Kelas OFII: Kelas Istri-Istri Bersuamikan Bule Prancis

DILF merupakan metode yang digunakan untuk mengajar kelas OFII

Masih tentang mengajar, pengalaman saya mengajarkan bahasa Prancis ke wanita-wanita Indonesia yang bersuamikan orang Prancis pun nggak kalah serunya. Seru benar-benar dalam artian menyenangkan, bikin gemes, kadang bikin sebal, dan yang terpenting, tidak terlupakan. Mengajar mereka seperti memberi arti baru tentang hidup bagi saya. Bahwa kehidupan itu tidak mesti datar-datar saja. Kehidupan itu seperti sebuah mutiara di dasar lautan yang mendapatkannya harus dengan usaha pantang menyerah ke laut terdalam meskipun banyak hiu menghadang (loh koq jadi puisi berima? ).

Yah.. jika kalian pernah tinggal di luar negeri dan bertemu komunitas orang Indonesia di luar negeri, mungkin teman-teman akan memahami berbagai tipe orang Indonesia, terutama kaum hawa yang bersuamikan bule di sana. Pada awalnya, jujur saja, sebelum saya menyentuh komunitas itu, saya terlanjur termakan omongan orang tentang stereotipe cewek-cewek yang menikahi pria asing: ………………. (titik-titik, teruskan sendiri). Saya sampai nggak tahu mau mendeskripsikannya seperti apa, karena saya begitu ingin menghormati mereka. Satu hal yang pasti: mereka, kaum hawa Indonesia yang bersuamikan bule ini, tidak seperti yang digambarkan dalam stereotipe orang kita mengenai mereka. Tidak selalu. Dan tidak sama sekali. Kalaupun ada salah satu dari stereotipe itu yang benar, saya hanya bisa bilang: mereka beruntung, dan saya iri. Ya, iri, karena saya tidak bisa dan tidak berani seperti mereka. Mungkin orang-orang yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang mereka dan semakin memperkuat stereotipe itu, juga karena mereka iri. Tapi, mungkin mereka tidak mau mengakuinya.

Iri karena mereka berani. Yah, saya ambil contoh saja dari cerita beberapa murid saya tentang bagaimana akhirnya mereka bisa mendapatkan pria bule. Nggak tahu kenapa, sosialisasi saya dengan kaum hawa Indonesia bersuamikan bule tidak berhenti sampai ketika saya pulang dari Eropa saja. Ternyata, di Indonesia pun, saya kembali bertemu kaum hawa yang juga bersuamikan bule–bule Prancis, lebih tepatnya–melalui kelas-kelas privat OFII di mana saya menjadi pengajarnya. OFII itu kepanjangan dari Office Français de l’Immigration et de l’Intégration–kantor punya pemerintah Prancis khusus untuk orang-orang asing yang akan tinggal di Prancis dalam waktu yang cukup lama baik untuk alasan kuliah, kerja, maupun karena menikah dengan orang warga negara Prancis. Di sela-sela pelajaran, kadang saya yang bertanya duluan, atau murid saya yang tiba-tiba bercerita, mengenai asal-muasal kisah pertemuan mereka dengan seorang cowok bule Prancis yang kemudian menjadi suami mereka. Mulai dari cara biasa–seperti di tempat kerja, karena si bule adalah klien bos mereka–sampai cara unik yaitu melalui dunia maya alias situs biro jodoh.  Ada juga yang pertemuannya di bar dan di diskotik, bahkan… di pantai! Ngomong-ngomong tentang situs biro jodoh, sampai pernah ada seorang murid yang membuatkan akun untuk saya di situs tersebut .  Dia juga memberikan saran, “Mbak ikut situs yang ini aja, kalau yang ini orang-orangnya serius pada nyari jodoh semua. Kalau situs yang itu main-main, Mbak,” jelasnya menyebutkan beberapa situs biro jodoh di internet. Sayangnya saya belum bisa seberani dia, sehingga ketika ada beberapa kandidat yang sudah menyatakan ketertarikan pada saya, saya pun langsung menghapus akun saya di situs tersebut. Sayang sekali, yah… . Tuh, kan, bukti bahwa murid-murid saya yang mencari jodoh lewat internet ini begitu berani sekali, padahal mereka belum pernah menjamah negeri yang ‘sangat jauh di seberang sana’ (berasa lagunya Ernie Djohan ).

Kembali ke kegiatan belajar-mengajar, karena murid-murid seperti mereka berasal dari berbagai macam latar belakang, tentunya dalam memberikan pelajaran di kelas pun saya harus menggunakan berbagai strategi. Oya, saya belum menyebutkan ya, bahwa sejak dua tahun yang lalu kursus persiapan bahasa Prancis bagi wanita-wanita bersuamikan orang Prancis, adalah wajib hukumnya demi menempuh tes bahasa serta tes pengetahuan umum tentang Prancis yang diwajibkan sebelum mereka berhak mendapatkan visa Prancis. Dan hal ini berlaku secara internasional. Jadi, entah itu si cewek dari Kolombia, dari Ukraina, lalu menikah dengan cowok Prancis, dia pasti akan melalui tes bahasa dan tes pengetahuan umum dulu di Kedutaan Prancis di negaranya. Mengapa sekarang diberlakukan aturan demikian? Yah, kalo menurut pendapat bego saya sih, agar mengurangi jumlah imigran yang ‘tersia-siakan’ di Prancis. Maksudnya tersia-siakan bagaimana? Kalau saja misalnya mereka bercerai, lalu si cewek ditinggalkan luntang-lantung sendirian di Prancis, nggak bisa bahasa negeri itu pula, pastinya akan jadi beban buat pemerintah Prancis, ‘kan. Jadi, dibuatlah program tes dan kursus itu, kira-kira begitulah. Nah, kursus yang diprogramkan selama empat puluh jam, terbagi ke dalam empat jam perhari selama sepuluh hari, bukanlah waktu yang singkat buat saya. Sebenarnya, model ujiannya pun tidak sesulit mengikuti tes DELF, karena level kesulitannya setingkat di bawah ujian DELF. Namun, lagi-lagi, karena wanita-wanita yang bersuamikan orang Prancis ini berasal dari berbagai macam latar belakang, baik itu pendidikan, pekerjaan, dan asal-muasal, maka hanya satu yang dibutuhkan untuk mengajar mereka: kesabaran ekstra tinggi!

Kalau otak mereka lumayan mampu dan cepat menangkap pelajaran yang diberikan, saya akan memberikan bobot pelajaran lebih banyak sebagai pengetahuan tambahan mereka, meskipun nantinya tidak ditanyakan di ujian. Yaitu pemberian struktur tata bahasa yang mulai kompleks dan kosakata yang lebih banyak. Pernah saya mendapatkan seorang murid yang masa remaja dan kuliahnya dihabiskan di Australia, sehingga ia sudah seperti layaknya seorang English native speaker dengan bahasa Inggris yang lebih cas-cis-cus daripada bahasa Indonesia. Saya pun banyak menggunakan bahasa Inggris bersamanya, malahan bahasa Inggris saya jadi jauh lebih lancar kala itu karena tiap hari harus ngomong Inggris sama dia . Untungnya karena dia nyaris menyerupai English native speaker, dalam mengajarkan kosakata pun terbantu dengan pengetahuan akan kosakata bahasa Inggrisnya yang luas. Saya belajar banyak tentang kemandirian dari murid saya itu. Murid saya yang satu itu memang hebat, karena dia sudah malang-melintang ke berbagai negara untuk pekerjaannya di bidang hotel management, sendirian pula, namun satu hal yang membuat saya kagum: dia tetap begitu humble, ramah, tidak berlagak sok bule, meskipun kawan-kawan dekatnya orang asing semua. Hingga kini saya masih keep contact dengannya.

Ada pula murid saya lainnya yang… sewaktu ia mencatat pelajaran di buku tulisnya, mengingatkan saya pada PRTyang pernah bekerja di rumah saya sewaktu kecil: isi buku tulisnya seperti catatan belanja bulanan! Waduh, kalau sudah begini, saya cuma bisa mengelus-elus dada, dan menunggu jam yang berdetak segera memindahkan jarum ke angka berikutnya . Supaya tidak mengantuk, saya lebih banyak mengobrol dengannya dan menggali banyak hal tentang kehidupan. Di balik bodinya yang seksi, ternyata tersimpan kisah perjuangan hidupnya yang lumayan berat hingga ia akhirnya bisa mendapatkan pria bule. Saya nggak mau cerita ah beratnya bagaimana karena terlalu pribadi. Tapi satu hal yang nggak akan saya lupa hingga sekarang, kerokannya itu mantap punya ! Yoi, karena pernah saya waktu itu sedang masuk angin, dan saya menebak si mbak ini pasti jago mengerok deh, jadi saya minta aja dia untuk mengerok badan saya. Kebetulan saya bawa minyak kayu putih, dan dia punya koinnya, hahaha. Jadilah di sisa jam pelajaran, saya duduk di pojok kelas menikmati kerokannya yang tiada tara.

Sayang, sekarang saya belum diberi kelas OFII lagi. Padahal, dari kelas OFII inilah saya justru mendapatkan banyak pelajaran, di luar dari isi pelajaran bahasa Prancis itu sendiri. Bonne chance*) ya, Ibu-Ibu dan Mbak-Mbak yang pernah saya ajarkan, semoga melalui kehidupan baru ini bersama sang suami, kehidupan Ibu-Ibu dan Mbak-Mbak kini jauh lebih baik dan lebih bahagia . ***

Bonne chance = semoga sukses

Foto: amazon.fr

Tulisan ini dibuat di blog Multiply tanggal 29 Juli 2012

Iklan

One thought on “Kelas OFII: Kelas Istri-Istri Bersuamikan Bule Prancis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s