Arsip Bulanan: September 2012

Pensiun Gaul: Pegangan Wajib buat Yang Ingin Pensiun Sehat dan Bahagia

Penulis : Tessie Setiabudi & Joshua Maruta
Penerbit/Tahun: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal : 221 Halaman

Membaca judulnya saja sudah membuat saya tergelitik untuk mengetahui isinya lebih lanjut. Apa sih maksudnya Pensiun Gaul? Itu yang terlintas di pikiran saya, dan agak ‘mengganggu’ pikiran saya ketika membaca kata ‘Gaul’. “Jadi, maksudnya selama ini pemahaman orang-orang, kalau orang pensiun itu enggak gaul, ya?” pikir saya. Lalu, pada penjelasan di halaman belakang, ternyata saya temukan apa yang dimaksud dengan GAUL, yaitu Gaya hidup sehat dan bahagia, Aktivitasnya bermanfaat, Uangnya banyak, dan Lupanya sedikit. Dan saya kira, ada benarnya juga, sebagai orang yang sudah tidak bekerja lagi, tentunya ingin mengerjakan banyak aktivitas yang bermanfaat tanpa merasa perlu kuatir kekurangan dalam arti materi (karena sudah tidak berpenghasilan lagi). Sebagai pensiunan tentunya juga menghendaki pada masa-masa itu fisik dan ruhani kita tetap  sehat, agar tidak menyusahkan orang-orang di sekitarnya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah Seorang Supir Taksi

Sebelum lupa, saya ingin bercerita mengenai kisah seorang supir taksi.
Supir taksi yang mengantarkan saya dari bandara ke rumah paklik saya di Surabaya tadi pagi.
Alkisah, kakak perempuan sang supir taksi ternyata terkena kista juga seperti saya.
Lebih besar kistanya, dengan berat (katanya) 20 (kilogram atau liter).
Dan ia musti menopang berat kistanya itu selama 12 tahun!
Sungguh waktu yang sangaaaat lama menurut saya.
Kalau kata almarhum pelawak Asmuni, “Ini hil yang mustahal!” (pelesetan dari “Hal yang mustahil”)

Baca lebih lanjut

Momen Berharga di Rumah Sakit

Kedua anak-ibu itu begitu menikmati waktunya berdua bercengkrama sambil menonton tayangan sinetron komedi di televisi.

Siang tadi, mereka berdua sama-sama menyantap makanan. Anaknya membeli PopMie, ibunya mungkin menyantap makanan rumah sakit. Aromanya sempat saya kira nasi pecel yang katanya khas Surabaya. Pedas pedas gimana gitu…
Tidak terbayang wajah-wajah sendu pada mereka. Yah, setidaknya aura itu tidak terasa di indera ‘keenam’ saya yang lumayan peka akan perasaan-perasaan yang tersembunyi di balik hati seseorang. (Kayaknyaaa… ). Keduanya seolah-olah seperti memasuki kamar sebuah hotel: meletakkan barang-barang, sang ibu dibaringkan di ranjang pasien, sementara sang anak merapikan barang bawaan. Sekat tirai yang membatasi antara saya dengan pasien itu membuat saya hanya dapat mendengarkan gerak-gerik yang mereka lakukan dan dialog-dialog bahasa Jawa yang mereka ucapkan.

Kenangan Keluarga Filipina

Sudah lama sekali saya nggak nulis, dan mumpung lagi agak lowong.. Gara-garanya nonton penampilan Christian Bautista di ajang IMB (Indonesia Mencari Bakat) di Youtube, kenangan saya pun kembali melayang ke pertengahan tahun 2009 yang lalu di Bologna, Italia.

Saya mengenal pasangan suami-istri filipino ini sudah nyaris setahun, tepatnya mulai September 2008, sejak awal saya menempati apartemen baru di Bologna. Mereka bekerja sebagai office boy (atau petugas cleaning service) untuk apartemen yang saya tempati di distrik Borgo Panigale. Pertama kali saya mengenal suaminya yang pada suatu pagi tiba-tiba mengetuk pintu kamar saya. Sepintas wajahnya kelihatan agak sangar tapi dengan takut-takut ia menanyakan apabila kamar saya sudah bisa dibersihkan. Suaminya memang lebih pendiam. Sebut saja panggilannya Noel. Saya amati, pekerjaannya sangat cekatan sekali namun tetap bersih dan rapi. Tidak seperti saya yang sekali saja pernah mencoba menawarkan jasa membersihkan kamar mandi dan dapur rumah orang Yahudi yang lumayan besar di Strasbourg, sudah lumayan ngos-ngosan  (yang ini ceritanya ada tersendiri deh!). Bahkan Noel menawarkan untuk sekalian mencuci piring-piring makan yang belum saya bereskan. Katanya, “lascia, lasciami..” (biar, biar saya aja).

Baca lebih lanjut

Sekilas Kenangan akan Teman Palestina

Habis nonton The Boy In The Striped Pyjamas, kok saya malah pingin menulis kisah kenangan tentang seorang teman Palestina yang saya kenal di Turki ya… Sebenarnya saya nggak begitu lama mengenalnya, karena kami baru saja bertemu pada masa-masa akhir saya di Turki, sekitar akhir Agustus-awal September tahun 2006 gitu, deh.

Muka si Adnan mirip-mirip Jason Priestley, tapi dengan rambut dan mata lebih gelap.. (ganteng khan? :D)

Namanya agak-agak susah, saya mengira dulu namanya adalah Adnan, tapi yang benar… kalau nggak salah Annan, Annen atau apa gitu. Tapi ya sudah saya sebut saja Adnan di sini, karena di telinga saya lebih familiar. Dia cowok Palestina berusia sekitar akhir belasan tahun, masih muda memang. Mau menginjak usia dua puluh. Awalnya saya kira dia tipe cowok-cowok Arab sok cuek-sombing-kelewat pede-seperti orang-orang Arab yang saya tahu pada umumnya. Tapi setelah agak lama kenal, dia cowok yang baik. Udah gitu, nilai plusnya ganteng pula, hehe :p. Rambut ikal cokelat gelap dan alis mata tebal, bibirnya merah (uhuyy… walaupun sayangnya dia ini hobi merokok), dan hobi juga pakai baju warna merah atau pink, yang membuatnya kelihatan tambah ganteng malah, nggak norak ato dangdut.
Baca lebih lanjut

Kelas OFII: Kelas Istri-Istri Bersuamikan Bule Prancis

DILF merupakan metode yang digunakan untuk mengajar kelas OFII

Masih tentang mengajar, pengalaman saya mengajarkan bahasa Prancis ke wanita-wanita Indonesia yang bersuamikan orang Prancis pun nggak kalah serunya. Seru benar-benar dalam artian menyenangkan, bikin gemes, kadang bikin sebal, dan yang terpenting, tidak terlupakan. Mengajar mereka seperti memberi arti baru tentang hidup bagi saya. Bahwa kehidupan itu tidak mesti datar-datar saja. Kehidupan itu seperti sebuah mutiara di dasar lautan yang mendapatkannya harus dengan usaha pantang menyerah ke laut terdalam meskipun banyak hiu menghadang (loh koq jadi puisi berima? ).

Yah.. jika kalian pernah tinggal di luar negeri dan bertemu komunitas orang Indonesia di luar negeri, mungkin teman-teman akan memahami berbagai tipe orang Indonesia, terutama kaum hawa yang bersuamikan bule di sana. Pada awalnya, jujur saja, sebelum saya menyentuh komunitas itu, saya terlanjur termakan omongan orang tentang stereotipe cewek-cewek yang menikahi pria asing: ………………. (titik-titik, teruskan sendiri). Saya sampai nggak tahu mau mendeskripsikannya seperti apa, karena saya begitu ingin menghormati mereka. Satu hal yang pasti: mereka, kaum hawa Indonesia yang bersuamikan bule ini, tidak seperti yang digambarkan dalam stereotipe orang kita mengenai mereka. Tidak selalu. Dan tidak sama sekali. Kalaupun ada salah satu dari stereotipe itu yang benar, saya hanya bisa bilang: mereka beruntung, dan saya iri. Ya, iri, karena saya tidak bisa dan tidak berani seperti mereka. Mungkin orang-orang yang membicarakan hal-hal yang buruk tentang mereka dan semakin memperkuat stereotipe itu, juga karena mereka iri. Tapi, mungkin mereka tidak mau mengakuinya.

Baca lebih lanjut

Jack & Jill

Tiket gratis nobar ‘Jack & Jill’ dari majalah Grazia Indonesia

Sebenarnya saya nggak terlalu doyan nonton film komedi di bioskop karena buat saya nonton film komedi cukup donlot dari internet dan nonton pakai laptop di rumah. Tetapi kalau untuk film-film berlatar historis atau imajinatif yang membutuhkan banyak efek visual yang apik barulah saya mau bela-belain pergi ke bioskop. Termasuk juga film Indonesia yang bagus, saya lebih suka nonton di bioskop.

Cuma karena hari ini saya dapat tiket gratisan nobar (singkatan dari ‘nonton bareng’) dari Grazia, majalah yang aslinya dari Italia dan lisensinya di Indonesia dipegang oleh Feminagroup, yah nggak papalah saya datang juga buat nonton sekaligus refreshing. (Tapi sayang juga ya majalah-majalah nggak ngadain nobar film Sherlock Holmes, padahal saya lebih prefer film detektif berlatar Inggris jaman abad kesembilan belas ini dengan bintang-bintang yang super ganteng dan bikin mata nggak berkedip seperti Robert Downey Jr. dan Jude Law :D). Baca lebih lanjut