Italia. Apalagi pada jam-jam sibuk, jam berangkat dan pulang kantor, dan bus yang ditunggu-tunggu jarang datang. Setidaknya itu yang saya alami di Bologna. Bedanya, kalau di Indonesia keadaan seperti itu memancarkan bau-bauan para penumpang yang bercampur-aduk, di sini bau-bauan itu nggak kerasa πŸ˜€ (mungkin karena ketutup sama jaket ya, karena saat itu masih musim dingin).

Taksi
Nah, pengalaman naik taksi ini nih macem-macem kenangannya. Ada yang berkesan, lucu sampai aneh. Pertama kali naik taksi di luar negeri, sewaktu saya dan keluarga berlibur ke Kuala Lumpur. Waktu itu cuma kami berempat (usia saya masih 10 tahun!), kakak cowok saya (yang cuma beda 1 tahun sama saya), nyokap dan almarhumah nenek. Karena mungkin atas pertimbangan membawa nenek yang punya penyakit jantung, jadi nggak bisa grasa-grusu jalan-jalannya, nyokap memutuskan menyewa taksi harian. Jadi hitungannya bukan pakai argo. Supirnya orang India keling, alias hitam pekat. Saya dan kakak sempat ditinggal berdua dengan si supir saja di dalam taksi sementara nyokap dan nenek belanja sebentar di pasar rakyat. Karena saya masih kecil jadi nggak ngerasa apa-apa, tapi nyokap bilang sempet deg-degan juga karena ninggalin dua anaknya di dalam taksi dengan si supir saja! Menyewa taksi harian juga kami lakukan sewaktu berlibur di LA. Supirnya adalah seorang imigran asal Yordania bernama Michael Smairat. Walaupun supir taksi, tapi gayanya oke, berjas dan berdasi, tampangnya juga lumayan, padahal taksi yang kami sewa jenis taksi biasa berwarna kuning seperti kebanyakan taksi di LA. Bahkan dia memberikan kartu namanya pada orangtua saya. Katanya dia memang biasa mengantarkan turis-turis untuk tur harian. Jadi, kami di-drop di tempat tujuan (misalnya, Hollywood), dan lalu kalau keliling-kelilingnya sudah selesai, Michael akan kami telepon untuk minta dijemput. Mungkin selama kami keliling-keliling itu dia nyari orderan di tempat lain juga ya. Michael ini bener-bener supir taksi yang reliable alias dapat diandalkan dan dapat dipercaya (halah, kayak promosi aje :p). Tapi emang bener sih. Buktinya, sewaktu tas ransel saya ketinggalan di hotel (padahal saat itu kami sudah berada di bandara internasional LA dalam rangka balik ke Hongkong), bokap terpaksa menelepon kembali si Michael ini walaupun seharusnya “kontrak” dia dengan kami sudah selesai. Bokap minta tolong agar mengambilkan tas ransel saya yang masih ada di hotel untuk diantarkan ke bandara. Untungnya, berdasarkan cerita bokap yang diceritakan oleh Michael :D, tas ransel saya itu masih ada di hotel pas Michael sampai, dan dengan cepat tanggap Michael mengantarkan tas ransel itu kembali kepada kami. Dan, tas saya benar-benar kembali dalam kondisi utuh! Sayangnya saya sudah lupa apa saja yang diobrolkan bokap, nyokap dan Michael sepanjang perjalanan mengantarkan kami keliling tempat-tempat wisata di LA. Tapi, yang pastinya menarik. Seperti halnya para imigran lainnya di Amerika, Michael pun berjuang menghidupi keluarganya dari bekerja sebagai supir taksi ini. Dan gaji yang didapatinya lumayan bisa memberi makan dan menyekolahkan anaknya. Dia sempat memamerkan foto istri dan anaknya kepada kami, bahkan pernah suatu hari ia mengajak istrinya yang orang Guatemala untuk menemani nyokap ngobrol-ngobrol.

Di Ankara, saya sempat naik taksi walaupun di sana hitungannya nggak jelas (nggak ada argometer), tapi lebih berdasarkan tawar-menawar. Dan sebelnya supir taksi di sana nggak bisa bahasa Inggris, atau sok-sokan “bisa” bahasa Inggris. Untungnya, teman Albania saya, Greta, yang lancar banget bahasa Turkinya, membantu saya mencarikan dan tawar-menawar dengan supir taksi, walaupun saat itu matahari terik menyengat dan dia lagi kelelahan. Saya malahan sempat keukeuh tetep mau naik bus aja dari asrama ke rumah kenalan keluarga Indo di Ankara mengingat harga taksi yang gila-gilaan, bisa sampai 12-15 YTL (dulu tahun 2006 1 YTL itu setara enam ribuan rupiah lah). Padahal rumah kenalan keluarga Indo itu juga letaknya masih di tengah kota. Sementara kalau naik bus cuma 1 YTL. Tapi koper yang segede gaban ditambah ransel yang berat, plus udara yang panas banget bikin saya mikir-mikir. Dan bus yang saya tunggu-tunggu gak lewat pula. Setelah naik taksi, kelihatannya si supir pun agak membawa saya muter-muter dari rute yang biasa dilewati jalur bus. Ditambah pula, tau-tau dia menawarkan rokok ke saya, padahal muka saya lagi jutek abis! (Hehe, sebenernya saya juga nggak terlalu kaget sih ditawarin rokok begini di Turki, karena di sana pemandangan cewek-cewek berjilbab merokok merupakan hal yang sangat lazim). Jadi teman-teman jangan kaget ya nanti kalau di Turki menemui cewek-cewek berjilbab merokok. Dan perlu dicatat, bukan berarti mereka yang merokok terus dicap nakal atau nggak beres. Di sana terkenal pepatah “smoke like a Turkish” ;).

Yang keren, adalah pengalaman naik taksi waktu saya berada di Yangoon, Myanmar. Karena bosan terus-terusan di dalam hotel, sementara rombongan tur yang diorganisir penyelenggara acara model group tour pake bus dengan salah seorang dosen sebagai group leader, jadi pastinya ya acara jalan-jalannya terbatas. Tapi, teman-teman yang lain malah jalan-jalan ke pusat kota buat ke internet center atau window shopping ke mal, atau paling banter ke pasar murah. Yah, mosok jauh-jauh ke Myanmar mainnya ke mal dan pasar lagi, sih. Selain itu, para peserta juga dianjurkan untuk nggak pergi sendirian jauh-jauh. Yowis lah, akhirnya saya putuskan main-main ke Alliance FranΓ§aise-nya Yangoon aja. Semacam pusat kebudayaan Prancis kayak CCF di Jakarta gitu deh. Lumayan dekat dari hotel, sekitar lima belas menit pakai mobil. Saya pun pesan taksi dari hotel untuk minta diantarkan ke sana. Eeh.. nggak nyangka, ternyata taksi yang mengantarkan saya itu model taksi limousin yang besaar dan puanjaaang. Supirnya pun nggak tanggung-tanggung, pake seragam, jas, topi, dan sarung tangan. Mana supirnya super ramah, pula, sampe membukakan pintu untuk saya. Weleh :p. Padahal saya cuma pakai celana jeans plus sendal jepit khas Myanmar. Well.. lumayan lah, bolak-balik kena charge sepuluh dolar, wuehuehehehh… ***

Foto: koleksi pribadi

Tulisan ini dibuat di blog Multiply tanggal 10 Juni 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s