Workshop Menulis Moola (dan Tetek-Bengek Lainnya…)

Terhitung sudah satu bulan saya tidak meng-update isi blog pribadi saya di sini. Selain waktu itu saya masih bekerja kantoran dan pekerjaan sungguh menumpuk, plus saya juga double job mengerjakan terjemahan, disambung acara keluar kota bertubi-tubi mengikuti acara di Puncak, lanjut ke Indonesia Community Day di Jogja 2017 yang diselenggarakan Kompasiana, dan terakhir ke Bandung pada akhir Mei ini untuk menjadi pembicara sebagai alumni PPI Dunia di kampus Unpad, membuat saya nyaris melupakan blog pribadi saya. Selain itu, saya juga sedang membangun satu blog pribadi lagi dengan tematik traveling serta kuliner di travelkulinerdina.net.

Bersama para peserta workshop Moola.id, mengenal teman-teman baru dan menambah jejaring. (Photo Credit: twitter moola.id)

Walaupun begitu bukannya saya nggak nulis sama sekali. Saya tetap membuat artikel resensi film untuk Kompasiana (berhubung saya admin komunitas film di situ), dan saya juga diberi tugas mengerjakan ‘Tantangan Menulis 30 Hari’ dari workshop yang saya ikuti bersama Mbak Ollie Salsabila dan Teh Ligwina Hananto. Selain itu, mungkin karena saya terlalu idealis—maksudnya kalau nulis di blog pribadi ya gaya penulisan harus sesuai dengan ‘nafas’ idealisme saya, jadinya malah nggak nulis-nulis 😃. But here I am back since I become jobless for once again but still overwhelmed with so many activities until this early Ramadhan. Yah alhamdulillah, deh, jobless bukan berarti saya bengong, tapi malah makin sibuk. Semoga saja juga diikuti dengan rejeki yang membaik, he he… amin.

Baca lebih lanjut

Teror (Lagi) di Kota Paris

Lagi-lagi, serangan aksi teror kembali melanda kota Paris pada Kamis malam 21 April kemarin. Kali ini, tempat penyerangan itu terjadi di kawasan elit Champs-Elysées, yang terkenal juga dengan kawasan butik-butik kelas dunia seperti Hermès, Louis Vuitton, Sephora, dan banyak lagi. Namun, tragedi itu justru saya ketahui dari status facebook seorang mahasiswi Indonesia kenalan saya yang sedang menempuh studi di kota tersebut.

Aksi penembakan di ruang publik di kawasan elit Champs Elysees kembali terjadi di kota Paris, 21 April 2017. (foto sumber: france24.com)

Kebetulan teman saya ini dengan seorang mahasiswi Indonesia lainnya sedang melintas di kawasan tersebut setelah sebelumnya berfoto-foto di depan monumen Arc de Triomphe sekitar jam 8 malam. Champs-Elysées yang saat itu sedang dipadati turis tiba-tiba dikejutkan dengan suara tembakan lima kali, yang awalnya dikira suara mercon. Teman saya pun refleks berlari mencari tempat persembunyian ke restoran terdekat, masih dengan diiringi suara tembakan di sekelilingnya. Alhamdulillah keduanya berhasil pulang dengan selamat ke apartemen masing-masing, meskipun trauma yang dirasakannya tentu akan membekas di ingatan.

Baca lebih lanjut

Turki dan Potensi Busana Muslim Indonesia ke Gerbang Dunia

Beberapa tahun terakhir, saya amati perhelatan panggung mode Indonesia semakin marak. Selain ada Jakarta Fashion Week, kini busana muslim asal Indonesia juga tidak mau ketinggalan unjuk gigi ke kancah panggung dunia dalam sebuah pagelaran bertajuk Muslim Fashion Festival, atau disingkat Muffest.

Muslim Fashion Festival (atau muffest) merupakan ajang tahunan pagelaran busana muslim tahunan yang digelar di Indonesia. Tahun 2017 merupakan kali kedua Muffest diadakan (foto: dokpri)

Disebut panggung fashion show dunia, karena acara Muffest yang digelar pada 6 hingga 9 April 2017 kemarin juga turut mengundang serta menghadirkan rancangan para disainer asal Turki, plus diskusi dengan pengamat mode asal Turki . Ketika mengetahui dari Blogger Crony bahwa akan ada gelar fashion sekaligus bincang-bincang dengan pengamat mode dari Turki, saya dengan serta-merta mendaftarkan diri untuk ikut hadir dalam acara tersebut.

Baca lebih lanjut

Kampanye Bunda Tanggap Alergi di Jakarta Car Free Day 2017

Sewaktu kecil, saya kerap kali dilanda alergi biang keringat terutama saat suhu udara cenderung panas lembap. Kalau sudah terkena biang keringat (atau orang Jawa mengatakan keringet buntet), rasanya nggak enak banget. Pingin digaruk, tapi semakin digaruk semakin gatal dan malah menimbulkan luka.

Para narasumber dalam kampanye Bunda Tanggap Alergi dengan 3K di Car Free Day Jakarta, 9 April 2017: Ibu Anna Surti Ariani (tengah) dan Dokter Spesialis Anak Budi Setiabudiawan. (foto: dokpri)

Alergi lain yang saya alami adalah makan udang. Padahal dulu sekali saya bisa makan udang sampai 8 ekor yang ukurannya sebesar ibu jari, namun menginjak usia sembilan atau sepuluh tahun, entah kenapa badan saya jadi langsung bentol-bentol kalau makan udang sebanyak itu. Sampai sekarang saya juga tidak berani makan udang banyak-banyak, walaupun kata orang kalau sudah dewasa alergi tersebut akan berhenti.

Baca lebih lanjut

Hobi Berkebun Ayah

ayah saya hobi banget berkebun, termasuk memanjat pohon dan memotong batangnya seperti di foto. Sampai-sampai ia suka lupa waktu dan lupa umur. (foto: dokpri)

Di usia senjanya, ayah senang sekali berkebun. Hobi berkebun yang dilakoninya sejak muda ini tidak pernah alpa dari kesehariannya yang memang tidak bisa diam, meskipun baru sembuh dari sakit satu atau dua hari sesudahnya. Hobi berkebun ayah saya tidak tanggung-tanggung: memanjat pohon nangka atau pohon rambutan yang memang lumayan tinggi batangnya. Gara-gara memanjat itu pula ayah saya sempat masuk rumah sakit. Bukan karena terjatuh, tetapi karena ia sedang berpuasa dan kehabisan kadar glukosa berhubung terlalu banyak energi yang dikeluarkannya, padahal sudah jelas ayah sendiri tahu bahwa dirinya penderita diabetes.

Namun, yah… namanya juga penyuka kegiatan berkebun. Meski dilarang-larang tetap saja bandel utak-atik sana-sini tanaman-tanaman yang dirawatnya, walaupun ‘kadar memanjat’-nya sudah berkurang. Mau pohon mangga, pohon jambu, pohon nangka, pasti semua pohon berbatang tinggi yang ada di pekarangan rumah sudah pernah dipanjatnya. Tidak hanya memanjat pohon, ayah saya yang kelihatannya cuek beybeh ini ternyata juga suka menanam bunga, loh.

Baca lebih lanjut

Bermain Piano, Bermain Rasa dan Nada

Piano Impian: perpaduan antara upright piano dan piano digital. Semoga suatu hari saya bisa memilikinya :). (foto: yamahamusiclondon.com)

Sudah sejak lama saya merindukan bermain piano kembali. Piano saya yang sudah usang terpaksa saya jual karena dimakan rayap selama dua tahun saya tinggal pergi kuliah ke Eropa. Almarhumah Ibu sempat ngotot untuk tetap menyimpannya, meskipun selama kepergian saya piano tersebut sama sekali tidak pernah di-stem*). Namun, pada akhirnya beliau merelakan saya menjual piano tersebut karena kerusakan yang dialaminya memang sudah sangat parah, yang tidak memungkinkan untuk diperbaiki. Kalau pun bisa diperbaiki, akan memakan biaya seharga piano baru itu sendiri.

Baca lebih lanjut

Blogger Day 2017: Akankah Dunia Sosmed Bertahan?

Sebelumnya, saya mengenal Writers in Residence sebagai sebuah wadah bagi para penulis  yang sedang membutuhkan inspirasi dengan cara sharing ilmu dengan sesama penulis lainnya selama beberapa hari atau bulan, dan para penulis tersebut menginap di suatu tempat (bisa hotel atau vila) jauh dari hiruk-pikuk kota. Tujuannya supaya sang penulis bisa mendapatkan ilham baru untuk menulis dalam suasana yang kondusif, serta networking pastinya.

Acara Blogger Day 2017 dihadiri oleh 96 orang blogger dari seluruh Indonesia, berlangsung tanggal 18-19 Maret 2017 di Kampung Wisata Rumah Joglo, Bogor, Jawa Barat. (foto: dokpri)

Kini, kegiatan semacam itu juga dilakoni oleh para blogger, dan yang saya maksudkan di sini adalah blogger-blogger dari seluruh Indonesia dalam sebuah rangkaian acara yang sarat ilmu, disebut Blogger Day. Acara yang digelar dalam rangka menyambut ulang tahun komunitas Blogger Crony yang kedua ini mengumpulkan 96 orang blogger dari berbagai komunitas. Mulai dari Kompasiana, Asinan Blogger, Kumpulan Emak Blogger (atau disingkat KEB), Blogger Perempuan, sampai dengan anggota-anggota Blogger Crony sendiri.

Baca lebih lanjut